Itik Yang Bahagia

atta

Kami, saya dan Alex -sahabat saya-, sedang memandang foto Ida Royani, salah satu karya dalam pameran foto Kartono Ryadi. Foto hitam putih itu bagus sekali.

“Kapan-kapan bikinin gue yang kaya’ gini ya Lex,” ucap saya
Alex belum menjawab. Ia memandang foto Ida Royani di tembok, lalu ganti memandang saya, melihat foto Ida Royani kembali, dan melihat saya.
“Bisa dong,” kata saya
– Jadinya mesti lain Ta, bentuk tulang pipi Ida begini, belum matanya, terus hidung, terus …,” Alex menyudahi ucapannya.
Saya menahan pingkal. Alex juga. Berdua akhirnya kami tergelak.

Foto itu bisa sedap dipandang mata bukan hanya ditunjang oleh sudut pengambilan gambar yang tepat oleh almarhum Kartono Ryadi, tapi juga karena wajah Ida Royani, model dalam foto itu memang menarik, cantik.

Saya tahu ke arah mana pembicaraan kami, saya dan Alex, itu akan bermuara. Secara tidak langsung Alex sebenarnya ingin mengatakan kalau akhirnya ia memotret saya dengan teknis yang sama, hasil foto tetap tidak akan sama.

Kenapa?

Bentuk muka saya bulat. Saya curiga semua nutrisi yang dihasilkan dari makanan yang sehari-hari saya santap pasti berkumpul di wajah saya. Sebab apa? Ini loh, pipi saya kian hari rasanya kian bulat saja.

Dari bentuk muka mari membicarakan bentuk hidung. Kalau saja ada suku hidung rendah, saya pasti sudah didaulat menjadi ketua sukunya :D. Bagian ini yang paling sering mendapat koreksi kalau wajah saya dipasrahkan pada penata rias. Dan dibuatlah dua garis memanjang di sisi kiri dan kanan hidung, gunanya agar hidung saya tampak tinggi kalau dilihat dari kejauhan. Catat ya, melihatnya dari kejauhan saja. Kalau dilihat dari dekat, hidung saya ya tetap saja tidak tinggi. La wong memang dari sananya begitu :D

Sudah bermuka bulat plus hidung rendah, saya memperparahnya dengan berat badan yang bertambah. (Bukan berarti perempuan gemuk itu tidak bisa masuk dalam kategori cantik dan menarik ya, saya percaya kategori cantik tidak hanya milik kaum bertubuh ramping saja).

Soal menjadi sedikit lebih gemuk ini, saya punya cerita lain. Ketika melintas di sebuah plaza dekat kantor tanpa sengaja saya bertemu dengan teman lama saya. Dulu, di kelas dua SMP, ia duduk di belakang saya. Saya sudah tersenyum dari kejauhan, tapi teman lama ini tidak membalas senyum saya. Saat jarak kami semakin dekat, ia akhirnya tertawa.

– Ya ampun, Atta?, gue pikir siapa-
“Pantes dari tadi gue senyumin elo diem aja”
– Ih elo kok gemuk gini sih? jelek
Hahahaha. Spontanitas teman lama saya itu patut diacungi jempol.

Jadi, inilah saya. Muka bulat, hidung rendah, dan menjadi lebih gemuk. Tak apalah. Yang penting saya sehat, bisa beraktivitas, juga mengerjakan beragam hal menyenangkan. Jujur, keyakinan macam ini kadang-kadang mengendur saat dihadapi derasnya serbuan dari media, yang isinya disemarakkan oleh perempuan-perempuan dengan postur nyaris sempurna. (maklumlah, saya kan juga manusia biasa).

Dan kadang-kadang keluarlah perkataan semacam ini :

Aduh, mesti enak banget kalau punya muka mirip Dian Sastro, cantik banget gitu loh.
Kulitnya dong bo diliat, mulus banget
Ih, rambut susah amat sih diaturnya, coba panjang, hitam, dan tebal

Inilah saya. Jelas jauh dari Dian Sastro, tak punya tulang pipi sebagus Ida Royani, atau rambut legam seperti Titi Kamal. Yang saya punya ya ini, muka bulat, hidung rendah, dan menjadi lebih gemuk. Kalau dunia ini adalah sebuah kolam besar, di mana angsa dan itik ramai berenang ke sana dan ke mari, saya pastilah si itik itu ;)

Si itik ini sesekali masih berolah raga. Itik yakin itu tak akan mengubahnya menjadi angsa. Olah raga baik untuk kesehatan, kalau kurus anggap saja bonus. (meski sampai sekarang berat badan tetap saja tak turun-turun. ha-ha-ha). Itik tetap pergi ke dokter kulit, lagi-lagi bukan untuk mengubahnya menjadi angsa. (Jakarta dan kulit muka si itik rasanya tidak pernah rukun, kota ini dengan segala sesuatu yang terkandung di udaranya memaksa si itik bekerja ekstra keras untuk menghalau jerawat nakal).

Jadi, inilah saya. Kalaupun saya itik, saya mau jadi itik yang berbahagia dengan segala yang ia punya, termasuk muka bulat dan hidung rendah ini :)

Keterangan foto : Itu si itik eh si atta. Foto diambil oleh Soni saat hunting di kawasan kota tua, tak jauh dari museum Fatahillah.

41 thoughts on “Itik Yang Bahagia

  1. Beauty comes from within, I believe ..
    Selama jadi orang yang menyenangkan, semua perempuan jadi cantik, rasanya …
    Pertanyaannya sekarang, apakah kita cukup menyenangkan untuk orang lain ?

  2. saya sungguh percaya bahwa kecantikan dari dalamlah yang membuat kita terlihat lebih cantik di luar. good skin, perfect bone structures, etc… it’s only facade, dear… suatu hari facade itu akan hilang dimakan waktu, but a beautiful soul? it’ll be remembered not only in people’s minds but also in their hearts.

  3. hmm… semua ce keknya cenderung punya keluhan/ketidakpuasan dg penampilannya. tapi apakah artinya kita tidak cantik? nggak perlu jadi dian sastro atau ida royani untuk menjadi cantik, kan… we have our own qualities, ta!

    oia… seneng banget bisa ‘bertatap muka’ eh ‘menatap muka’ ma atta!

  4. Sapa bilang Atta gak cantik ? sini…tak kemplangi klo ada yang berani bilang gitu di depan gue…:D

    Atta itu cantik, manis, moyy -lah pokoke, taaapi….bawel mak…gak kukuh deh dengerin dia klo udah berkicau..:))

  5. hmm.. kalau kamu kaya dian sastro.. pasti gak mau kenal sama gw..
    *eh tapi.. dian sastro kan kenal ama nicholas saputra ya? :P* ekekeke..
    hey.. anak muda… kamu berhutang cerita ya.. awazzz….

  6. halo, salam kenal, saya juga itik buruk rupa yg bahagia ;), belum lama seorang teman lama komentar begini: aduh, elo kok lama bener sih jadi itik buruk rupa, kapan berubahnya? teman2 lain sudah berubah jadi angsa cantik, elo teteep aja begini :)

  7. dear atta… aku setuju denganmu, kecantikan wanita tak hanya dilihat dr badan yang ramping saja….
    inner beauty, itulah kecantikan yang akan kekal abadi.., dibanding dengan keelokan fisik semata… :)

  8. cakep dan gak nanti kalo udh jadi kakek2 dan nenek2 juga keriput hihi..
    atta, gw ketawa banget pas bagian ini:

    Sudah bermuka bulat plus hidung rendah, saya memperparahnya dengan berat badan yang bertambah. (Bukan berarti perempuan gemuk itu tidak bisa masuk dalam kategori cantik dan menarik ya, saya percaya kategori cantik tidak hanya milik kaum bertubuh ramping saja).

    haha..iya sekarang gitu, kl ramping dan putih pastinya disebut cantik, makanya tuh iklan ponds nyebelin!

  9. mbak atta. dian sastro pasti akan iri sama mbak, karena meski dia cantik, berhidung mancung, dan berkulit mulus.. dia gak punya negeri senja. Yang menampung begitu banyak kasih sayang untuk mbak atta, menghangatkan hati dan memeriahkan hidup… iya kan? :)

  10. Kadang gue juga suka gitu deh.
    “Biarin deh ngga langsing, yang penting happy”
    Tp tetep aja, stiap dibilang ‘gemuk banget’, ‘sehat banget’, dll yang sejenisnya.. jatohnya ya bete2 juga.. :mrgreen:
    Runtuh deh teori inner beauty lah, asal bahagia lah, dll.
    Tapi kadang-kadang loo… hihihi :D

  11. Atta, rasa-rasanya Dian Sastro dan Titi Kamal deh yang bakal iri sama Atta.. Nggak perlu cantik untuk bisa punya banyak teman yg mengagumi, nggak perlu kulit mulus supaya bisa dekat dengan orang lain disekitarnya, nggak perlu rambut hitam legam spy bisa punya tulisan yg menyentuh.

    coba bayangin deh, ta.. kalau atta kehilangan hidung yg sekarang, atau kulit yg sekarang dll. Atta bakal tetap Atta. bakal tetap punya teman, bakal tetap ramai blognya, bakal tetap dikagumi tulisan2nya. Tapi kalau Dian Sastro atau Titi Kamal kehilangan itu semua penampilan fisiknya, kira2 bakal jadi apa?

    Apa gak jadi kehilangan segalanya tuh mereka?

    hmm… rasa2nya justru harus kasihan pada mereka yah, Ta… :)

    Salam.

  12. Menyenangkan melihat atta bahagia, yang penting atta bisa dan sudah membanggakan ma’e dengan berbagi sebagian dari tulisan yang sudah memberi arti buat orang lain…. that’s beauty of you..salam kenal.

