Saya Tahu Mereka Ada

Saya tahu mereka ada. Mereka ada dalam tokoh dari beragam judul novel, juga cerita pendek. Dalam salah satu penggal adegan film “Kuldesak”. Dalam tatap tak sengaja saat saya berjalan menuju toko buku. Kala itu saya melihat rona muka di wajah salah satu dari mereka. Keduanya dipenuhi cinta.

Saya tahu mereka ada saat Nino mengecup Sakti penuh kasih dalam film “Arisan”. Mereka ada dalam lingkup pergaulan sehari-hari. Sesekali saya menemukannya dalam liputan, atau di beberapa spot di kota tempat saya tinggal. Saya tahu mereka ada. Dan saya melihatnya dari kejauhan.

Sampai…

***

Dia adalah teman dari teman saya. Saya sengaja mengundangnya untuk bercakap-cakap di kubus maya. Awalnya, saya tertarik pada foto-foto bidikannya. Obrolan kami selalu berkisar pada hal-hal remeh. Nggak penting. Dia selalu tergesa-gesa menutup obrolan saat senja tiba. Kesan pertama; sombong. Pokoknya nggak asyik, jaim dan kacrut; kesan selanjutnya sudah cukup mewakili nasib pertemanan kami.

Hingga satu hari saya singgah di kotanya. Berusaha menahan diri untuk tidak menghubungi (tak mungkin menghubungi, la wong kami tak pernah bertukar nomor ponsel).

Tapi, kepikunan saya akhirnya mau tak mau membuat saya menghubunginya. Nomor agen perjalanan di kota itu hilang. Jadi saya perlu menghubunginya untuk menanyakan nomor agen tadi.

Alurnya; saya mengirim pesan ke teman saya, teman saya menghubungi dia, teman saya memberi nomor ponselnya ke saya, saya menghubunginya.

Singkatnya; kami akhirnya bertemu. Setelah membuat pilihan antara; iya-enggak-iya-enggak-iya-enggak yang bertarung di kepala. Tokh nggak ada ruginya ketemu, pikir saya waktu itu. Dia datang saat langit sudah gelap. Tersenyum. Wajahnya bersih. Kelihatannya baik. Dan saya kikuk. Benar. Saya kikuk. Dan butuh bermenit-menit untuk mendatangkan rasa nyaman.

Dia jauh dari kesan yang berdiam di kepala saya. Humoris. Punya segudang cerita lucu. Mudah sekali tergelak. Dan yang membuat saya heran; kecepatan berbicaranya di atas rata-rata. Dia menyenangkan; tepatnya, dia laki-laki yang menyenangkan. (meski kadang kala rasa empatinya menguap entah ke mana).

Setelah itu sesekali masih terjadi obrolan remeh. Beberapa kali terselip rencana perjalanan. Cerita masa lalu. Aktivitas keseharian. Berbagi impian masa depan. Hingga, satu siang di akhir pekan, dia menceritakan satu hal tentangnya …

Saya gay, ujarnya. Yang bener?. Aduh atta, beneran. Kamu sadarnya kapan? Tidak ada sadar-sadaran atta, memangnya seperti mimpi gitu, lalu sadar.

Lalu meluncurlah kisah itu. Sesuai dengan urutan waktu. Dia yang merasakan sesuatu yang berbeda. Berusaha menjalin kisah dengan lawan jenis. Mencoba membuat jarak dengan Tuhan. Sampai tahap di mana dia menerima semua, bercengkerama kembali dengan Pemilik Hidup, berusaha jujur dengan keluarga, memberi tahu secara lisan pada ibu tercinta, juga teman-teman dekat. Perlahan-lahan ia memupus ketakutannya.

Kamu pernah takut nggak?, tanya saya. Akan? Ia balik bertanya. Nggak semua bisa nerima konsep hidup yang satu ini, ujar saya. Dulu iya, sekarang tidak, jawabnya. Apa yang bisa menghapus ketakutan kamu? Ibu, tuturnya cepat. Baginya yang lain hanya figuran.

***

Saya tahu mereka ada. Mereka ada dalam tokoh dari beragam judul novel, juga cerita pendek. Dalam salah satu penggal adegan film “Kuldesak”. Dalam tatap tak sengaja saat saya berjalan menuju toko buku. Saya tahu mereka ada saat Nino mengecup Sakti penuh kasih dalam film “Arisan”.

Saya tahu mereka ada, saat teman saya bercerita di satu siang, di akhir pekan; saya gay, ujarnya. Kini, saya tak lagi melihat mereka dari kejauhan. Awalnya dia adalah teman dari teman saya. Saya sengaja mengundangnya untuk bercakap-cakap di kubus maya.

Sekarang laki-laki yang menyenangkan itu teman saya …

(untuk teman saya; terima kasih telah memberikan pelajaran dalam hidup. i love you dear… Kamu tahu kalau tidak dituangkan dalam tulisan, saya pasti kikuk mengatakannya; hey sekarang mari siapkan fin dan snorkel, kita melaut bersama)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *