Sabtu Kemarin Milik Saya

Dear Pekerjaanku,

Sejak rampung kuliah saya tahu waktu saya untuk melakukan beragam hal tak lagi sebanyak dulu. Tidak leluasa lagi tidur siang seperti saat masih menjadi mahasiswa. Bermalas-malasan pada Senin pagi, dan tak kunjung keluar dari kamar, adalah agenda lain yang, syukurlah, masih bisa dilakukan, meski tidak sesering dulu. Duduk di atap dan menikmati matahari pukul empat sore sekarang tidak pernah lagi saya rasakan.

Ya, sejak memilih kamu sebagai aktivitas sehari-hari yang sekarang saya jalankan, beberapa hal lain harus ditunda sementara karena tak mungkin berbenturan dengan mu. Masih ingat dengan rencana perjalanan yang terpaksa dibatalkan karena jadwal tenggat? Juga satu dua janji temu yang diundur karena saya (lagi-lagi) harus lebih dulu bercengkerama dengan mu. Menyelesaikan ini dan itu.

Setiap hari kamu mengambil sebagian waktu yang saya punya. Ah, jangan berpikir saya membencimu. Bukan, bukan itu. Buat saya kamu adalah anugerah. Percayalah, meski kadang-kadang saya bosan, memiliki kamu -tidak hanya sebagai sumber pendapatan, tapi juga tempat berproses dan merasakan beragam pengalaman- tidak henti-hentinya membuat saya bersyukur.

Dan ketahuilah, meski kamu mengambil sebagian waktu yang saya punya, ada hari di mana kamu benar-benar jauh dari pikiran saya. Dan dalam kesejenakan itu, saya memegang kendali penuh atas banyak hal menyenangkan yang ingin saya lakukan. Jauh dari papan ketik, layar monitor, alat perekam suara, gedung biru, dan hal-hal kecil yang menjadi penanda mu.

Sabtu kemarin misalnya. Pagi hari saat Jakarta mandi cahaya matahari pagi, saya tetap berbaring. Dikepung bantal-bantal, mendengar kucing mengeong di luar kamar. Saya terus berbaring dan tidak bergegas.

Setelahnya, semua berjalan dengan perlahan.

Membuka pintu kamar, membaca koran pagi, mengambil remote televisi, minum air putih, mandi dengan bernyanyi, mengeringkan rambut, memilih pakaian; jeans dan kaos putih berkerah, meneguk teh manis hangat buatan ibu, dan meninggalkan rumah dengan mencium punggung tangan ibu.

Pekerjaanku sayang, kamu boleh mengambil Senin hingga Jumat ku pada pekan lalu, dan pekan-pekan sebelumnya, tapi tidak Sabtu kemarin.

Karena apa? Karena Sabtu kemarin itu milik saya.

Dan Sabtu kemarin saya habiskan dengan seorang teman. Makan gado-gado yang enak di warung kecil, sambil bercerita tentang Le Grand Voyage, film pembuka Jiffest yang saya lihat Jumat malam, masuk toko peralatan olahraga luar ruang, memilih tas bepergian yang pas, masuk lagi ke toko serba ada, dengan agenda yang sama; masih memilih tas bepergian.

Sabtu kemarin itu milik saya. Dan saya menghabiskannya dengan seorang teman. Memilih malaikat-malaikat bersayap dari kayu yang diletakkan dalam toples kaca, menemani teman saya berbelanja untuk keperluan perjalanan yang akan dilakukannya pekan ini, memasukkan makanan ringan- kentang tipis yang bunyinya kriuk-kriuk saat dikunyah- ke dalam kantong belanja, dan kunjungan ke supermarket itu berakhir setelah kami, saya dan teman saya, memilih daging dan cumi-cumi.

Pulang dari supermarket, aneka judul DVD telah menunggu. Hmm, bagaimana kalau Charlie and The Chocolate Factory? Ya ya ya. Mari mari menonton. Segera saya duduk di kursi malas lengkap dengan bangku kecil untuk sandaran kaki dan bantal-bantal yang ditata menyangga kepala. Nikmatnya …

Dan kegembiraan pada Sabtu milik saya itu berlanjut dengan cumi goreng tepung yang asin, tapi tetap enak. (halo, kamu teman saya yang baik hati, lain kali diskusikan dulu berapa banyak garam yang kamu masukkan; ya ya?) Harum mentega yang mencair dalam wajan, yang ditaruh di atas nyala api sedang, memenuhi ruang dapur. Dengarkan desis yang keluar dari bumbu yang dimasukkan ke dalam wajan. Di atas nyala api yang lain, potongan cumi bersama irisan daging ditaruh di atas pemanggang. Celupkan pada bumbu; lalu bakar kembali.

Di luar sana hujan turun mencuci udara sore. Titik-titik airnya dapat terlihat dari kaca-kaca panjang. Menyenangkan.

Ya, sabtu kemarin itu menyenangkan.

Jadi, pekerjaanku sayang, ketahuilah, setiap hari kamu boleh ambil sebagian waktu yang saya punya. Dari Senin hingga Jumat, pekan lalu, dan pekan-pekan sebelumnya. Tapi tidak Sabtu kemarin sayang.

Karena apa?

Karena Sabtu kemarin itu milik saya.

(untuk seorang teman; terima kasih untuk Sabtu yang keren. memasak ternyata mengasyikkan, tapi sedikit mengerikan terutama pada bagian ketika cumi-cumi itu “menembakkan” minyak panas. kapan-kapan kita coba menu yang berbeda ya. lain kali wajan panas jangan dipegang. dan satu lagi, kalau ada laki-laki yang terlihat lebih tampan saat ia memegang rice cooker; laki-laki itu pasti kamu. -terima kasih untuk membiarkan saya tetap nonton sementara kamu menanak nasi- ;))

33 thoughts on “Sabtu Kemarin Milik Saya

  1. waduh….. inih dia yg bikin susah. kudu beli rice cooker dolo nih, biar bisa menikmati sabtu yang cantik. sori, biasanya nangkringnya di warteg, jadinya blom punya rice cooker… ok deh ntar tak beli satu, wajannya sekalian yak? trus apalagi, ember juga yak? hihihi :D

  2. temen??? … ato “temen”??? …
    wah mau dong satu kalo ada temen kaya gitu. :p
    lumayan, … ada yang ‘rela’ (ato terpaksa???) masak nasi selama kita nonton tipi … ^_^

  3. wah seddaapp…!! cit..cuit..cetok-cetok… ;) siape tuch tta?
    tta kenapa tidak dilanjutin dengan cuci2 piring? pasti laki-laki itu keliatan tambah ganteng heheh..

  4. Dear Atta,

    Seneng mbaca dirimu menikmati waktu senggang dengan seseorang yang jelas bukan orangkemaren sore yang dikau sudah kenal :) – mudah2an kedepan kita bsia denger cerita yng lebih deskriptif ttg si öndel-ondel”ini :D

    Ogut masih nunggu kiriman kartu yg udh dicetak via Diplomatic Mail, something will arrive on your mailbox soon :) – Kangen banget! – dari Monrovia..

  5. sabtu-ku sekarang juga selalu menyenangkan, tta… karena sabtu adalah hari menikmati hidup :D kalo’ sabtu, membuatkan sarapan adalah tugasnya :D
    hehehehe…

    btw, nasinya mateng kan, tta ?! :p

  6. Pingback: Keno

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *