Untuk Ibu

Ibu dan anak, duduk bersisian, di halaman belakang rumah, dekat pohon flamboyan

Ibu memandang anak penuh kasih.
Anak balas menatap dengan senyum.

Dan sunyi sore hari itu pecah, saat si anak mengeluarkan ucap;
Ibu, kedua tangan ini untuk apa?, ujar si anak riang, memegang tangan ibu erat.

Ibu pun meraih jari-jari mungil si anak. Dua tangan mereka bergenggaman.

Tangan ini nak, untuk membelaimu saat malam datang. Waktu menjelang tidur, kau terlelap sebelum akhir cerita, ketika ibu masih memegang buku dongeng. Saat matamu terpejam, ibu akan membelai rambutmu perlahan. Menarik selimut, yang akan menjaga kau tetap hangat sepanjang malam, menyelimuti tubuh mungilmu. Sebelum mematikan lampu kamarmu, ibu akan memandang wajahmu yang pulas.

Lalu?, anak bertanya

Tangan ini nak, untuk bertepuk tangan. Saat ayah memetik gitar; memainkan lagu-lagu yang kau suka. Kita berdua, kau dan aku, tak henti bertepuk tangan. Bernyanyi lagu Kunang-Kunang,

Kunang-kunang, hendak ke mana
Kelap-kelip indah sekali
Gemerlap, bersinar
seperti bintang di malam hari

Lalu?, anak kembali bertanya

Tangan ini untuk menampung rinai yang turun dari atap. Saat hujan sore hari. Dan aku mengajakmu bermain dalam hujan. Ayo nak, lekas lah. Mengitari pekarangan, kita berlari-lari kecil. Tertawa dalam rintik yang jatuh. Menikmati sore yang basah.

Lalu?, anak tak henti bertanya

Tangan ini untuk membantumu naik ke punggung kerbau. Masih ingat saat kita menghabiskan akhir pekan di desa. Dan kau terlihat takut saat petani yang ramah itu menawarimu naik ke punggung kerbau miliknya. Jangan takut sayang, mari ibu bantu. Sesudahnya kau tak henti tertawa. Di atas punggung kerbau, kau tampak seperti ilustrasi buku pelajaran saat ibu duduk di sekolah dasar dulu.

Tangan ini untuk apa lagi?

Tangan ini untuk menanam bibit bunga matahari. Di satu pagi, dan kita berdua tampak sibuk, memindahkan bibit bunga matahari ke dalam pot. Tanaman pertama kita itu lambat laun tumbuh besar dan berbunga. Sama seperti Ibu, kau juga jatuh cinta pada bunga yang cantik itu.

Tangan ini untuk apa lagi Ibu?

Tangan ini untuk menggandeng mu. Saat snorkeling mengitari pulau kecil. Dan kau terlihat takjub dengan pemandangan bawah laut. Tahukah kau, ibu tak begitu mahir berenang, tapi duduk-duduk saja di tepi laut rasanya kurang menantang ya nak. Apa rasanya bercengkerama dengan laut? Senang, jawabmu, tersenyum.

Tangan ini, lalu, untuk apa lagi?

Untuk berjuta hal menyenangkan yang akan kita jalani sayang. Untuk menghapus air matamu saat kau bersedih hati. Untuk memegang keningmu saat suhu tubuhmu meninggi. Untuk memeluk dan menenangkan kau saat hujan lebat bercampur petir di tengah malam. Untuk memegang kuas dan membuat lukisan cat air di akhir pekan. Untuk membalik lembar demi lembar halaman buku yang kita baca bersama. Untuk menggendongmu di punggung, berjalan-jalan di pinggir bukit, dan kau bersenandung riang. Untuk meyakinkan kau, akan ada aku, di sini, di dalam hatimu, selalu.

Lalu, untuk apa lagi?

Untuk saling menguatkan. Saat kau lahir, ibu tahu, ibu memiliki satu lagi sumber kekuatan. Saat ibu gundah, maukah kau menggenggam jari ibu, dan menyalurkan rasa nyaman yang dapat meminggirkan rasa gundah itu? Kau, sumber kekuatan terbaik yang Tuhan beri dalam hidup.

Ibu
Ya nak
Aku tahu. Tangan ini, ujar anak mengacungkan tangannya ke atas, untuk mengambil bintang malam nanti. Menguntai pijarnya satu per satu dan mengalungkannya di leher ibu. Kelak, tanganku ini akan menggandeng tanganmu Ibu, kita meniti pelangi, bersama.

Ibu
Ya nak
Aku menyayangimu, sangat, bisik anak pada ibu

(untuk Boit; dan Bunga Putri Raditha, selamat menjadi ibu ya. juga untuk semua perempuan, yang oleh buah hati mereka dipanggil ibu)

35 thoughts on “Untuk Ibu

  1. salam buat mak’e yang sukses ngebesarin gadisnya yang ceriwis kayak petasan banting :D *JK*, tapi kalo lagi diam depan pc… tulisannya itu, alamak… top pisan :)

  2. huhhhu…. tissu.. eh touching.. :(( kapan terakhir kita mencium punggung tangan ibu? tadi pagi selepas subuh, atau.. kemarin abis selesai sholat isya berjama’ah, atau… lebaran idul fitri kemarin? ibu.. aku rindu ibu saat ini,
    btw, atta.. salam ya buat ma’e :) ma’e pasti bangga punya putri yang bertangan ajaib :)

  3. “bunda, obin tadi di sekolah bikin kalung untuk bunda…” kata obin suatu siang, lewat telepon… dan segera saja hari itu jadi hari yang sangat menyenangkan… :)

    yup… anak, sumber kekuatan terbaik yang Tuhan beri dalam hidup …

  4. aaahhh! Atta, tulisan ini keren banget. hampir 2 thn aku jd penggemar bisu blogmu. dan kali ini aku nggak tahan untuk komentar, ya setelah 2 thn! selamat ya, kamu berbakat sekali!

  5. Ta, aku kalo ke sini berasa ‘nyasar’ lho, abis masih belum get used to dengan wajah baru-hasil ngambek- negeri senja :)

    tapi kalau baca tulisannya mah, there is only one negeri senja ;)

    happy new year Non. Bring on 2006!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *