Fragmen Lebaran

Berita itu datang pagi hari. Selepas subuh. Kala suara takbir memenuhi langit pagi. Saya terjaga saat pesan itu masuk.

Ibu udah gak ada. Jam 1/2 4 td. Trm ksh doanya.
From : +62817728xxx
5:19am 3/11/05

Dari seorang teman. Sudah beberapa bulan ini ibunda tercintanya menderita kanker. Beragam pengobatan telah ditempuh, dari terapi herbal hingga menjalani perawatan di Singapura. Terakhir kondisi ibunda teman saya itu makin menurun. Dan, tepat di fajar Idul Fitri, beliau berpulang.

Lebaran kali ini, saya tak pergi sholat Ied. Menstruasi yang datang lebih lambat memupus harapan saya untuk dapat sujud dalam dua rakaat bersama yang lain. Dan, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, lebaran di rumah saya berlangsung singkat. Amat singkat. Seusai bersalam-salaman dengan tetangga di sekitar rumah, saya putuskan untuk pergi mengunjungi teman saya.

Setelah berkirim pesan pada beberapa teman; informasi tentang alamat rumah teman saya itu akhirnya ada di tangan, juga mengenai rencana pemakaman di Solo. “Kalau mau ke sana mesti cepat-cepat, jenazah berangkat dari rumah duka pukul 11 siang ini,” begitu bunyi pesan yang masuk ke ponsel saya.

Taksi biru itu berhenti tepat di depan plaza dekat rumah. Saya masuk, membacakan alamat teman saya kepada bapak supir, dan berharap sampai ke kawasan Bintaro, tempat teman saya bermukim, secepatnya. Saat roda taksi menggelinding, sebuah fragmen pun dimulai …

***

Taksi bergerak menuju pintu keluar tol, berputar, melewati Jalan Panjang. Ponsel saya bergetar. Dari qq. Telepon pertama di hari raya. “Hari ini saya jadi supir ta, nganter keluarga ke sana ke sini,” tuturnya, riang. Qq, pikiran saya merangkai wajah bulatnya, saya suka saat melihatnya tergelak, ia teman yang menyenangkan. Sudah beberapa bulan ini kami tak bersua. Percakapan singkat yang harus segera disudahi, karena qq, si supir dadakan itu, harus kembali mengemudi.

Lebaran, harusnya Jakarta lengang. Tapi tidak. Di daerah Velbak, perempatan Kebayoran Lama menuju arteri Pondok Indah, laju taksi sedikit terhambat. Pada beberapa titik perhentian lampu merah, saya lihat jumlah pengemis lebih banyak dari hari-hari biasa.

Dan ponsel saya kembali bergetar.

Kali ini dari abang, mantan pacar, (ibu saya menjulukinya; calon menantu yang gagal). Ini lebaran kedua setelah putusnya hubungan kami. Tiap lebaran abang tak pernah absen menelepon. “Maafin aku ya ta,” tuturnya. Sama-sama, jawab saya, yang sudah-sudah nggak usah dipikir lagi, setelah ini kita harus sama-sama menjadi lebih baik. Kami bercakap-cakap sebentar. Abang menggambarkan suasana Balikpapan (duh, saya kangen kota itu). “Coba ada video streaming, kalau malam, obor di pinggir jalan bikin suasananya beda,” ucapnya. Di ujung percakapan, saya titipkan salam untuk kekasih hatinya, gadis baik hati yang menggantikan posisi saya. Menyelipkan doa agar hubungan mereka tetap terjalin.

Taksi terus bergerak. Pak Yohannes, pengemudi yang santun, sesekali melontarkan kalimat, membuka obrolan.

“Saya ini nggak lebaran mbak, tapi di rumah istri saya masak ketupat, untung ada rejeki berlebih, kemarin saya juga sempet beliin anak saya baju baru. Tadi waktu mbak naik, saya baru keluar dari pool, sepagian saya keliling kampung, ikut salam-salaman, maaf-maafan, silaturahmi ke yang punya rumah kontrakan yang saya tempatin, ketemu sama tetangga-tetangga”.

Pak Yohannes, bapak dua orang anak. Sebelum menjadi pengemudi taksi, pekerjaannya adalah supir truk, membawa beragam barang muatan ke luar kota. Setelah kerusuhan Mei 1998, ia pindah profesi menjadi pengemudi taksi.

Cerita Pak Yohannes terhenti. Di depan sana, barisan kendaraan tampak rapat. Kami lupa, harusnya menghindari Tanah Kusir. Lebaran hari pertama kompleks pemakaman itu pasti dipadati peziarah. Tak bisa memutar. Dan terpaksa menghabiskan puluhan menit hanya untuk sampai ke ujung jalan.

“Sabar ya mbak,” ujar Pak Yohannes, mencoba menenangkan. Di kursi belakang, saya terlihat resah. (sejak dulu saya mencoba berdamai dengan kemacetan, tak selalu berhasil memang, apalagi ketika saat-saat saya mengejar waktu)

Taksi bergerak perlahan. Sangat perlahan.