  13. Met kenal, tulisan nya cantik dan menyentuh. Saya suka

    Dari dalam mengalir keluar, apa yang berada di dalam jauh lebih berharga dari apapun di dunia ini ( covey).

    Kadang kita memang lebih suka tertipu oleh bungkus yang elok, meski itu sebenarnya imitasi.

    Tapi cw kalo langsing memang lebih gampang untuk di peluk ya …wek wek wek

  14. Ratna, dengan mentertawakan diri sendiri tandanya kita menikmati hidup. Dan senang sekali aku bisa melewati hidup di ‘jakarta yang sakit’ yang sakit dengan mengenalmu. Eh, btw, itik jelas lebih populer daripada angsa, lebih disukai banyak orang. Buktinya itik menjadi makanan yang digemari. Lihat saja Bebek Bali, Bebek Peking serta Bebek Goreng Lamongan. Gurih dan lezat..he..he

  15. haaa… lagi-lagi tulisan yang menghangatkan hati. makasih ya tta.
    sekarang saya sudah di negeri jiran. menyenangkan deh, kapan-kapan main ya.

  16. napa ya, model jurnalis cwek selalu hampir mirip. terkesan cuek makanya rata2 kayak bebek, kweek…kweekk…kweeekkk. Tapi yang pasti mereka gak pernah ngalami yang namanya brain-dead. Lho kok jadi ke profesi ya…
    Ehm..kalo soal tubuh sehat, gak usah susah2 mikirinya. Lebih susah kalo gak punya tubuhkan?

  17. andaikan itu berat badan bisa ditranfer ke gua, pasti balance =)) tapi ga janji dengan idungnya, soalnya kita (kita ?) sama-sama dari golongan idung rendah…:D

    meni sombong ih…ke bogor ga bilang-bilang, kan gua bisa ikutan moto-moto, kesian kamera gua nganggur…:D

  18. Gw juga dari zaman kuda gigit jari, berusaha ngeyakinin diri gw sendiri ‘n numbuhin PD kalo: “ga perlu putih, langsing dan rambut lurus buat jadi cantique” (quoted from body shop)… Tapi kayanya gw masih termasuk orang2 ‘modern’ yang kemakan provokasi iklan produk kecantikan…

  19. Cantik? Bukan teori fisika. Ada, sejak ikhwal kesejarahan niaga. Unik. Kadang disakralkan ngelebihi agama. Naif. Tertipu menipu, sah. Sensasi, didentikan birahi. Pun tren rasa lelaki -di setiap era waktu- selalu baru. Menggoda, meski senyatanya primitif. Ungkapan kasih tanpa rasa, bising di telinga. Bukan untuk yang ber-‘ilmu’. Cantik sejatinya buruk. Saripatinya, menguji cinta. Di sini, berlaku rumus pemutlakan. Alur sebab akibat, naif ditawar. Nah, pikiran jangan saling menghancurkan. Ssst…, jadilah perempuan sejatinya perempuan!

  20. ya atta.. sudah saatnya kita melihat kecantikan dari sudut pandang yang berbeda!! gambaran body ramping itu cantik, kulit putih, rambut panjang dan lurus itu cantik, itu hanya misi kaum kapitalis untuk memasarkan produknya. tapi kenapa banyak wanita yang rela berkorban untuk kaum kapitalis ya.. *bingung*

  21. yg penting inner beauty, tta.
    jadi inget gue, pirman, sila pernah ngomongin soal film roman. intinya: cintalah yang membuat seseorang terlihat cantik, bukan kecantikan yang membuat orang lain jatuh cinta.
    smoga smoga, ada orang yang melihat kalo gue ini cantik.
    hahaha ~(^-^)~

  22. Hola mb.. gak nyangka dah jadi penulis skrg.. :) satu yg tetap aku inget dr mb, mb itu FUNNY (extraordinary..) dan itu yg m’buat u look so beautifull…hehe.. ;) :) jadi lupain tuh muka cantik tapi jutek..

  23. My dear Atta…. When the 1st time I read your Blog, I decided my self that the writer must have a beauty inside, then when the 1st time I met you….I have no doubt that you are beautiful indeed, cause I can feel it…..your friendship with a heart! Beauty is not only a matter of eye…but a heart….right….?

  24. bagi saya, cantik dan menyenangkan dua hal yang berbeda, idealnya adalah keduanya dapat dimiliki.

    jutek juga lho… lama-lama (sometimes) bersama dengan si cantik tapi bawel, egois and… alias ngga menyenangkan… terkadang jadi suka betah berlama-lama dengan orang (asumtif) yang ngga “cantik” tapi menyenangkan…

    yaaa…, setiap “lelaki” (nggak muna..) mendamba keduanya “cantik dan menyenangkan”, tapi mereka tahu, tidak semua laki-laki beruntung…

    bagi saya, menyenangkan lebih cantik dari jutek (asal TULUS) hehehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *