Saya ingin mencuri…

Curi v, Men.cu.ri v, mengambil milik orang lain tanpa izin atau dengan tidak sah, biasanya dengan sembunyi-sembunyi (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Balai Pustaka, 1995, hal 200)

Sepanjang hidup rasanya saya tidak pernah mencuri… tapi tunggu dulu…

semasa kecil saya pernah menikmati jambu bangkok milik Bang Dudun, tetangga saya. Hanya berbekal galah panjang saya beserta jagoan kampung yang lain mempertaruhkan nasib di bawah pohon jambu. Kalau sampai pemiliknya yang sah tahu… bisa tamat riwayat kami. Bang Dudun, dengan suara kerasnya, dapat membangunkan seisi kampung. Mengadukan perbuatan pada guru mengaji… dan ujung ceritanya bisa ditebak. Petuah bijak selekas Isya akan memperlambat kepulangan kami dari masjid.

Waktu kecil juga saya pernah mencuri selada. Aduh… jangan salahkan saya. Sayuran hijau nan segar itu tumbuh dengan rimbunnya di pinggir kali. Selada seperti memanggil saya… “Ayo gadis kecil, petiklah aku, bukankah aku mengandung kebaikan yang bermanfaat untuk tumbuh kembangmu”. Dan saya tergoda bujuk rayu tanaman yang diduga berasal dari Asia Barat ini.

Saya juga pernah mencuri bibit bunga Matahari. Dalam perjalanan Karanganyar-Solo di senja yang lembut, bunga matahari bergerombol dengan cantiknya. Saya selalu terpukau pada ciptaan Tuhan yang satu ini. Turun dari kendaraan dan memandangi kecantikannya. Memandang sekeliling… kok senyap? tidak ada rumah…. jadi kesimpulan yang saya buat kala itu; bunga matahari ini tak bertuan. Jadilah saya mencuri bibit dari bunga matahari yang telah kering di pokok pohon. Mungkin karena jalan yang ditempuh kurang baik menurut hukum dan agama (baca; mencuri) bibit tak kunjung beranjak menjadi pohon. Padahal saya sudah mengerahkan energi untuk memberinya ruang gerak yang nyaman.

Sepanjang hidup rasanya saya tidak pernah mencuri… tapi tunggu dulu…

Malam ini saya ingin mencuri… meski dalam benak masih terekam jelas apa yang diajarkan guru mengaji saya. (“Mencuri itu dosa, sama artinya dengan mengambil hak orang lain, Pemilik hidup pasti tidak menyukai perbuatan orang yang mencuri”)

Ya… malam ini saya ingin mencuri hati seseorang. Mendekatkannya ke sini … ke dekat hati saya sendiri, mengukir nama dengan pahatan kasih, membisikkan kalimat sayang, menjaga si hati (dan pemiliknya) dengan segenap cinta, membawa si hati (dan pemiliknya) ke negeri senja, memegang hati (dan tangan pemiliknya) dengan lembut… membangun saung tempat berteduh… berdua…

Yang saya ingat; saat mencuri jambu bangkok, selada dan bibit matahari ada debaran tanpa irama yang mengiringi, detak jantung dengan kecepatan di luar kebiasaan… malam ini saat saya berniat mencuri hatinya… ada degup dan debaran yang sama disini. Kalian mendengarnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *