Ritual Es Kacang Merah

es kacang merah1

Ritual. Satu aktivitas yang tanpa sadar menjadi kebutuhan dalam hidup. Memberi corak dan terasa ada yang hilang ketika lama tidak kita lakukan. Aktivitas sederhana yang membawa kesenangan tersendiri. Begitu mungkin kira-kira makna kata ritual menurut saya.

Bagi atta kecil, ritual adalah sesekali duduk di atap menatap langit dan tergesa-gesa turun saat panggilan adzan Maghrib tiba. Saat kuliah, melangkahkan kaki di taman luas depan kampus STSI Solo -yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari kost saya- setelah rintik hujan di sore hari dan menikmati udara bersih juga harum tanah basah adalah satu ritual lainnya. Saya juga senang berjalan di lajur antara Stasiun Tugu hingga Mirota Batik di ujung Malioboro (ritual yang makin sulit dilakukan, selain karena jarak dan waktu libur yang tidak banyak tersedia, bangunan Mirota Batik sudah tidak seutuh tahun-tahun kemarin karena amukan si jago merah). Dan… melihat air mancur tepat di jantung kota pada malam-malam tertentu menambah deretan ritual dalam kehidupan saya saat ini.

Masih ada banyak lagi ritual lainnya. Sebagian orang menganggapnya aneh. “Kenapa nggak naik becak aja sih, Malioboro itu kan padat banget….”, “HA?, lagi di Thamrin? ngeliat air mancur? ngapainn?”. Untuk saya, ritual -satu aktivitas sederhana yang berulang dan membawa kesenangan tersendiri- datang dengan alasan yang tidak rumit. Tapi, biasanya saya hanya menjawab kebingungan mereka dengan senyum.

Ritual es kacang merah. Begitu saya menamakannya. Seperti ritual yang lain, ritual yang satu ini terbentuk dalam rentangan masa. Saat saya mencoba bersahabat kembali dengan Jakarta. Saya lupa pertama kali melakukannya. Tapi tanpa sadar setiap kali saya mengunjungi pusat kegiatan kesenian di bilangan Cikini, saya menyempatkan diri untuk menyambangi rumah makan Musi Indah. Dan setelahnya, es kacang merah menjadi ritual baru.

Menyenangkan. Di satu sudut, dan semangkuk es kacang merah. Ajaib. Ritual yang sedikit mengobati saya dari penat atau rasa sedih yang entah bersumber dari apa. Belakangan ini, ritual es kacang merah menjadi lebih sering saya lakukan.

Aneh? Tidak juga. Bagi saya, ritual -satu aktivitas sederhana yang berulang dan membawa kesenangan tersendiri- datang dengan alasan yang tidak rumit :). Bukan begitu?

33 thoughts on “Ritual Es Kacang Merah

  1. kalo aku, hampir tiap sore jika sempat pulang kos: duduk di teras kamar, teh panas yang kental, rokok dan gorengan. wuii…rasanya.., Oh ya jd ingat malioboro, kosku dulu deket situ.

  2. asal ritual es kacang merahnya jangan sambil ngelamun, ntar keselek lho :p
    btw, kacang merahnya yang kacang merah polong itu ya? yang biasa di sayur. bukan kacang tanah kan?
    kalo disini dicampur ke es teler ta’ enak…
    apa lagi es teler yang depan kuburan… emmm :)

  3. Ritual baru: termasuk mengujungimu..yang sedang asyik nyerupt es kacang merah, Ohya,..Esteler itu apa aja sih isinya? (pengen bikin, soalnya), sejauh ini di Monrovia baru nemu, alpukat & rambutan aja..dan susu kental manis..,bisa bantu! (sebab mau pamer sama tentara2 filipina itu) :)

  4. asyik. saya ngiri liat gaya si mbakyu cendol yang berbudaya ini. di jakarta ke tim & utan kayu. di solo nyambangi murtidjono dan halim hd, atau nanton i waan sadra lagi workshop. trus abis itu nikmatin ronde di gubuk belakang. saya pingin gitu, ajarin dong…

  5. neenoy : ayo ayo, bareng Obin sahaka, sekalian ke planetarium. gimana bunda?

    mushrooms : sip bu. cant hardly wait to see u in real life :)

    dion : aih aih, si dion bisa aja

    bhima : hehehehhe. kadang ilang, kadang malah tambah sedih.

    gobloq : sumanti kusumaningrum :D

    cico : wah, kebayang deh. kost di mana sekarang? cico ini temennya cici bukan ya? :D

    imponk : appa tuh? hehehehe.

    chrysalic : ke planetariumnya kadang-kadang, ke toko bukunya pasti. bisa tambah lama kalau itu para pelajar perguruan tinggi seni sedang berkeliaran di sekitar situ. hihihihihi

    adhi : iya, kacang polong yang biasanya buat sup. Wakkk? depan kuburan? gak serem apa?

    randi : ritualmu kaya’nya naik shuttle bus itu dek. gimana kuliah?

    cici : sip. bisa diatur. :D

    luigi : es teler itu isinya nangka, terus yang item-item itu apa ya? pake rambutan juga seru. *disini gak ada es teler pake rambutan* :D

    enda : es kacang merah ini aktual lho nda *apa sih ta?* :)

    office boy : ehhhh komen2, udah selesai nyapunya? udah. kalo gitu bersihin gudang dulu ya sekarang… hueheheheheh

    aprian : wahhh, apalagi nih? kedengerannya seru. kaya’ rujak buahnya bogor atau?

    balq : ya salaaaaaammm. beli sendiri! :D

    bay : rencananya akhir september ini. tapi rencana tinggal rencana. pending lagi nih bu. hiks. kapan2 ya. asyikkk di kuta sampai pagi… :)

    pipit : aduh pipit; jadi malu saya. jangan capek2 ya bu liputannya. sun sayang buat si dedek.

    sa : iya mbak. terus dikasih es serut, kuahnya enak, manis :)

    Qky : thank you :)

    sondher : kopi sama sirup vanilla? yang ini juga baru denger :D eh kapan itu merencanakan pertemuan lagi setelah waktu pertemuan kita yang gagal di gedung arsip.

    sireum : sepanjang jalan sekalian cari ide buat tulisan :D gimana novelnya?

    emil : bagus bagus. cukup bekerja keras ya selama disini. hehehehehe. baik-baik ya emil :)

    siwoer : paling ujung mas. deket bioskop. :D

    andrias ekoyuono : di batik terang bulan itu ya? tetep laen rasanya.

    bagas : oh ya? enak kan?

    ganda : adddddddduh bapak yang satu ini. btw salamnya sudah saya sampaikan pada qq. anehnya tiap kali saya sms; dia pasti sedang makan. hehehehe. he’s getting fat. pasti :D

    richoz : hayu atuh.

    Deny : sammma. hasyi *bersin Mode ON*

  6. Pingback: Hi there

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *