Kerumunan Putih Itu Menuju Damai

Sejauh mata memandang, hanya nuansa putih yang kutangkap. Langit jingga. Tapi, ini fajar kah? atau senja kah? ke mana matahari? ku tengadahkan kepala ke atas. Satu-dua camar laut terbang rendah. Camar laut? Tapi, kami tidak sedang mencumbui ombak. Dan…

Kerumunan putih.

Seseorang tiba-tiba menggandeng tanganku. Ibu. Wajahnya bersih. Senyum ibu… sesuatu yang berbeda di fajar, atau senja ini. Dan langit masih jingga.

“Jangan lepaskan genggamanmu nak”. Tangan ibu halus. Desir angin lewat. Perlahan kerumunan putih ini bergerak. Kami, aku dan wajah bersih ibu, berjalan di dalamnya. Kaki kami menapak, bergerak bersama dalam kerumunan putih. Ku tengok wajah bersih ibu.

***

Senyum ibu menutup malam. Dalam temaram lampu kamar, ku lihat ibu membetulkan letak selimutku, lalu mendekatkan Robi, boneka beruang berkulit coklat ke dadaku. Malam ini aku masih terjaga. Demam yang singgah di tubuhku membuat mata sulit terpejam. Ibu masih berdiri menatapku. Pukul 23.00 waktu Gunung Sitoli. Senyum ibu menutup malam. 1 detik, 2 detik, 3 detik, 5 detik, ibu masih di sana. Dalam temaram lampu. 7 detik, 8 detik….

Ibu masih berdiri menatapku. 9 detik…

Mengapa tubuh ibu bergerak ke kanan, ke kiri. Bukan, bukan tubuh ibu tapi lampu kamar ini. atau… peraduanku. Ah, Robi juga bergerak. Aku juga. Kami laksana bandul jam antik yang ada di ruang tamu rumah kakek. Tapi, sebentar. Bukan, bukan kami, tapi bumi yang kami pijak ini yang bergerak. Gunung Sitoli, saat senyum ibu menutup malam, tiba-tiba bergerak laksana bandul jam antik yang ada di ruang tamu rumah kakek. Berirama. Senin malam, menjelang akhir Maret itu, bumi menari dan kami, aku dan ibu, bergerak bersama rentaknya. Hingga…

***

“Ke arah sini sayang,” ibu masih menuntunku, sesekali mengelus rambutku. Kami masih berada dalam kerumunan putih. Setelah kuamati, bukan hanya wajah ibu yang tersenyum, bapak tua di belakangku, perempuan dengan bayi mungil dalam dekapannya, gadis kecil berambut ikal itu, satu dua wajah tetangga yang ku kenal dan ada dalam kerumunan. Semua tersenyum. Paras laki-laki seumuran ayahku yang berjarak beberapa langkah dari aku dan ibu juga tersenyum.

Ayah? ku edarkan pandangan ke sekitar. Tak ada ayah dalam kerumunan putih ini. Saat senyum ibu menutup malam dan Gunung Sitoli tiba-tiba bergerak laksana bandul jam antik yang ada di ruang tamu rumah kakek, berirama, ayah tidak ikut di dalamnya. Ayah pergi sejenak ke luar pulau. Membeli beberapa barang untuk persediaan toko milik Ayah, begitu katanya saat berpamitan.

Aku masih berjalan perlahan. Tangan halus ibu menggamit jemariku. Tangan yang sama juga memeluk tubuhku saat tarian bumi itu datang. Bahkan ketika atap dan tembok rumah kami runtuh, dan olah tubuh bumi malam itu tak kunjung usai, ibu tidak menanggalkan pelukannya. “Jangan takut nak,” bisiknya pada indera dengarku.

Kerumunan putih masih terus bergerak. Dan kami, aku dan wajah bersih ibu, berjalan di dalamnya. Kaki kami menapak, berjalan bersama.

“Kita bergerak menuju damai,” tutur ibu
Mengapa? tanyaku.
“Karena ujung waktu kita telah sampai nak, kita dan wajah-wajah tersenyum di sekelilingmu ini,” ibu menjawab lirih.

Kerumunan putih itu bergerak menuju damai.
Dan langit masih jingga

untuk semua yang pergi dalam gempa bumi berkekuatan 8,7 skala richter di Nias, 28 Maret 2005 yang lalu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *