Untuk Laki-Laki Yang Menulis

Kelak, satu hari nanti …

Kita duduk berdua. Kita, kau dan aku. Di bangku kayu. Menghadap ke jendela besar dengan tirai berwarna coklat muda yang tersingkap. Hujan masih turun. Kecil-kecil. Satu-satu. Rintik-rintik jatuh, di daun palem, di semak perdu, di kerimbunan kuncup-kuncup melati, di pohon kembang kertas, di hijau rumput depan rumah.

Kau tatap wajahku. Dan bertanya,

“Dulu sekali, mengapa kau tertarik pada ku?”

Di luar sana, hujan kecil-kecil belum reda. Air dari atap turun ke selokan, menghanyutkan daun-daun kering.

Aku ganti menatap wajahmu. Dan jari tanganku bergerak. Menyentuh lengkung alismu. Perlahan, mengecup keningmu. Lalu merapatkan tautan jemari kita.

“Dulu sekali, aku tertarik padamu, karena kau laki-laki yang menulis. Kau mengolah rasa bahasa dan buah pikir, berkawan dengan aksara, dan merangkai alinea menjadi sebuah narasi. Kau, laki-laki yang menulis,” ujarku, tersenyum.

Di luar sana, hujan kecil-kecil belum reda. Kita masih duduk. Berdua, di bangku kayu. Menghadap ke jendela besar dengan tirai berwarna coklat muda yang tersingkap. Kita, kau dan aku, di satu sore yang sempurna.

Kelak, satu hari nanti …

untuk laki-laki yang menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *