Pada birunya laut…

indonesia berduka
desain by : sugeng dan Valens dari Media Peduli Bencana Tsunami

pada birunya laut
tertelan kesedihan
kegetiran
pada birunya laut
ikut terbawa celoteh kanak
senyum penduduk kampung. jemari bunda yang terpisah dengan si bungsu.
pada birunya laut
yang menyapu pucuk-pucuk rumah
taman bermain.rumah ibadah.kantor kecamatan.kebun kecil.jalan beraspal.jajaran pohon kelapa.kelopak mawar.pagar sekolah dasar.perahu kayu yang tertambat di bibir pantai
pada birunya laut
ribuan orang-orang terkasih pergi. mereka bisa jadi; kakak, adik, ayah, sepupu, karib, teman lama, nenek, ibu, paman, kakek, keponakan, pujaan hati, sahabat. mereka; pusat dari jejaring yang dijalin semasa hidup. mereka; bagian dari ruang-ruang berpenghuni di sudut hati
pada birunya laut
minggu pagi itu….

setelah akhir salam akan ada doa untuk mereka. semoga jalan yang terang dan lapang untuk semua yang berpulang. musibah ini menorehkan pesan; akan ada akhir untuk segala yang berawal. untuk saya. untuk kalian. untuk kita.

Bangkrut….

Perjalanan ke ranah minang selesai sudah. Tengah hari kemarin saya sudah menginjakkan kaki di Soekarno-Hatta. Ikut ke dalam arus orang-orang yang bergegas. Mulai menggerutu melihat kemacetan di mulut tol Prof. Dr. Ir. Sedyatmo dan tergesa-gesa meliput acara peluncuran ponsel dengan seragam travelling (rok jeans, kaos tanpa kerah, sepatu butut) setelah sebelumnya menaruh travel bag di kantor. Phuff….

Padahal beberapa jam sebelumnya, ritme bergerak sangat lambat. Pagi hari sebelum pergi ke bandara Tabing, angin pantai pasir jambak masih memainkan anak rambut saya. Mengunjungi pantai kala fajar. Melihat perkampungan nelayan. Hewan Ternak yang merumput. Pasar ikan tradisional.

Perjalanan ke Padang kemarin benar-benar membekas. Teman kerja di kantor bilang wajah saya berseri-seri. Hidup rasanya menjadi lebih ringan. Saya mengunjungi banyak tempat. Padang, Solok, Batusangkar, Pariaman, Tanah Datar, Sicincin, Bukit Tinggi (saya tak mengingat dengan jelas nama desa-desa kecil yang dilewati).

Saya melongok beragam spot menarik; pantai padang, pantai air manis, jembatan siti nurbaya, teluk bayur, teluk bungus, pulau pasir putih, taman hutan rakyat bung hatta, danau di atas, danau di bawah, danau singkarak, istana pagaruyung, jam gadang, pasar atas, pasar bawah, rumah bung hatta, benteng fort de kock, ngarai sihanok, benteng jepang, danau maninjau, kelok 44, lembah anai, tabek patah, dan tempat-tempat menarik lainnya.

Perjalanan ke Padang kemarin benar-benar membekas. Hidup rasanya menjadi lebih ringan. Tidak hanya itu, kantong saya juga lebih ringan alias bangkrut. Bepergian sendiri dengan suksesnya mengurangi saldo tabungan saya :)

Oke, sekarang waktunya bekerja keras kembali. Menghasilkan uang untuk perjalanan berikutnya. Atau, ini memang sudah saatnya menemukan partner travelling yang pas, sehati dan sejiwa. Teman perjalanan yang tidak menjemukan. Akan lebih seru lagi kalau ia juga menenteng kamera dan punya selera humor yang bagus. Hehehehe, saya sudah mulai melantur. Ini pasti efek samping dari kebangkrutan :D

Nutrisi Jiwa

rawa pening

Fajar di Rawa Pening. Ungu… Senyap
Matahari bundar naik, pulasan sinar kemerahan di langit barat.
Dan Rawa Pening terjaga. Menggeliat. Membuka kelopak matanya.
Kabut tipis beranjak, gesekan daun, perahu nelayan yang bergerak, puluhan bebek riang hilir mudik; menyapa satu dengan yang lain, petani dengan cangkul di kejauhan. Dan… di tepi Rawa Pening, Bukit Cinta berkilauan, dihujani cahaya pagi.
Rawa Pening adalah harum fajar…

Saya suka perjalanan. Biasanya, perjalanan menawarkan beragam hal baru. Wajah-wajah ramah yang tersenyum, ritme kota kecil, semburat merah dalam nuansa yang berbeda. Saya memilih melakukan perjalanan untuk menyeimbangkan hidup :) Lebih dari itu, untuk saya, perjalanan adalah nutrisi jiwa.

Pesona Rawa Pening yang saya tulis dengan huruf miring di atas adalah sedikit gambaran dari apa yang saya petik di perjalanan awal Oktober yang lalu. Menyenangkan. Bagaimana tempat yang kerap saya dengar ini ternyata begitu cantik. Rawa Pening bersolek, sapuan matahari pagi menyulapnya menjadi Rawa Pening yang keunguan.

Dan esok hari, rencananya saya akan kembali melakukan perjalanan, ke barat, seorang diri saja. Saya menghitung waktu; menyambut semburat jingga di Padang. Penerbangan pagi (huhuhuu.. saya benci penerbangan pagi…) akan mengantarkan saya pada keelokan ranah minang, mudah-mudahan sempat menyaksikan Festival Minangkabau. Hanya satu hari di Padang, setelahnya Bukit Tinggi menanti. Perjalanan ini layaknya perjalanan lainnya, adalah nutrisi jiwa untuk saya.

ps : Dan kalian tahu? Liburan kali ini saya lakukan tanpa perlu cuti. Yup, tanpa perlu cuti. Jumat hingga Senin siang nanti saya melepaskan diri sejenak dari Jakarta. Liburan tanpa cuti? Aduh, kantor ini surga bagi para penyuka perjalanan :D

TV kabel = TV dan kabel

Percakapan malam hari, di ruang tengah, di depan televisi, duduk bersama di atas lampit (karena karpet sedang masuk Laundry)

atta : pake TV kabel yuk, sekarang kan nggak perlu parabola lagi

mas andi : bisa nonton film terus, sama itu… fear factor

atta : bisa buat dua tv, jadi gak perlu berebutan channel. keren kan?

mas andi : boleh juga.

ma’e : daftarnya di mana dek?

atta : di Kebon Jeruk

ma’e : deket dong (wajah ma’e tersenyum)

atta : iya (sedikit bingung kenapa wajah ma’e tersenyum)

ma’e : bagus dong. slipi-kebon jeruk kan deket, jadi irit, kabelnya nggak butuh banyak

atta : (bengong)

mas andi : (tidak mengeluarkan sepatah kata pun)

atta : i love u mom (mencium pipi ma’e, kanan dan kiri)

ma’e : (wajah tetap tersenyum)

menjadi penulis cerita anak

menjadi penulis cerita anak. belakangan, hal ini yang kerap terbersit dalam pikiran. membayangkannya menjelang tidur, saat hening datang dan lampu kamar dipadamkan, menimbulkan semesta perasaan yang beragam.

ya menjadi penulis cerita anak. rasanya lebih menarik.

bercerita tentang gulali merah jambu, kelinci putih yang mulai tumbuh besar di kebun belakang, pesta rakyat, pertunjukan sirkus di tanah lapang, bunga yang menyukai matahari

lihat!, setiap harinya, bunga yang kau tanam mencari arah matahari. bunga tumbuh dan menghadapkan mukanya pada matahari. kelak saat waktunya tiba, bunga ini terseyum. ia serupa dengan matahari. kuning, besar dan terang

atau tentang legenda putri hijau

dan sang putri berubah menjadi ikan. tak lama di sela-sela batu tempatnya duduk muncullah mata air, yang terus mengalir hingga membentuk sebuah danau. sampai sekarang penduduk sekitar Danau Laut Tawar di Takengon percaya putri yang berubah menjadi ikan masih hidup di dalam danau. putri hijau nan jelita yang menjelma menjadi ikan itu menjaga ikan-ikan depek

juga tentang nyamannya menghabiskan waktu di minggu-minggu pertama bersekolah

Ah, ternyata sekolah tidak menakutkan. ada ibu guru yang baik. papan absen di sudut yang siap dibalik setiap pagi. Rara, teman sebangku yang ceria dan membagi roti coklat, bekal makan siangnya. Esok pagi aku harus lebih cepat tiba di sekolah. tak lagi merajuk dan berpura-pura tidur kembali saat ibu memelukku lembut dan membangunkanku. tak boleh merengut dan lambat menghabiskan sarapan. Ya, esok pagi aku harus lebih cepat tiba di sekolah. Agar bisa tersenyum dan melihat Pak Yunus memukul lonceng

Saya ingin menjadi penulis cerita anak. Meski sampai sekarang saya masih dihinggapi satu pertanyaan: harus mulai dari mana ya?