Jangan Benci Lebaran Ya….

+ jadi lebaran elo ke mana?, tanya teman saya, setengah antusias
– ya seperti biasa lah, nggak ke mana-mana. (bagi saya; pertanyaan
biasa macam ini sudah lama masuk ke dalam kategori pertanyaan nggak penting )
+ elo nggak kabur kan?
– saya tergelak. harga tiket selangit gini mau kabur, nggak lah. dari dulu gue kan tetep ada di rumah tiap lebaran
+ anak baik
– saya nyengir
+ rencananya mau ngapain?
– berenang
+ ATTA. elo tuh ye, jangan ngaco deh. mana ada orang lebaran-lebaran berenang
– loh, justru itu. sekarang dibikin ada. eh lo belum liat baju renang baru gue kan? hitam. ada gambar bunga mataharinya gitu.
+ ganti dia yang nyengir. serius, nggak ada rencana?
– Alex pergi ke kebun strawberry pas hari H, dia kan nggak lebaran, jadi dia mau pakai hari pertama libur lebaran itu buat jalan-jalan.
+ mau ikut jalan sama Alex?
– enggak. perginya bareng calon pacarnya. nggak enak ganggu. mereka jarang ketemu
+ sorenya ke rumah aja yuk. bawa kamera lo. rumah gue rame. penuh keponakan kecil. lo suka anak kecil kan? sekali-kali pengen juga dipotret pake film hitam putih
– enggak deh. gue belum jago motret.
+ ayolah, nggak disuruh nyuci piring kok
– hehehhehe. nggak lah. enggak usah aja. makasih.
+ atau ikut ke rumah nenek gue di Sukabumi. deket sawah gitu. uwak-uwak gue lucu-lucu. elo pasti seneng denger mereka ngobrol pake bahasa sunda. tanggal 7 kita berangkat
– (nenek, uwak-uwak, keponakan, kenapa dada saya jadi terasa sesak begini?) nggak deh. tanggal 7 gue udah masuk
+ ambil cuti dong
– kan emang sengaja nggak ambil cuti. buat ke Natuna aja cutinya
+ jadi ke Natuna?
– masih nunggu konfirmasi.

temen saya diam
saya yang biasanya bawel, juga ikut diam

+ jangan sedih
– enggak
+ kata elo hidup harus banyak bersyukur
– bukan kata gue; cuma nerusin apa yang gue dapet pas dengerin ceramah minggu lalu
+ nggak pengen kontak Bapak?
– enggak tau alamat terakhirnya. dia juga nggak tahu alamat rumah yang sekarang gue dan ma’e tempati. lagian dari jaman rikiplik yang namanya lebaran ya cuma gue, ma’e sama kakak gue.
+ ini tahun ke berapa deh di rumah yang sekarang?
– kedua. tahun kemarin pindah rumahnya pas deket-deket lebaran

hening.

+ mmm … jangan benci lebaran ya
– enggak. enggak benci. banyak yang bisa dilakuin kok. tenang aja.
+ eh makasih ya
– buat apa?
+ sejak elo cerita, gue jadi ngerasain beda aja tiap kumpul bareng keluarga besar. padahal elo tau kan, dulu gue bete banget. kumpul-kumpul keluarga itu sama artinya dengan tante-tante yang nanya kapan nikah lah, anak-anak kecil yang jahilnya nggak ketulungan, nangis rebutan mainan, belum lagi kalo mereka pake acara berantem. sepupu-sepupu yang karirnya makin kinclong, sementara gue ngerasa gini-gini aja. rumah gue juga berantakan tiap kali acara selesai. tapi sekarang, gue jadi lebih menghargai apa yang gue punya
– ya. yang elo punya dan gue nggak punya.
+ jangan sedih ya
– saya tersenyum. enggak. eh eh tapi bisa nggak ya lebaran nggak usah lewat ke Slipi. jadi kan nggak lewat ke rumah gue.
+ attaaaaaa………… elo tuh ya

kejutan menyenangkan di oktober yang basah

ceritakan padaku tentang perjalanan;
dan dia, laki-laki yang jatuh hati pada langit sore itu menjadi begitu bersemangat. merangkai kata bercerita tentang tempat-tempat yang sudah diinjaknya. ceritanya tentang Alor, bagian timur Pulau Flores, begitu memikat. geladaknya itu ada di teluk, wah… pas kapal mendekat, airnya jernih banget, hijau gitu. bakar ikan di pinggir pantai, nggak perlu pakai bumbu, pas ikannya setengah matang, celupin ke air laut, terus bakar lagi. ha?, selaku. hasilnya enak kok, gurih, ujarmu cepat.

ceritakan padaku tentang gunung dan hutan;
dan dia, laki-laki yang mencandu perjalanan itu akan bertutur dengan nada bicara yang riang. kamu mesti liat Ranukumbolo. tempat itu lebih dari cantik. Tuhan menjaga kecantikannya. Semeru itu tempat reuni anak-anak pecinta alam di kampus ku. ramai. hangat. akrab. dari angkatan yang tua sampai angkatan muda. atau Segara Anak, di Rinjani. itu juga ajaib. bagus banget. gunung? ke Lawu aja belum pernah, kaya’nya kalo gunung mending nyerah aja deh. jalannya santai aja, kalau capek ya berhenti, istirahat.

ceritakan padaku tentang mimpi masa depan;
dan dia, laki-laki yang dua kali lebih manis saat tersenyum itu (dua atau tiga kali lebih manis ya?) akan melambatkan bicaranya. memantapkan artikulasi dan berujar.. aku pengen pensiun dini. kerja kerasnya sekarang aja pas muda. abis pensiun kalau bisa udah nggak tinggal di kota lagi, pindah ke desa, berhawa sejuk, dengan rumah berhalaman luas. o ya? tanyaku, memastikan. ya, jawabmu, tersenyum. oh satu lagi. apa? land rover untuk mengajak keluargaku bepergian. sesekali kami bergerak dari satu kota ke kota lain. wah … menyenangkan, kataku.

ceritakan padaku tentang kamu;
apa? aku? mmm…. hening. dia, kejutan menyenangkan yang datang bersamaan dengan Oktober yang basah itu, memilih kata. aku? aku suka langit sore. kadang-kadang sengaja membawa secangkir kopi dan melihat langit sore dari gedung tinggi. bagaimana caranya?. kamu harus mencari gedung dengan menara di atasnya, biasanya penjagaannya tidak terlalu ketat. duduk. sendiri.
eh mengapa hujan tak kunjung turun ya? dari tadi mendung ini tak bergerak menjadi hujan. kamu, kamu mencintai hujan? garis lengkung di bibirnya muncul lagi. dengan tersenyum ia berkata; kadang-kadang aku sengaja berjalan perlahan, dalam gerimis, selepas jam kerja.

sayang kamu jauh, kalau dekat sudah kutemani, berjalan-jalan di bawah langit sore.
kemari lah. aku tunggu besok ya. atau kalau kamu datang sore ini aku ajak kamu mengunjungi kebun teh. nuansa hijau dengan latar gunung. malamnya kita nikmati bintang dan lampu-lampu kota.
aku tergelak. kita akan bertemu tapi tidak besok. banyak yang mesti diselesaikan sebelum hari raya. kita akan bertemu sebelum akhir tahun, ujarku, menabalkan janji
benar ya?
bawa aku ke sukamade. melihat penangkaran penyu. pantai plengkung. naik truk bersama penduduk sukamade sambil melihat pemandangan di kanan dan kiri jalan
kalau bisa libur seminggu kita bisa ke bande alit. melihat gua jepang dan kuncup bunga raflesia hitam.
sayang kamu jauh. kalau dekat sudah ku peluk sedari tadi
dan kau tersenyum
tapi untung kamu jauh, jadi aku bisa merinduimu setiap hari. setiap kali langit sore datang. akhir tahun nanti, tabungan rinduku pasti sudah terisi penuh … pasti.

Sore, Cupid, dan Jatuh Cinta

Aku sedang menggeser pot tanaman suplir di beranda depan rumah. Di luar sana, butiran gerimis masih turun. Saat itu, sosoknya melintas. Ia bergerak perlahan. Sesekali terbatuk.

Hatsyii.

Dan bersin.

Ah, sedang flu rupanya. Mengapa ia tak berteduh sejenak?

“Cupid, hai, kemarilah, duduk dulu,” aku berlari kecil tanpa payung ke halaman, membuka pagar kayu.

Ia menoleh ke arahku. Tersenyum. Dan,

Hatsyii.

Cupid bersin lagi

“Ayo, kau sedang flu, tak baik berlama-lama di bawah gerimis, masuklah, aku buatkan kau coklat hangat,” aku berjalan ke luar pagar, menggandeng tangannya, menuju beranda rumah.

Kutinggalkan ia di kursi depan. Ketika kembali, di tanganku sudah ada dua cangkir coklat hangat. “Sebentar, akan kuambilkan handuk bersih, rambut dan sayapmu pasti basah,” ujarku.

Cupid mengangguk dan bersiap bersin kembali.

“Terima kasih,” ia menerima handuk, segera mengeringkan rambut dan sayapnya.

Aku membantunya melepaskan buntalan kecil, tempat menyimpan panah-panah cinta, yang biasa ditaruh di punggungnya. Di buntalan kecil itu, masih ada beberapa panah cinta yang tersisa.

“Sepertinya sibuk sekali hari ini,” kataku.

Aku baru saja melepas beberapa panah cinta, jawab Cupid.

“Oh ya?”

Ya. Satu panah untuk gadis yang menjaga toko bunga di ujung jalan ini, ia jatuh cinta pada seorang pelanggannya. Satu panah lagi untuk bapak guru yang mengajar di sekolah musik, tinggalnya tak jauh dari rumahmu, ia jatuh cinta pada teman masa kecilnya. Setelah sekian lama terpisah, beberapa minggu lalu mereka bertemu lagi, dan rasa itu tumbuh.

“Sulitkah?”

Apa?

“Pekerjaanmu?”

Tidak. Ini pekerjaan yang menyenangkan. Membuat orang jatuh cinta, mengecat dinding hati manusia dengan warna merah jambu. Dan selanjutnya, ku tahu kau paham apa yang akan terjadi.

“Hahahhaha,” aku tertawa. “Ya, perasaan melayang dan nyaman, rindu mendengar suaranya, berharap waktu berhenti saat kita berada di dekatnya, jatuh cinta …”

Menyenangkan bukan? Cupid bertanya.

“Beberapa ya, tapi tak jarang jatuh cinta itu juga menyulitkan.
Kau tahu. Begitu panah cinta ini terlepas, ia tidak datang hanya dengan muatan cinta saja. Tapi juga dengan kekuatan.

“Maksudnya?”

Jadi ketika cat merah jambu itu pudar, kekuatan untuk tetap melindungi hati dari sakit akan mulai bekerja. Dan, tenanglah, semua akan baik-baik saja. Akan ada ritme baru. Hidup tetap akan sama indahnya. Karena apa? Jatuh cinta itu seharusnya menyenangkan, bukan membuat orang terpuruk dan sedih berkepanjangan. Iya kan non?

“Yup,” jawabku.

Kami masih bercerita, sambil menunggu hujan reda.

Oke non, aku harus pergi sekarang, terima kasih untuk susu coklat dan obrolan sore ini. Cupid bangkit dari duduknya. Memasang kembali buntalan kecil tempat panah-panah cinta tersimpan.

“Jangan lupa istirahat, apa jadinya dunia kalau flu mu bertambah parah, tak ada panah cinta yang dilepaskan,” ujarku.

Yayaya. Tak usah kau beri aku pelukan, flu ku ini bisa menular, tuturnya.

Aku ikut berdiri. Menjejeri langkahnya

“Hmm … ,” aku menggantung kalimatku.

Ada apa? Ayo, katakan saja.

“Hmmm, bisakah kau sisakan satu panah cinta untukku?” tanyaku, sedikit berbisik.

Cupid tergelak. Tentu, jawabnya cepat. Masih akan ada panah cinta untukmu non. Sebentar, ia mengeluarkan buku kecil, membalik halamannya dan berhenti, … ada perubahan atau masih sama dengan apa yang kau pinta dulu?

Cupid mulai membacakan tulisan di salah satu halaman dalam buku kecil itu; laki-laki yang menulis, menyukai perjalanan, senang membaca, punya selera humor yang baik, bersahabat dengan alam, kalau bisa tidak terlalu cerewet, dan …

“Hahahahah, kau masih menyimpannya”. Derai tawaku membuat

Cupid berhenti membaca.

Cupid mengangguk. Ya, aku masih menyimpannya. Ingat, kau pernah bercerita tentang laki-laki yang bisa meruntuhkan hatimu.

Kami berdua tergelak.

Tak ada rumusan baku dalam jatuh cinta, ucap Cupid, kau bisa saja tertarik pada laki-laki yang jauh dari apa yang ada di pikiranmu saat ini

“Aku tahu,” jawabku, tersenyum.

Akan aku sisakan panah cinta untukmu non, ujar Cupid. Saat panah itu datang, ingatlah … jatuh cinta itu seharusnya menyenangkan.

“Kau baik sekali, terima kasih”, kataku seraya memeluk Cupid

Hey, sudah kubilang tadi, aku sedang flu.

Dan aku tetap memeluknya …

Toko Empati

Satu kali, Ma’e, ibu saya, pernah bercerita tentang masa-masa suram hidup di republik ini. “Pernah satu kali beras susah banget dicari. Mau beli beras antrinya panjang banget dek, nggak sempet mikir jalan-jalan, buat makan sehari-hari aja sulit”.

Pengalaman Ma’e tadi juga saya temui dalam buku-buku sejarah yang pernah saya baca di bangku sekolah. Foto hitam putih tentang barisan yang mengular, ibu-ibu dengan kain batik yang menyelubungi kepala, berusaha menghalau terik. Untung hidup di jaman sekarang, pikir saya, kalau tidak, wah … bisa-bisa saya ikut dalam barisan itu, menemani Ma’e antri beras.

Hohoho. Tunggu dulu sayang. Republik ini rupanya senang bernostalgia. Tidak hanya mengenangnya dalam pikiran, dan menceritakannya kembali pada generasi berikutnya, masa-masa mengantri itu kini berulang dan nyata. Tak perlu mencubit lengan untuk memastikan apa yang saya lihat itu bukanlah mimpi.

Di daerah-daerah, ratusan ibu rumah tangga antri minyak tanah, yang harganya kini naik hingga 185,7 persen, berjam-jam. Dan rupanya solidaritas di antara bahan bakar itu cukup tinggi. Elpiji, teman sejawat minyak tanah, ikut-ikutan langka. Harga Elpiji juga makin membumbung.

Kalau menurut rakyat macam saya, antri-antri macam ini peristiwa besar. Ini satu penanda dari ketidakbecusan negara mengurus masalah yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

Tapi, lain saya lain pula pendapat seorang pejabat tinggi. Menurut bapak pejabat tinggi itu, fenomena antri macam ini wajar-wajar saja. ”Wajar kalau beli minyak tanah antre. Orang nonton bioskop saja antre!”.

Setelah membaca ucapannya itu; saya jadi tergelitik untuk bertanya, kapan terakhir si Bapak ini nonton bioskop. Antrian minyak tanah dengan antrian penonton bioskop jelas dua hal yang berbeda. Yang satu penuh peluh, tersengat matahari, belum lagi resiko dorong-mendorong yang mungkin terjadi.

Sementara yang satunya adalah antrian dalam ruangan berpendingin udara, musik yang mengalun, orang-orang berkostum rapi dan wangi, perempuan dengan pashmina aneka corak dan warna.
(atau gini aja pak, biar bapak percaya, kapan-kapan kita nonton bareng, saya jemput bapak deh, tak jauh dari kantor bapak ada bioskop kok. setelah itu kita ikut antri minyak tanah bareng. terus kita cari perbedaannya. gimana pak?)

Itu tadi tanggapan pejabat soal minyak tanah. Pejabat lainnya mencoba berkomentar soal harga elpiji yang merangkak naik. Simak baik-baik pernyataannya; ”Kalau enggak kuat beli gas, ya pakai minyak tanah aja.”.

Eng ing eng. Keduanya setali tiga uang. Alih-alih meminta maaf akan kesulitan yang kini dihadapi rakyat, mereka malah mengeluarkan dagelan, yang maaf-maaf sama sekali tidak lucu dan salah tempat.

Ah, tentu saja mereka tak mungkin mengeluarkan pernyataan yang meneduhkan, dan lebih memilih pembelaan-pembelaan yang ajaib tadi. Karena apa? Ada satu yang tidak mereka miliki. Tapi tenang saja, satu yang tidak ada dalam diri mereka itu sebenarnya bisa mereka dapatkan dengan mudah.

Benar, mudah sekali.

Bapak-bapak mau tahu tak? Begini caranya: nanti sepulang dari kantor, arahkan mobil bapak-bapak ke satu jalan tak bernama, selepas jalan protokol ambil kiri, nah di perempatan pertama itu lihat toko pertama sebelah kanan. Catnya hijau pak. Ada kanopi di depannya. Kalau bapak-bapak bingung, minta tolong supir bapak-bapak turun dari kendaraan dan mencari nama tokonya. Papan nama dari kayu itu bisa terlihat dengan jelas saat kita ada di bawah kanopi tadi. Atau bapak-bapak sendiri yang turun.
Selamat datang, bapak-bapak sudah sampai di …

Toko Empati

(untuk tahap awal, bapak bisa beli sekilo atau dua kilo empati. seperti bubuk kopi, campurkan bubuk empati ini dengan air lalu minum. kalau tak mau repot, ada juga empati siap minum. biasanya sih empati tak datang dari sesuatu yang serba instan. tapi bapak-bapak coba saja dulu dan lihat reaksinya. kalau ujung-ujungnya masih sama; saya rasa bapak-bapak lebih paham; kami tak butuh orang-orang “ajaib” untuk mengurusi negeri ini…)

Saya Tahu Mereka Ada

Saya tahu mereka ada. Mereka ada dalam tokoh dari beragam judul novel, juga cerita pendek. Dalam salah satu penggal adegan film “Kuldesak”. Dalam tatap tak sengaja saat saya berjalan menuju toko buku. Kala itu saya melihat rona muka di wajah salah satu dari mereka. Keduanya dipenuhi cinta.

Saya tahu mereka ada saat Nino mengecup Sakti penuh kasih dalam film “Arisan”. Mereka ada dalam lingkup pergaulan sehari-hari. Sesekali saya menemukannya dalam liputan, atau di beberapa spot di kota tempat saya tinggal. Saya tahu mereka ada. Dan saya melihatnya dari kejauhan.

Sampai…

***

Dia adalah teman dari teman saya. Saya sengaja mengundangnya untuk bercakap-cakap di kubus maya. Awalnya, saya tertarik pada foto-foto bidikannya. Obrolan kami selalu berkisar pada hal-hal remeh. Nggak penting. Dia selalu tergesa-gesa menutup obrolan saat senja tiba. Kesan pertama; sombong. Pokoknya nggak asyik, jaim dan kacrut; kesan selanjutnya sudah cukup mewakili nasib pertemanan kami.

Hingga satu hari saya singgah di kotanya. Berusaha menahan diri untuk tidak menghubungi (tak mungkin menghubungi, la wong kami tak pernah bertukar nomor ponsel).

Tapi, kepikunan saya akhirnya mau tak mau membuat saya menghubunginya. Nomor agen perjalanan di kota itu hilang. Jadi saya perlu menghubunginya untuk menanyakan nomor agen tadi.

Alurnya; saya mengirim pesan ke teman saya, teman saya menghubungi dia, teman saya memberi nomor ponselnya ke saya, saya menghubunginya.

Singkatnya; kami akhirnya bertemu. Setelah membuat pilihan antara; iya-enggak-iya-enggak-iya-enggak yang bertarung di kepala. Tokh nggak ada ruginya ketemu, pikir saya waktu itu. Dia datang saat langit sudah gelap. Tersenyum. Wajahnya bersih. Kelihatannya baik. Dan saya kikuk. Benar. Saya kikuk. Dan butuh bermenit-menit untuk mendatangkan rasa nyaman.

Dia jauh dari kesan yang berdiam di kepala saya. Humoris. Punya segudang cerita lucu. Mudah sekali tergelak. Dan yang membuat saya heran; kecepatan berbicaranya di atas rata-rata. Dia menyenangkan; tepatnya, dia laki-laki yang menyenangkan. (meski kadang kala rasa empatinya menguap entah ke mana).

Setelah itu sesekali masih terjadi obrolan remeh. Beberapa kali terselip rencana perjalanan. Cerita masa lalu. Aktivitas keseharian. Berbagi impian masa depan. Hingga, satu siang di akhir pekan, dia menceritakan satu hal tentangnya …

Saya gay, ujarnya. Yang bener?. Aduh atta, beneran. Kamu sadarnya kapan? Tidak ada sadar-sadaran atta, memangnya seperti mimpi gitu, lalu sadar.

Lalu meluncurlah kisah itu. Sesuai dengan urutan waktu. Dia yang merasakan sesuatu yang berbeda. Berusaha menjalin kisah dengan lawan jenis. Mencoba membuat jarak dengan Tuhan. Sampai tahap di mana dia menerima semua, bercengkerama kembali dengan Pemilik Hidup, berusaha jujur dengan keluarga, memberi tahu secara lisan pada ibu tercinta, juga teman-teman dekat. Perlahan-lahan ia memupus ketakutannya.

Kamu pernah takut nggak?, tanya saya. Akan? Ia balik bertanya. Nggak semua bisa nerima konsep hidup yang satu ini, ujar saya. Dulu iya, sekarang tidak, jawabnya. Apa yang bisa menghapus ketakutan kamu? Ibu, tuturnya cepat. Baginya yang lain hanya figuran.

***

Saya tahu mereka ada. Mereka ada dalam tokoh dari beragam judul novel, juga cerita pendek. Dalam salah satu penggal adegan film “Kuldesak”. Dalam tatap tak sengaja saat saya berjalan menuju toko buku. Saya tahu mereka ada saat Nino mengecup Sakti penuh kasih dalam film “Arisan”.

Saya tahu mereka ada, saat teman saya bercerita di satu siang, di akhir pekan; saya gay, ujarnya. Kini, saya tak lagi melihat mereka dari kejauhan. Awalnya dia adalah teman dari teman saya. Saya sengaja mengundangnya untuk bercakap-cakap di kubus maya.

Sekarang laki-laki yang menyenangkan itu teman saya …

(untuk teman saya; terima kasih telah memberikan pelajaran dalam hidup. i love you dear… Kamu tahu kalau tidak dituangkan dalam tulisan, saya pasti kikuk mengatakannya; hey sekarang mari siapkan fin dan snorkel, kita melaut bersama)