untuk kita

Aku berlari ke bukit, dalam guyuran rintik yang menari (Jangan takut sayang, kau tahu, sejak dulu hujan, apalagi gerimis, tidak akan membuatku sakit. Aku berkawan dan jatuh cinta dengan hujan jauh sebelum aku mengenalmu).

Aku berlari ke bukit, membaui harum pinus dan rumput basah juga bunga-bunga liar yang merunduk, menahan air yang menggenangi tiap-tiap kelopaknya. Aku terus berlari meski dingin mulai menyergap. Ke satu titik tertinggi di atas bukit.

“Aku mencintaimu,” teriakku. Di satu titik tertinggi di atas bukit, aku mengucapkan -ah bukan, aku bukan berucap, di satu titik tertinggi di atas bukit itu, aku berteriak-, rangkaian kalimat yang sama seperti yang kau dengar saat lazuardi memerah menjelang akhir September yang ranum.

Entah karena rintik yang makin menderas, atau karena angin yang menelan suaraku. Atau? Kali ini, ada ragu, sampaikah rangkaian kalimat yang aku teriakkan di satu titik tertinggi di atas atas bukit tadi ke hatimu? jauh menyelusup ke ceruk terdalam di dasar hatimu

Semestinya rasa yang membuncah saat pertama kali melihatmu di kelas matematika menjaga kita untuk tetap terus menggamitkan jemari. (yup, aku menyukaimu pada tahun pertama perkuliahan. di kelas matematika yang pelik itu, panah Cupid tertancap tepat di hatiku. Setelahnya, kamu makin terlihat menarik). Semestinya keyakinan yang kuat saat aku mencium punggung tanganmu dalam sorotan hangat srengenge tetap bersemayam di sini. di hati. Semestinya aroma bahagia, seperti saat kita menjalani hari, minggu, tahun, dan Solo yang tak pernah kehilangan pesonanya, masih dengan mudah tercium. Semestinya kecupan lembut di Sepinggan kala itu, menabalkan apa yang telah kita mulai jauh sebelumnya. Janji yang kita ucap kembali. Semestinya pundi-pundi kasih yang kita tabung bersama menjadikan kita kuat. jauh lebih kuat.

Tapi sadarkah, sekarang… kita sepertinya tengah menghitung mundur untuk sesuatu yang selama ini kita takutkan.

Untuk enam tahun pasang surut untaian kisah, sempat tiada, lalu ada, kamu yang tak pernah beranjak menjauh, aku yang tak pernah bergeser, kita yang (mungkin akan) berhenti berharap; atas apapun yang terjadi nantinya, mengenalmu adalah bagian terbaik dalam hidup.

41 thoughts on “untuk kita

  1. stand up little girl,
    l**e may coz your tears,
    but you have a lot of l**e to give,
    don’t look back, its time to move on ;)

    *tsaaaaaaaaaaaaaaaahh sok bijak banget dah si shanty =))*

  2. kok bisa salah baca ya? enam ama sembilan kan jauh? hemm.. renggang dalam artian jarak masih bisa diselesaikan, tta. asal jangan renggang hatinya aja. semoga ketakutan itu takkan pernah terjadi. :)

  3. tta, aku tak tahu apa yang terjadi setelah waktu yang begitu lama mampu merenggangkan hati, jiwa. tapi menurutku, kembalilah bicara antara hati dan hati, jiwa dan jiwa. hapus segala keegoan untuk sementara. hapus segala keinginan yang ada. lupakan bahwa kalian bersama untuk bahagia. ajak dia bicara tentang luka. dan setelah terbuka semua yang ada, kau boleh memilih, kembali berjalan bersama dengan semakin mengeratkan genggaman, atau malah memilih berpisah di persimpangan. lupakanlah dulu tentang enam tahun kebersamaan, sebab semuanya hanya akan menjadi beban.

  4. fyuhhhh…..atta hunny, tell me how to love someone that deep? sampe bisa bertahan sedemikian lama.I wish, he’s really worthy enough to have you.kapan ke Solo nih? :)*hugs*

  5. Pingback: Swingers sex
  6. Pingback: BMW
  7. Pingback: dfgdsgbvdfs
  8. Pingback: ukfhqimdvsa
  9. Pingback: ogdihokytc
  10. Pingback: eoymubrko
  11. Pingback: lzltthoro
  12. Pingback: ifudbrhw
  13. ketika kesudahan dalam perjalanan yang dinanti ternyata tak kunjung ditemui, semangat untuk hidup memudar hingga jari kaki
    ketika kenyataan memungut asa yang tak bisa dibangkitkan lagi, aku dihantam kegalaluan yang kian merantai hati

    aku mati di dasar mimpi………..
    ………….
    regards,

    Abdul Malik Ikhsan
    samsonasik

  14. Pingback: fioricet online
  15. Pingback: hot pussy sue

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *