Sore, Cupid, dan Jatuh Cinta

Aku sedang menggeser pot tanaman suplir di beranda depan rumah. Di luar sana, butiran gerimis masih turun. Saat itu, sosoknya melintas. Ia bergerak perlahan. Sesekali terbatuk.

Hatsyii.

Dan bersin.

Ah, sedang flu rupanya. Mengapa ia tak berteduh sejenak?

“Cupid, hai, kemarilah, duduk dulu,” aku berlari kecil tanpa payung ke halaman, membuka pagar kayu.

Ia menoleh ke arahku. Tersenyum. Dan,

Hatsyii.

Cupid bersin lagi

“Ayo, kau sedang flu, tak baik berlama-lama di bawah gerimis, masuklah, aku buatkan kau coklat hangat,” aku berjalan ke luar pagar, menggandeng tangannya, menuju beranda rumah.

Kutinggalkan ia di kursi depan. Ketika kembali, di tanganku sudah ada dua cangkir coklat hangat. “Sebentar, akan kuambilkan handuk bersih, rambut dan sayapmu pasti basah,” ujarku.

Cupid mengangguk dan bersiap bersin kembali.

“Terima kasih,” ia menerima handuk, segera mengeringkan rambut dan sayapnya.

Aku membantunya melepaskan buntalan kecil, tempat menyimpan panah-panah cinta, yang biasa ditaruh di punggungnya. Di buntalan kecil itu, masih ada beberapa panah cinta yang tersisa.

“Sepertinya sibuk sekali hari ini,” kataku.

Aku baru saja melepas beberapa panah cinta, jawab Cupid.

“Oh ya?”

Ya. Satu panah untuk gadis yang menjaga toko bunga di ujung jalan ini, ia jatuh cinta pada seorang pelanggannya. Satu panah lagi untuk bapak guru yang mengajar di sekolah musik, tinggalnya tak jauh dari rumahmu, ia jatuh cinta pada teman masa kecilnya. Setelah sekian lama terpisah, beberapa minggu lalu mereka bertemu lagi, dan rasa itu tumbuh.

“Sulitkah?”

Apa?

“Pekerjaanmu?”

Tidak. Ini pekerjaan yang menyenangkan. Membuat orang jatuh cinta, mengecat dinding hati manusia dengan warna merah jambu. Dan selanjutnya, ku tahu kau paham apa yang akan terjadi.

“Hahahhaha,” aku tertawa. “Ya, perasaan melayang dan nyaman, rindu mendengar suaranya, berharap waktu berhenti saat kita berada di dekatnya, jatuh cinta …”

Menyenangkan bukan? Cupid bertanya.

“Beberapa ya, tapi tak jarang jatuh cinta itu juga menyulitkan.
Kau tahu. Begitu panah cinta ini terlepas, ia tidak datang hanya dengan muatan cinta saja. Tapi juga dengan kekuatan.

“Maksudnya?”

Jadi ketika cat merah jambu itu pudar, kekuatan untuk tetap melindungi hati dari sakit akan mulai bekerja. Dan, tenanglah, semua akan baik-baik saja. Akan ada ritme baru. Hidup tetap akan sama indahnya. Karena apa? Jatuh cinta itu seharusnya menyenangkan, bukan membuat orang terpuruk dan sedih berkepanjangan. Iya kan non?

“Yup,” jawabku.

Kami masih bercerita, sambil menunggu hujan reda.

Oke non, aku harus pergi sekarang, terima kasih untuk susu coklat dan obrolan sore ini. Cupid bangkit dari duduknya. Memasang kembali buntalan kecil tempat panah-panah cinta tersimpan.

“Jangan lupa istirahat, apa jadinya dunia kalau flu mu bertambah parah, tak ada panah cinta yang dilepaskan,” ujarku.

Yayaya. Tak usah kau beri aku pelukan, flu ku ini bisa menular, tuturnya.

Aku ikut berdiri. Menjejeri langkahnya

“Hmm … ,” aku menggantung kalimatku.

Ada apa? Ayo, katakan saja.

“Hmmm, bisakah kau sisakan satu panah cinta untukku?” tanyaku, sedikit berbisik.

Cupid tergelak. Tentu, jawabnya cepat. Masih akan ada panah cinta untukmu non. Sebentar, ia mengeluarkan buku kecil, membalik halamannya dan berhenti, … ada perubahan atau masih sama dengan apa yang kau pinta dulu?

Cupid mulai membacakan tulisan di salah satu halaman dalam buku kecil itu; laki-laki yang menulis, menyukai perjalanan, senang membaca, punya selera humor yang baik, bersahabat dengan alam, kalau bisa tidak terlalu cerewet, dan …

“Hahahahah, kau masih menyimpannya”. Derai tawaku membuat

Cupid berhenti membaca.

Cupid mengangguk. Ya, aku masih menyimpannya. Ingat, kau pernah bercerita tentang laki-laki yang bisa meruntuhkan hatimu.

Kami berdua tergelak.

Tak ada rumusan baku dalam jatuh cinta, ucap Cupid, kau bisa saja tertarik pada laki-laki yang jauh dari apa yang ada di pikiranmu saat ini

“Aku tahu,” jawabku, tersenyum.

Akan aku sisakan panah cinta untukmu non, ujar Cupid. Saat panah itu datang, ingatlah … jatuh cinta itu seharusnya menyenangkan.

“Kau baik sekali, terima kasih”, kataku seraya memeluk Cupid

Hey, sudah kubilang tadi, aku sedang flu.

Dan aku tetap memeluknya …

4 thoughts on “Sore, Cupid, dan Jatuh Cinta

  1. gue suka ama alur ceritanya.dan,jujur aja gue percaya ama keberadaan cupid.bukankah dia putra dari Dewi Aphrodite?terus kembangkan imajinasimu.good luck…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *