Untuk Laki-Laki Yang Menulis

Kelak, satu hari nanti …

Kita duduk berdua. Kita, kau dan aku. Di bangku kayu. Menghadap ke jendela besar dengan tirai berwarna coklat muda yang tersingkap. Hujan masih turun. Kecil-kecil. Satu-satu. Rintik-rintik jatuh, di daun palem, di semak perdu, di kerimbunan kuncup-kuncup melati, di pohon kembang kertas, di hijau rumput depan rumah.

Kau tatap wajahku. Dan bertanya,

“Dulu sekali, mengapa kau tertarik pada ku?”

Di luar sana, hujan kecil-kecil belum reda. Air dari atap turun ke selokan, menghanyutkan daun-daun kering.

Aku ganti menatap wajahmu. Dan jari tanganku bergerak. Menyentuh lengkung alismu. Perlahan, mengecup keningmu. Lalu merapatkan tautan jemari kita.

“Dulu sekali, aku tertarik padamu, karena kau laki-laki yang menulis. Kau mengolah rasa bahasa dan buah pikir, berkawan dengan aksara, dan merangkai alinea menjadi sebuah narasi. Kau, laki-laki yang menulis,” ujarku, tersenyum.

Di luar sana, hujan kecil-kecil belum reda. Kita masih duduk. Berdua, di bangku kayu. Menghadap ke jendela besar dengan tirai berwarna coklat muda yang tersingkap. Kita, kau dan aku, di satu sore yang sempurna.

Kelak, satu hari nanti …

untuk laki-laki yang menulis

memotret dipotret

Saya dalam siluet . Gambar diambil oleh Sonson (nuhun pisan ya Son), di Pulau Peucang, Taman Nasional Ujung Kulon, akhir pekan lalu.

Jalur trekking yang ditempuh selama kurang lebih satu jam, membawa kami, saya dan teman-teman lainnya, ke satu tempat di atas ketinggian. Seperti beranda di depan rumah. Di bawah sana, laut biru terhampar. Kapal-kapal nelayan terlihat seperti titik-titik kecil. Arakan awan biru terasa begitu dekat.

Tak jauh dari tempat di mana gambar ini diambil, Karang Copong tegak berdiri. Suara ombak yang pecah saat menerpa tubuh karang memanjakan indera dengar. Karang besar lain, tempat camar-camar berumah, juga bisa dilihat dari sini.

Memotret dipotret, Pulau Peucang, Taman Nasional Ujung Kulon, satu lagi perjalanan yang menambah pundi-pundi nutrisi jiwa

Bayi Itu Menggenggam Matahari

“Ting”.

Angka 4 di sudut kanan lift menyala. Tak lama, pintu lift pun terbuka. Saya melangkahkan kaki, keluar dari kotak persegi itu. Tepat di depan lift, saya jumpai papan petunjuk ruangan. Ruang Intensive Care Unit (ICU) yang saya cari, pada papan itu ditunjukkan dengan tanda panah ke kanan.

Di depan ruang ICU, saya lepaskan sandal dan menaruhnya di rak yang disediakan. Lalu mendorong pintu masuk dengan hati-hati. Di ujung sana, seorang laki-laki dengan masker di wajahnya tengah berdiri. Di depan sebuah kamar dengan kaca di sekelilingnya. Ia menengok ke arah saya, dan menunjuk ke arah tembok yang ada di samping kiri saya.

Hampir saja saya lupa. Ada seragam yang harus dikenakan oleh setiap orang yang masuk ke ruangan ini. Di tembok tersampir gantungan baju seragam. Warna putih untuk perawat, coklat untuk pengunjung.

Setelah seragam itu terpasang, saya mendekat ke arah kamar dengan kaca itu. Di dalam sana, seorang ibu tampak berinteraksi dengan bayinya. Si bayi tampak nyaman berada dalam pelukan perempuan itu. Matanya mengerjap. Sesekali, tangan si ibu mengusap kepala bayi dengan lembut.

Laki-laki dengan masker yang tengah berdiri di luar kamar itu ayah si bayi. Teman saya. Dulu, kami sempat berada di lingkup liputan yang sama, meski hanya sebentar. Perempuan yang tengah memeluk bayi dengan perasaan kasih yang meluap itu adalah istrinya. Dan, bayi mungil yang matanya mengerjap saat tertimpa cahaya itu putra pertama pasangan ini.

***
Pranarya Raputra. Nama yang diberikan pasangan ini untuk si bayi. Saat usia lima bulan dalam kandungan, dokter menyarankan untuk menggugurkannya. Tapi, pasangan ini menolak. “Karena kami sendiri tak kuasa membunuh dan menghentikan kehidupan buah cinta tersebut. Kami berpegang teguh dan terus berharap selalu ada jalan bagi putera kami. Apalagi kami sudah menyayanginya dan merasakan kehadirannya,” begitu ucap si ayah dalam satu surat elektronik yang sempat saya baca.

Bayi laki-laki itu kemudian lahir. Melihat dunia. Dan menempati boks di ruang ICU ini. Usianya belum genap satu bulan. Karena mengidap sindrom Dandy Walker, bayi mungil yang tampan itu harus berdiam lebih lama di rumah sakit.

Sindrom itu bersumber dari adanya kelainan kromosom bawaan yang kemudian membuat si bayi tak punya otak kecil. Tanpa otak kecil sama artinya dengan kehilangan fungsi-fungsi otak kecil, seperti keseimbangan. Dokter mengatakan kemungkinan bayi mungil itu akan lumpuh untuk selamanya.

Dan ruang otak kecil yang kosong itu akan terisi oleh cairan. Lama-kelamaan dikhawatirkan cairan itu akan semakin menekan kulit kepala yang akhirnya menyebabkan hydrocepalus.

Bayi mungil yang matanya mengerjap saat tertimpa cahaya itu juga terkena labio palato genato scysis, sumbing yang membelah dari hidung sampai ke mulut. Ia lahir tanpa adanya langit-langit di mulut.
Akibatnya saluran untuk makan dan pernapasan pun menjadi satu.
Pranarya beruntung.

Ia hadir dikelilingi keluarga yang penuh cinta. “Kami masih berjuang agar dia bisa tetap hidup karena kami percaya selalu ada mukjizat dan tangan Tuhan yang bekerja atas dirinya,” ujar pasangan ini.

***
Saya masih memandang ke dalam ruang kaca. Tak jauh dari tempat saya berdiri, si ayah juga tak henti menatap si bayi. Di dalam kamar berkaca, si ibu tetap melakukan percakapan dengan bayinya. Mata ibu dan bayi mungil itu saling bertemu. Mereka bertukar bahasa kasih.

Dari balik kaca, saya dapat merasakan hangatnya ruangan di dalam sana. Kehangatan yang berkumpul. Dari tatap wajah ayah si bayi di luar ruangan, dari anggukan kepala ibu, dan belai lembut pada kepala putra terkasih, dari tatap mata teduh yang terpancar dari bola mata si bayi. Kehangatan itu juga berasal dari kepalan jemari kecil milik Pranarya. Dari balik kaca, saya dapat melihat … bayi itu menggenggam matahari.