Pekerjaan Rumah

Saya melihatnya malam tadi. Setelah menyengajakan diri pulang lebih larut untuk menghindari kemacetan. Hujan yang turun sejak sore, antrian BBM, dan akhir pekan; ketiganya bersinergi membuahkan ruas-ruas jalan penuh dengan kendaraan yang bergerak perlahan.

Saya melihatnya malam tadi. Dengan remote control di tangan kanan, dan segelas air putih dingin, di ruang tengah. Di layar kaca, gambaran mengenai pulau itu terlihat sangat hidup. Sebelum ini saya sempat membacanya di liputan khusus yang disajikan majalah mingguan edisi terbaru yang saya langgani. Akhir September biasanya menjadi momentum untuk berbicara kembali tentang pulau di timur ini.

Gambar di televisi kemudian berganti pada sosok laki-laki tua berkacamata. Ia; Pramoedya Ananta Toer. Pengarang kelahiran Blora ini bertutur, menghadirkan kembali peristiwa yang terjadi tiga puluh enam tahun yang lalu.

“Kita semua masuk di kapal. Kebanyakan orang-orang itu belum pernah melihat laut. Banyak yang pada mabuk laut. Kita ditaruh di geladak. Bukan, bukan geladak yang atas. Semua pintu-pintu dikunci,” tuturnya.

Malam tadi, dalam tayangan televisi itu Pram tidak sendiri. Ada Dariun, seorang aktivis buruh, lalu Hersri Setiawan, seorang pengarang, ada Soekiman, juga A. Solihin. Semuanya bertutur. Berkisah. Merangkaikan kata untuk menggambarkan satu episode hitam yang pernah mereka lewati.

“Kami makan seadanya. Saya ingat, nasi untuk makan siang itu 9 sendok saja sudah habis, paginya nggak ada sarapan, malam hanya makan bulgur,” Hersri mengenang.

“Jangan sampai kita terlihat membawa parang. Saat sedang mengerjakan sawah dan peleton pengawal lewat, buang parang jauh-jauh, kalau tidak kita pasti ditendang,” ucap Dariun.

Kisah yang datang dari masing-masing nama di atas seperti potongan-potongan puzzle. Dari potongan-potongan itu lah sebuah kisah tersaji, dengan latar pulau yang menjadi bagian dari Provinsi Maluku ini.

Pulau Buru, antara tahun 1969 sampai 1979, atas nama stabilitas keamanan dan ketertiban, hampir 10 ribu orang tahanan politik dikirim ke sana. Mereka, ya hampir 10 ribu orang itu, berpisah dengan orang terkasih, keluarga, teman, jauh dari rumah yang mereka diami, mencoba bertahan hidup. Setiap harinya mereka bekerja tanpa dibayar. Membajak sawah. Membuka jalan. Mereka, ya hampir 10 ribu orang itu, dipaksa pergi ke Buru sebagai tahanan politik, tanpa proses peradilan.

Saya melihatnya malam tadi. Dalam sebuah tayangan yang disiarkan
sebuah stasiun televisi swasta. Saat Pram, Dariun, Hersri Setiawan, Soekiman, juga A. Solihin bertutur. Berkisah. Meski rangkaian kata yang keluar adalah sebuah usaha penggambaran kembali episode hitam dalam hidup mereka, saya tak menemukan kegeraman di sana, tak ada rasa marah yang sangat, atau kebencian yang meluap-luap. Tak ada umpatan. Bahasa mereka santun. Tutur mereka terjaga. Pram bahkan tertawa ketika ditanya tentang adakah dendam yang tersisa. “Dendam, buat apa dendam?”. A. Solihin terlihat memperlambat bicaranya saat ia bertutur; “Jangan menganggap kami ini berbahaya, kami sama seperti Anda-Anda semua, warga negara yang sah”. Hersri dengan bijak mengatakan usaha penelusuran kembali kisah ini bukan lah berangkat dari dendam, tapi agar bangsa ini sadar dan tahu betul apa yang sebenarnya terjadi, merenungkannya sebagai pelajaran, agar tidak terulang lagi di masa depan.

***

Melihat tayangan tadi malam, saya tahu kenapa bangsa ini tak pernah bergerak. Kita, bangsa yang mudah lupa dan tak pernah menuntaskan pekerjaan rumahnya dengan baik. Pulau Buru, antara tahun 1969 sampai 1979, hanyalah satu dari banyaknya pekerjaan rumah yang belum juga selesai. Pekerjaan rumah yang satu ditumpuk dengan pekerjaan rumah yang lainnya. Begitu seterusnya. Beragam peristiwa kelam yang terjadi dengan satu dalih; atas nama stabilitas keamanan.

Pulau Buru hanyalah satu dari banyaknya pekerjaan rumah yang tak tuntas. Di tengah bangsa yang mudah lupa, orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab sengaja mendiamkannya, membungkus dan membiarkannya tertutup. Dengan begitu beragam pekerjaan rumah ini akan hilang dari ingatan, seiring dengan berlalunya waktu.

Ah, tidak kah mereka tahu, bahkan dalam bangsa yang mudah lupa, di dalamnya masih hidup orang-orang dengan ingatan yang tajam. Orang-orang ini lah yang akan kembali mengingatkan mereka atas pekerjaan rumah yang belum juga tuntas…

One thought on “Pekerjaan Rumah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *