Keluar dari kubus maya

Kau tahu apa yang paling kuinginkan saat ini? “Tibet,” jawabmu cepat. Ah ya, pergi ke Tibet, satu impian yang belum padam. Sejak beberapa minggu lalu, aku memasang foto biksu-biksu Tibet di meja kantor. Biksu-biksu dengan jubahnya berdiri di depan bangunan dari batu bata merah. Memandanginya setiap hari menjaga mimpiku tentang Tibet dan sebuah perjalanan, satu saat nanti.

Tapi jawaban pertama mu kurang tepat. Bukan Tibet yang paling kuinginkan saat ini.

“Pergi ke pantai dekat Sukabumi itu?” Kau mencobanya lagi. Nop. Masih salah. Dan kau memborbardirku dengan rentetan jawaban. Cuti dan bebas dari deadline, pergi ke pasar terapung, atau ini, atau itu, atau…. “Aduh, tak ada lagi yang terpikir di kepalaku, ayo berikan jawaban, apa yang paling kau inginkan?”

Kamu. “Apa? Aku?” Dan kau membalas dengan senyum. Bukan Tibet, bukan juga cuti dan bebas dari deadline, bukan pergi ke pasar terapung (tapi harus ke sana satu hari nanti, aku belum pernah mengeksplorasi selatan Kalimantan), bukan ini atau itu, atau….

Tapi, kamu. Keluarlah dari kubus maya tak berperasaan ini. Kubus di mana beragam ekspresi hanya bisa terwakilkan oleh puluhan ikon. (YahooMessenger makin kreatif saja ya). Dan terpaksa mengira-ngira bagaimana raut mukamu di ujung sana. Tak bisa melihat gelak tawa, wajah manyun, atau senyum tanda keprihatinan yang sangat setiap kali jokes garing tercipta.

Ya, keluarlah dari kubus maya. Dan kita bisa melakukan banyak hal. Minum milkshake coklat di resto dekat kantor lamaku, makan sate di warung tenda madurasa depan TIM, melihat ikan hias di Jalan Sumenep, ke monas pada pagi hari, naik transjakarta ke stasiun Kota, duduk di dekat air mancur bundaran HI, ke taman Suropati (hmm… kita lakukan yang satu ini lain kali saja, pemerintah daerah sedang bergiat memindahkan patung Kartini di depan taman dan berniat menggantinya dengan patung Diponegoro, suasana depan taman tak nyaman dipandang. Tak adakah pekerjaan penting lain yang dapat mereka lakukan selain mengurusi masalah per-patung-an ini?), kita bisa menonton film terbaru dan melihat pertunjukan di planetarium. Bayangkan gulali merah jambu, besar, seperti kapas yang dipintal (di sini di mana penjual gulali merah jambu ya?), juga lampu-lampu kota saat senja usai. Dan satu kecupan lembut berbarengan dengan gerimis pertama yang turun di penghujung minggu.

“Bagaimana caranya?” Sebentar. Mari kita pikirkan bersama. Aha. Aku ingat sekarang. Seorang teman pernah mempraktekkannya. Tahun lalu, kami bercakap-cakap di kubus maya. Bertukar kabar, bercerita tentang ini, dan itu. Berselang setengah jam setelah jendela di kubus maya kami tertutup, telepon di meja ku berbunyi. “Mbak, pesanan pizzanya datang nih,” ujar resepsionis. Pizza? Siapa pesan Pizza?.

Dan teman saya, si pembuat kejutan ulung itu sudah duduk di ruang tamu kantor. Dengan pizza di tangan kanannya. O la la. Padahal ku pikir ia masih berkutat di Liberia. Hahahahha. Dan kami pun tergelak. Ia nyata. Berdiri di depan ku. Tawanya lepas. Bukan lagi ikon-ikon dalam kubus maya. Tak banyak yang bisa kami lakukan, ia tergesa-gesa. Harus segera kembali ke hotel dan bandara, mengejar pesawat menuju Bali. Bahagia sekali melihat ia -teman saya yang pandai bergurau ini- keluar dari kubus maya. (Luigi, terima kasih banyak)

Mungkin kau bisa belajar darinya. Cari tahu bagaimana ia menemukan formula yang membuatnya dapat keluar dari kubus maya dalam sekejap.