“Bruk”

Suara datang dari sisi kanan. Tak kencang, tapi di tengah kemacetan yang senyap, suara itu jelas terdengar. Seorang pengendara motor rupanya menyenggol kaca spion taksi. Pak Yohannes membuka kaca, membetulkan letak spion. Pengendara sepeda motor menganggukkan kepala, tanda memohon maaf. Tak ada bentakan dan hardikan.

Saat taksi memasuki kawasan Bintaro dan jalanan yang tidak lagi padat, ponsel saya kembali bergetar. Ada nama Alex, sahabat saya yang tengah berlibur ke luar kota, pada layar luar ponsel. Alex mengucapkan selamat hari raya, lalu memberikan informasi terkini tentang aktivitas yang dilakukannya. Dari nada suaranya, saya tahu hati Alex tengah berbunga-bunga.

Gerak taksi kembali melambat.
Apa? macet lagi? Ugh, kali ini saya benar-benar jengkel.
“Tenang mbak, kita putar lewat Bintaro Raya ya”
terserah Bapak, saya ikut aja

Taksi memutar. Dan… ya ampun, apa itu di tengah jalan. Di pertigaan, di tengah-tengah jalan, laki-laki muda bersama seorang perempuan modis berdiri di samping mobil, mereka bersilat lidah dengan seorang bapak dan seorang ibu yang masih duduk di jok motor. Wah, wah, si laki-laki muda tampak tak sabar, emosi terlihat jelas di wajahnya. Mukanya menegang. Bapak itu akhirnya turun dari motor. Kontak fisik pun tak terhindarkan. Di hari fitri, amarah berkumpul. Pengemudi angkot turun dari kendaraannya, mencoba melerai.
Saya menepuk jidat. Duh Gusti…
“Sabar ya mbak, setelah belokan ke kiri itu kita sudah hampir sampai kok,”
Benar saja. Setelah terbebas dari aksi laga laki-laki muda dan si bapak pengendara motor itu tadi, taksi yang saya tumpangi akhirnya sampai juga ke kompleks perumahan, ke alamat teman saya. Setelah melintasi rel kereta api, saya dapati berita duka terpasang di papan pos pengamanan depan kompleks.
“Dari sini lurus aja, gang terakhir ke kanan,” bapak berbaju koko yang tengah berdiri di depan portal memberi petunjuk arah.

***

Pagar rumah bercat kuning gading itu terbuka. Bendera kuning terpasang di muka rumah. Saya mengenakan kerudung, mengucap salam, dan menyebut nama teman saya. Untungnya ia masih ada. Tidak ikut pergi ke bandara bersama rombongan yang sudah pergi satu jam yang lalu, mengiringi jenazah almarhumah.

Masuk ke ruang tamu, saya masih tak menemui sosoknya. Dari ruang tengah, saya bisa melihatnya. Ia memunggungi saya, ada di dalam kamar, memasukkan beberapa potong pakaian ke koper besar. Tak lama, tubuh mungil yang memunggungi saya itu berbalik.

“Loh, kok?” ujarnya, setengah terkejut. “Kok, bisa sampai ke mari?”, katanya pelan. Wajah teman saya sembab. Suaranya parau.

Saya cium pipinya, memeluknya, mengusap punggungnya. Saya memilih tak banyak berbicara.

Di ruang tengah, sudah ada seorang editor di sebuah harian, tempat teman saya dulunya bekerja sebagai jurnalis. Tak banyak yang datang. Mungkin karena hari raya. Beberapa masih di luar kota. Sebagian yang lain tak bisa meninggalkan acara keluarga.
Setelah selesai berkemas, teman saya segera pergi ke bandara. Beberapa tas dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Saya pamit. Kembali mencium pipinya, memeluk, dan mengusap punggungnya.
“Terima kasih ya,” ucapnya pelan.

Setelah itu, saya mencari taksi Pak Yohannes yang diparkir tak jauh dari rumah teman saya. “Kita ke Slipi lagi ya Pak”.

***

Fragmen lebaran. Dalam perjalanan pulang, saya merasa sepotong kisah yang saya alami pada hari raya yang lalu itu memberikan saya banyak; tentang belajar kesabaran (menggerutu di dalam taksi, mengeluh betapa panjangnya antrian kendaraan tak akan membantu mempercepat macet bukan?), tentang keberagaman yang menyejukkan (dalam cara yang bersahaja, tanpa retorika yang menyulitkan, Pak Yohannes menggambarkannya dengan sangat baik), tentang menahan diri (hari fitri dan amarah yang berkumpul seperti yang ditunjukkan laki-laki muda dan bapak itu, sebulan belajar menahan nafsu dan sehari menghambur-hamburkannya di depan khalayak ramai), tentang ujung waktu, takdir yang tak bisa ditolak (teman saya menghabiskan lebaran dengan menguburkan ibunda tercinta, saat fajar fitri malaikat maut menjemput ibundanya dan mengantarkannya ke rumah Allah), tentang teman dan sahabat yang tetap ada (mereka mengurangi rasa sepi yang terasa tiap kali hari raya tiba), tentang rasa syukur dan berusaha untuk lebih mencintai kehidupan yang saat ini saya jalani.

2 thoughts on “Fragmen Lebaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *