Menjawab Tanyamu

Anak-anak selalu penuh dengan tanya. Saat mendengar celoteh dari bibir-bibir mungil itu, saya sesekali menerka, apa ya yang ada di kepala mereka?. Mereka, anak-anak manis yang pernah saya jumpai, seperti tak pernah kehabisan bahan pertanyaan. Bertanya ini, bertanya itu. Penuh rasa ingin tahu.

Saya belum menikah dan belum memiliki anak. Tidak setiap hari juga saya bertemu anak-anak. Tapi setiap pertemuan dengan wajah-wajah polos itu, entah dengan anak teman kantor, putri sahabat, atau anak di sekitar rumah, selalu diisi dengan sederet pertanyaan.

Malam ini tiba-tiba saya membayangkan, bagaimana kalau setiap hari saya berkumpul dengan mereka, anak-anak saya kelak, wajah-wajah ceria yang tak henti bertanya. Dan saya mulai berandai-andai. Kira-kira apa yang akan mereka tanyakan? Bisakah saya menjawab setiap tanya yang terlontar?

– Kenapa sih hujan kok turun dari langit?-
Ah yang ini saya pasti bisa menjawab. Jelaskan tentang konsep penguapan, titik-titik air yang ditampung di awan, angin yang bergerak dan turunlah hujan. (Benar kan?)

– Gober Bebek itu siapa?-
Wah apalagi yang ini. Saya akan tatap mata buah hati saya, melihatnya dengan senyum, dan mulai bercerita, mengutip “The Life and Times of Scrooge McDuck”: Gober adalah keturunan terakhir klan McDuck, keluarga ningrat di Skotlandia yang jatuh miskin, dan tak mampu membayar pajak. Gober lalu bertekad untuk bisa membantu. Koin pertama yang didapatnya dari menyemir sepatu menjadi inspirasi baginya untuk memulai petualangan di Amerika. Gober lalu menjadi sangat sangat sangat kaya, tetapi kikir, terutama pada keponakannya Donald. (Yap, terjawab sudah)

– Kok bisa ada gunung berapi?-
Huhuhu, Ibu bingung. Nanti dulu, kan ada Google. Jelajah sana, jelajah sini, selesai.

– Kenapa di tahun 2005-an, Nicholas Saputra itu terkenal?-
Ya harus. Kamu tahu, Ibu juga suka kok. Ganteng, manis, cerdas, aktingnya keren, si Nicho ini pernah jadi bintang utama di film Gie. Waktu dia jadi Rangga di Ada Apa Dengan Cinta?, aktingnya bikin hati jadi lumer.

-Ini apa?-
tripod
-Kok Ibu kalau motret suka pakai ini, buat apa?-
Untuk menjaga supaya kamera kita tenang. Kalau kamera tenang, hasil gambarnya juga akan tenang, enggak goyang.

– Teori relativitas itu apa sih bu?
Ya ampun, fisika. Sebentar, sebentar, Ibu tanya teman ibu yah. Om anu itu yang lulusan fisika dari sebuah institut negeri di Bandung itu loh. Sabar ya Nak.

– Dulu Ibu ketemu Bapak di mana?-
Walah, untuk pertanyaan ini tidak perlu referensi. Ibu hafal di luar kepala. Mau detailnya juga tak?

Sempat terbersit pikir; susah juga ya menjadi orang tua. Mudah-mudahan, suatu saat nanti, jika waktunya tiba, saya tetap diberkahi berton-ton rasa sabar untuk meladeni tanya mereka. Semoga tetap ada banyak jalan untuk mencari jawab. Termasuk ketika wajah-wajah itu bertanya :

Kok orang perang sih Bu?
Kalau perang begitu, sekolah libur enggak Bu?
Kenapa orang mencuri?
Kalau perang begitu mereka ngerebutin apa sih Bu?
Kenapa sih sampai ada orang membunuh?
Jadi Munir meninggal waktu naik pesawat, kok bisa? kan dia cuma makan mie goreng sama minum jus jeruk? (saya berandai-andai nama Munir akan masuk dalam buku sejarah beberapa tahun mendatang)
Orang-orang di kolong jembatan itu akan terus di situ enggak sih Bu?
Katanya semua manusia itu saudara, kalau saudara kenapa ngebom?
Memangnya ruang rapat di gedung DPR itu seluas apa sih Bu? Kenapa Bapak yang pakai jas itu ngomongnya mesti teriak-teriak gitu, ngotot-ngotot, kalau ngomong biasa aja mungkin takut enggak terdengar sama yang lain kali ya Bu?
Tapi pengamen kecil yang kita lihat tadi juga ada jam istirahatnya kan?
Kenapa dipukuli? Kalau si mamang enggak boleh jualan di situ, bapak-bapak baju hijau itu kan bisa ngomong baik-baik. Ya kan bu?
Kenapa kita enggak punya hutan lagi Bu?
Loh? Kok beras Vietnam sih, kata Ibu dulu banyak sawah menguning, terus sekarang petani-petani itu nanam apa Bu?

dan sederet tanya lainnya …

Jadi anakku yang kinasih, tulisan ini dibuat jauh-jauh hari sebelum kamu hadir di dunia. Suatu saat jika waktunya tiba, pasti akan ada banyak tanya dari bibirmu. Semoga juga ada banyak jalan untuk menjawab tanyamu.

(terinspirasi dari perjalanan antara Karet-Slipi; bersama teman dan dua anaknya. “Bu, kenapa ibu-ibu itu di pinggir jalan?, yah kita enggak bisa minggir ya,” ucap Dandy, 3 tahun, putra bungsu teman kantor. Kami di dalam mobil yang melaju, di luar hujan turun, dari balik jendela terlihat seorang ibu berhenti mengemis sejenak, berteduh di bawah jembatan layang Pejompongan)

Jindo

Namanya Jindo. Kulitnya tidak terang tidak gelap. Perawakannya bulat. Ia terkesan ramah. Jindo punya dua roda. Di depan dan di belakang. Jangan membawanya berlari, ia akan terengah-engah. Jadi, sebaiknya pelan-pelan saja. Jindo cocok dijadikan teman, melihat-lihat kota di sore hari. Suara Jindo mudah dikenali. Dulu, saat masih kuliah di Solo, suara Jindo selalu membawa kebahagiaan, setiap ia datang, saya langsung bergegas ke halaman kost. Saya senang melihat Jindo. Lebih senang lagi melihat laki-laki manis yang datang bersama Jindo ;)

Jindo masuk ke dalam genre vespa. Ia milik abang. Kalau tak salah, ia tiba di Solo saat perkuliahan memasuki tahun ketiga. Dari Jakarta ia berangkat naik kereta api. Abang pernah bercerita bagaimana repotnya memaketkan Jindo ke Solo.

Pertama kali datang ia tak bernama. Stiker di sisi kanan bagian depan bertuliskan “Jindo” memberi inspirasi. Abang kemudian menamainya Jindo. Vespa warna hijau tak muda dan tak tua itu (sulit sekali mendeskripsikan warna hijau yang memulas tubuh Jindo ini) jarang sekali rewel. Abang menyayanginya. Di tangan Abang, Jindo bersih dan terawat.

Di Solo, Jindo banyak membantu. Ia mengantarkan kami, saya dan abang, nonton bioskop, nonton teater di Taman Budaya Surakarta, ke pasar loak, putar-putar kampus, ke rumah dosen pembimbing skripsi yang ada di batas kota, ke warung makan enak dekat Slamet Riyadi, makan bubur cenil di Singosaren, ke kios buku dekat alun-alun. Kunjungan favorit saya adalah ke pasar ikan hias dekat Pasar Gede. Melewati jalan Ir. Sutami di depan kampus, belok kiri ke arah jalan Urip Sumoharjo, lurus saja, tepat di depan Pasar Gede, jejeran kios ikan hias sudah terlihat. Senang sekali melihat ikan-ikan dalam akuarium. Jindo juga yang setia membawa saya ke dokter gigi, ke warung cap cay enak di dekat Pedaringan, atau menjemput saya di Stasiun Solo Balapan.

Kami dekat. Saya, Jindo, dan abang. Tapi, satu kali Jindo sempat berjarak dengan saya. Saya ingat betul kejadiannya. Semua bermula dari skripsi yang tak kunjung usai. Saya menjadi mudah sedih, amat sangat perasa, mudah “bertanduk” dan “bertaring”. Jadi demi kenyamanan bersama, saya mengusulkan agar abang dan saya tidak terlalu sering bertemu, sampai keadaan menjadi tenteram. Abang setuju. Dan selama masa jeda itu, saya menahan rindu, tidak berjumpa dengan Abang sekaligus Jindo.

Singkat cerita, masa jeda itu akhirnya selesai. Dan, bertiga kami kembali menyusuri Solo. Tapi, tak seperti biasanya, Jindo terlihat rewel. Jalannya malas, lambat. Sepertinya ia kehilangan semangat. Dan puncaknya; ia mogok. Mesinnya tak mau dihidupkan. Mati. Aduh Jindo, apa yang terjadi?

Saya dan Abang duduk di dekat tempat parkir. Memandangi sosok bulat di depan kami. Abang lalu mendekati Jindo, dan berbicara dengan sabar (sabar itu nama tengah Abang, laki-laki ini orang tersabar kedua yang pernah saya temui. Orang tersabar pertama tetap dipegang oleh Ma’e, ibu saya ;))

Kamu kenapa? Ayo dong jangan ngambek gitu. Ini kita kan lagi jalan-jalan sama Atta. Ini Atta lho. Masa’ kamu lupa

Ajaib. Tak lama setelah ucapan Abang itu selesai, mesin Jindo hidup. Ia tak lagi rewel. Hohoho. Rupanya masa jeda membuat Jindo sedikit lupa pada saya. Lama tak bersua memupus ingatannya tentang sosok saya. Tak sopan sekali dia :D

Saya tak tahu apakah sekarang ia tetap ingat saya. Setelah rampung kuliah, saya kembali ke Jakarta. Abang mendapatkan pekerjaan di Balikpapan, kota tempat Abang lahir dan dibesarkan. Dan kami, saya, Jindo, dan Abang berjauhan. Kian lama kian renggang. Jindo tak ikut Abang. Terakhir saya dengar Jindo sudah berganti pemilik.

Kadang-kadang saja, saya kangen Jindo. Vespa yang kulitnya tidak terang tidak gelap. Perawakannya bulat dan terkesan ramah. Kadang-kadang saat melihat vespa di jalanan Ibukota, saya ingat Jindo. Sudah berubahkah catnya? Kira-kira apa ya namanya sekarang? Pasti bukan Jindo lagi. Mungkin Onthel, atau Veteng -Vespa ganteng-, atau Moren -montor keren, atau Vespa saja, atau malah tak bernama. Kadang-kadang kalau ingatan tentang Jindo datang, saya berharap; mudah-mudahan pemiliknya yang sekarang merawat Jindo dengan baik :)

untuk Jindo, vespa baik hati yang pernah saya kenal, dan untuk potongan kisah lama

Mimpi Memotret

Hujan turun kecil-kecil. Hujan yang awet. Mulai dari selepas maghrib dan sudah hampir jam sembilan malam, gerimis belum juga reda. Kelas baru saja selesai saat kami, saya dan lima orang peserta yang lain memenuhi teras gedung. Berdiri sejenak, obrolan ringan, nikmati gerimis. Malam ini pertemuan ketiga. Sekat-sekat sudah mulai mencair. Yang semula diam dan ragu menyapa kini mulai berbagi gelak, menertawakan kebodohan, bertanya, menjawab.

“Tadinya yang ada di otak gue itu, diafragma kecil biar lensa cepet nutup, nggak kepikiran ini ada korelasinya dengan pengaturan speed”

yang lain menimpali;

“Gue pikir kamera gue rusak, ternyata bunyi jepret yang lambat itu karena gue setel kamera di speed rendah, untung belum gue bawa ke tukang servis”

dan semua tergelak.

Bulan ini saya akhirnya mulai membuat jejak, beranjak mewujudkan mimpi. Satu langkah kecil dari sebuah khayal yang sudah ada sejak dulu; memotret dengan baik. Saya tak pernah berani memulainya karena selalu ada saja alasan yang saya karang dan menghentikan niat saya. Dulu, sebelum memiliki penghasilan sendiri, saya selalu memendamnya dalam-dalam. Buat saya memotret bukan sesuatu yang primer. Duduk di perguruan tinggi dan mengambil jurusan yang sesekali bersentuhan dengan ranah ini pun tidak membuat saya tergerak untuk mempelajarinya lebih dalam. Dana menjadi alasan utama. Klasik memang. Saya bukan pejuang sejati, seperti dalam buku-buku kisah sukses, yang berusaha mencari alternatif lain, meski dihadang kendala finansial. Pemalas ;)

Tapi mimpi saya belum juga hilang; ya, memotret. Dan, saya menantang diri saya sendiri : ayolah Atta, kamu tidak semalas itu kan? :D.

Maka dengan langkah gagah berani, tahun ini saya mulai bergerak mewujudkan mimpi. Tak ada kata terlambat bukan?

Motivasi utama saya datang dari Teddy. Si tampan ini membuat saya jatuh hati setiap harinya. Ada saja hal baru yang saya temui darinya. Sejak saya berjumpa dengannya pertama kali; tahun lalu, pada tengah hari di akhir minggu, saya merasa ia bisa diandalkan dan dengan senang hati saya mendaulatnya menjadi pasangan saya.

Tapi ternyata saya bukan penganut metode pembelajaran otodidak yang baik. Buku manual yang membingungkan, istilah yang rumit, dan hasil foto yang kurang memuaskan, hampir membuat saya melupakan Teddy. Saya tahu, mimpi saya -memotret dengan baik- tidak akan bergerak menjadi nyata jika formula yang saya terapkan masih sama; harus ada langkah yang lebih terencana.

Dan langkah itu dimulai awal tahun ini. Sekarang, hingga bulan depan, setiap Senin dan Kamis, seorang perempuan dengan ransel hitam akan tergesa-gesa keluar kantor lebih awal pada sore hari, melakukan perjalanan antara Karet – Gunung Sahari, menuju kelas kecil yang hangat. Setelahnya ia akan berkonsentrasi menyerap apa yang disampaikan pengajar. Perempuan itu saya ;)

(kalian harus melihat pengajar yang berdiri di depan kelas itu, ia begitu cerdas, lucu, dan rendah hati. pilihan analoginya membuat istilah fotografi begitu membumi, “diafragma kecil itu mirip seperti pensil yang ujungnya runcing, arsiran dari pensil yang ujungnya runcing akan terlihat lebih tajam”. ia memulai karir sebagai fotografer puluhan tahun lalu. di satu pertemuan ia membawa kamera andalannya. umur kamera itu jauh lebih uzur ketimbang saya. ia membeli kamera itu sebelum saya lahir. hahahahaha. tua. ia dan kamera itu. laki-laki yang juga dosen fotografi sebuah institut kesenian ini tahu caranya memancing minat. ia juga tak henti memompa semangat dan mengajak kami berpikir positif; kalau kalian tekun, kalian dapat menghasilkan gambar-gambar yang baik)

Dalam salah satu perjalanan pulang, Eka, teman satu kelas saya bertanya; “Kenapa elo capek-capek ikut kelas dan pengen motret?”. Buat saya, ini serupa dengan mempertanyakan kenapa akhirnya saya ingin apa yang mengendap di kepala bertahun-tahun lamanya itu bisa nyata.

Jawabnya sederhana.

Saya ingin satu saat nanti, saya akan merekam lebih banyak apa-apa yang saya lihat. Hanya itu. Sama sekali tidak terlintas di pikiran saya untuk menjadi fotografer profesional, menggelar pameran, atau impian-impian muluk lainnya. Saya hanya ingin merekam sekitar. Kelak, akan ada foto yang bercerita tentang gigi pertama yang tumbuh di rongga mulut si buah hati, misalnya. Pasangan saya yang tersenyum -kalau saya akhirnya bertemu dengan laki-laki baik- dan saya akan memotretnya dalam film hitam putih. Tempat-tempat menarik yang akan saya kunjungi. Laut biru. Keramaian pasar tradisional. Kandang burung tempat merpati berteduh. Stasiun kereta api yang dipadati penumpang. Kamboja merah depan rumah. Nelayan yang berangkat mencari ikan. Anjing hitam penjaga sawah. Cemara di pantai. Anak-anak Sekolah Dasar yang mengayuh sepeda. Teratai mekar di dalam cawan. Keluarga. Teman. Sahabat.

Tahun ini, seperti janji saya di awal tahun 2006, akan ada langkah-langkah kecil dan saya tahu, saya mulai bergerak mewujudkan mimpi :)

Saya ingin mencuri…

Curi v, Men.cu.ri v, mengambil milik orang lain tanpa izin atau dengan tidak sah, biasanya dengan sembunyi-sembunyi (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Balai Pustaka, 1995, hal 200)

Sepanjang hidup rasanya saya tidak pernah mencuri… tapi tunggu dulu…

semasa kecil saya pernah menikmati jambu bangkok milik Bang Dudun, tetangga saya. Hanya berbekal galah panjang saya beserta jagoan kampung yang lain mempertaruhkan nasib di bawah pohon jambu. Kalau sampai pemiliknya yang sah tahu… bisa tamat riwayat kami. Bang Dudun, dengan suara kerasnya, dapat membangunkan seisi kampung. Mengadukan perbuatan pada guru mengaji… dan ujung ceritanya bisa ditebak. Petuah bijak selekas Isya akan memperlambat kepulangan kami dari masjid.

Waktu kecil juga saya pernah mencuri selada. Aduh… jangan salahkan saya. Sayuran hijau nan segar itu tumbuh dengan rimbunnya di pinggir kali. Selada seperti memanggil saya… “Ayo gadis kecil, petiklah aku, bukankah aku mengandung kebaikan yang bermanfaat untuk tumbuh kembangmu”. Dan saya tergoda bujuk rayu tanaman yang diduga berasal dari Asia Barat ini.

Saya juga pernah mencuri bibit bunga Matahari. Dalam perjalanan Karanganyar-Solo di senja yang lembut, bunga matahari bergerombol dengan cantiknya. Saya selalu terpukau pada ciptaan Tuhan yang satu ini. Turun dari kendaraan dan memandangi kecantikannya. Memandang sekeliling… kok senyap? tidak ada rumah…. jadi kesimpulan yang saya buat kala itu; bunga matahari ini tak bertuan. Jadilah saya mencuri bibit dari bunga matahari yang telah kering di pokok pohon. Mungkin karena jalan yang ditempuh kurang baik menurut hukum dan agama (baca; mencuri) bibit tak kunjung beranjak menjadi pohon. Padahal saya sudah mengerahkan energi untuk memberinya ruang gerak yang nyaman.

Sepanjang hidup rasanya saya tidak pernah mencuri… tapi tunggu dulu…

Malam ini saya ingin mencuri… meski dalam benak masih terekam jelas apa yang diajarkan guru mengaji saya. (“Mencuri itu dosa, sama artinya dengan mengambil hak orang lain, Pemilik hidup pasti tidak menyukai perbuatan orang yang mencuri”)

Ya… malam ini saya ingin mencuri hati seseorang. Mendekatkannya ke sini … ke dekat hati saya sendiri, mengukir nama dengan pahatan kasih, membisikkan kalimat sayang, menjaga si hati (dan pemiliknya) dengan segenap cinta, membawa si hati (dan pemiliknya) ke negeri senja, memegang hati (dan tangan pemiliknya) dengan lembut… membangun saung tempat berteduh… berdua…

Yang saya ingat; saat mencuri jambu bangkok, selada dan bibit matahari ada debaran tanpa irama yang mengiringi, detak jantung dengan kecepatan di luar kebiasaan… malam ini saat saya berniat mencuri hatinya… ada degup dan debaran yang sama disini. Kalian mendengarnya?

Semoga Lebih Baik

Sore yang cerah. Awan seperti bulu biri-biri menyebar di langit utara. Sebaran sinar matahari teduh saja. Tak menyengat saat menyentuh kulit. Orang ramai berkumpul di tanah lapang. Duduk beralaskan rumput hijau. Aku sendiri memilih duduk di dekat kerimbunan pohon kembang sepatu.

Tidak semua duduk beralas rumput. Satu orang duduk di bangku kayu kecil. Wajahnya tampak jelas terlihat. Sore itu ia menjadi pusat.

“Aku hendak membuat permainan,” ucapnya, merebut perhatian kumpulan orang-orang di tanah lapang. “Aku akan membacakan pertanyaan dan kalian bisa mengangkat tangan kalian kalau merasa kalianlah orangnya”.

Semua orang di tanah lapang mengangguk. Sepertinya permainan akan berjalan semarak.

“Aku mulai sekarang,” ujarnya, tersenyum. “Semua siap?,” ia bertanya, dan mengedarkan pandangannya, menatap orang-orang yang duduk beralas rumput.

Lagi-lagi, semua orang mengangguk. “Ya ya, kami siap,” Laki-laki berambut ikal yang duduk tak jauh dariku sepertinya sudah tak sabar, ingin permainan segera dimulai.

“Siapa yang kerap kali lupa pada jadwal acara atau janji temu?”

Aku segera mengangkat tangan.

Orang yang duduk di bangku kayu kecil melanjutkan pertanyaannya

“Siapa yang senang menunda-nunda pekerjaan dan kerepotan setengah mati ketika akhirnya jadwal tenggat semakin dekat?”

Ya ampun, aku juga. Cepat-cepat aku mengangkat tangan.

“Siapa yang sering lupa meletakkan kunci, lupa menaruh charger ponsel, lupa membawa kunci rumah dan terpaksa membangunkan penghuni lainnya begitu pulang agak larut, lupa membayar tagihan telepon seluler, lupa menaruh majalah pinjaman dari perpustakaan, kehilangan banyak sekali catatan penting karena tidak memindahkannya dan hanya membiarkannya tergeletak bersama kertas-kertas lain di atas meja?”

Wah, aku juga, aku juga. Dan lagi-lagi aku mengangkat tangan tinggi-tinggi.

“Siapa yang merasa waktu 24 jam yang ada tak pernah cukup, bukan karena jumlah waktu yang kurang banyak, tapi karena manajemen waktu yang ia terapkan tidak maksimal?”.

Ini … aku juga.

“Siapa yang memiliki beragam mimpi, tapi tidak mencoba perlahan-lahan menyusun langkah untuk menjadikannya nyata bukan hanya khayalan semata?”

(Aku ragu mengangkat tangan. Tapi ah, begitu banyak asa yang hanya diucapkan pada obrolan bersama teman saja, cita yang tak pernah bergerak menjadi nyata, karena jejak-jejak yang terhenti. Mana mungkin beasiswa jatuh ke tangan kalau menulis dan berbicara dalam bahasa Inggris masih gagap seperti sekarang -sementara belajar bahasa akhirnya berhenti di tengah jalan akibat beragam alasan-. Mana mungkin memotret bisa menjadi lebih baik kalau malas berburu gambar, malas menimba ilmu dari orang-orang yang jauh lebih mumpuni, kalau kamera lebih senang dipandangi ketimbang digunakan. Mana bisa mimpi sebelum usia 30 -membuat satu buku yang kecil saja, tidak usah diterbitkan besar-besaran- benar-benar terwujud kalau tidak dimulai menulisnya satu persatu, membuka dialog dengan beberapa penulis yang sudah pernah menerbitkan karya, menempa mental manakala naskah diedit atau ditolak. Mana mungkin saldo tabungan tiba-tiba membumbung kalau tidak menyisihkan pendapatan dan menabungnya di rekening yang wajib dan harus tidak dikutak-katik)

Dan, aku kembali mengangkat tangan.

Aku melihat ke sekeliling, tak ada orang yang kehilangan semangat bermain, tapi hanya aku yang masih mengangkat tangan setiap kali pertanyaan usai dibacakan.

***

(365 hari di 2005 baru saja lewat, tidak semua buruk, banyak juga hal menyenangkan yang terjadi. tapi di 2005 kemarin si neng atta ini rasanya makin ceroboh saja, mudah lupa pula, padahal masih muda. neng atta juga makin malas. malas masuk kelas bahasa inggris, malas bangun pagi, malas olahraga, malas menabung, tapi tidak malas makan dan kian gendut. hehehehe. hari ini menjadi gerbang pembuka dari 365 hari di 2006 yang siap dijelajahi. mudah-mudahan bisa jadi awal untuk meneguhkan kembali semangat, mengusir malas -hush, hush, ayo rasa malas pergilah jauhjauh-, memulai langkah kecil, bergerak mewujudkan cita -tak lagi khayal semata-, semoga 2006 lebih baik, untuk saya, untuk kalian, untuk semua :))