saya dan kantor baru

Sejak pertama melihatnya, di hari kedua Januari yang lalu, saya sudah membencinya. Benci? tidak seekstrim itu, lebih tepatnya: kurang menyukai.

Saya kurang menyukai lokasinya yang tidak dilalui kendaraan umum ukuran besar, maksud saya bis kota. Saya kurang menyukai lalu lintas yang padat. Saya kurang menyukai bentuk bangunannya.

Bukan hanya tampilan luar, saya ternyata juga kurang menyukai sisi dalam gedung biru ini. Dari partisi hingga bentuk meja. Dari tata letak kursi hingga tirai. Mereka juga menempatkan perpustakaan menjadi satu lantai di bawah lantai tempat kubus saya berada. Mushola juga semakin jauh ke bawah. Bagaimana mungkin? Dan kenapa perpustakaan yang nyaman itu tiba-tiba menciut begini? Ugh…

Tiba-tiba saya begitu merindukan kubus saya dahulu. Zona nyaman. Harum Slipi. Rindu pada mushola di ujung lorong, pada kaca dengan rumah sakit hijau di depannya, pada lalu lintas jalan bebas hambatan, pada semburat merah yang tertangkap di jendela sebelah barat.

Tapi….. Aduh… lihat apa yang saya lakukan?

Ayo nona, hidup kan tidak berjalan mundur. Mana pikiran positif yang menjadi bagian dari resolusi di tahun ini? Lagi pula, gedung biru ini tidak seburuk yang kamu duga. Tak percaya?

Lihat! Titik-titik gerimis yang luruh di kaca pada sore hari itu. Dan pokok-pokok kamboja di kompleks pemakaman, satu pemandangan baru yang bisa kamu tangkap dari ruang dapur di lantai tujuh ini. Atau kerlap-kerlip lampu kota saat malam mulai turun. Dan jendela besar di mushola. Akui, kamu mulai menyukainya kan? Sebentar lagi, kamu juga akan menemukan tempat perburuan senja yang baru.

Dan satu lagi, bemo. Ya, naik bemo menuju kantor begitu menarik bukan? kelak legenda bemo, kendaraan roda tiga, ini bisa diteruskan pada si sulung tercinta.

“Kamu tahu Nak, dulu di antara kokohnya gedung-gedung di jakarta, bemo biru setiap paginya mengantarkan ibu ke kantor, tempat ibu biasa menulis. Bemo-bemo biru dengan supir tua yang sesekali tersenyum. Bemo-bemo biru dengan guratan masa pada tubuh tambunnya”

Aha. Daripada memelihara rasa benci -Benci? tidak seekstrim itu, lebih tepatnya: kurang menyukai- pada gedung biru ini, mengapa tidak mencoba memberikan sedikit ruang lagi untuknya. Agar gedung biru ini bisa membuktikan, ia tidak seburuk yang kamu duga.

ps: untuk pertama kalinya, kemarin saya menerima tamu di gedung biru yang baru ini. Halo Pak Hasan… senang sekali bisa bertemu :)

3 thoughts on “saya dan kantor baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *