Berhenti Menangis

Pagi yang sibuk. Bendera kuning dipasang di mulut gang. Orang-orang dalam pakaian hitam menyemut di satu rumah. Baba, laki-laki usia senja itu pergi subuh tadi. Segera saya tanggalkan seragam merah-putih, hari ini saya tak perlu pergi sekolah. Bersama Ma’e saya datang ke rumah besar Baba. Ah, itu dia yang saya cari, Yeni-sahabat saya yang juga cucu Baba- tampak sedang dirundung duka.

Setelah sholat jenazah, semua anggota keluarga memberi kecupan terakhir untuk Baba. Saya bukan anggota keluarga mereka, jadi saya tak perlu mendekat. Dari tempat saya duduk saya bisa mendengar seorang perempuan berkerudung menghampiri Yeni. Dengan lembut ia berkata :

“Udah neng nggak usah ditangisin, ikhlasin aje, kalo kita nangis terus, air mata kita malah ngerepotin Baba. Di sono nanti tangisan eneng berubah jadi ujan gede campur angin same geluduk, iye… petir, bukannya nambah terang jalannye, nyang ada kita malah nyusahin die, udah ye neng …”

Bertahun-tahun sesudahnya, Mas Rudi, guru mengaji saya berpulang. Tanpa sakit satu apa, berita kepergiannya mengagetkan seisi kampung. Dengan Al-Qur’an di pangkuan, saya duduk beralaskan tikar, melafazkan kutipan ayat suci untuknya.

Dari sudut mata, saya lihat sosok guru mengaji saya itu terbaring tanpa nafas. Ayah tiga orang anak ini pergi menghadap Tuhan pada Jumat pagi yang tenang. Guru mengaji saya orang baik. Dengan sabar ia mengenalkan konsep ketuhanan, ia membetulkan bacaan Qur’an saya yang keliru, ia mengajarkan doa-doa, menekankan pentingnya berbuat tolong menolong dan menjaga tutur pada sesama, ia mendekatkan konsep Tuhan yang abstrak, menjadi dekat, sangat dekat. Tuhan itu ada di sini, di hati, ujarnya di salah satu pengajian selepas maghrib itu. Guru mengaji saya orang baik.

Waktu itu, pelan-pelan air mata saya menitik, segera saya usap dengan ujung kerudung. Yang saya ingat adalah “Air mata berubah menjadi hujan besar, dengan angin, petir dan menghambat jalan yang berpulang bertemu Tuhan”

****

Saya tinggal dan besar di lingkungan Betawi yang kental. Banyak personifikasi yang mereka lakukan untuk menjelaskan sesuatu. Termasuk soal keikhlasan. Berpanjang lebar soal mengikhlaskan yang sudah berpulang dan tetap meneruskan langkah untuk mereka yang ditinggalkan, di depan anak-anak bisa jadi merupakan perkataan yang sulit dicerna.

Jadi, perempuan berkerudung di rumah Baba puluhan tahun lalu itu mengibaratkannya dengan satu cerita, yang hingga kini masih menempel dalam pikiran saya. “Air mata berubah menjadi hujan besar, dengan angin, petir dan menghambat jalan yang berpulang bertemu Tuhan”

*****

Saya tak berbuat banyak untuk mereka yang berpulang. Satu musibah besar akhir tahun yang membuat saya menilik kembali cara saya memandang hidup, tentang hubungan saya dengan Tuhan, tentang relasi yang saya rangkai, tentang …. beragam hal lain.

Saya yang tak berbuat banyak, mestinya tak menghambat mereka dengan air mata. Ya… harusnya saya tidak mewarnai perjalanan mereka yang berpulang dengan hujan besar, angin, dan petir…

One thought on “Berhenti Menangis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *