Kakak Laki-laki

Guntur itu datang hampir tengah malam. Tidak disertai selarik sinar putih, seperti yang biasa menghiasi langit saat guntur datang di sela-sela hujan.

Guntur itu ada di ruang keluarga. Pusat dari segala aktivitas di rumah kecil yang kami huni. Guntur hampir tengah malam, memecah sunyi.

Guntur itu datang dari mulut kakak saya. Nyaring. Saya lupa apa penyebabnya. Hanya masalah kecil yang akhirnya berujung pada suara guntur hampir tengah malam.

Esok paginya, saya sibuk berkemas. Memasukkan kemeja, t-shirt, buku, perlengkapan sholat dan beberapa barang lain, ke dalam ransel sedang yang biasa menemani perjalanan saya. Berkemas, ritual yang kerap dilakukan sebelum perjalanan, bedanya kali ini tak ada itinerary.

Pagi itu saya memutuskan pergi dari rumah. Ma’e, ibu saya, hanya memandang tanpa berusaha mencegah. Ibu saya tahu, kadang-kadang, hati putri bungsunya bisa sangat keras. Setelah rampung berkemas, saya cium tangan Ma’e dan pamit dengan menyelipkan janji, sekali waktu saya tetap akan menelepon rumah, memberi kabar.

Kemudian saya sibuk berpindah dari satu kost teman ke teman lain. Rumah saya dengan kantor yang dulu, hanya berjarak beberapa meter saja, tapi selama beberapa pekan, saya terpaksa menempuh perjalanan yang lebih jauh. Tanjung Priok-Slipi, Kebon Jeruk-Slipi, dan beberapa tempat lagi.

Waktu itu, dua tahun lalu, saya baru kembali ke kota asal saya, Jakarta, dan memulai pekerjaan sebagai juru warta, setelah kurang lebih 5 tahun menempuh pendidikan tinggi di Solo. Terbiasa hidup sendiri ternyata membutuhkan adaptasi yang sangat. Malam itu, saat suara guntur hampir tengah malam itu datang, saya tahu, ada jalinan komunikasi yang terputus antara saya dan kakak laki-laki.

Di minggu-minggu pertama setelah peristiwa hampir tengah malam itu saya tetap tenang. Tak ingat rumah dan fokus pada pekerjaan. Sesekali saya memenuhi janji saya, menelepon Ma’e. Tapi, minggu-minggu berikutnya, si sumber guntur ini dengan mudahnya singgah di pikiran saya.

Saya ingat saat ia membobol tabungannya untuk membiayai pendaftaran pertama saya di universitas. Saat ia menenangkan Ma’e dan saya bahwa semua pasti akan kembali baik (tahun 1998, setelah kerusuhan Mei, kakak laki-laki saya sempat kehilangan pekerjaannya, dan praktis kondisi keuangan keluarga kami sempat terganggu).

Saya ingat dulu ia begitu menginginkan adik laki-laki; alhasil ia tak pernah menegur saya saat kami berpapasan di jalan, kebiasaan yang dipertahankannya sampai ia duduk di bangku SMP.

Saya juga ingat saat ia bersemangat datang ke Solo, bersama Ma’e menghadiri wisuda saya. Saya juga ingat saat ia mengadukan saya pada Ma’e; aku lihat adek gandengan tangan, sama temen laki-laki, orangnya tinggi, di bawah jembatan layang dekat plaza, dua-duanya masih pakai seragam sekolah, ia terus bertutur sore itu menggambarkan hasil temuannya. (hahahaha, kalau ingat ini saya kembali tergelak. laki-laki berpostur tinggi yang menggandeng tangan saya itu adalah kakak kelas saya saat era seragam abu-abu).

Saya ingat…

Aduh, tak bisakah kakak laki-laki saya, sumber guntur hampir tengah malam itu sejenak menghilang dari pikiran?

Semestinya saya tak perlu bertanya untuk sesuatu yang saya tahu pasti jawabnya.

Akhirnya saya pulang, kembali ke rumah. Karena saya tahu, saya tak bisa meminggirkan sosoknya, dari pikiran juga dari kehidupan. Dan, pergi jauh-jauh dari rumah, berkemas di pagi hari, pindah dari satu tempat ke tempat lain (karena mencari kost dengan terburu-buru ternyata sulit) juga tidak menyodorkan jalan keluar seperti yang saya kira.

Tak ada pertemuan dramatis, saat saya kembali ke rumah, ia tersenyum, mendekat, dan bertanya; ada oleh-oleh apa dek?, persis seperti yang ia lakukan setiap kali saya pulang dari beragam perjalanan.

Banyak hal yang saya petik dari pengalaman pergi dari rumah. Saya tahu, dalam beberapa hal, saya dan kakak laki-laki saya, kadang-kadang melihat sesuatu dari sudut yang berbeda.

Dalam pengalaman pergi dari rumah itu, saya sadar, perbedaan sudut pandang semestinya tidak melebarkan jarak di antara kami. Bukankah selain Ma’e, hanya ia yang saya punya? Si sulung, kakak laki-laki saya yang tambun. Dan, bertiga kami adalah keluarga.

Untuk kakak laki-laki saya, selamat ulang tahun; ia lahir tepat saat Jakarta berulang tahun. Tahun ini ia memberi isyarat kalau anak anjing adalah hadiah yang diidamkannya. Tapi rumah kecil kami akan bertambah pikuk dengan hadirnya anak anjing. Saya menggantinya dengan Atlas tebal, gabungan peta dari beragam negara di dunia. Usulan hadiah yang diterimanya dengan senang hati, setelah sebelumnya ia menolak usulan anak kura-kura untuk mengganti anak anjing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *