Ma’e dan Teknologi

Rasa ingin tahunya sudah dapat dibaca sejak saya mencium punggung tangannya. Rasa ingin tahu yang bersumber dari tas kertas ukuran sedang yang saya jinjing. Tapi, dia sabar menunggu hingga ritual saya tuntas. Ritual yang dilakukan setiap malam. Mengganti pakaian kerja dengan t-shirt rumah, celana pendek, menjepit rambut, menuju lemari es, minum teh botol, membersihkan muka, mencuci kaki dan tangan.

Benar kan, saat kami duduk bersama di ruang tengah, dan isi tas kertas tadi muncul, satu persatu pertanyaannya mengalir.

“apaan nih dek?”
komputer saku — jawaban ini lebih aman, tidak akan berbuntut pertanyaan lagi. Menjawab pertanyaannya dengan Personal Digital Asisstant atau Pocket PC, takutnya malah akan membuatnya bingung
“buat apa?”
buat nulis — saya keluarkan stylus dan masuk ke menu Pocket Word. Dengan letter recognizer, saya tulis beberapa abjad.
“Wah …” dia seperti kehabisan kata
Saya sodorkan stylus dan perangkat digital berprosesor 400 Mhz Intel Xscale itu. Ia mulai mencoba menulis nama saya. Melihatnya di layar. Tersenyum.
“Kaya’ sabak, dulu belajar nulis pakai sabak, mirip kaya’ ini nih”

Selanjutnya, dua orang perempuan, duduk bersama di ruang tengah. Yang satunya sesekali bertanya, yang lainnya berusaha menjawab. Beberapa bulan lalu, adegan serupa dengan setting rumah mungil ini juga terjadi.

“HA? ada tivinya?”
bukan tivi, ini cuma video klip
“suaranya bagus ya, terus tetep bisa buat nelepon kan?”
hehehehehehe. ini kan handphone, ya tetep bisa buat telepon. video dan MP3 ini kan cuma pelengkap aja, biar nggak bosen.
“Hebat ya, MP3 ini kaset kan?, dikecilin gitu?, muternya di bagian mana ya?”
saya tergeragap dan kehabisan kata

Saya ingat, perempuan selepas paruh baya ini juga memberondong saya dengan pertanyaan saat pertama kali mendengar nada dering polyphonic, saat saya bertukar gambar via Bluetooth, saat saya belum juga menghabiskan semangkuk sup karena sibuk bercakap-cakap lewat Messenger dari peranti lunak yang saya tanamkan di ponsel. Dia juga tampak antusias saat mulai mencoba mengabadikan gambar bergerak hanya dengan berbekal ponsel. Ah, dia selalu begitu. Penuh rasa ingin tahu. Satu sifat yang, kelihatannya, menitis pada darah saya.

Tapi, tidak semua pertanyaannya bisa terjawab (Saya sampai berpikir perlukah menyebut Danish Harald Blåtand, saat kami bercakap-cakap tentang Bluetooth), karena tidak semua teknologi itu juga saya kuasai.

Baginya waktu bergerak sangat cepat. Satu per satu teknologi dengan wujud baru datang. Dulu, televisi dengan remote control saja sudah cukup menakjubkan untuknya, tapi sekarang… kerap kali ia menemukan hal baru. TV Plasma, layar datar, pemutar DVD yang makin ramping, pemutar musik portabel yang sanggup menampung hingga ribuan lagu (duh, saya masih menyimpan harap pada si mini yang cantik ini). Informasi tentang teknologi kadang menyapanya lewat media atau tak sengaja dilihatnya saat belanja bulanan dengan putri bungsunya. Teknologi melaju dan bergerak bersama dengan waktu, sesekali menuai pertanyaan yang kemudian dilontarkannya.

Sejujurnya, menatap sosoknya hari demi hari juga membuat saya menyimpan satu pertanyaan. Kira-kira teknologi macam apa yang di built-in kan dalam sistem tubuhnya? Teknologi macam apa yang mampu menopangnya sendiri, menatap ke depan dan mengubur masa lalu tanpa dendam, meminggirkan kepentingannya dan memusatkan tenaga dan pikirannya hanya untuk kebaikan bersama. Teknologi macam apa yang membuatnya tegar, mengayuh biduk, menjinakkan ombak hidup yang kadang menerpa, membesarkan kami, saya putri bungsunya dan kakak laki-laki saya, dalam naungan kasih sayang yang tak pernah putus, dalam sabar yang tak pernah berhenti, dan hangat yang selalu terjaga.

untuk Ma’e, ibu saya tercinta, ditulis dengan rasa terima kasih yang dalam

22 thoughts on “Ma’e dan Teknologi

  1. wow! posting bagus. aku ingat, betapa dulu susah sekali meyakinkan ibuku untuk pake hp, padahal sudah bertahun-tahun dia pakai cordless phone. akhirnya ibu bersedia. tadi dia nge-sms, “ibu sdh msk tol cikampek, nanti lsg ke tmpt pengantin”

    wah, mbak atta itu kok bisa pinter teknologi digital apa sih rahasianya? ajarin dong. aku juga pengin bisa lho… Blåtand itu apanya belacan atawa kucing hutan? Trus kenapa ada barang dikasih nama Bluetooth? Emang gigi yang nyiptain itu warnanya biru karena kebanyakan nenggak spiritus? Cerita dong…

  2. teknologi memang makin cepet ya ? atau kita nya yang cepet tua ? perasaan baru kemaren liat mini DV dan kamera digital, eh blom lama ini udah liat kamera dengan DVD writer build in….btw,ortuku sampe sekarang masih males pake sms,ribet katanya,duhh….

  3. sampe sekarang saya masih gaptek juga, bakat kali ya dari mak’e yang sampe sekarang gak tau yang namanya hape :p
    kalo dian sastro sih, ngerti :D *apa hubungannya coba*

  4. kalo aku sih sama ama mama, sama-sama sok tau =))
    mamaku fanatik make hape 6110, casing pecah, dikaretin ama karet gelang. LCD rusak, dia bongkar sendiri itu hape, eehh…jadi bener lagi. terakhir, hapenya jatuh, dan tulangnya patah, mentok deh dia gak benerin :D
    selain sok tau, sok keratip juga yah :P
    kalo aku sih, gagang kacatama patah, aku ganti make tali bra.
    :D

  5. buat Ma’e: toss ma’e :D
    masih canggih ma’e kok dibanding peralatan lenongnya si-bontot… ngga kenal freeze lah yaww :))
    btw, emang bisa minum teh botol… bukannya air teh :-P

  6. Ntar kali anak-anak kita bakal posting kayak gini, puluhan taun mendatang ya ta ;) Teknologi emang cepet bnaget majunya, yang ga ngikutin udah ketinggalan deh, kaya gue nih.. agak ngehang baca istilah2 nya Atta :)

  7. Dari tulisan2 kamu, keliatan kalo kamu orangnya baek banget ya, ta.. Lembut&penuh kasih sayang. Cewek bgt. Ma’e pasti seneng ya punya anak kyk kamu.. :) Jd inget emak gw deh..
    Thx God, masih ada orang kyk kamu yg bisa bikin dunia lbh damai ya.. Semoga loe bahagia.

  8. Pingback: Craps

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *