Semoga Lebih Baik

Sore yang cerah. Awan seperti bulu biri-biri menyebar di langit utara. Sebaran sinar matahari teduh saja. Tak menyengat saat menyentuh kulit. Orang ramai berkumpul di tanah lapang. Duduk beralaskan rumput hijau. Aku sendiri memilih duduk di dekat kerimbunan pohon kembang sepatu.

Tidak semua duduk beralas rumput. Satu orang duduk di bangku kayu kecil. Wajahnya tampak jelas terlihat. Sore itu ia menjadi pusat.

“Aku hendak membuat permainan,” ucapnya, merebut perhatian kumpulan orang-orang di tanah lapang. “Aku akan membacakan pertanyaan dan kalian bisa mengangkat tangan kalian kalau merasa kalianlah orangnya”.

Semua orang di tanah lapang mengangguk. Sepertinya permainan akan berjalan semarak.

“Aku mulai sekarang,” ujarnya, tersenyum. “Semua siap?,” ia bertanya, dan mengedarkan pandangannya, menatap orang-orang yang duduk beralas rumput.

Lagi-lagi, semua orang mengangguk. “Ya ya, kami siap,” Laki-laki berambut ikal yang duduk tak jauh dariku sepertinya sudah tak sabar, ingin permainan segera dimulai.

“Siapa yang kerap kali lupa pada jadwal acara atau janji temu?”

Aku segera mengangkat tangan.

Orang yang duduk di bangku kayu kecil melanjutkan pertanyaannya

“Siapa yang senang menunda-nunda pekerjaan dan kerepotan setengah mati ketika akhirnya jadwal tenggat semakin dekat?”

Ya ampun, aku juga. Cepat-cepat aku mengangkat tangan.

“Siapa yang sering lupa meletakkan kunci, lupa menaruh charger ponsel, lupa membawa kunci rumah dan terpaksa membangunkan penghuni lainnya begitu pulang agak larut, lupa membayar tagihan telepon seluler, lupa menaruh majalah pinjaman dari perpustakaan, kehilangan banyak sekali catatan penting karena tidak memindahkannya dan hanya membiarkannya tergeletak bersama kertas-kertas lain di atas meja?”

Wah, aku juga, aku juga. Dan lagi-lagi aku mengangkat tangan tinggi-tinggi.

“Siapa yang merasa waktu 24 jam yang ada tak pernah cukup, bukan karena jumlah waktu yang kurang banyak, tapi karena manajemen waktu yang ia terapkan tidak maksimal?”.

Ini … aku juga.

“Siapa yang memiliki beragam mimpi, tapi tidak mencoba perlahan-lahan menyusun langkah untuk menjadikannya nyata bukan hanya khayalan semata?”

(Aku ragu mengangkat tangan. Tapi ah, begitu banyak asa yang hanya diucapkan pada obrolan bersama teman saja, cita yang tak pernah bergerak menjadi nyata, karena jejak-jejak yang terhenti. Mana mungkin beasiswa jatuh ke tangan kalau menulis dan berbicara dalam bahasa Inggris masih gagap seperti sekarang -sementara belajar bahasa akhirnya berhenti di tengah jalan akibat beragam alasan-. Mana mungkin memotret bisa menjadi lebih baik kalau malas berburu gambar, malas menimba ilmu dari orang-orang yang jauh lebih mumpuni, kalau kamera lebih senang dipandangi ketimbang digunakan. Mana bisa mimpi sebelum usia 30 -membuat satu buku yang kecil saja, tidak usah diterbitkan besar-besaran- benar-benar terwujud kalau tidak dimulai menulisnya satu persatu, membuka dialog dengan beberapa penulis yang sudah pernah menerbitkan karya, menempa mental manakala naskah diedit atau ditolak. Mana mungkin saldo tabungan tiba-tiba membumbung kalau tidak menyisihkan pendapatan dan menabungnya di rekening yang wajib dan harus tidak dikutak-katik)

Dan, aku kembali mengangkat tangan.

Aku melihat ke sekeliling, tak ada orang yang kehilangan semangat bermain, tapi hanya aku yang masih mengangkat tangan setiap kali pertanyaan usai dibacakan.

***

(365 hari di 2005 baru saja lewat, tidak semua buruk, banyak juga hal menyenangkan yang terjadi. tapi di 2005 kemarin si neng atta ini rasanya makin ceroboh saja, mudah lupa pula, padahal masih muda. neng atta juga makin malas. malas masuk kelas bahasa inggris, malas bangun pagi, malas olahraga, malas menabung, tapi tidak malas makan dan kian gendut. hehehehe. hari ini menjadi gerbang pembuka dari 365 hari di 2006 yang siap dijelajahi. mudah-mudahan bisa jadi awal untuk meneguhkan kembali semangat, mengusir malas -hush, hush, ayo rasa malas pergilah jauhjauh-, memulai langkah kecil, bergerak mewujudkan cita -tak lagi khayal semata-, semoga 2006 lebih baik, untuk saya, untuk kalian, untuk semua :))

48 thoughts on “Semoga Lebih Baik

  1. hi, mbak atta… met taon baru ya! kemaren aq baca kalo tulisan2 mbak atta yang dulu ada sebagian yang ilang… kebetulan aq suka nyimpen tulisan2 mbak, ga sesuai bulan sih, tapi berdasarkan kategori, jadi aq ga tau mana tulisan yang udah ketemu, mana yang blom… kalo mbak butuh, mail me aja… thanks!

  2. Semoga *background sound: KLA Project* :D
    Bener itu, Ta. Sdh nulis list, bukan berarti sdh terwujud. Sdh diobrolin dg teman, bukan berarti sdh mengerjakan :D

  3. selamat tahun baru, atta!
    semoga semua yang diimpikan kan terwujud satu demi satu di tahun yang baru, dan atta tak perlu mengangkat tangan lagi saat permainan yang sama dimainkan kembali akhir tahun 2006. :)

    bon courage for everything!

  4. happy new year 2006 atta ;)
    semoga tahun baru bukan hanya pertanda waktu, tapi upaya bagi kita untuk senantiasa membuat diri lebih baik, InsyaAllah.
    sukses ya tta.. may your dream will come true :)

  5. Tahun lama, tinggalkan kenangan lama, dan sambut Tahun baru, harapan baru, semangat baru. Pacar lama….??? kayaknya ditinggalin juga deh, soalnya baru ketemu cowok baru……….. SEMANGAT!!!!!!!!!

  6. ..tengkyu pernah mampir di blog aku. seneng bgt :)
    Well, tahun baru semangat baru.. Mungkin tahun ini kita (krn aku juga ikut angkat tangan) ga perlu angkat tangan buat semua pertanyaanpertanyaan itu ya:p

  7. he’eh, setujuh kalaw si atta itu pelupa walaw masih muda. buktinya sampai sekarang janji nongton pilem su-hok-gi kagak pernah kesampaian. hehehe…

    pun demikian, kawan ini adalah salahsatu mahluk yang menyenangkan. indeed. kapan tante, kita bakal nongkrongin rak buku? :p

  8. Attaaaa!!!! jahat lo… kok gw gak di ajak..
    gw gak mau dateng sendirian, klo ada elo kan gw punya patner buat angkat tangan he..3x…

    met taun baru yach bu… dan bener kata elo… kita emang butuh taun baru… :D

  9. hai..ta, seperti berkaca.. Gue Bangget.. hehehehe.. melewati satu januari bicara sama kamuh, pasti gak akan pernah sayah lupa.. eh btw yang rajin belajar motretnya yah.. karena kamuh janji mo potret sayah.. keep smiling, keep shining..

  10. Dear Atta,

    Semoga taun 2006 ini bisa membawa banyak berkah buat kita. Kedepan, kayaknya saya mesti mulai lebih gencar lagi shifting career tothe next level, destination: Europe – tinggal itu aja yang belom pernah dikunjungin. Salam kangen dari afrika barat :)

  11. selamat tahun baru juga atta!

    jabat erat dan salam hangat, sehangat mentari catalonia yang bersinar di sepanjang la rambla hingga laut mediterania :)

  12. Tahun baru selalu menakutkan. Takut akan waktu yang tersisa. Takut pada kesia-siaan langkah yang tinggal beberapa jengkal. Paradok !! Berkurangnya kesempatan hidup justru sering disakralkan dengan pesta-pesta yang mengurutkan dada. Abnormal !! Kesempatan hidup yang semakin sempit justru diperingati dengan hedonis yang berlebihan. Tahun Baru adalah peringatan !!. Tahun Baru adalah terminal yang selalu mengingatkan kita akan kain kafan. Tahun baru selalu saja tidak dipahami ?!.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *