Apa rasanya?

lilin-lilin saya atta, perempuan, 25 tahun. Dulu, sebelum menginjak usia 25 tahun, saya sempat mereka-reka, apa ya rasanya menjadi 25 tahun?

Ternyata, banyak hal terjadi bersamaan dengan masuknya saya ke gerbang usia seperempat abad. Satu keputusan besar yang saya ambil tahun kemarin, misalnya. Setelah sempat berada dalam keadaan berputar-putar di labirin dan lupa meninggalkan remah roti untuk jalan pulang, akhirnya saya berani mengambil keputusan itu. Dan saya kehilangan abang. Laki-laki dengan semburat jingga yang bertahun-tahun menjadi teman berbagi.

Di 25 tahun, saya kembali membuat revisi pada cetak biru perjalanan hidup yang dulu sempat kami rancang bersama. Meski diwarnai oleh episode biru, menjadi 25 tahun tetap menyenangkan.

Menjadi 25 tahun dan memiliki keluarga yang mendukung. Alhamdulillah. Ada ibu yang penuh pengertian (meski si bungsu lebih sering menghabiskan libur akhir pekan yang panjang dengan bepergian ke sana dan ke mari), dan kakak laki-laki yang baik hati.

Menjadi 25 tahun dan memiliki pekerjaan juga tim kerja yang keren. Alhamdulillah. Ada redaktur yang humoris dan kerap menganggukkan kepala, tanda setuju, saat si juru warta yang nakal ini dengan muka memelas memohon ijin untuk mengganti-ganti hari masuk dan mendapatkan libur akhir pekan yang lebih panjang (traveling tanpa cuti? cuma di sini tempatnya :D). Jangan lupakan teman satu desk yang kerjasamanya selama ini benar-benar luar biasa. Dan penghuni lantai 7, ruangan yang penuh musik dan gelak tawa ini.

Menjadi 25 tahun dan memiliki sahabat yang hebat. Alhamdulillah. Dan menghabiskan waktu dengan rangkaian cerita, melihat pertunjukan musik, bergantian masuk ke ruang ganti di sebuah pusat perbelanjaan dan kebingungan memilih rok hitam lipit yang ini atau kemeja lengan panjang yang itu atau … Meski jumlahnya tak banyak, sahabat yang saya miliki hingga saat ini membuat hidup saya berwarna.

Menjadi 25 tahun dan memiliki negeri-senja.com. Alhamdulillah. Betapa dunia maya ini dipenuhi begitu banyak orang cerdas dengan isi kepala yang menarik untuk disimak.

Menjadi 25 tahun dan memiliki beragam keinginan yang belum diwujudkan. Alhamdulillah. Tabungan yang mulai detik ini tidak boleh lagi dikutak-katik.harus. (manajemen keuangan yang buruk dan membuat saya bangkrut harus segera dibenahi). Melanjutkan sekolah lagi (entah kapan realisasinya, hehehehe). Belajar menulis. Mengunjungi lebih banyak lagi spot-spot menarik. Menabung untuk Nikon D70. dan sebagainya. dan sebagainya :)

saya atta, perempuan, 25 tahun. Ya, saya paham betul bahwa apa-apa yang saya miliki sekarang tidak selamanya ada untuk saya. Hidup kan memang tidak statis. Redaktur saya bisa saja berpindah ke desk lain. Atau saya yang akhirnya lebur ke dalam ritme kerja media harian. Sahabat-sahabat saya mungkin satu saat akan menemui kesulitan mencari jeda waktu dan bercengkerama hingga larut malam akhirnya tinggal kenangan. Sekarang saya sendiri, lajang dengan usia seperempat abad yang dengan leluasa mengatur jadwal, tapi bisa jadi satu hari nanti saya bertemu seseorang, bersinergi dan kembali berbagi. Saya paham betul, akan ada begitu banyak perubahan yang menanti di depan sana. Apapun itu, mudah-mudahan rasa syukur saya atas apa-apa yang Tuhan turunkan, tidak akan berkurang.

saya atta, perempuan, 25 tahun. Dan saya telah menemukan jawaban dari pertanyaan; “apa rasanya menjadi 25 tahun?”. Esok, di ujung april yang ranum saya akan kembali dihadang satu pertanyaan baru; “apa ya rasanya menjadi 26 tahun?”.

8 thoughts on “Apa rasanya?

  1. Selamat Ulang Tahun Atta…semoga berkah dan karunia menjadi milikmu..

    Dan satu hal Ingatlah semoboyan para pemberani ini…

    TUHAN BERSAMA ORANG-ORANG YANG BERANI…(Maksudnya berani Nikah…) he he he

  2. “rasanya menurut pemerintah usia dualima sudah dikatakan matang untuk menikah. ”

    Jgn-jgn ini alasannya mengapa pemerintah ngasih judul kondom 25? Ga tau juga ya. Hanya mereka-reka. Selamat ultah ya Mba’e. You have imagination to look beyond barriers. Set goals not limits.

  3. Pada tahun 80-an saya sering bertanya-tanya “akankah saya sampai pada 10 tahun mendatang?” Dan setelah saya mengalami 10 tahun mendatang itu, saya juga kembali bertanya: “akankah saya sampai pada 10 tahun mendatang lagi?”

    Pada hari ini, saya merasa amat bersyukur bahwa saya dapat sedikit memberikan gambaran bahwa hidup itu memang teka-teki silang yang amat rumit. Masa lalu patut kita terawang, masa kini bukanlah mimpi, dan masa datang itulah tantangan.

    Seperti matahari, yang senja menghilang pergi, yang pagi datang kembali. Itulah siklusnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *