Toko Empati

Satu kali, Ma’e, ibu saya, pernah bercerita tentang masa-masa suram hidup di republik ini. “Pernah satu kali beras susah banget dicari. Mau beli beras antrinya panjang banget dek, nggak sempet mikir jalan-jalan, buat makan sehari-hari aja sulit”.

Pengalaman Ma’e tadi juga saya temui dalam buku-buku sejarah yang pernah saya baca di bangku sekolah. Foto hitam putih tentang barisan yang mengular, ibu-ibu dengan kain batik yang menyelubungi kepala, berusaha menghalau terik. Untung hidup di jaman sekarang, pikir saya, kalau tidak, wah … bisa-bisa saya ikut dalam barisan itu, menemani Ma’e antri beras.

Hohoho. Tunggu dulu sayang. Republik ini rupanya senang bernostalgia. Tidak hanya mengenangnya dalam pikiran, dan menceritakannya kembali pada generasi berikutnya, masa-masa mengantri itu kini berulang dan nyata. Tak perlu mencubit lengan untuk memastikan apa yang saya lihat itu bukanlah mimpi.

Di daerah-daerah, ratusan ibu rumah tangga antri minyak tanah, yang harganya kini naik hingga 185,7 persen, berjam-jam. Dan rupanya solidaritas di antara bahan bakar itu cukup tinggi. Elpiji, teman sejawat minyak tanah, ikut-ikutan langka. Harga Elpiji juga makin membumbung.

Kalau menurut rakyat macam saya, antri-antri macam ini peristiwa besar. Ini satu penanda dari ketidakbecusan negara mengurus masalah yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Tapi, lain saya lain pula pendapat seorang pejabat tinggi. Menurut bapak pejabat tinggi itu, fenomena antri macam ini wajar-wajar saja. ”Wajar kalau beli minyak tanah antre. Orang nonton bioskop saja antre!”.

Setelah membaca ucapannya itu; saya jadi tergelitik untuk bertanya, kapan terakhir si Bapak ini nonton bioskop. Antrian minyak tanah dengan antrian penonton bioskop jelas dua hal yang berbeda. Yang satu penuh peluh, tersengat matahari, belum lagi resiko dorong-mendorong yang mungkin terjadi.

Sementara yang satunya adalah antrian dalam ruangan berpendingin udara, musik yang mengalun, orang-orang berkostum rapi dan wangi, perempuan dengan pashmina aneka corak dan warna.
(atau gini aja pak, biar bapak percaya, kapan-kapan kita nonton bareng, saya jemput bapak deh, tak jauh dari kantor bapak ada bioskop kok. setelah itu kita ikut antri minyak tanah bareng. terus kita cari perbedaannya. gimana pak?)

Itu tadi tanggapan pejabat soal minyak tanah. Pejabat lainnya mencoba berkomentar soal harga elpiji yang merangkak naik. Simak baik-baik pernyataannya; ”Kalau enggak kuat beli gas, ya pakai minyak tanah aja.”.

Eng ing eng. Keduanya setali tiga uang. Alih-alih meminta maaf akan kesulitan yang kini dihadapi rakyat, mereka malah mengeluarkan dagelan, yang maaf-maaf sama sekali tidak lucu dan salah tempat.

Ah, tentu saja mereka tak mungkin mengeluarkan pernyataan yang meneduhkan, dan lebih memilih pembelaan-pembelaan yang ajaib tadi. Karena apa? Ada satu yang tidak mereka miliki. Tapi tenang saja, satu yang tidak ada dalam diri mereka itu sebenarnya bisa mereka dapatkan dengan mudah.

Benar, mudah sekali.

Bapak-bapak mau tahu tak? Begini caranya: nanti sepulang dari kantor, arahkan mobil bapak-bapak ke satu jalan tak bernama, selepas jalan protokol ambil kiri, nah di perempatan pertama itu lihat toko pertama sebelah kanan. Catnya hijau pak. Ada kanopi di depannya. Kalau bapak-bapak bingung, minta tolong supir bapak-bapak turun dari kendaraan dan mencari nama tokonya. Papan nama dari kayu itu bisa terlihat dengan jelas saat kita ada di bawah kanopi tadi. Atau bapak-bapak sendiri yang turun.
Selamat datang, bapak-bapak sudah sampai di …

Toko Empati

(untuk tahap awal, bapak bisa beli sekilo atau dua kilo empati. seperti bubuk kopi, campurkan bubuk empati ini dengan air lalu minum. kalau tak mau repot, ada juga empati siap minum. biasanya sih empati tak datang dari sesuatu yang serba instan. tapi bapak-bapak coba saja dulu dan lihat reaksinya. kalau ujung-ujungnya masih sama; saya rasa bapak-bapak lebih paham; kami tak butuh orang-orang “ajaib” untuk mengurusi negeri ini…)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *