Seren Taun

Fuaton. Pernah mendengar kata itu? Fuaton lekat dalam kehidupan masyarakat Desa Oeolo dan Bisafe. Setiap menjelang musim tanam, penduduk desa yang bermukim di wilayah Kecamatan Mio Mafo Barat, Kabupaten Timur Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur ini melaksanakan Fuaton, upacara meminta hujan sekaligus memohon berkah agar mereka mendapatkan hasil yang lebih baik di musim panen mendatang.

Tidak hanya di Desa Oeolo dan Bisafe, upacara adat juga menjadi bagian dari kehidupan masyakat Tengger. Dalam setahun, masyarakat Tengger merayakan 6 ritual adat. Salah satunya adalah Karo, upacara yang diadakan untuk memberikan pemujaan terhadap Sang Hyang Widi Wasa dan menghormati roh leluhur. Juga memohon keselamatan bagi warga.

Dalam siklus lima tahunan, penduduk yang berdiam di lereng Gunung Bromo ini memiliki apa yang mereka namakan Unan-unan. Upacara ini bertujuan untuk membersihkan desa dari gangguan makhluk halus dan menyucikan para arwah yang belum sempurna agar kembali ke nirwana.

Terhimpun dari beragam budaya membuat Indonesia kaya akan ritual dan upacara adat. Perbedaan geografis berujung pada kemajemukan istiadat. Saya beruntung bisa menyaksikan salah satu di antaranya.

Oh tidak, saya tidak melakukan perjalanan ke Nusa Tenggara Timur, tidak juga ke Bromo. Upacara adat yang saya lihat hanya berjarak 5-6 jam saja dari Jakarta. Saya dan beberapa teman mengambil paket perjalanan yang ditawarkan salah satu galeri foto di bilangan Menteng.

Seren Taun, begitu tajuk dari upacara adat di desa Cigugur, Kuningan, Jawa Barat ini. Tahun ini, Seren Taun mulai berlangsung sejak Sabtu, 29 Januari atau 18 Rayagung 1937, bulan terakhir pada sistem penanggalan Sunda. Puncak Seren Taun jatuh pada hari Rabu, 02 Februari atau 22 Rayagung.

Seren Taun menjadi penanda dari eratnya jalinan para penduduk desa. Mereka bekerja bersama-sama mempersiapkan kelengkapan upacara. Tidak hanya melibatkan warga yang tinggal di Cigugur saja, upacara adat tahunan ini juga dipadati oleh warga yang datang dari di Bandung, Sumedang, Garut dan Cirebon. Selain upacara adat, Seren Taun juga diselingi oleh atraksi kesenian dari beragam daerah.

Dan di Sabtu menjelang Subuh, udara dingin desa Cigugur Kuningan, Jawa Barat menyambut kami. Dingin yang segera terpatahkan oleh wajah-wajah ramah penduduk desa.

Pagi harinya, tak lama setelah fajar tiba, Pesta Dadung yang berlokasi di Situ Hyang, sebuah kawasan pebukitan yang dikelilingi bebatuan, menandai dimulainya ritual Seren Taun.

Inti dari Pesta Dadung adalah membuang hama. Penggunaan Dadung atau tambang besar yang terbuat dari ijuk, mengekspresikan rasa terima kasih masyarakat kepada anak gembala.

hama yang akan dbuang ada di tangan aki ini penduduk desa bahu membahu
nini menaiki bukit menyiapkan sesaji

Nyanyian yang berisi permohonan berkah, agar petani, gembala, ternak dan sawah diselamatkan dari mara bahaya, menjadi pembuka acara ini. Setelah itu, barulah hama sawah dibuang ke lubang di Situ Hyang, yang konon sejak dahulu memang menjadi tempat membuang hama.

pemusik pesinden bersiap

Pesta Dadung diakhiri dengan joged. Satu ungkapan kegembiraan untuk menghibur petani yang selama setahun bekerja memeras keringat, mengolah sawah dalam terik dan hujan.

pesta tanpa musik? kurang lengkap rasanya mengiringi pesinden berdendang

Menanam bibit pohon juga menjadi bagian dari Pesta Dadung. Satu bentuk keramahan dan kecintaan penduduk pada alam, yang sehari-hari menopang hidup mereka. Siangnya setelah Pesta Dadung usai, makan bersama di Situ Hyang membawa kenikmatan tersendiri. Kembali wajah-wajah tersenyum penduduk desa hadir. Ramah. Tulus.

dayak indramayu nyiblung kecipak kecipuk aki dayak indramayu

Tidak hanya berhenti di Pesta Dadung, keesokan harinya pusat kegiatan berpindah ke kolam renang desa Cigugur. Di akhir pekan, selepas tengah hari, penduduk desa berkumpul dihibur oleh Nyiblung, musik yang dihasilkan dari tepukan-tepukan tangan di air kolam. Musik air. Tertawa. Sorak. Tepuk tangan. Ramai.

Sayang, kami tak bisa meneruskan masa tinggal di Cigugur. Setelah Nyiblung, perjalanan pulang kembali ke Jakarta terpaksa ditempuh. Kami tak sempat menyaksikan upacara puncak dari Seren Taun. Satu ritual berupa rasa syukur dan kebahagiaan warga Cigugur pada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kasih dan berkah yang mereka terima sepanjang tahun. Juga permohonan agar Tuhan selalu melimpahkan kesuburan untuk tanah mereka, berlimpahnya panen dan dijauhkan dari bencana di tahun mendatang. Upacara adat yang merupakan persinggungan ranah religi dan tradisi.

atta, mbak vera, alex, mbak ndaru

Di Minggu sore yang cerah, kami tinggalkan semarak pesta rakyat, senyum ramah penduduk desa, eloknya pebukitan, juga hijau dan harum Cigugur…

Teman Lama

Beberapa malam lalu abang datang. Saya melihatnya dalam gelap. Samar-samar. Tapi saya tahu itu abang. Dia berdiri. Agak jauh dari tempat saya. Tapak kaki laki-laki dengan semburat jingga itu perlahan bergerak, menipiskan jarak antara kami. Semakin dekat. Hingga akhirnya saya mampu melihat lekuk wajahnya. Beberapa malam lalu abang datang dalam bunga tidur, dalam mimpi, dalam rintik ritmis yang turun selepas tengah malam.

Hingga beberapa malam sesudah mimpi itu datang, saya putuskan untuk mengambil ponsel, mencari namanya dalam daftar, mendengar nada panggil dan … suara itu

– halo
+ hai. ini atta
– nomor baru?
+ nyoba promo aja. lumayan turun tarif.
– gimana kabar?
+ baik. eh aku ke solo minggu depan
– oh ya? liputan?
+ enggak. jalan-jalan aja. sekalian liat grebek lawu di candi sukuh. ada reuni kecil-kecilan juga sama anak-anak yang masih di solo
– salam ya.

percakapan pun bergulir. tentang pekerjaan. tentang balikpapan. tentang hujan lebat. tentang jakarta. tentang hal-hal remeh yang mengundang tawa. tentang ke-redaktur-annya yang menuai kesibukan setiap malam. tentang kebosanan yang belakangan makin sering datang. tentang…

– aku jatuh cinta. hahahaha. nggak juga sih. belum. atau… (ia terlihat kebingungan merangkai kata)
+ terus terus …
– ya belum apa-apa sih. baru sampai pada taraf senang melihat aja.

dan ia bercerita. tentang gadis manis di lantai bawah. tentang kenekatannya mendatangi rumah ‘sang target’ (aduh, istilah ini hiperbola sekali) di malam akhir pekan yang baru saja lewat. tentang rajutan merah jambu yang diuntainya dari hari ke hari…

– kamu gimana?
+ ya gitu deh
– hehehehe. kamu jatuh cinta juga? (meski tak bertatapan, saya dapat menangkap kejahilan yang tersirat di matanya)
+ tadinya enggak, tapi ternyata iya. tapi…
– dan kamu tiba di satu detik tanpa suara, ketika waktu membeku, dan kamu sadar kalau dia orangnya
+ kacrut

dan ganti saya bercerita. tentang laki-laki dengan sabit di matanya. tentang perasaan membuncah. tentang kupu-kupu dalam perut yang menari saat saya mendapati sosoknya. tentang dia yang dua kali lebih tampan saat berada di balik kamera. tentang rajutan merah jambu yang mungkin tak pernah usai.

– hahahahahahaha. radar kamu kurang tinggi sih.
+ mana aku tahu kalau dia punya seseorang.
– terus… kamu nggak apa-apa kan?
+ ya apa-apa lah. tapi dibawa nggak apa-apa aja.
(setelahnya kami tertawa bersama)

malam semakin tua. kami masih bertukar kisah. sesekali tergelak. atau diam dalam hening waktu. merasakan betapa kami akhirnya berjalan menurut arah mata angin yang kami ambil di persimpangan pada tahun yang lalu. kami, berdua, mulai belajar menemukan kembali letupan-letupan kecil di hati, jatuh cinta, juga menemukan beraneka hal baru dalam hidup. mewujudkan mimpi-mimpi setelah cetak biru hasil revisi. dan kami bergerak, meninggalkan kisah yang pernah kami untai bersama.

*****

Kalau bisa saya ingin abang datang kembali. Dan tapak kaki laki-laki dengan semburat jingga itu perlahan bergerak, menipiskan jarak antara kami. Semakin dekat. Hingga akhirnya saya mampu melihat lekuk wajahnya. Tapi saya tak ingin abang datang dalam samar. Saya ingin abang datang dalam nyata.

Dan kami duduk di bangku yang catnya mulai pudar di taman kota. Kami tak lagi berpegangan tangan, karena masa kami telah usai. Saat sore selepas hujan. Dan langit biru bersih. Teratai yang mekar di kolam. Dan berbagi tutur. Tujuh tahun mengenalnya mengantarkan saya pada satu kesimpulan; abang teman bicara yang menyenangkan.

Dan di sore selepas hujan itu, saya akan melangkahkan kaki dengan ringan, dalam balutan cardigan putih, bersenandung kecil, membiarkan rambut saya terurai, merasakan udara halus berhembus, setelah hujan mencuci bumi.

Jika seseorang bertanya, hendak ke manakah saya, maka saya akan menjawab dengan tersenyum…

“ke taman kota, saya akan bertemu dengan teman lama”