Alex; teman saya

mata alex Foto hitam putih di samping ini kepunyaan Alexander Syarief Sudita Pangestu. Jurnalis muda dari sebuah tabloid mingguan yang mengupas perkembangan teknologi informasi ini teman saya. Alex, begitu biasa saya menyapanya.

Foto hitam putih, yang dengan ijin Alex saya pasang di sini, seolah menjadi penanda bagi pengagum The Beatles ini. Kalau saya menemukannya di dunia maya, foto ini yang kerap dipasang Alex untuk melengkapi profil dirinya. Satu pilihan yang cerdik, karena dengan memilih foto yang satu ini, saya melihat Alex tahu betul apa yang paling menarik dari sosoknya. Mata. Ya… mata.

Sejak pertama saya melihatnya, pada liputan pameran komputer di Jakarta Convention Centre sekitar satu setengah tahun yang lalu, saya segera tahu kalau penyuka hobi fotografi ini orang baik dan akan menjadi teman yang menyenangkan.

Dari mana keyakinan saya datang? Sepasang mata miliknya mengabarkan pada saya tentang sekantung penuh kotak kebaikan yang dimiliki laki-laki kelahiran 28 Agustus ini. Saya bayangkan sepasang busur yang sengaja ditaruh Tuhan di sana. Sepasang busur yang makin terlihat jelas manakala tawa Alex berderai. Sepasang busur yang membawa nuansa Oriental nan kental pada penulis berselera humor tinggi ini. (sepasang busur, bukan sabit :D. sabit sudah dipakai untuk menunjukan fotografer yang lain-red)

alex dan atta Alex menyebut dirinya Cina Benteng. Kata Alex, Cina Benteng adalah suku tionghoa yang telah puluhan bahkan ratusan tahun menetap di Tangerang. Masih kata Alex, Cina Benteng biasanya ditandai dengan warna kulit yang legam dan bermata besar. Tapi Cina Benteng yang satu ini tidak dibekali dengan dua ciri tadi. Warna kulit penggemar lagu-lagu Koes Plus itu putih bersih, dan mata Alex -sepasang busur yang sengaja ditaruh Tuhan di sana- sipit.

Saya dan penggebuk drum OWA Band ini berteman. Liputan yang satu ke liputan yang lain semakin mendekatkan kami. Tidak hanya itu, sesekali saya juga muncul di kantor tempatnya beraktivitas (kantor Alex hangat, penuh dengan orang-orang yang gemar sekali bergurau. yang saya sukai dari kantor itu adalah jendela besar tepat di belakang meja Alex yang menghadap ke satu Vihara. kala senja, nuansa yang berbeda bisa ditemui di sini). Pembaca setia negeri-senja.com ini juga mengikutsertakan saya pada beberapa perjalanan yang diadakan oleh milist dari sebuah grup media cetak, tempat kantornya berinduk. Dari sedikit teman yang saya miliki, saya beruntung, Alex termasuk salah satu di antaranya.

Untuk saya, Alex adalah teks hidup; ia adalah persahabatan, kasih, pengertian yang sangat, memahami, mendengarkan, berbagi. Lebih dari itu, ia kembali mengingatkan saya pada satu hal;

keluarlah dari pintu-pintu stereotipe, yang berkembang, yang coba ditularkan padamu dari beragam saluran yang ada, yang masuk ke relung-relung pikiran, kemudian mengendap dan perlahan-lahan berdiam di sana. Keluarlah … karena setelah itu dunia yang jauh lebih baik menunggumu.

Alex juga memiliki blog, kalian bisa melihat kebaikan hatinya terpancar dari salah satu postingannya. Silakan dibaca di sini.

(Lex, wo mestinya posting ini dekat-dekat Imlek yang lalu, maaf telat. Jangan marah, ni tahu kan kesibukan wo tinggi. Kemalasan wo apalagi, jauh lebih tinggi. hehehehehe. Jangan lupa untuk lebih mengasah lagi ni punya kemampuan fotografi, setiap kali wo lihat hasil bidikan ni, pasti wo selalu dua kali lebih gemuk. Itu namanya tak sopan :D)

35 thoughts on “Alex; teman saya

  1. huaaaa… saya pertama!
    kaget lho ta, sumpah saya pernah mbatin kapan bisa jadi pengisi comment pertama di sini. sampe blom sempet baca isinya langsung men isi komen aja.. :p huhuhu.. akhirnya..

  2. QUoTE “…setiap kali wo lihat hasil bidikan ni, pasti wo selalu dua kali lebih gemuk. Itu namanya tak sopan.”

    Huahahahahha.. lucu banget mba atta :))

  3. ta, jaman saya dulu memang rasis banget, tapi sekarang ngga lagi, saya mengajarkan anak2 saya untuk hanya melihat pribadi orang tersebut, bukan lain2nya..

  4. “keluarlah dari pintu-pintu stereotipe…. dunia yang jauh lebih baik menunggumu.”
    Aku suka quote-mu itu, Atta. Dan kamu nggak cuma menuliskannya aja tp berbuat jg. Aku harap lbh byk lagi org yg seperti itu… :)

  5. fotografer lagi..lagi-lagi fotografer :D
    taaa, ada lho yg dulunya juga sahabatan, temen liputan, temen ngobrol eh ujung2nya punya anak dua :D ..
    jadi never say never eh?

  6. prikitipiwwwwwwwwwwwwwww……

    jangan ngerasa minder karena gak tau tempat gaul dong…kalo minder gak tau nama-nama fotografer terkenal di ibukota, nah itu bolehlah ngerasa frustasi…

    y’know what, i feel exactly the same kalo liat kameramen2 sekantor itu…hmh! ;)


  7. Atta, udah lama nggak mampir! ;-) Gimana khabarnya?, sama kok, ogut disini sering banget dipanggil “china-man” karena mungkin orang2 item dsini ngeliat yang putihan dikit dari mereka dengan tampang asia selalu diasumsiken dari sono ;-P

    Wait till my next surprise visit! ;-)

  8. Pingback: hotels orlando
  9. Pingback: creditreport
  10. Pingback: butter dish
  11. Pingback: bone spur
  12. Pingback: sealer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *