Malam Nanti; Diam Saja …

Kebiasaan itu makin terlihat. Kita yang membentuknya. Iya, kita. Kebiasaan untuk berdebat soal-soal remeh. Coba deh kamu ingat, dalam setiap penggal percakapan, masing-masing dari kita seperti bergerak melintasi garis start dan masuk ke arena debat tak penting;

saya : kenapa enggak lewat Casablanca aja sih, kan tinggal lurus ke Sudirman
kamu : macet kali
saya : jam segini? *jumat, pukul 2 siang* enggak banget kali
kamu : itu di depan Mal Ambasador situ
saya : ah enggak ah
kamu : masa’ mesti lewat situ sih buat ngebuktiin macet atau enggak
saya : :p

atau ini

kamu : oke kita ke pameran foto sekarang
saya : *cemberut sebentar, karena kamu telat* yup. mari ke Aksara
kamu : Aksara? QB kali
saya : Aksara ah
kamu : QB
saya : Ih kaya’nya Aksara
kamu : QB
saya : …

dan ini

kamu : enggak lagi-lagi deh lewat daerah Grogol
saya : iya saya juga sebal kalau liputan di daerah Roxy
kamu : itu underpass depan ITC Roxy Mas enggak jadi-jadi ya
saya : underpass? bukannya jalan layang
kamu : underpass. kalau jalan layang kan ada kabel-kabel stasiun gitu. susah lah
saya : bukan underpass
kamu : iya
saya : jalan layang
kamu : …

ya, dan ini

saya : itu itu lucu banget *seraya menunjuk ke toko sandang, kemacetan membuat kita punya waktu lebih banyak untuk melihat ke kanan dan ke kiri*
kamu : apa?
saya : itu … baca deh; to-ko san-dang. lucu kan, unik
kamu : biasa aja
saya : enggak lah. itu lucu. yang lain biasanya lebih memilih kata “supermarket” atau “swalayan” atau “mini market” tapi “toko sandang”? lucu kan?
kamu : enggak. yang lucu itu “Banga”
saya : emang kamu tahu artinya?
kamu : udah kirim ke milis Pure Saturday, belum dapat jawaban
saya : enggak tahu artinya kok bilang lucu
kamu : *pura-pura konsentrasi pada jalan*

ini lagi

saya : fotonya si Andi tadi bagus ya. komposisinya dapet. lihat titik-titik airnya enggak? kambojanya jadi lebih sahdu.hehehe
kamu : iya bagus. tapi itu bukan kamboja
saya : itu kamboja.
kamu : bukan ah
saya : ih, secara itu diambilnya pas Andi ke Bali gitu. iya itu kamboja
kamu : memangnya di Bali cuma ada bunga kamboja
saya : ya udah, bunga apa jadinya?
kamu : enggak tahu, yang pasti bukan kamboja
saya : hahahahaha. orang yang aneh, itu kamboja lagi

Dan masih banyak lagi. Mulai dari jam tutup Bakoel Koffie Cikini, cara membuat efek zoom pada foto, asal mula perayaan As Shura, bagaimana proses terjadinya kopi luwak, jalan cerita film 9 Naga, sampai perlu tidaknya migrasi ke kamera SLR digital.

Untunglah kita tidak berdebat untuk beberapa hal. Saya ingat kamu mengamini perkataan saya saat saya berkata; “Coldplay itu nutrisi jiwa”. Saya juga senang kamu tahan mendengarkan saya bernyanyi membarengi suara Chris Martin sepanjang perjalanan. Dan kamu mengangguk tanda setuju, waktu kita duduk di sudut menghabiskan minuman hangat, saya bilang negeri ini lebih berorientasi pada sesuatu yang terlihat secara fisik; apartemen dibangun, mal menjulang di sana sini, gedung-gedung tinggi dibuat, tapi abai pada pembangunan psikis; ruang publik dipangkas, taman kota diberangus.

Tapi malam nanti saya ingin debat-debat tak penting itu absen. Iya, tak penting juga kok meneruskan perdebatan apakah yang dibangun di depan ITC Roxy Mas itu underpass atau jalan layang. Berhenti meributkan apakah foto Andi itu bunga kamboja atau bunga yang lain. Tak apa-apa juga kalau menurut kamu kata “Banga” -judul lagu dari band indie Pure Saturday- itu lebih unik ketimbang “toko sandang”. Dan jangan lagi berpanjang-panjang membahas mengapa tiga sekawan dalam film 9 Naga tak juga diciduk polisi meski berkali-kali membunuh.

Malam nanti, mudah-mudahan cuaca cerah. Jadi rencana kita, memotret di malam hari, yang tertunda akibat jadwal menonton Liverpoolmu yang tak bisa diganggu gugat itu, bisa terlaksana (selamat atas keberhasilan The Reds melibas Wigan ;)).

Malam nanti, usai memotret, saya ingin kita diam saja. Istirahat sejenak dari debat-debat tak penting. Memandang lampu jalan. Melihat mobil lalu lalang. Duduk saksikan air mancur. Menatap bulan bundar. Nikmati menit-menit bersama.

Malam nanti, usai memotret, saya ingin kita diam saja, agar saya punya waktu lebih banyak untuk mencuri harum hutan yang meruap dari tubuhmu. Dan semoga waktu tidak bergerak sangat cepat. Apakah kamu juga menyadarinya; setiap kali kita bertemu, sepertinya waktu beranjak lebih cepat ya.

Malam nanti usai memotret, semoga cuaca tetap cerah, dan semoga waktu bergerak lambat. Sangat lambat.

Sampai bertemu malam nanti. Tak usah menjemput saya. Tunggu saja di dekat air mancur. :)

34 thoughts on “Malam Nanti; Diam Saja …

  1. sometimes, berdebat itu jadi sesuatu yang menyenangkan… asalkan dijalankan dengan santai dan nggak pake nyolot… bener deh… bukan isi dari perdebatannya… tapi the activity itself… lucu!

    saya:’iya nggak sayang?’
    kamu:’enggak juga’
    saya:’iya lageee’
    kamu:’terserah deh’
    saya:’loh kok terserah… jangan pasrah dong.’
    kamu:’enggak pasrah kok’
    saya:’jadi kenapa dong?’
    kamu:’biar nggak usah debat lama-lama’

    ya! yang diatas saya muter pilem sendiri… Hehehe!

  2. Heheehehehe Lama banget gak mampir sini ‘tta. pa kabar niy? kangen banget deh ‘ta. Kata mo liburan ke sini, agenda in dunk.:)
    hehehehe iya bener kata ti2n kayanya mo ngedate…uhmmmmm emang musti apal jalan yg nggak macet yaa? macet di jalan jg gak papa, pan berdua :D kekekekeke pisss

  3. glek :-) …. Omong-omong, saya tahu jam tutup Bakoel Koffie Cikini, loh –sebab senang dengan tempat ngopi itu. Kapan ke sana lagi? –untuk debat hal-hal nggak penting, tentu saja :-)

  4. debat gak penting??…. mmmm
    kita bisa berdebat tentang hal2 “penting” dengan siapa saja..

    tapi klo untuk debat gak penting???
    hanya bisa di lakukan dengan orang yang kita anggap “penting” DAN dia menggapa kita penting :)..

    soo.. dari cerita elo, apakah patner debat lo kali ini adalah mmmmm orang yang setiap ceritanya gw denger selalu ada “backsound jijay” cieeeee cie…. dari gw haeuhaeuhaeuehauaehueahuaeh……

    cieeeeeeeee cieeeeeeeeeee..5x

  5. hahahahah lucu banget atta. ahhh kamu bikin saya kangen berat sama kamu aja. si itik ini lucu banget, meskipun muka bulet, hidung rendah *saya juga idung rendah euyyy* huahauahauahau

  6. oooh..pantesan waktu itu perginya tampak riang gembira! mbak jangan lupa, jadikan aku objek latihan fotografimu. Percaya deh, kalau dari sudut kamera, wajahku hanya beda tipis dengan titi kamal hihihih :)

  7. ???? aku gak ngerti, apa yg akan disampaikan si atta…apa dia gak suka debat-debat gak penting ato malah sebaliknya…memujanya…ceritanyapun terputus-putus…maklum baru mampir…salam kenal ya…

  8. atta, oh, atta
    di mana dirimu sekarang?

    kita masih utang ngopi di awal tahun.
    saya masih utang ratusan cerita kepada kamu.
    Dan sekarang utangmu nambah satu
    kau harus ceritakan padaku tentang si “Banga” satu ini

    Ha ha ha….

  9. Kadang debat kusir atau depat gak mutu gitu penting juga buat keseimbangan jiwa, ada kalanya kita-kita disini juga banyak “ngaroweco” [ngomong ngalor-ngidul bin pepesan kosong] biar otak dan psikis ini gak kaku dibuat oleh rutinitas yang serba formal dan kaku dan bikin setress ini..

    kadang saat kita nangkring di pantai, duduk memandangi gelombang yang susul menyusul dan pecah didepan mata, sembari bercerita egala seuatu yang gak nyambung dari topik satu ke berikutnya…

    it’s human, my dear… me all full of ramblings and pointless expressions..when you have that or someone say that to you, that means your systems’check is still normal.. Welcome to the whacky world.

    hugs from West Africa :)

  10. oh pantesan sedang belajar bola, biar bisa berdebat ya sama yg suka Liverpool ;)

    I’m so happy baca postingan ini ..

    U know what, suami ku itu men-cap diriku sebagai orang paling suka ngeyel sedunia hihihi..
    karena apa2 didebat.
    bahkan menurut-nya: belum ada bahan perdebatan pun, saya sudah mencari2 jawaban untuk berdebat :D

    welcome to the club neng (sepakbola jg) :)

  11. hahaha..

    atta, saya jadi ingin ketemu kamu. jadi ingat saat-saat merdeka masih menjadi lajang yang bahagia dulu :D . punya anak memang lebih bahagia lagi ta, tapi kadang jadi kehilangan momen-momen seperti keluyuran malam dsb :p ada harga yang harus dibayar :)

  12. Telah lama kita dijajah perbincangan yang tak menyisakan apa-apa, selain pepesan kosong. Berangkat dari kedewasaan juga terkadang terjebak dalam ritme hidup yang tak bisa lepas dari aktivitas ini. Sungguh menyesakkan melihat kenyataan yang tak pernah berpihak pada “faham” dan keinginan hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *