Surat Untuk Pahlawan

Dear Benardinus Realino Norma Irawan.

Hai. Apa kabar? Saya boleh panggil kamu Wawan saja kan? Apa kabar Wan?

Saya Atta. Sayang sekali, kita tak pernah bertemu. Saat kamu pergi, saya ada di Solo; masih mahasiswa tahun kedua. Waktu cepat sekali bergerak ya. Sudah tujuh tahun sejak peristiwa sore itu. Sekarang saya sudah bekerja Wan, di sini, di Jakarta. Setiap pagi, dalam perjalanan menuju kantor, saya selalu melewati ruas jalan depan kampusmu.

Tak banyak yang berubah. Jembatan Semanggi masih di sana. Jalan Sudirman tetap saja padat. Tepat di tengah Sudirman sudah ada lajur khusus untuk angkutan umum TransJakarta. Dan, oh ya, ada mal, Wan. Kamu ingat gedung bundar di samping kampusmu. Balai Sarbini bersolek, jauh lebih cantik. Cangkang terbalik itu sekarang dikelilingi Plaza Semanggi. Jangan bayangkan kemacetan yang dituai sejak pusat perbelanjaan itu hadir.

Di sana pasti tak ada macet ya. Apa yang kamu lakukan untuk menghabiskan hari? Beberapa hari lalu, ketika saya melewati kampusmu di Sudirman, saya sempat membayangkan kamu di tempatmu yang sekarang, sedang berdiri, tegak, memandang langit biru, dan awan putih yang berarak. Jarak kalian dekat; kamu, langit biru, dan awan putih. Dalam bayangan saya; kamu sedang tersenyum. Teduh.

Kamu pasti tenang di sana. Kamu beruntung, energi kasih menghujanimu terus menerus, tanpa henti. Sejak kepulanganmu, setiap hari ayah dan ibumu mengunjungi makammu. Dan, setiap hari, kamu pasti melihat bagaimana keduanya mengatasi rasa kehilangan dengan cara-cara yang positif.

Ibumu membuat saya kagum. Perempuan itu bermetamorfosa menjadi pribadi yang tangguh. Ia menolak bantuan berupa cek yang dikirimkan Departemen Sosial. Cek itu dikembalikannya. Perempuan tangguh itu, ibumu, meminta bantuan itu sebaiknya diberikan saja pada prajurit yang menembakmu, kalau prajurit itu belum juga ditemukan, ia meminta uang itu dibagikan pada 163 prajurit yang bertugas di Semanggi saat tragedi itu terjadi.

Ibumu dengan penuh keberanian melemparkan telur ke arah beberapa fraksi dalam Sidang Paripurna DPR, bulan Mei, lima tahun lalu, karena rekomendasi Komisi Ad Hoc yang dibentuk DPR untuk menyelidiki kasus Semanggi dan Trisakti menyatakan bahwa kedua tragedi itu tidak termasuk dalam pelanggaran HAM berat.

Kamu pasti ada di dekat ibumu saat ia menerima Yap Thiam Hien Award. Dan ucapan ibumu itu pasti juga kamu dengar. “Penghargaan ini Ibu terima untukmu, Ibu akan melanjutkan perjalananmu. Ibu tidak berhenti, Wan….”.

Kemarin ibumu datang ke kampusmu Wan. Menabur bunga dan menegaskan kembali penuntasan kasus ini. Saat ini semuanya masih gelap. Beragam pertanyaan masih tersisa. Siapa yang melakukannya? Mengapa mereka memakai peluru tajam? Atas perintah siapa? … dan masih banyak lagi.

Saya sengaja menyuratimu. Ini cara yang saya pilih untuk melawan lupa. Maaf, hanya ini yang bisa saya lakukan. Baik-baik di sana ya. (Saya tahu, bayangan saya tentang kamu saat melintasi kampusmu di Sudirman beberapa hari lalu benar adanya; kamu di tempatmu yang sekarang sedang berdiri, tegak, memandang langit biru, dan awan putih yang berarak. Jarak kalian dekat; kamu, langit biru, dan awan putih. Tersenyum. Teduh). Lain kali, saya akan menyuratimu kembali

Salam
atta

One thought on “Surat Untuk Pahlawan

  1. masa lalu memang begitu inah, dan tak banyak orang yang dapat melupakanya.! aku heran dan tercengang, ketika aku merasakan apa yang kamu rasakan, sekarang kau begitu inah ketimbang dulu, tapi aku tidak bisa merasakan keindahan yang hadir dari dalam dirimu. kadang aku kasian, dan kadang aku bangga ketika melihat dirimu yang penuh semangat melawan penderitaan.

    trimakasi, karena kamu suda mengingatkan aku tentang masa lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *