Mimpi Memotret

Hujan turun kecil-kecil. Hujan yang awet. Mulai dari selepas maghrib dan sudah hampir jam sembilan malam, gerimis belum juga reda. Kelas baru saja selesai saat kami, saya dan lima orang peserta yang lain memenuhi teras gedung. Berdiri sejenak, obrolan ringan, nikmati gerimis. Malam ini pertemuan ketiga. Sekat-sekat sudah mulai mencair. Yang semula diam dan ragu menyapa kini mulai berbagi gelak, menertawakan kebodohan, bertanya, menjawab.

“Tadinya yang ada di otak gue itu, diafragma kecil biar lensa cepet nutup, nggak kepikiran ini ada korelasinya dengan pengaturan speed”

yang lain menimpali;

“Gue pikir kamera gue rusak, ternyata bunyi jepret yang lambat itu karena gue setel kamera di speed rendah, untung belum gue bawa ke tukang servis”

dan semua tergelak.

Bulan ini saya akhirnya mulai membuat jejak, beranjak mewujudkan mimpi. Satu langkah kecil dari sebuah khayal yang sudah ada sejak dulu; memotret dengan baik. Saya tak pernah berani memulainya karena selalu ada saja alasan yang saya karang dan menghentikan niat saya. Dulu, sebelum memiliki penghasilan sendiri, saya selalu memendamnya dalam-dalam. Buat saya memotret bukan sesuatu yang primer. Duduk di perguruan tinggi dan mengambil jurusan yang sesekali bersentuhan dengan ranah ini pun tidak membuat saya tergerak untuk mempelajarinya lebih dalam. Dana menjadi alasan utama. Klasik memang. Saya bukan pejuang sejati, seperti dalam buku-buku kisah sukses, yang berusaha mencari alternatif lain, meski dihadang kendala finansial. Pemalas ;)

Tapi mimpi saya belum juga hilang; ya, memotret. Dan, saya menantang diri saya sendiri : ayolah Atta, kamu tidak semalas itu kan? :D.

Maka dengan langkah gagah berani, tahun ini saya mulai bergerak mewujudkan mimpi. Tak ada kata terlambat bukan?

Motivasi utama saya datang dari Teddy. Si tampan ini membuat saya jatuh hati setiap harinya. Ada saja hal baru yang saya temui darinya. Sejak saya berjumpa dengannya pertama kali; tahun lalu, pada tengah hari di akhir minggu, saya merasa ia bisa diandalkan dan dengan senang hati saya mendaulatnya menjadi pasangan saya.

Tapi ternyata saya bukan penganut metode pembelajaran otodidak yang baik. Buku manual yang membingungkan, istilah yang rumit, dan hasil foto yang kurang memuaskan, hampir membuat saya melupakan Teddy. Saya tahu, mimpi saya -memotret dengan baik- tidak akan bergerak menjadi nyata jika formula yang saya terapkan masih sama; harus ada langkah yang lebih terencana.

Dan langkah itu dimulai awal tahun ini. Sekarang, hingga bulan depan, setiap Senin dan Kamis, seorang perempuan dengan ransel hitam akan tergesa-gesa keluar kantor lebih awal pada sore hari, melakukan perjalanan antara Karet – Gunung Sahari, menuju kelas kecil yang hangat. Setelahnya ia akan berkonsentrasi menyerap apa yang disampaikan pengajar. Perempuan itu saya ;)

(kalian harus melihat pengajar yang berdiri di depan kelas itu, ia begitu cerdas, lucu, dan rendah hati. pilihan analoginya membuat istilah fotografi begitu membumi, “diafragma kecil itu mirip seperti pensil yang ujungnya runcing, arsiran dari pensil yang ujungnya runcing akan terlihat lebih tajam”. ia memulai karir sebagai fotografer puluhan tahun lalu. di satu pertemuan ia membawa kamera andalannya. umur kamera itu jauh lebih uzur ketimbang saya. ia membeli kamera itu sebelum saya lahir. hahahahaha. tua. ia dan kamera itu. laki-laki yang juga dosen fotografi sebuah institut kesenian ini tahu caranya memancing minat. ia juga tak henti memompa semangat dan mengajak kami berpikir positif; kalau kalian tekun, kalian dapat menghasilkan gambar-gambar yang baik)

Dalam salah satu perjalanan pulang, Eka, teman satu kelas saya bertanya; “Kenapa elo capek-capek ikut kelas dan pengen motret?”. Buat saya, ini serupa dengan mempertanyakan kenapa akhirnya saya ingin apa yang mengendap di kepala bertahun-tahun lamanya itu bisa nyata.

Jawabnya sederhana.

Saya ingin satu saat nanti, saya akan merekam lebih banyak apa-apa yang saya lihat. Hanya itu. Sama sekali tidak terlintas di pikiran saya untuk menjadi fotografer profesional, menggelar pameran, atau impian-impian muluk lainnya. Saya hanya ingin merekam sekitar. Kelak, akan ada foto yang bercerita tentang gigi pertama yang tumbuh di rongga mulut si buah hati, misalnya. Pasangan saya yang tersenyum -kalau saya akhirnya bertemu dengan laki-laki baik- dan saya akan memotretnya dalam film hitam putih. Tempat-tempat menarik yang akan saya kunjungi. Laut biru. Keramaian pasar tradisional. Kandang burung tempat merpati berteduh. Stasiun kereta api yang dipadati penumpang. Kamboja merah depan rumah. Nelayan yang berangkat mencari ikan. Anjing hitam penjaga sawah. Cemara di pantai. Anak-anak Sekolah Dasar yang mengayuh sepeda. Teratai mekar di dalam cawan. Keluarga. Teman. Sahabat.

Tahun ini, seperti janji saya di awal tahun 2006, akan ada langkah-langkah kecil dan saya tahu, saya mulai bergerak mewujudkan mimpi :)

40 thoughts on “Mimpi Memotret

  1. mbak atta..
    ini ada temen yg minta tulung nih, kenal echa ndak yg dulu pernah magang di rcti, kemaren itu anaknya nanyain nomer hp kamu, aku kasih nomer yg dulu kok gak nyambung ya.. bales ke japri ya.. tengkyu.. :)

  2. Yep… gw jg sejak lama memendam mimpi pengen motret dg serius. tapi ternyata gw lebih pemalas dari Atta hehehe… buktinya sampe sekarang nggak pernah ikutan kelas… Kapan2 pengen ah.

  3. Atha,
    met memulai langkah kecilmu.
    bolehkah berbagi mimpi dengan saya?
    kasih saya info ttg kelas memotretmu dong, saya pengen ikutan. nomor teleponnya?

    makasih sebelumnya ya.

    salam kenal
    Intan

  4. oke deh udah mulai belajar…..
    butuh model buwat di putu?????
    /me set mode -o’on – off …. set mode narsis -on-
    jaeijeaijaeijaeijaei **ngacir******

  5. eh kayanya dulu pernah kesini….

    eh aku ajari slr dong…huhuhu, bosen ma yg compact cam nih..pengen jadi yg pro. :D

    aku ngidam canon 350D nih….sayang harganya 7 juta!!

  6. ah..ada pencerahan baru rupanya si ibu…ya skarang bisa bilang, selamat berburu… ;)

    eh iya bu… kamera itu jujur lho, senang rasanya bisa menangkap ekspresi spontan orang dari balik kamera.. :D

  7. salam buat teddy yah.. sayah tahu, dia memang setia kok.. dan akan memberikan yang terbaik buat kamu, so kapan mo potret sayah,—-> (belum titik masih koma.. heheheheh)

  8. hehehehehe….bikin ngiler aja na! :(( saya sendiri pengen bisa motret bagus. but, sayangnya belum bisa. saya cuma make digicam biasa saja. emang praktis sih, but kalo mo ngeshoot obyek yg susah, gak bisa. Lagian belom punya yg SLR! well, akhirnya settingannya manut defaultnya aja :P

    btw, gw cuman apa aturan sepertiga or dua pertiga doang :P

  9. ‘Teman saya yang tersenyum -kalau saya akhirnya bertemu dengan teman baik- dan saya akan memotretnya dalam film hitam putih’

    asikkk, jadi kapan mau moto saya? [narsis mode definitely ON] :)

  10. sedang galau nih Atta :-(

    Hmmm..mimpi memotret, saya juga ingin sekali bisa memotret.
    Sampai saat ini andalan saya masih FM10 yang masih setia, soale belum bisa beli yang lain he he

    ingin suatu hari bisa memotret anak saya pertama kali berjalan..mm nampaknya mengagumkan, memotret untuk orang yang saya sayangi.

    selamat belajar dan tetap semangat :-)

  11. Dear atta,
    selamat yahh..*boleh kan diselamatin* setidaknya ini langkah awal, and it’s the most important step from all. oh yeah ntar kalo kesini, motret2 aku yahh….bersedia jadi objekkkkk…*gratis gratis gag usah dibayar* :P

  12. Hal pertama yang saya lakukan ketika diterima bekerja sebagai wartawan adalah bagaimana menuliskan apa yang saya lihat dan dengar tadinya…secara perlahan…keinginan itu bermetamarfosa menjadi keinginan untuk membekukannya dalam bentuk foto…

    Setahun…saya menabung gaji yang sangat kecil agar bisa memiliki kamera…Alhamdulillah saya bisa membeli Nikon F65 bekas milik senior yang punya dua kamera…hingga kini saya selalu melakukan hunting foto…tidak peduli apakah hasil jepreten itu bagus atau jelek…over atau under…yang penting motret terus..

    teruslah berkarya wahai wanita..karena kita tidak akan pernah puas akan hasil karya kita sebelum salah satunya bisa membuat kita menangis atau tersenyum…

    Salam..sila mampir ke “rumah” saya…

  13. Dear Atta,

    As I began landing my 2 feet on this foreign land, I began snapping pictures from the moment I jumped into the car taking me to the central city. What I snapped were devasataing and a lot of them are portrait of difficult life, and hsould not be repeated elsewhere. As more shots taken so far, all those photo shoots have given you so much to learn and shaping up my value and beliefs that life is so worth doing the right thing..

    I may not be an official journalist, but my mind and my character have left me confident to capture those moments and enthusiastically share them to others. be fired up of becoming a good journalist with passion and enthusiasm to uncover what people need to know from you angle of shots.

    My best regards and I am wishing you sucess in your current quest. Hugs from West Africa, indeed..

  14. hiks, dah setahun lebih, olympus-ku menganggur, karena sekarang aku jarang hunting di lapangan….
    pinginnya belajar lagi, tapi dananya lagi gak ada…….

    btw, met ceprat-cepret….

  15. Atta, les di jl. gn sahari ya? tulisan ini persis keinginan gw dua tahun silam, waktu itu utk ngisi waktu pulang kantor pengennya les fotografi, tp berhubung biayanya waktu itu cukup tinggi jadinya gak kesampean aja :( padahal dari kantorku deket banget ke tempatnya darwis triadi, ya itu dia bukan pengen jadi profesional, tp pengen bisa moto buat keluargaku aja :)

    kl udh jago pasang foto yaaaaaa :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *