Cendawan di Langit Jakarta

Dan asap itu membumbung, tinggi, cendawan di langit selatan Jakarta, Kamis pagi ini.

Saya baru saja memasuki pelataran Kafe Tenda Semanggi saat cendawan itu datang. Saat tapak kaki saya menjejak halaman sebuah kafe, tempat acara peluncuran program promosi baru salah satu vendor ponsel, yang saya dapati adalah belasan wartawan yang berdiri, menatap langit.

Dan, setelahnya kesibukan kecil terjadi, beberapa dari mereka sibuk dengan ponsel, menelepon anggota keluarga, ditelepon redaktur, menghubungi sahabat, menerima dan membalas sms. Tapi acara yang sudah berjalan, tidak dihentikan. Belum ada perasaan kelabu di hati saya, mungkin karena informasi mengenai cendawan di langit Jakarta juga masih simpang siur. Hingga, satu teman wartawan dari sebuah portal berita mengabarkan apa yang sebenarnya terjadi. “Apa lagi Tuhan?,” saya berujar pelan.

Setelah acara tadi selesai, saya bergegas kembali ke kantor. Melihat situs-situs penyedia berita terkini, turun ke bawah, makan siang yang amat sangat tertunda, chatting dengan beberapa teman, dan…. adddduh, kenapa ada nama si Ollie di situ, di daftar korban RS MMC. Saya telepon Ollie, suaranya pelan. Untungnya Ollie sudah di rumah. Setelah itu saya hubungi eyi (tidak diangkat honey, tapi dari sherni saya tahu kamu baik-baik saja), sherni dan dien , (Oma juga tidak mengangkat telepon. 7 jahitan? tapi Oma mengaku tidak apa-apa. Saya jenguk ya Oma), juga beberapa teman lagi yang saya ingat berkantor di Kuningan.

Saya menarik nafas lega. Saya masih mendapat pesan pendek dan mendengar suara mereka di ujung telepon. Ada rasa syukur yang sangat.

Tapi tidak semua menarik nafas lega seperti saya. Beberapa orang pagi tadi keluar dari rumah mereka, beraktivitas seperti hari-hari kemarin, mungkin tersenyum pada anggota keluarga, merencanakan apa yang akan dikerjakan di akhir pekan yang panjang nanti, menghabiskan segelas susu, melahap sarapan pagi, membayangkan pujaan hati, menahan gusar karena macet. Beberapa orang yang melintasi Rasuna Said, menatap langit di hari terakhir dalam kisah yang mereka untai. Tidak pernah ada esok untuk mereka, karena pagi ini, mereka pergi bersama cendawan …. Kepergian mereka pasti menuai duka yang dalam dari keluarga, teman dan sahabat yang ditinggalkan.

Malam ini saya ingin pulang cepat. Sampai ke rumah. Minum teh botol, mencium kening ibu saya, berbicara halus pada kakak saya (komunikasi kami memang tidak sempurna, rasanya setiap hari ada saja yang diributkan), menghabiskan pulsa dan menelepon laki-laki dengan semburat jingga, menyapanya di sela-sela kesibukannya mengolah naskah dan lay out. Malam ini, lewat apa yang saya lakukan, saya ingin ketiganya tahu, bahwa saya menyayangi mereka sangat…

Saya bisa saja menjadi salah satu dari orang-orang yang pergi bersama cendawan. Menemui ujung hari tanpa sempat berbicara kepada orang-orang tercinta.

32 thoughts on “Cendawan di Langit Jakarta

  1. tadi ceting sama nyi2 dia juga bilang soal ollie, katanya dia liat di tivi ada korban mukanya spt ollie .. bener dia ta ? tapi gpp ya ? sukurlah .. dikau juga baik2 aja kan ??

  2. Atta…emang tragis..aku sampe merinding…seandainya aku masih di jakarta, aku pasti kantornya di dekat sana, kantor ku yang dulu aku kerja itu, senang aku kerja disana. kebayang deh..itu embassy dekat banget ama kantorku dulu…inget gue pernah ke embassy situ ketemu sama IT headnya. sedih sekali nih…rasanya..tuh satpam yg jaga embassy diluar meninggal, kasian keluarganya, dia itu kerja disana cari uang buat keluarganya, apa sih yang ada diotak para orang yang ngebomb..apa sih yang mereka mikirkan????

  3. Aku turut berduka buat Jakarta. Dan nggak percaya ini bagian rencana Tuhan. Karena yang berbuat adalah manusia yang punya pikiran, dan sebenarnya punya pilihan untuk berbuat lain ketimbang membunuh orang nggak berdosa.

  4. sedih ya…
    tadinya ngirain di bandara bakal ketat pengawasannya, ternyata nggak…
    smoga ntu cendawan gak muncul lagi di sono..
    tengkyu ya ta, dah ngubungin ^_^

  5. Mobil Boks Kelewatan

    : Teror 9/9

    Rasanya pernah kulihat mobil boks itu lewat,
    di depan kantor polisi, waktu aku lagi ngurus SIM
    yang sudah lama mati. “Lihat, teroris lewat!” begitu
    kalimat yang tak sengaja saja kusebut. “Oh, mereka mau
    ngopi sama polisi,” sahut orang di sebelahku, dia yang
    lagi lapor kehilangan KTP. “Tenang, Pak. Situasi
    menjelang pemilihan presiden sedang aman terkendali,”
    kata Mas Polisi, mengutip kata-kata yang nyaris basi.

    Sepertinya pernah kulihat mobil boks itu lewat,
    di depan pusat perbelanjaan. Aku waktu itu sedang
    mencari bacaan. Eh, malah beli puzzle alias permainan
    susun ulang, bergambar 2.000 potongan tubuh.
    “Lumayan, buat tebak-tebakan di pos perondaan,
    daripada teledor kecolongan,” kataku waktu
    membayar ke kasir yang menghitung harga
    dan uang kembalian, sambil kelupaan memberikan
    senyuman. Kasihan. Keletihan.

    Kayaknya pernah kulihat mobil boks itu lewat,
    di sebuah kos-kosan. “Ngangkut apa, Mas Teroris?”
    kataku bertanya sekenanya. “Ini sulfur dan TNT.
    Buat bikin ledakan, di kantor kedutaan. Tapi,
    jangan bilang-bilang, ya. Nanti nggak lagi jadi kejutan,”
    ujar Mas Supir sambil menurunkan barang belanjaan.

    Lalu, sumpah mampus! Aku sekarang tak ingin
    melihat mobil boks itu lagi. Aku ingin situasi yang
    aman dan terkendali bukan lagi basa-basi. Aku tak
    ingin main tebak-tebakan. Aku tak ingin kejutan.
    Tolong. Aku tak main-main, kuminta hentikan
    main-main kalian. Bercanda kalian. Keterlaluan kalian.

  6. baru sadar setelah sore hari saya membayangkan seseorang yang mungkin baru sampai jakarta hari itu.
    aku sayang dia. tell this massage to her atta, thanx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *