Kantor Saya Pindah

Iya. Kantor saya pindah. Tepatnya akan pindah. Bukan, bukan saya yang alih profesi, tapi kantor ini -tempat sehari-hari saya beraktivitas- yang akan menempati lokasi baru.

Padahal saya sudah jatuh cinta pada bangunan kantor yang sekarang. Setiap hari, dengan langkah santai saya keluar dari rumah. Mencium tangan Ma’e, ibu saya terkasih, berjalan beberapa langkah hingga mulut gang dan mendongak; ah…gedung kantor saya yang biru sudah terlihat. Ini ritual pagi yang saya sukai.

Dan di lantai enam, tempat kubus saya berada, dari jendela besar di depan koridor lift, tempat saya berburu senja, saya dapat melihat kampung saya. Tujuh cemara menjulang ke langit yang ada di depan rumah tetangga, juga atap rumah penduduk kampung, tapi atap rumah saya tak terlihat, terhalang bangunan tinggi lainnya. Dan di sana, tepat di belakang kantor, arsitektur gedung taman kanak-kanak masih berdiri dalam wujud yang sama. Mengantarkan saya pada kenangan berpuluh-puluh tahun yang silam.

Lihat, kubah masjid itu berada di dekat sekolah dasar saya. Di sampingnya ada bangunan sekolah menengah. Bergeser sedikit dari koridor lift, dan kalian akan mendapati plaza dekat kantor. Jalan layang yang melintas. Dan kesibukan Slipi. Tidakkah kalian tahu, lokasi kantor ini adalah bagian dari kampung halaman saya, harum kebersahajaan orang-orang di dalamnya, tempat saya tumbuh :)

Saya jatuh cinta pada bangunan kantor yang sekarang. Pada perpustakaan di sudut, pada mushola di ujung lorong (dan lampu-lampu kota saat sapaan maghrib tiba), pada ruang tajuk dan ruang opini (di kantor kami, nama-nama ruangan berbau surat kabar), pada kubus kecil tempat saya menghabiskan hari, pada karpet biru, pada kaca dengan rumah sakit hijau di depannya, pada lalu lintas jalan bebas hambatan, pada semburat merah yang tertangkap di jendela sebelah barat.

Tapi, sebentar lagi kantor saya akan pindah.

“Enak dong, deket sama kantor gue nantinya, lebih gampang koordinasi kalau mau hunting DVD bajakan,” ucap teman kuliah saya, editor di satu televisi swasta

“Sebelah mana? Oh… deket situ, wah, bagus itu, diapit komplek pekuburan dong jadinya?, jadi nggak bisa macam-macam, la wong tiap hari liat masa depan yang nantinya dijelang, jadi orang akan lebih rajin sholat dan berlaku lurus,” kata teman saya yang lainnya lagi.

“Nggak usah sedih gitu, kalo tetep mau nonton abis pulang kerja, kamu kan bisa ke Semanggi,” hibur redaktur saya.

“Ya ampun, jadi aku dong yang mestinya jemput kamu kalo kita janjian,” ganti sahabat saya yang berkantor di Palmerah merengut.

“Mau tetep deket kantor? Itu ada apartemen Pavillion, apa Sahid sekalian,” tutur teman saya tergelak. Langsung saya sambut kalimatnya dengan ucapan “kacrut” :D

“Wah, gawat nih, bisa dikit-dikit minta nginep di kostku kalo dia kemaleman,” canda kakak tingkat saya waktu kuliah dulu, tempat kostnya tidak terlalu jauh dari lokasi kantor baru kami nantinya.

“Asyik, aku malah lebih deket ke rumah,” ungkap teman satu desk saya senang.

“Nanti di sana, kalau udah malem, minta ditemenin satpam aja mbak turunnya,” satpam kantor berkata dengan lembut pada saya. Tahu saja dia kalau larut, saya agak takut turun lift sendirian ;)

“Hehehehehhe, emang enak, tetep aja lebih deket kantor gue ke TIM, es kacang merah lo,” goda teman liputan saya, seorang jurnalis harian sore, yang berkantor di seputaran Cikini.

“Nggak papa deh, nantinya kan malah deket sama monorail.” –Ya ampun, Monorail? Tiang pancangnya saja belum rampung, entah kapan project yang satu itu terwujud–

Ugh, kantor saya pindah dan akan pindah dan pasti pindah. Meninggalkan zona nyaman. Kampung halaman, harum kebersahajaan orang-orang di dalamnya, tempat saya tumbuh :). Sebentar lagi ucapkan selamat tinggal pada ritual pagi. Dengan langkah santai, keluar dari rumah. Mencium tangan Ma’e, ibu saya terkasih, berjalan beberapa langkah hingga mulut gang dan mendongak; ah…gedung biru itu bukan kantor saya lagi.

Digital Voice Recorder itu untuk saya…

Percaya tidak kalau rezeki itu bisa datang pada saat-saat yang tidak terduga? Saya percaya sekali.

Juni lalu misalnya, saat termenung di depan komputer tiba-tiba redaktur datang. “Siapin pasport, dua minggu lagi liputan CommunicAsia ya”. November ini saya sedang giat-giatnya merancang perjalanan akhir tahun, dan tahu apa yang terjadi…. kantor memberikan pengumuman potongan tiket airlines hingga 75% untuk karyawan (lumayan, biaya perjalanan bisa dipangkas lagi). Atau ketika terjebak di tengah liputan yang membosankan, eh ada jurnalis rupawan di sudut (jurnalis rupawan juga termasuk rezeki kan? :D).

Dan kalian tahu, rezeki juga bisa datang di hari minggu yang cerah, saat yang lain merasakan libur sementara kamu tetap bekerja karena deadline menjemput. Iya lho… digital voice recorder di meja saya ini adalah contoh nyatanya.

Seseorang menghadiahkannya untuk saya. Saya mengenalnya lewat halaman putih ini (kebetulan, dia termasuk dalam barisan pengagum negeri-senja :D). Buat saya, dia teman berbicara yang mengasyikkan. Pengetahuannya luas. Pergaulannya juga. Jadi, jangan heran kalau ia fasih berbicara soal film, politik, iklan, industri media, musik. Tulisan di Celebrating Life, blog yang ia buat untuk memperingati ulang tahunnya ke 40, tentang keluarga kecilnya (ia hidup dengan seorang istri yang baik hati dan seorang putri yang manis) juga menarik untuk disimak.

“ini hadiah lebaran gue buat kamu ya neng,” tuturnya lewat YahooMessenger Minggu tengah hari yang lalu. Saya kaget sekali waktu itu. Yang benar saja? “buat ratna ariyanti,” jawabnya cepat. Ya ampun, Creative Director di sebuah perusahaan periklanan ini bahkan masih ingat nama lengkap saya.

Dan kemarin, perekam digital ini sampai ke meja saya. Dibungkus sangat rapi. Ada nama lengkap saya di situ :D Kemarin, rasa terkejut saya masih tetap ada. “Ya…ampun, beneran nih”. Ucapan terima kasih untuk pakde, begitu ia kerap disapa, saya kirim lewat pesan pendek.

Saya ingat saya pernah begitu menginginkan perangkat digital yang satu ini. Selain lebih praktis, saya tak perlu lagi mengganggu sekretaris redaksi untuk mengambil kaset tiap kali wawancara dilakukan. Dan sekarang, benda ajaib itu ada di meja saya. Ya… digital voice recorder itu untuk saya, untuk ratna ariyanti :)

“di kamu malah bisa kepake tiap hari buat kerja, moga2 berguna, makin lancar wawancara berarti makin banyak waktu luang buat ngechat sama ngeblog, jangan sampe reporting mengganggu chatting sama ngeblog,” urai Pakde masih lewat YM

Senang ya. Benar kan, rezeki itu, eh maksud saya, digital voice recorder itu bisa datang pada saat-saat yang tidak terduga.

Terima kasih banyak Pakde Totot *hug Mode ON*

ps: saya sudah memotret digital voice recorder itu untuk ditampilkan di sini, tapi koneksi ke komputer sedang ngambek. jadi lain kali saja ya :)

Tahun ini tahunnya fotografer

Ada apa dengan fotografer?

Orang-orang dalam balutan jeans di sudut. Dengan ransel di punggung. Reriungan mereka acapkali membuat gaduh. Dalam setiap liputan, orang-orang dalam balutan jeans dan ransel di punggung itu mudah sekali dijumpai. Mengerubung laksana laron, mencari angle terbaik, mengabadikan setiap momen. Setiap hari, beragam foto apik lahir dari tangan-tangan mereka yang kreatif.

Februari yang lalu, saat matahari terasa hangat di kulit, salah seorang dalam balutan jeans dan ransel di punggung itu sempat selangkah lebih dekat dengan saya. Kami melakukan banyak hal. Sesekali dia membebaskan saya dari lantai enam kastil tempat saya beraktivitas. Dan setiap dia datang kemari, redaktur saya heboh, teman satu desk juga ikut heboh. Saya? lebih heboh lagi.

Meski tak lagi sedekat dulu -saat fotografer ini masuk dalam kehidupan, saya tengah menunggu seseorang, lagipula ada beragam alasan yang akhirnya membuat kami memutuskan untuk duduk-duduk saja di beranda hati- kami masih berteman baik. Beberapa bulan belakangan ini, waktunya lebih banyak dihabiskan di Bandung. Menjadi fotografer lepas untuk iklan dan keperluan promosi lainnya.

Saya pikir, era orang-orang dalam balutan jeans dan ransel di punggung itu hanya diwakili olehnya. Dugaan yang salah. Nyatanya, satu orang kembali hadir. Dia fotografer sebuah harian. Meski mengenalnya sejak awal tahun, baru belakangan ini lalu lintas komunikasi kami sedikit lebih lancar. Dan, lagi-lagi, redaktur heboh, teman satu desk juga heboh, fotografer senior -yang notabene bertemu dengannya setiap hari dalam aneka liputan- juga ikut heboh. Rame.

Saya? biasa-biasa saja. Sebab memang tak ada yang perlu dihebohkan (Hahahahaha, bohong banget, saya heboh juga dan sempat curhat ke bapak ini :D). Kalau sudah nyaman dengan lawan bicara, saya cenderung ribut. Dan si fotografer itu sanggup membuat saya ribut. Ribut soal apa saja. Tentang liputannya hari itu, persaingan operator seluler, masjid tua di Siak, SBY, rencana-rencana perjalanan saya, ponsel terbaru, tentang apa saja.

Kami berdua hanya sampai pada tahap ribut via ponsel, karena hingga saat ini, janji temu tak pernah bisa terlaksana. Padahal berjumpa dengannya sangatlah menyenangkan. Saya menyukai sabit di matanya kala dia tersenyum.

Tidak ada kemajuan yang berarti. Insting saya mengatakan sepertinya fotografer kedua ini juga hanya duduk-duduk di beranda hati saja. Dan perlahan tapi pasti kadar kehebohan redaktur saya berkurang (sebab kalau redaktur saya keceplosan mengucap nama fotografer itu, mata saya sudah melotot -hehehhehe, kapan lagi bisa melotot ke redaktur-), teman satu desk saya juga ikut kalem, fotografer senior sudah tidak lagi menjadi penyampai pesan. Semua kembali menjadi normal.

Normal? nanti dulu. Sebelum lebaran ini, sahabat saya -jurnalis perempuan di sebuah tabloid yang mengupas masalah perempuan-, melontarkan sebuah gagasan.

“gimana kalo aku ajak temen kantor ku buat ngumpul-ngumpul bareng kita,” ujarnya
– boleh. biar rame. udah lama juga nggak ngopi-ngopi –
“eh dia baik lho,” kali ini tersirat kejahilan di matanya
– ya, terus kenapa –
“nggak papa sih, kayanya bakalan nyambung aja ama kamu, suka baca juga. diajak nonton juga seru,” sahabat saya tercinta -yang begitu peduli pada saya- itu terlihat makin bersemangat
– saya mengangguk-anggukkan kepala –
“dan tau nggak… esay fotonya bagus-bagus lho,” sahabat saya lebih bersemangat lagi
– Esay foto? di desk apa dia?, (aduh, jangan-jangan… pikir saya dalam hati)
“anu… dia fotografer di kantorku,” senyum sahabat saya mengembang, jahil di matanya tetap belum hilang.
– *gubrak* dan lepaslah tawa saya –

Di Desember nanti, tahun ini akan menemui ujungnya. Dan… tahun 2004, tahun penuh kejutan ini, dengan resmi saya canangkan sebagai Tahunnya Fotografer :D

dan lebaran pun tiba…

Jangan tanya saya kenapa lebaran di rumah kami terasa singkat. Sangat singkat. Hanya kami bertiga. Kami; saya, kakak sulung saya dan ibu saya.

Jadi, lupakan lebaran dengan sepupu (karena saya tak pernah tahu siapa sepupu-sepupu saya). Juga lupakan lebaran dengan tante dan om (karena saya tak pernah bertemu muka satu kali pun). Dan ah ya… lupakan lebaran dengan ayah (doa saya tak pernah putus, saya yakin di manapun ia berada saat ini, ia mengingat saya dengan baik)

Jangan tanya saya, kenapa lebaran di rumah kami terasa singkat. Sangat singkat. Hanya kami bertiga. Sebab pertanyaan itulah yang sering mengendap. Saya tak punya keberanian yang cukup untuk menanyakannya pada Ma’e, ibu saya. Takut kalau-kalau imbas dari pertanyaan itu hanya akan membuatnya sedih. (Padahal saya ingin sekali tahu, bagaimana ceritanya hingga ia terpisah dari keluarga besarnya atau… proses perpisahannya dengan laki-laki yang dinikahinya, ayah kami)

Teman saya pernah berkata; jangan pernah memusatkan perhatian pada apa yang sekarang tidak ada bersama kita, akan lebih baik kalau kita melihat apa-apa yang sekarang kita miliki. Jadi, masa-masa bersedih sudah lama lewat.

Dan, lebaran yang lalu, rasa sedih itu saya pinggirkan jauh-jauh. Di hari terakhir Ramadhan, semangat bersih-bersih rumah begitu menggelora. Mungkin karena ini lebaran pertama kami di rumah kuning (baru dua bulan kami menempatinya). Di malam takbir, saya juga masih bersih-bersih, sesekali berlarian tanpa alas kaki ke depan rumah untuk melihat pijar kembang api (saya sangat sangat suka kembang api) Hati saya riang. Takbir dari masjid depan kampung menambah kegembiraan.

Esoknya saya juga bergembira. Lebaran tahun ini saya absen sholat Ied. Saya bergembira saat bersalaman dengan para tetangga di kampung. Saat mencium tangan orang-orang yang lebih tua dan memohon maaf (Di kampung saya, di barat Jakarta, lapangan depan masjid menjadi jantung perayaan Idul Fitri, semua penduduk berkumpul, wajah-wajah tersenyum).

Saya bergembira saat mendengar suara si abang di ujung sana. Dering teleponnya membangunkan tidur siang saya. (Saking singkatnya, lebaran selalu dihiasi dengan tidur siang :D). Setelah bercakap-cakap dengan Ma’e, ganti saya yang bercakap-cakap dengan si abang.

Kunjungan teman-teman semasa kuliah dan sekolah ke rumah di hari setelah lebaran pertama lewat juga memberi nuansa kegembiraan yang lain. Bercerita. Sedikit mengenang yang telah lewat. Berbagi mimpi dan tentu saja bertukar kabar terbaru seputar teman-teman satu angkatan.

Hari ini saya juga masih bergembira. Meski suara saya hampir hilang. Kepala pusing dan sedikit demam. Batuk rupanya masih betah bersarang di tenggorokan. Ini hari pertama masuk kantor. Masih dalam suasana lebaran. Orang bersalam-salaman. Nasi lengkap dengan lauk pauknya dalam kotak, kue-kue kering, sirup strawberry (hmmm… kantor ini patut disalahkan dalam naiknya berat badan saya belakangan ini)

Dan lebaran pun tiba, kegembiraan yang datang pada saya, tercipta oleh peluk dan cium keluarga, hangat jabat tetangga, tawa riang teman yang lama tak bersua, gelak dan sapa orang-orang di kantor setelah jeda liburan -addduh, saya kangen redaktur dan teman satu desk, kangen lantai enam ini juga, kangen meja dengan sepuluh kuntum bunga matahari- Terima kasih Tuhan… untuk semuanya :)

Saya yakin, lebaran juga membawa kegembiraan untuk kalian. Masa-masa bersedih sudah lama lewat bukan? Hari kemenangan yang baru saja datang semoga membawa kita menjadi lebih baik…