Lombok, Di Mana Waktu Berhenti

Pagi hari. Saat matahari masih belum tinggi. Penerbangan pagi selalu membuat saya panik. Dua puluh menit antara Ngurah Rai dan Selaparang. Saat hidung pesawat meninggi dan perlahan laut di bawah tampak keperakan. Setelahnya, berganti biru, dan arakan mega… Pagi hari, satu lagi perjalanan di mulai.

Akhirnya, saya sampai kemari. Langkah pertama di atas aspal hitam Selaparang. Saat itu saya datang dengan hati yang masih utuh, senyum yang terkembang, dan perasaan bahagia yang membumbung.

Selepas Selaparang, pemandangan hijau di kanan kiri menunggu. Dan, ayo, lambaikan tangan pada Rinjani, gunung yang dengan anggunnya berdiri, kontras dengan latar belakang langit biru bersih. Memasuki Pusuk Pass, di antara kerindangan daun, kera-kera kecil bercengkerama di tepi jalan.

Saat itu hati saya masih utuh. Pun ketika perahu bermotor itu menarik jangkarnya dan bergerak dari pelabuhan Bangsal menuju Gili Trawangan. Ombak kecil bergegas menjemput. Pasir putih menanti dipijak. Ya, saya yakin hati saya masih utuh. Ada dalam genggaman saya.

Kala siang berganti sore dan matahari tak lagi garang, Gili Trawangan perlahan-lahan mengecil. Mari bergerak, sebab Gili Meno telah menanti. “Selamat datang,” sapaan akrab ini datang dari puluhan nyiur, penghuni Gili Meno. Berbeda dengan Gili Trawangan, Gili Meno terasa lebih ramah. Satu yang saya suka, Gili Meno tak banyak dipadati wisatawan.

Malam itu, dengan bertelanjang kaki, membiarkan pasir putih menyentuh jemari, saya datang ke pagelaran musik alam. Koor ombak mendominasi malam. Bintang melantunkan nada merdunya. Bulan separuh bersenandung lirih.

Tapi, saat itu saya berani bertaruh, hati saya masih utuh. Saat tiga Gili akhirnya melepas saya dan aroma laut menghilang dalam sekejap. Hanya sekejap, sebab setelah itu dua jam perjalanan dari Mataram menuju Sambalia, Lombok Timur juga menawarkan aroma laut yang kental.

Lihat, di seberang sana, Gili Petagan nampak menggeliat, bangun dari istirahat malam hari. Nelayan pulang melaut dengan hasil tangkapan mereka. Dan serabi hangat siap disantap bersamaan dengan munculnya sinar keemasan dari timur.

Perjalanan belum berhenti. Selanjutnya menuju Tekalok. Di sana, Gili Lawang dan Gili Sulat menyuguhkan rimbun hutan bakau. Ayo… mari turun ke laut, karena puluhan ekor ikan tengah bersiap untuk sebuah pementasan tari kolosal.

Lenggang lenggok ikan dari satu karang cantik ke karang cantik yang lainnya, sungguh satu harmonisasi bawah laut nan elok. Usai bercanda dengan laut, kelapa muda segar yang langsung dipetik dari pohonnya menjadi teman pelepas dahaga yang sempurna.

Saat itu hati saya tetap masih utuh.
Tapi, sesuatu terjadi saat perjalanan tiba pada akhir babak. Hati yang saya genggam tak lagi utuh. Sore itu ketika pesawat, yang sempat tertunda selama empat puluh menit, meninggalkan Selaparang menuju Ngurah Rai, genggaman saya menjadi lebih ringan.

Ya, tentu saja genggaman saya menjadi lebih ringan, karena saya putuskan untuk meninggalkan separuh hati saya di sana, di pulau seluas 4.700 kilometer persegi.

Separuh hati saya tertambat pada pasir putih Gili Trawangan. pada senja terbaik yang pernah saya lihat di barat Gili Meno. pada komposisi bulan separuh dan pijar bintang di malam hari. pada jejak-jejak kaki di pasir putih saat saya melangkah, menyusuri pantai. pada danau air asin dan dua belibis yang bermesraan, juga di Gili Meno. pada pucuk-pucuk hutan mangrove. pada birunya laut dan karang-karang cantik. pada kehangatan dan keramahan satu keluarga

Saya tinggalkan separuh hati saya di sana, laut yang akan menjaganya, kelak saya akan kembali dan datang melihatnya.

Kembali ke Lombok… tempat di mana waktu seolah berhenti.

terima kasih yang sangat untuk keluarga hebat, yang begitu peduli pada kelestarian laut dan menularkan kecintaan akan alam pada anak-anak mereka. terima kasih juga untuk Opan, teman perjalanan terbaik yang pernah saya temui. cerdas dan tahu banyak tentang Meno (sayang tidak sempat melihat putri pertama -yang pasti cantik ya-, lain kali saya datang dan mendengarnya memanggil saya…”tante atta” ). juga untuk Bah, perenang handal yang pandai bergurau. dekat dengan laut ternyata membawa pengaruh pada selera humor ya. (sampaikan salam saya untuk si noni Belanda)

Mei; Bulan Cuti dan Laut

Masih ingat dengan slogan yang paling saya sukai “traveling tanpa cuti? cuma di sini tempatnya?”. Rahasianya terletak pada kemahiran saya mengganti-ganti hari masuk. Itu sangat dimungkinkan mengingat dalam ritme kerja saya, antara hari libur dan hari masuk di tempat saya berkarya tidak merujuk pada deretan angka di kalender. Jadi, tanpa perlu cuti saya tetap bisa melakukan perjalanan pendek, biasanya berkisar antara 2-4 hari saja.
Bulan demi bulan berlalu, dan jatah cuti saya tetap utuh. Hingga pertengahan April lalu redaktur mengingatkan saya akan jatah cuti yang belum berkurang sama sekali. Ada lebih dari 10 hari yang harus saya habiskan sebelum 01 Juni. Tentu jatah ini tak bisa dihabiskan sekaligus.
Dua hari dari tahap pertama jatah cuti, yang jatuh pada awal Mei, saya pakai untuk berdiam di rumah saja. Menonton film, tidur, menikmati halaman demi halaman kisah pendakian Everest bersama Jon Krakauer, minum susu coklat, makan apel, mengamati kamboja merah dalam pot yang ditanam Ma’e, menyusuri jalan aspal depan rumah -yang juga jalan pintas menuju kantor pusat partai berlambang pohon beringin-, bernyanyi….
why, why do i love the music,why does it made it dancin’,once it turns once it plays and my feet start to sway… (Jamaica’s Away-Souljah)
Setelahnya adalah waktu untuk hadiah ulang tahun saya ke 26 Perjalanan ke Karimun Jawa kedengarannya hadiah yang tepat bukan? Dengan kapal motor dari pelabuhan Kartini-Jepara, Karimun Jawa menjadi perjalanan yang menawarkan beragam pesona. Laut biru, langit biru, pasir putih, snorkeling, snorkeling, snorkeling lagi, tertusuk duri babi… aduh, ternyata perih, kerang-kerang cantik, es kelapa muda segar, teman-teman perjalanan yang menyenangkan, susur pantai, dari Karimun Jawa ke Menjangan kecil ke Tanjung Gelam, cumi goreng tepung, malam berhias bintang, karang-karang, ikan-ikan berlarian, hey… jangan lupakan tiga hiu dan ikan buntal, pari serta penyu yang ada di kolam wisma Joko Apung, tempat menginap di tengah laut
Kalau dua belas bulan yang berbaris membentuk satu tahun itu datang dengan tema, saya tahu, untuk saya, Mei, bulan ke lima di tahun 2005 ini datang dengan mengusung tema “cuti dan laut”.
Tahap ke dua cuti saya akan saya ambil minggu depan. Sebenarnya prosedur pengambilan cuti dalam waktu berdekatan agak sedikit sulit. Tapi, karena satu dan lain hal, akhirnya cuti tahap kedua ini bisa lolos.
Lalu, kira-kira apa ya yang akan saya lakukan di cuti tahap kedua ini?
Kalau saya sebutkan, laut, biru, senja, penerbangan pagi, barong dan keris performance, sukawati, jimbaran bay, ubud, lalu tiga gili, laut, pantai, snorkeling, snorkeling dan snorkeling lagi, menjenguk hutan mangrove dan canoeing, ah… kalian pasti dapat menebak tujuan cuti tahap kedua saya kali ini.