Tahun ini tahunnya fotografer

Ada apa dengan fotografer?

Orang-orang dalam balutan jeans di sudut. Dengan ransel di punggung. Reriungan mereka acapkali membuat gaduh. Dalam setiap liputan, orang-orang dalam balutan jeans dan ransel di punggung itu mudah sekali dijumpai. Mengerubung laksana laron, mencari angle terbaik, mengabadikan setiap momen. Setiap hari, beragam foto apik lahir dari tangan-tangan mereka yang kreatif.

Februari yang lalu, saat matahari terasa hangat di kulit, salah seorang dalam balutan jeans dan ransel di punggung itu sempat selangkah lebih dekat dengan saya. Kami melakukan banyak hal. Sesekali dia membebaskan saya dari lantai enam kastil tempat saya beraktivitas. Dan setiap dia datang kemari, redaktur saya heboh, teman satu desk juga ikut heboh. Saya? lebih heboh lagi.

Meski tak lagi sedekat dulu -saat fotografer ini masuk dalam kehidupan, saya tengah menunggu seseorang, lagipula ada beragam alasan yang akhirnya membuat kami memutuskan untuk duduk-duduk saja di beranda hati- kami masih berteman baik. Beberapa bulan belakangan ini, waktunya lebih banyak dihabiskan di Bandung. Menjadi fotografer lepas untuk iklan dan keperluan promosi lainnya.

Saya pikir, era orang-orang dalam balutan jeans dan ransel di punggung itu hanya diwakili olehnya. Dugaan yang salah. Nyatanya, satu orang kembali hadir. Dia fotografer sebuah harian. Meski mengenalnya sejak awal tahun, baru belakangan ini lalu lintas komunikasi kami sedikit lebih lancar. Dan, lagi-lagi, redaktur heboh, teman satu desk juga heboh, fotografer senior -yang notabene bertemu dengannya setiap hari dalam aneka liputan- juga ikut heboh. Rame.

Saya? biasa-biasa saja. Sebab memang tak ada yang perlu dihebohkan (Hahahahaha, bohong banget, saya heboh juga dan sempat curhat ke bapak ini :D). Kalau sudah nyaman dengan lawan bicara, saya cenderung ribut. Dan si fotografer itu sanggup membuat saya ribut. Ribut soal apa saja. Tentang liputannya hari itu, persaingan operator seluler, masjid tua di Siak, SBY, rencana-rencana perjalanan saya, ponsel terbaru, tentang apa saja.

Kami berdua hanya sampai pada tahap ribut via ponsel, karena hingga saat ini, janji temu tak pernah bisa terlaksana. Padahal berjumpa dengannya sangatlah menyenangkan. Saya menyukai sabit di matanya kala dia tersenyum.

Tidak ada kemajuan yang berarti. Insting saya mengatakan sepertinya fotografer kedua ini juga hanya duduk-duduk di beranda hati saja. Dan perlahan tapi pasti kadar kehebohan redaktur saya berkurang (sebab kalau redaktur saya keceplosan mengucap nama fotografer itu, mata saya sudah melotot -hehehhehe, kapan lagi bisa melotot ke redaktur-), teman satu desk saya juga ikut kalem, fotografer senior sudah tidak lagi menjadi penyampai pesan. Semua kembali menjadi normal.

Normal? nanti dulu. Sebelum lebaran ini, sahabat saya -jurnalis perempuan di sebuah tabloid yang mengupas masalah perempuan-, melontarkan sebuah gagasan.

“gimana kalo aku ajak temen kantor ku buat ngumpul-ngumpul bareng kita,” ujarnya
– boleh. biar rame. udah lama juga nggak ngopi-ngopi –
“eh dia baik lho,” kali ini tersirat kejahilan di matanya
– ya, terus kenapa –
“nggak papa sih, kayanya bakalan nyambung aja ama kamu, suka baca juga. diajak nonton juga seru,” sahabat saya tercinta -yang begitu peduli pada saya- itu terlihat makin bersemangat
– saya mengangguk-anggukkan kepala –
“dan tau nggak… esay fotonya bagus-bagus lho,” sahabat saya lebih bersemangat lagi
– Esay foto? di desk apa dia?, (aduh, jangan-jangan… pikir saya dalam hati)
“anu… dia fotografer di kantorku,” senyum sahabat saya mengembang, jahil di matanya tetap belum hilang.
– *gubrak* dan lepaslah tawa saya –

Di Desember nanti, tahun ini akan menemui ujungnya. Dan… tahun 2004, tahun penuh kejutan ini, dengan resmi saya canangkan sebagai Tahunnya Fotografer :D

29 thoughts on “Tahun ini tahunnya fotografer

  1. “I Wanna be a photographer..” :)

    mm, tahunnya photographer ya..
    waiting nih..
    kapan tiba tahunnya tukang macul kaya gue :)

    congratz ya, ta..
    wish u all the best.

  2. yiiihhaaaa… asik-asik…
    dah lama nggak baca yg mellow-mellow tapi ceria di rumah ini… sepertinya, sebentar lagiii…!! go atta…go..
    pasang pose yg bagus yah, tta.. *lagh ?!*

  3. aduh atta… fotografer itu matanya jeli2 loh… selalu bisa menangkap keindahan dari barang yang paling biasa, bahkan sampah sekalipun…
    and make sure you know how to handle them, because they’re (usually) good when it comes to handling women… ;)

  4. lo kan kalo gue telpon suka ribut juga tuh Ta, berarti lo suka gue juga dong? *ngedip-ngedip genit* aduh tapi maap ya Ta, gue masih normal…jadi kapan kita ketemuan sambil ngopi dan mengagumi pelayan bermata bagus di Starbucks Thamrin?

  5. hihihi…seneng deh…baca postingan atta yang ini :) yang jelas pengen selalu liat bulan sabit di mata atta juga. nggak masalah siapa yang ada di sampingnya membentuk empat binar sabit pas kita ketemuan ntar..hehehe mau fotografer kek, tukang pacul, kuli tinta kek..i wish for joyous days..around u :)
    rgds from solo

  6. hahahaha…Atta…GO atta..kite semua dukung, potograper jeli2 loh matanya, dia pasti bisa meliat keistimewaan mu ta, ntar besok2 saya kesini, cerita lebih lanjut soal potografernya yah. ya ya ya

  7. Deny : thank u Den.

    eyi : mending sama jurnalis aja kali ya yi. hihihihihi. maaf tadi diganggu neleponnya

    t.w : sebentar lagi? sebentar lagi njitak elo maksudnya… hehehehhehe

    chrysalic : masa’ sih det? *tambah semangat Mode ON* :D

    pepper : ayo moto lagi…

    stania : waktu elo bawa kue itu, kita heboh kok. hehehehhehe. kapan ke sini lagi?

    Q : cukup cukup. ingat: jangan makan goreng2an ya :P

    Qky : karena saya pake kacamata, sabitnya jadi tak terlalu terlihat mungkin ya :D

    cici : kapan nih ketemu neng cici…

    roi : plis deh. hahahhahaha. I love u my nice bro. teng kyu.

    dion : dunia berputar. sekarang asisten, besok punya asisten :D

    siwoer : cewek kece? *hug Mode ON* tau aja …

    indi : my lovely best friend. hey itu ujian CPNS kenapa ruwet begitu? :D

    akasa : ya ampun. masa’ belon nyampe. btw kemana aja pak, sampe kangen nih…

    pipit : tolong portfolio mereka disiapkan dulu ya pit ya :D

    siberia : tahun depan? hmmm… apa ya mbak. desainer juga boleh deh :D

    hani : cheese …

    emil : hehehehhehe, nunggu harganya turun dulu mil

    dy : mbak juga. matang dan ceria :)

    andi : tergantung ndi. mau yg digital apa yg manual?

    yuliana : wah, tiada yg berkelanjutan julie sayang. nanti kalau kamu ke sini, profesi lain mungkin yg datang. hehhehehhee. salam buat Voldi ya

  8. Pingback: ccczxygsq
  9. baguus! untuk menjadi fotographer yang baik yang diperlukan hanya dua yaitu sarana photografi(kamera) dan pengalaman. Fotografi itu seni sudut pandang(point of view) jadi untuk mendapat hasil yang maksimal kita harus bisa berfikir dari sudut pandang yang berbeda!

  10. fotografi itu cahaya yg dihasilkan menjadi sebuah obyek yg bercerita.
    cerita fotografer yg selalu seru untuk diabadikan.
    kapanpun kulakukan demi fotografi.
    dan fotograferpun menjadi andalan hidupku.

    untuk cerita ini …aku suka!Tahun ini tahunnya fotografer

    salam dari org fotografi :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *