Hujan Di Hari Jumat

Saya suka hujan. Sejak dulu. Sore setelah hujan mencuci bumi adalah momen terbaik yang membawa perasaan bahagia. Saya suka hujan; hujan yang turun kecil-kecil saja. Hujan besar kerap membuat saya takut. Hujan besar tengah malam biasanya berujung pada sebuah kecemasan. Entah karena apa. Untunglah saya punya ibu yang sabar. Kadang-kadang kalau tak kunjung terlelap saat hujan besar datang, saya akan bergerak ke kamar Ma’e, ibu saya, dan memintanya menemani saya.

Saya suka hujan. Mandi hujan adalah aktivitas favorit. Masa kecil saya sering diisi dengan acara mandi hujan. Berkeliling kampung, ke teras di lantai dua rumah seorang teman, halaman masjid, atau di depan rumah saja. Selepas hujan, kami, saya dan teman-teman, akan berkeliling kampung membawa botol dan mengumpulkan air dari permukaan daun-daun. Dengan penuh hati-hati, mengisi botol hingga penuh. Kami menyebutnya air suci :D

Saya suka hujan; hujan yang turun kecil-kecil saja sebab hujan besar kerap membuat saya takut. Hujan di hari Jumat ini misalnya. Saat saya dan dua orang teman selesai menghadiri acara peluncuran penjualan musik digital. Dari tempat parkir sebuah plaza di bilangan Senayan, gemuruh suara angin yang menyertai hujan jelas terdengar. Belum lagi larik-larik petir yang yang datang silih berganti.

Mobil berjalan pelan. Saya duduk di depan. Di samping kanan teman saya memegang kemudi, mukanya terlihat cemas. Satu teman lagi duduk di belakang. Sesekali terpekik; kaget karena suara petir.

Mobil berjalan merayap. Angin kencang meniup batang-batang pohon; bergoyang ke kanan dan ke kiri. Memasuki Jalan Sudirman, barisan kendaraan makin padat.

Sebentar … ada yang tak beres. Mobil-mobil yang ada di jalur cepat satu persatu memutar haluan, masuk ke jalur lambat. Satu bis TransJakarta tak bergerak. Satu bis berbadan besar terlihat kesulitan memutar badannya. Macet bertambah; mobil-mobil bergerak saling mendahului. Semrawut. Ada apa?

Sampai di depan pertokoan Ratu Plaza, kami temukan jawabannya. Batang pohon besar melintang di jalan. Tidak hanya satu, tapi dua batang pohon rebah, tak menyisakan ruang sedikit pun untuk jalur kendaraan.

Angin masih kencang, petir belum berhenti, dan hujan masih lebat.

Teman yang duduk di belakang menghitung berapa batang pohon yang tumbang.

“Satu … ”

Mobil yang kami tumpangi masih bergerak pelan. Jarak pandang menjadi semakin pendek. Di jalur cepat sebagian mobil terjebak. Tak bisa mundur karena di belakang jalan masih terhalang batang pohon yang jatuh, tak juga bergerak maju karena dihadang batang pohon yang lainnya.

“Dua, tiga … ”

“Empat, lima, enam, tujuh”

Satu mobil tertimpa pohon. Untung bukan batang pokok pohon yang menimpa atap mobil itu; hanya ranting-ranting di ujungnya. Semua pohon tumbang, yang masih dihitung teman yang duduk di belakang, ada di jalur cepat.

Tapi tidak semua. Begitu melewati Departemen Pendidikan Nasional, satu pohon tumbang di jalur lambat, batangnya hanya menutupi setengah badan jalan. Iring-iringan mobil menciut dari dua jalur menjadi satu jalur.

“Lihat deh, pohon yang itu udah miring banget,” ucap teman di belakang kemudi.
“Enggak papa, pelan-pelan aja,” ucap saya setenang mungkin, jauh di dalam hati saya berdoa, mudah-mudahan pohon itu masih sanggup berdiri.

Selepas jembatan Semanggi, pemandangan pohon tumbang tak lagi kami temukan. Hanya ranting-ranting yang patah dari ujung-ujung pohon saja. Aliran air agak deras dan membentuk genangan di dekat halte Bendungan Hilir.

Mobil berbelok, meninggalkan jalan Sudirman. Jalan tak lagi ramai. Itu dia gedung kantor. Hujan masih belum reda, angin tetap kencang. Satu pohon tumbang menyambut kami di depan halaman kantor. Begitu mobil memasuki tempat parkir gedung kantor; wajah-wajah di dalam mobil terlihat lebih tenang.

Saya suka hujan; hujan yang turun kecil-kecil saja. Hujan yang teramat lebat kerap membuat saya takut. Hujan di akhir pekan ini misalnya. Hujan yang saya tatap dari lantai tujuh, di gedung tempat saya bekerja. Di barat langit, sesekali petir masih menari. Muncul dengan garis putih panjang; mirip sinar yang keluar dari tongkat sihir dalam dongeng.

Saya sudah menelepon rumah; memastikan ibu saya baik-baik saja, dan baru saja tersambung dengan laki-laki harum hutan, ia sudah di rumah, setelah terbebas dari kemacetan di kawasan Kelapa Gading. “Lihat petirnya tadi enggak? Kalau pas angle-nya bagus banget tuh gambarnya,” ujarnya. Duh, kok ya sempat-sempatnya berpikir tentang sudut pengambilan gambar.

Setelah meneguk teh manis, sejenak saya berdiri melihat titik-titik air yang menempel di kaca, dan mengucap harap; semoga tak ada satu pun yang terluka di sepanjang Sudirman tadi.

Malam Nanti; Diam Saja …

Kebiasaan itu makin terlihat. Kita yang membentuknya. Iya, kita. Kebiasaan untuk berdebat soal-soal remeh. Coba deh kamu ingat, dalam setiap penggal percakapan, masing-masing dari kita seperti bergerak melintasi garis start dan masuk ke arena debat tak penting;

saya : kenapa enggak lewat Casablanca aja sih, kan tinggal lurus ke Sudirman
kamu : macet kali
saya : jam segini? *jumat, pukul 2 siang* enggak banget kali
kamu : itu di depan Mal Ambasador situ
saya : ah enggak ah
kamu : masa’ mesti lewat situ sih buat ngebuktiin macet atau enggak
saya : :p

atau ini

kamu : oke kita ke pameran foto sekarang
saya : *cemberut sebentar, karena kamu telat* yup. mari ke Aksara
kamu : Aksara? QB kali
saya : Aksara ah
kamu : QB
saya : Ih kaya’nya Aksara
kamu : QB
saya : …

dan ini

kamu : enggak lagi-lagi deh lewat daerah Grogol
saya : iya saya juga sebal kalau liputan di daerah Roxy
kamu : itu underpass depan ITC Roxy Mas enggak jadi-jadi ya
saya : underpass? bukannya jalan layang
kamu : underpass. kalau jalan layang kan ada kabel-kabel stasiun gitu. susah lah
saya : bukan underpass
kamu : iya
saya : jalan layang
kamu : …

ya, dan ini

saya : itu itu lucu banget *seraya menunjuk ke toko sandang, kemacetan membuat kita punya waktu lebih banyak untuk melihat ke kanan dan ke kiri*
kamu : apa?
saya : itu … baca deh; to-ko san-dang. lucu kan, unik
kamu : biasa aja
saya : enggak lah. itu lucu. yang lain biasanya lebih memilih kata “supermarket” atau “swalayan” atau “mini market” tapi “toko sandang”? lucu kan?
kamu : enggak. yang lucu itu “Banga”
saya : emang kamu tahu artinya?
kamu : udah kirim ke milis Pure Saturday, belum dapat jawaban
saya : enggak tahu artinya kok bilang lucu
kamu : *pura-pura konsentrasi pada jalan*

ini lagi

saya : fotonya si Andi tadi bagus ya. komposisinya dapet. lihat titik-titik airnya enggak? kambojanya jadi lebih sahdu.hehehe
kamu : iya bagus. tapi itu bukan kamboja
saya : itu kamboja.
kamu : bukan ah
saya : ih, secara itu diambilnya pas Andi ke Bali gitu. iya itu kamboja
kamu : memangnya di Bali cuma ada bunga kamboja
saya : ya udah, bunga apa jadinya?
kamu : enggak tahu, yang pasti bukan kamboja
saya : hahahahaha. orang yang aneh, itu kamboja lagi

Dan masih banyak lagi. Mulai dari jam tutup Bakoel Koffie Cikini, cara membuat efek zoom pada foto, asal mula perayaan As Shura, bagaimana proses terjadinya kopi luwak, jalan cerita film 9 Naga, sampai perlu tidaknya migrasi ke kamera SLR digital.

Untunglah kita tidak berdebat untuk beberapa hal. Saya ingat kamu mengamini perkataan saya saat saya berkata; “Coldplay itu nutrisi jiwa”. Saya juga senang kamu tahan mendengarkan saya bernyanyi membarengi suara Chris Martin sepanjang perjalanan. Dan kamu mengangguk tanda setuju, waktu kita duduk di sudut menghabiskan minuman hangat, saya bilang negeri ini lebih berorientasi pada sesuatu yang terlihat secara fisik; apartemen dibangun, mal menjulang di sana sini, gedung-gedung tinggi dibuat, tapi abai pada pembangunan psikis; ruang publik dipangkas, taman kota diberangus.

Tapi malam nanti saya ingin debat-debat tak penting itu absen. Iya, tak penting juga kok meneruskan perdebatan apakah yang dibangun di depan ITC Roxy Mas itu underpass atau jalan layang. Berhenti meributkan apakah foto Andi itu bunga kamboja atau bunga yang lain. Tak apa-apa juga kalau menurut kamu kata “Banga” -judul lagu dari band indie Pure Saturday- itu lebih unik ketimbang “toko sandang”. Dan jangan lagi berpanjang-panjang membahas mengapa tiga sekawan dalam film 9 Naga tak juga diciduk polisi meski berkali-kali membunuh.

Malam nanti, mudah-mudahan cuaca cerah. Jadi rencana kita, memotret di malam hari, yang tertunda akibat jadwal menonton Liverpoolmu yang tak bisa diganggu gugat itu, bisa terlaksana (selamat atas keberhasilan The Reds melibas Wigan ;)).

Malam nanti, usai memotret, saya ingin kita diam saja. Istirahat sejenak dari debat-debat tak penting. Memandang lampu jalan. Melihat mobil lalu lalang. Duduk saksikan air mancur. Menatap bulan bundar. Nikmati menit-menit bersama.

Malam nanti, usai memotret, saya ingin kita diam saja, agar saya punya waktu lebih banyak untuk mencuri harum hutan yang meruap dari tubuhmu. Dan semoga waktu tidak bergerak sangat cepat. Apakah kamu juga menyadarinya; setiap kali kita bertemu, sepertinya waktu beranjak lebih cepat ya.

Malam nanti usai memotret, semoga cuaca tetap cerah, dan semoga waktu bergerak lambat. Sangat lambat.

Sampai bertemu malam nanti. Tak usah menjemput saya. Tunggu saja di dekat air mancur. :)

Itik Yang Bahagia

atta

Kami, saya dan Alex -sahabat saya-, sedang memandang foto Ida Royani, salah satu karya dalam pameran foto Kartono Ryadi. Foto hitam putih itu bagus sekali.

“Kapan-kapan bikinin gue yang kaya’ gini ya Lex,” ucap saya
Alex belum menjawab. Ia memandang foto Ida Royani di tembok, lalu ganti memandang saya, melihat foto Ida Royani kembali, dan melihat saya.
“Bisa dong,” kata saya
– Jadinya mesti lain Ta, bentuk tulang pipi Ida begini, belum matanya, terus hidung, terus …,” Alex menyudahi ucapannya.
Saya menahan pingkal. Alex juga. Berdua akhirnya kami tergelak.

Foto itu bisa sedap dipandang mata bukan hanya ditunjang oleh sudut pengambilan gambar yang tepat oleh almarhum Kartono Ryadi, tapi juga karena wajah Ida Royani, model dalam foto itu memang menarik, cantik.

Saya tahu ke arah mana pembicaraan kami, saya dan Alex, itu akan bermuara. Secara tidak langsung Alex sebenarnya ingin mengatakan kalau akhirnya ia memotret saya dengan teknis yang sama, hasil foto tetap tidak akan sama.

Kenapa?

Bentuk muka saya bulat. Saya curiga semua nutrisi yang dihasilkan dari makanan yang sehari-hari saya santap pasti berkumpul di wajah saya. Sebab apa? Ini loh, pipi saya kian hari rasanya kian bulat saja.

Dari bentuk muka mari membicarakan bentuk hidung. Kalau saja ada suku hidung rendah, saya pasti sudah didaulat menjadi ketua sukunya :D. Bagian ini yang paling sering mendapat koreksi kalau wajah saya dipasrahkan pada penata rias. Dan dibuatlah dua garis memanjang di sisi kiri dan kanan hidung, gunanya agar hidung saya tampak tinggi kalau dilihat dari kejauhan. Catat ya, melihatnya dari kejauhan saja. Kalau dilihat dari dekat, hidung saya ya tetap saja tidak tinggi. La wong memang dari sananya begitu :D

Sudah bermuka bulat plus hidung rendah, saya memperparahnya dengan berat badan yang bertambah. (Bukan berarti perempuan gemuk itu tidak bisa masuk dalam kategori cantik dan menarik ya, saya percaya kategori cantik tidak hanya milik kaum bertubuh ramping saja).

Soal menjadi sedikit lebih gemuk ini, saya punya cerita lain. Ketika melintas di sebuah plaza dekat kantor tanpa sengaja saya bertemu dengan teman lama saya. Dulu, di kelas dua SMP, ia duduk di belakang saya. Saya sudah tersenyum dari kejauhan, tapi teman lama ini tidak membalas senyum saya. Saat jarak kami semakin dekat, ia akhirnya tertawa.

– Ya ampun, Atta?, gue pikir siapa-
“Pantes dari tadi gue senyumin elo diem aja”
– Ih elo kok gemuk gini sih? jelek
Hahahaha. Spontanitas teman lama saya itu patut diacungi jempol.

Jadi, inilah saya. Muka bulat, hidung rendah, dan menjadi lebih gemuk. Tak apalah. Yang penting saya sehat, bisa beraktivitas, juga mengerjakan beragam hal menyenangkan. Jujur, keyakinan macam ini kadang-kadang mengendur saat dihadapi derasnya serbuan dari media, yang isinya disemarakkan oleh perempuan-perempuan dengan postur nyaris sempurna. (maklumlah, saya kan juga manusia biasa).

Dan kadang-kadang keluarlah perkataan semacam ini :

Aduh, mesti enak banget kalau punya muka mirip Dian Sastro, cantik banget gitu loh.
Kulitnya dong bo diliat, mulus banget
Ih, rambut susah amat sih diaturnya, coba panjang, hitam, dan tebal

Inilah saya. Jelas jauh dari Dian Sastro, tak punya tulang pipi sebagus Ida Royani, atau rambut legam seperti Titi Kamal. Yang saya punya ya ini, muka bulat, hidung rendah, dan menjadi lebih gemuk. Kalau dunia ini adalah sebuah kolam besar, di mana angsa dan itik ramai berenang ke sana dan ke mari, saya pastilah si itik itu ;)

Si itik ini sesekali masih berolah raga. Itik yakin itu tak akan mengubahnya menjadi angsa. Olah raga baik untuk kesehatan, kalau kurus anggap saja bonus. (meski sampai sekarang berat badan tetap saja tak turun-turun. ha-ha-ha). Itik tetap pergi ke dokter kulit, lagi-lagi bukan untuk mengubahnya menjadi angsa. (Jakarta dan kulit muka si itik rasanya tidak pernah rukun, kota ini dengan segala sesuatu yang terkandung di udaranya memaksa si itik bekerja ekstra keras untuk menghalau jerawat nakal).

Jadi, inilah saya. Kalaupun saya itik, saya mau jadi itik yang berbahagia dengan segala yang ia punya, termasuk muka bulat dan hidung rendah ini :)

Keterangan foto : Itu si itik eh si atta. Foto diambil oleh Soni saat hunting di kawasan kota tua, tak jauh dari museum Fatahillah.

saya mendekap senja…

saya pergi ke timur, menantang matahari, berburu senja dalam genggaman asa…

setelah rintik gemulai menyapa, langit berubah menjadi ramah, torehan semburat jingga di barat menuai pendar keemasan di hati. saya begitu mencintai senja… sekarang, esok, keesokannya lagi.

burung besi dengan kepak sayapnya berbaik hati mengantarkan saya ke satu tempat, ladang senja yang siap dipanen.

Melawai, namanya mengingatkan saya pada sebuah kawasan di selatan jakarta. di Melawai saya berhenti, mengagumi kecantikan kota, menengadah ke langit dan menemukan gugusan mega bersenandung… anyaman lirik terbaik menyambangi indera dengar. ombak kecil berlarian, memandangi saya dan berkata…”kami menunggumu”

senja. ombak. teluk. gugusan mega. biru. jingga. kerlip lampu kapal di kejauhan. angin yang membelai dan mengecup dengan santunnya. kehangatan pulau tukung yang siap direngkuh.

seraya mendekap senja, pikiran saya dipenuhi pertanyaan; apa yang tidak dimiliki kota ini? …