Mematahkan Hati

Benar sekali kalau banyak orang mengatakan bahwa waktu tidak berjalan. Waktu memang tidak berjalan, tapi … terbang. Malam ini, saat alunan musik terdengar lirih memenuhi kubus-kubus yang mulai ditinggalkan penghuninya, saya kembali teringat sesuatu.

Rasanya baru kemarin pagi yang biru itu datang. September Ceria, seperti lagu yang kondang lewat vokal apik Vina Panduwinata rasanya tak tepat dijadikan latar untuk bulan sembilan satu tahun lalu.

Sedih? Jangan ditanya. Hampir tujuh tahun (meski sempat terputus saat kami berdua menyelesaikan skripsi hingga lulus kuliah, bertemu lagi di ibukota, dan kami akhirnya menjalin relasi itu kembali), buat saya bukan waktu yang pendek. Jadi, ketakutan akan sesuatu yang buruk sempat hinggap dalam pikiran saya.

Tadinya saya pikir, setelah jalinan kisah kami usai, antusiasme saya pada Solo akan berkurang. Nyatanya tidak. Bulan Februari lalu saya mengunjungi kota itu. Melihat beragam tempat; kampus, kost-kostan tercinta, kost-kostan abang tercinta (karena masih ada beberapa teman yang saya kenal dan tinggal di sana), warung makan depan gang, plaza yang biasanya kami sambangi saat jeda kuliah, boulevard kampus, jalan tembus STSI. Tidak ada kesedihan yang menggelayut. Rasa cinta saya pada kota itu masih saja tetap.

Tadinya saya pikir mendengarkan Coldplay membuat hati saya disayat sembilu. Ah, nyatanya tidak. Hari ini saya singgah ke toko kaset di sebuah Mal dekat kantor. Membeli album terbaru mereka, X&Y, dan tak sabar mendengarkan suara merdu Chris Martin.

Tadinya saya pikir bertemu lagi dengannya akan membuat hari-hari saya diwarnai kelabu. Dan … tarammm, di satu akhir pekan yang cerah, undangan liputan dari sebuah perusahaan minuman ringan, membuatnya datang ke mari, ke Jakarta. Ia sejenak meninggalkan Balikpapan. Saya menemaninya naik TransJakarta hingga Stasiun Kota. Duduk di taman kota. Menghabiskan senja di restoran cepat saji di pusat kota. Makan di warung sate favorit saya di TIM. Nonton film dan berbincang hingga malam datang. Satu hari bersama teman lama.

Tadinya saya pikir mendengarnya telah menemukan tambatan hati yang baru akan membuat hati saya retak, dan akhirnya tinggal serpihan-serpihan kecil. Nyatanya tidak. Malam di mana ia bercerita tentang perempuan manis yang saat ini mengisi hatinya ternyata tidak menjadi malam yang sangat berat.

Tadinya saya pikir, hidup saya akan berhenti dan saya akan terisak terus menerus begitu saya melihat kepingan-kepingan memori; vespa, kemeja kotak-kotak, t-shirt putih dipadu dengan jeans, toko buku, semburat jingga, bunga matahari kering…. dan penanda yang lain. Untunglah tidak. Karena saya tahu, hidup saya tak akan berhenti.

Abang memang sempat menjadi pusat kenyamanan. Tapi ada hidup selain Abang. Deadline yang harus dipenuhi, liputan yang mesti didatangi, membuat janji temu dengan narasumber, bertemu sahabat setelah jam kantor.

Ada hidup selain Abang. Tagihan telepon seluler yang harus dibayar, langganan koran dan majalah yang mesti dilunasi, dana untuk taksi dan angkutan umum untuk ke sana dan ke mari, uang cuci untuk si mbak, sekian persen dari gaji untuk ditabung.

Ada hidup selain abang. Perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Wajah-wajah baru. Langit biru. Pasir putih. Ada keluarga dan sahabat.

Ya… ada hidup selain abang. Pasti. Dan, malam ini saya tersenyum. Saya telah melalui hari demi hari setelah pagi biru, di september itu … tanpa harus mematahkan hati.

One thought on “Mematahkan Hati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *