Jindo

Namanya Jindo. Kulitnya tidak terang tidak gelap. Perawakannya bulat. Ia terkesan ramah. Jindo punya dua roda. Di depan dan di belakang. Jangan membawanya berlari, ia akan terengah-engah. Jadi, sebaiknya pelan-pelan saja. Jindo cocok dijadikan teman, melihat-lihat kota di sore hari. Suara Jindo mudah dikenali. Dulu, saat masih kuliah di Solo, suara Jindo selalu membawa kebahagiaan, setiap ia datang, saya langsung bergegas ke halaman kost. Saya senang melihat Jindo. Lebih senang lagi melihat laki-laki manis yang datang bersama Jindo ;)

Jindo masuk ke dalam genre vespa. Ia milik abang. Kalau tak salah, ia tiba di Solo saat perkuliahan memasuki tahun ketiga. Dari Jakarta ia berangkat naik kereta api. Abang pernah bercerita bagaimana repotnya memaketkan Jindo ke Solo.

Pertama kali datang ia tak bernama. Stiker di sisi kanan bagian depan bertuliskan “Jindo” memberi inspirasi. Abang kemudian menamainya Jindo. Vespa warna hijau tak muda dan tak tua itu (sulit sekali mendeskripsikan warna hijau yang memulas tubuh Jindo ini) jarang sekali rewel. Abang menyayanginya. Di tangan Abang, Jindo bersih dan terawat.

Di Solo, Jindo banyak membantu. Ia mengantarkan kami, saya dan abang, nonton bioskop, nonton teater di Taman Budaya Surakarta, ke pasar loak, putar-putar kampus, ke rumah dosen pembimbing skripsi yang ada di batas kota, ke warung makan enak dekat Slamet Riyadi, makan bubur cenil di Singosaren, ke kios buku dekat alun-alun. Kunjungan favorit saya adalah ke pasar ikan hias dekat Pasar Gede. Melewati jalan Ir. Sutami di depan kampus, belok kiri ke arah jalan Urip Sumoharjo, lurus saja, tepat di depan Pasar Gede, jejeran kios ikan hias sudah terlihat. Senang sekali melihat ikan-ikan dalam akuarium. Jindo juga yang setia membawa saya ke dokter gigi, ke warung cap cay enak di dekat Pedaringan, atau menjemput saya di Stasiun Solo Balapan.

Kami dekat. Saya, Jindo, dan abang. Tapi, satu kali Jindo sempat berjarak dengan saya. Saya ingat betul kejadiannya. Semua bermula dari skripsi yang tak kunjung usai. Saya menjadi mudah sedih, amat sangat perasa, mudah “bertanduk” dan “bertaring”. Jadi demi kenyamanan bersama, saya mengusulkan agar abang dan saya tidak terlalu sering bertemu, sampai keadaan menjadi tenteram. Abang setuju. Dan selama masa jeda itu, saya menahan rindu, tidak berjumpa dengan Abang sekaligus Jindo.

Singkat cerita, masa jeda itu akhirnya selesai. Dan, bertiga kami kembali menyusuri Solo. Tapi, tak seperti biasanya, Jindo terlihat rewel. Jalannya malas, lambat. Sepertinya ia kehilangan semangat. Dan puncaknya; ia mogok. Mesinnya tak mau dihidupkan. Mati. Aduh Jindo, apa yang terjadi?

Saya dan Abang duduk di dekat tempat parkir. Memandangi sosok bulat di depan kami. Abang lalu mendekati Jindo, dan berbicara dengan sabar (sabar itu nama tengah Abang, laki-laki ini orang tersabar kedua yang pernah saya temui. Orang tersabar pertama tetap dipegang oleh Ma’e, ibu saya ;))

Kamu kenapa? Ayo dong jangan ngambek gitu. Ini kita kan lagi jalan-jalan sama Atta. Ini Atta lho. Masa’ kamu lupa

Ajaib. Tak lama setelah ucapan Abang itu selesai, mesin Jindo hidup. Ia tak lagi rewel. Hohoho. Rupanya masa jeda membuat Jindo sedikit lupa pada saya. Lama tak bersua memupus ingatannya tentang sosok saya. Tak sopan sekali dia :D

Saya tak tahu apakah sekarang ia tetap ingat saya. Setelah rampung kuliah, saya kembali ke Jakarta. Abang mendapatkan pekerjaan di Balikpapan, kota tempat Abang lahir dan dibesarkan. Dan kami, saya, Jindo, dan Abang berjauhan. Kian lama kian renggang. Jindo tak ikut Abang. Terakhir saya dengar Jindo sudah berganti pemilik.

Kadang-kadang saja, saya kangen Jindo. Vespa yang kulitnya tidak terang tidak gelap. Perawakannya bulat dan terkesan ramah. Kadang-kadang saat melihat vespa di jalanan Ibukota, saya ingat Jindo. Sudah berubahkah catnya? Kira-kira apa ya namanya sekarang? Pasti bukan Jindo lagi. Mungkin Onthel, atau Veteng -Vespa ganteng-, atau Moren -montor keren, atau Vespa saja, atau malah tak bernama. Kadang-kadang kalau ingatan tentang Jindo datang, saya berharap; mudah-mudahan pemiliknya yang sekarang merawat Jindo dengan baik :)

untuk Jindo, vespa baik hati yang pernah saya kenal, dan untuk potongan kisah lama

36 thoughts on “Jindo

  1. ah, atta…

    jadi inget alfa merah punya seorang kawan–anak manajemen UNS–yang kami namai “awan kinton”. nama yang terinspirasi dari kendaraan-nya goku, sang jagoan di film animasi dragon ball. pemiliknya berbaik hati menjadikan si awan kinton menjadi motor inventaris anak-anak kost kami. saya termasuk yang mempunyai hutang budi sama motor yang suaranya bisa terdengar radius setengah kilometer (dan, konon, karena suaranya yang ajaib itulah, kami menamainya awan kinton). ngasinan-gladak biasa saya tempuh dengan produk yamaha release-an tahun 92 itu selama saya menggarap skripsi. dan selani saya; timbul, rofiq, aji, fajar, anang, tiga belas anak kost lainnya, juga mas dony–pemilik kost dan warung makan djakarta yang sering belanja ke pasar dengan awan kinton jika vespanya minta cuti–pastilah punya banyak cerita manis dengan motor kesayangan kami itu.

    atta, postingan kamu, membuat kami mengingat dan merindukan kembali awan kinton. juga solo.

    jeppe

  2. wow, postingannya tentang solo.
    dulu kuliah di solo. mbak? dimana?

    wah, sekarang solo sudah berubah. silakan cek sendiri. ntar tak anterin muter2 deh, kalo mo menikmati nuansa solo. tapi – tentu – tidak bersama jindo…..(btw, jindo ini kakaknya sindo, ya? kekekekeke)……

    btw, mbak atta ki wartawan di media apa, to?

  3. wak yang kangen sama jindo……

    inget pertama kali belajar naek motor blom pernah belajar, sekali belajar sama vespa….

    20 menit pertama….
    – pengarahan tentang kegunaan kopling, rem, dan cara “menstater”
    – percobaan menghidupkan vespa (sukses tanpa ada halang rintang)

    10 menit berikutnya
    – coba jalan dengan gigi 1
    – gak pernah berhasil

    10 menit ke 2
    – berhasil jalan tapi waktu pindah gigi selalu mati (dengan catatan 2 kali jatoh karna tdk kuat nahan bobot vespa yang emang rada bahenol)

    ….
    ….

    1 jam kemudian
    – sudah bisa jalan sendiri
    – muter2 rumah, belajar ngebonceng

    5 menit berikutnya
    – muter2 komplek ( berhasil 2 lap total waktu 15 menit, hampir nabrak beca 1 kali)
    – mulai berani ngebut, hampir nabrak tukang sayur, banting setir ke kiri, Niat mau ngerem tapi apa daya malah gasnya yang ketekan… 1/20 detik kemudian…… vespa ter cintah sudah tidak mengijak tanah untuk beberapa saat dan melayang ( ingat matrix? yup.. keadaan di mana vespa melayang persis seperti film matrix semuanya seperti gerakan lambat ketika gw dan vespa melayang ) ke galangan sawah berikut pengemudinya

    20 detik berikutnya….
    – terdiam, bengong…. dan kapok naek vespa

    haeuhaeuhaeuhaeuhae

  4. mmmmm dua sahabat di Balikpapan juga penggemar vespa.

    Kalau dari jauh dah kedengaran suara bajaj..bisa diduga itu pasti Ali dan Arief, dua sahabat saya :D

  5. Jindo…dari namanya kayaknya Jindo itu murah hati dan sangat humble. jadi pengen liat Jindo nih. pa kabar ta? gimana sekolah potretnya? semoga semuanya baek2 disana yah

  6. yaaa Jindo, gak sempet difoto ama kamera canggihnya atta deh kamuuu…. jadi sekarang kudu ber-vespa jg nih, tta lelaki single-nya ? selain menenteng kamera, pandai bergitar, suka memakai baju koko…dst. (naon deui deh ?!)

  7. seharusnya aku kenal dong sama si jindo … :P kan vespa makhluk langka di fisip kala itu (tul kan??? tapi emang vespa itu makhluk langka di mana2 deng …)
    jadi inget vespanya mas fahmi yang dikasih nama si cong-cong (baca=cung-cung) …

    pa kabar mba atta … lama ga mampir … tambah banyak deh tulisan yang kudu dibaca …

    btw, sukses ama kelas fotonya!!! aku mau kok jadi korbannya … ^_^ …

  8. dulu sebelum kita punya mercy tiger alias si bowie, kita punya fiat uno yang namanya yayat. ngga’ pernah mogok kalo #3 naik barengan gw.. kalo dah selesai nganterin gw, dia suka mogok. baik banget yak.. ngga’ tau doi dimana sekarang.. kangen jadinya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *