Lebaran; belum menjerat hati saya…

ke sini, duduk dekat sini, jangan terlalu jauh, karena saya ingin mengucapkannya perlahan saja. tidak ingin mengalahkan desau angin basah yang lewat malam ini. saya akan bercerita tentang satu rahasia yang selama ini belum pernah saya bagi, pada siapapun

Saya kurang suka lebaran. Ya, hari raya yang dinanti jutaan umat itu selama ini hanya membuat saya canggung. Meski saya jatuh cinta pada pesona Ramadhan, lebaran ternyata belum terlalu menjerat hati saya. Kalau bisa memilih, saya hanya ingin ada di tempat lain saat lebaran itu tiba. Ada di tempat lain dan bukan di rumah.

Kuliah di Solo sedikit memuluskan langkah saya. Beberapa kali saya berhasil melakukannya pada hari raya idul-adha. Membunuh sepi di kost. Bepergian ke kota-kota kecil yang masih bertetangga dengan Solo. Beragam hal saya lakukan; berbagai alasan saya karang. Semua energi saya kerahkan untuk mencapai satu tujuan; saat perayaan itu tiba, saya berada di tempat lain dan bukan di rumah.

Setelah rampung kuliah, kebiasaan ini masih bisa saya lanjutkan. Sudah dua kali saya berada jauh dari rumah saat takbir idul adha memecah hening malam. Idul Adha tahun ini misalnya, sejak jauh-jauh hari saya sudah merancang perjalanan ke Kalimantan. Namun “prestasi” saya selama ini hanya sebatas idul-adha. Saya tetap belum pernah bisa bersembunyi saat lebaran alias hari raya idul fitri tiba.

Tahun ini, keinginan untuk “lari” saat lebaran kembali mengusik saya. Tawaran perjalanan dari seorang teman yang gemar melancong untuk menyusuri Padang-Pekanbaru sempat mengacaukan pikiran. Tujuh hari di Sumatera, menyenangkan sekali. Saya bahkan sempat mencari tahu pada suhu travelling tentang tour yang mengambil hari lebaran di dalamnya (Ya ampun Dien, yang bener aja, kalo ikut ke Bangkok, bisa ludes nih THR :D). Tapi, lagi-lagi saya harus mengakui kegagalan. Meski Padang-Pekanbaru memukau, saya akhirnya menepis rencana perjalanan itu.

Tahun ini, seperti tahun-tahun kemarin, saya akan berlebaran di rumah. Dengan Ma’e dan kakak sulung saya. Kami, bertiga. Tanpa keriuhan keluarga besar yang kerap saya temui dalam cerita teman, dalam gambaran media, dalam celoteh sahabat, dalam slot iklan di layar kaca, dalam poster-poster di pusat perbelanjaan. Di rumah kami, lebaran terasa singkat, sangat singkat. Hanya kami bertiga.

Mestinya saya tidak perlu “lari”. Bertiga kami adalah yang terbaik yang Tuhan beri. Saya mungkin tak punya banyak, tapi apa yang ada di dekat saya, bukankah selama ini menjadi inti dari kerja keras dan doa, jeda dari keseharian, berkumpulnya perasaan kasih dan sayang juga sumber kekuatan. Selama ini saya selalu berpikir tentang saya, sehingga lalai melihat dari kacamata dua orang terkasih ini. Bukankah yang Ma’e dan kakak sulung saya miliki juga hanya saya…

Sepertinya saya harus berusaha agar lebaran akhirnya mampu menjerat hati saya

Untuk Roi; makasih ya tadi siang, ternyata lebih mudah menuliskannya di sini :)

Kangen Solo

kangen Solo
langgam dan gerak yang khas. nafas pagi. semburat merah. canda matahari. bunga kuning kecil luruh dari pokok pohon. palem depan kost. angin Oktober. jembatan di batas kota. gerimis satu-satu mencumbui aspal. gemintang tengah malam.

kangen Solo
bunga rumput. tempat duduk kayu dengan jendela besar di perpustakaan pusat. lapangan rumput depan rektorat. rimbun teratai dekat kampus pertanian. sungai kecil. flamboyan merah. kantin sastra. boulevard. kembang kertas. papan panjat belakang fisip.

kangen Solo
sepanjang Ir. Sutami. jalan pintas ke Taman Budaya Surakarta. pertunjukan teater selepas Isya. pendopo STSI. kelapa muda manahan. kolam renang dekat rumah sakit umum daerah. nasi goreng bapak berkacamata persis di ujung jalan. pohon asem balaikota. dawet pasar gede. ramai sekaten. es teh manis ngisor pelem. toko kaset bekas di mulut gang. pasar klitikan. alun-alun keraton. gemulai gladak. bioskop singosaren. siraman cahaya lampu kota. halte kantor pos. serabi sore hari. stasiun balapan. garang asem depan bengkel. ikan hias pasar gede.

kangen Solo
rumah dengan patung kuda di slamet riyadi, masih adakah?. binar purwosari. menunggu kereta dalam kota lewat tengah hari. lotek dekat rel. ah… hampir lupa; rona sriwedari. lesehan pinggir jalan. labirin laweyan. angkringan monumen pers.

kangen Solo
hangat. peluk. kasih. cinta. tawa. senyum. sahabat. berbagi. kawan. genggaman tangan. peluh. kisah. riang. doa. pijar. harap. pagut senja. cita. asa.

Selamat Ya…

Selamat ya Pak.

Senang sekali melihat proses pergantian pucuk pimpinan tertinggi di negeri kita berlangsung dengan suasana yang tenang. Kita tidak lagi “dikutuk” sebagai negara yang sedang belajar menerapkan prinsip-prinsip demokrasi. Tidak ada setetes darah pun tumpah! Dua kalimat terakhir tadi saya kutip dari Kompas (Harian ini ritual pagi saya Pak, jauh lebih cepat dibaca ketimbang media cetak tempat saya bekerja :)).

Apa rasanya mengucapkan sumpah sebagai presiden pertama yang dipilih langsung oleh rakyat? Bapak terlihat tenang sekali. Hmmm… Bapak juga terlihat lebih ganteng :D

Semoga Bapak tidak lalai terhadap apa yang pagi itu Bapak ucapkan dengan intonasi yang tegas; “Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa.”

Jarang sekali saya posting tentang politik di negeri-senja.com, halaman putih yang saya bangun dari meja dengan sepuluh kuntum bunga matahari ini lho Pak. Selain karena minimnya pengetahuan saya soal politik, saya juga mulai dihinggapi kebingungan yang sangat tentang topik yang satu ini. Bagaimana bisa negara membiarkan rakyatnya didera kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan. Bagaimana bisa alat negara yang seharusnya melindungi justru menggunakan tangan-tangan mereka untuk menghardik, membungkam dan melenyapkan nyawa anak bangsa. Bagaimana bisa kekayaan negara perlahan-lahan berpindah ke pundi-pundi pribadi.

Kalau sekarang saya menuliskannya di halaman putih ini, sama sekali tidak ada hubungannya dengan jurnalis yang sesekali meliput di desk politik itu kok Pak. (Bapak tahu, foto Bapak terpampang di halaman muka harian tempat ia bekerja, lengkap dengan kredit namanya di sisi kanan atas :))

Apa? tampan? (Wah, Bapak melihat sosoknya juga ternyata. Saat pelantikan Bapak, dia juga terlihat sibuk lho Pak, tidak tidur setelah sahur karena takut terlambat tiba di Senayan)

Tapi, kenapa bertanya seperti itu? Wah, Bapak belum kenal saya berarti. Buat saya laki-laki cerdas selalu terlihat lebih menawan :D. Laki-laki cerdas dengan kamera SLR di tangannya buat saya terlihat dua kali lebih menawan. Hehehehehe.

Cukup cukup. Mari sudahi pembicaraan soal saya. Kembali ke tema utama kita kali ini.

Sekali lagi selamat Pak. Sederet penghargaan yang Bapak kantungi, mulai dari lulusan terbaik AKABRI AD tahun 1973 hingga Satya Lencana VIII, XVI dan XXIV plus penghargaan lain-lainnya, mudah-mudahan tidak menajamkan sisi militeristik. Semoga Bapak bisa lebih cair, dan benar-benar membuktikan apa yang Bapak umbar pada pemilu yang baru saja usai. Jangan lagi menggunakan kekerasan Pak. Selain kuno, cara-cara ini justru menjauhkan Bapak dari rakyat yang memilih Bapak, dari orang-orang yang menitipkan suara mereka pada Bapak.

Satu lagi Pak, hentikan sikap permusuhan. Tidak datang saat pelantikan bukan berarti tidak cinta kan Pak. Saya tahu, Bapak bisa lebih arif menyikapinya.

Semoga Bapak dan Kabinet Indonesia Bersatu (yang menurut pendapat banyak pakar terbilang gemuk; eh belakangan saya juga tambah gemuk Pak) dapat menjalankan tugas dengan baik, ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Salam saya untuk keluarga; Jurnalis yang baik dan santun lengkap dengan kamera SLR-nya itu juga titip salam Pak, dia pesan kalau bisa jangan terlalu banyak manuver yang Bapak buat, nanti waktu istirahatnya akan semakin sempit :)

Sabit itu berpindah…

malam tadi langit gelap
nyaris pekat
hanya ada sekawanan lintang di utara
sepi
tidak juga kujumpai sabit seperti malam kemarin
sinar teduh yang menyebar; cincin melingkar di angkasa….malam yang bersolek

pagi ini baru kutemui jawabnya
kenapa malam tadi langit gelap
kamu tahu kenapa?
karena sabit itu sekarang berpindah
di matamu…

sabit di matamu
tolong… jangan pernah menaruhnya kembali ke langit
sabit itu jauh lebih nyaman disawang
saat ia membias di matamu

Apa yang lebih membahagiakan selain melihat paras yang tertawa. Sempatkanlah untuk memandang lawan bicara kita saat tawa mereka berderai; saat bahu mereka terguncang, langit kehilangan sabitnya. Dan tarammmmm… sabit itu berpindah di mata mereka. Ajaib bukan? :)

Ramadhan

Andai Ramadhan menjelma dalam keseharian, dia pasti mengambil bentuk menjadi teman yang menyenangkan, karib yang hangat, sahabat yang sabar, rupa yang berseri-seri dan penuh kasih, tutur kata yang lembut dan kesediaan berbagi yang sangat. Ramadhan akan memeluk kita dengan hangat, memberi damai di hati. Ramadhan tiada pernah jauh, dia ada bersama kita. Dan Ramadhan akan berbisik pelan, tepat di indera dengar…”jangan takut, semua akan baik-baik saja”.

Belakangan beragam hal terjadi dalam hidup saya. Beragam hal yang menuntut perhatian dan kesabaran ekstra. Beragam hal yang sempat menorehkan biru dalam episode hidup yang tengah saya jalani.

Rasa kehilangan.
meski sudah saya tekadkan dalam-dalam, melewati satu babak ini rupanya sedikit membuat saya tertegun dan banyak berpikir.

Jenuh dan bosan pada pekerjaan yang tengah saya geluti.
sekarang satu tulisan benar-benar menguras tenaga. konsentrasi saya juga mudah lari, kadang sulit menangkapnya kembali.

Percaya diri yang belakangan dengan mudahnya pupus.

Belakangan beragam hal terjadi dalam hidup saya. Beragam hal yang menuntut perhatian dan kesabaran ekstra. Beragam hal yang sempat menorehkan biru dalam episode hidup yang tengah saya jalani.

Dan Ramadhan datang. Karib yang hangat ini menjenguk saya kembali. Menggenggam tangan saya erat, memberikan sentuhan hangat di punggung, meraih lengan saya dan membantu saya berdiri. Perlahan-lahan melangkah. Menuju sumber cahaya.

Inilah saat untuk memperkuat lima yang wajib. Saat yang tepat untuk menambahkan rakaat-rakaat sunah selepas Isya. Saat yang tepat untuk menghamparkan alas di sepertiga malam, mencium harum-NYA, ruku’ dalam takzim, sujud dalam hening. Bertutur dalam bahasa yang saya dan DIA mengerti. Menambah derajat kesabaran, kepedulian dan keikhlasan dalam lapar dan dahaga.

Inilah saatnya untuk melepaskan gundah yang bersarang di benak. Saat yang tepat untuk meluruhkan pedih juga memupuk kembali nilai-nilai positif. Meyakini bahwa apapun yang terjadi pada saya, DIA tak pernah beranjak. DIA dan Ramadhan yang bersih.

Selamat berpuasa, semoga kasih sayang dan hangatnya Ramadhan juga singgah dalam episode hidup yang tengah kalian jalani.