Pagi Yang Biru…

Tapi sadarkah, sekarang… kita sepertinya tengah menghitung mundur untuk sesuatu yang selama ini kita takutkan.

Dan puncaknya adalah malam tadi. Saat kami berdua, berjauhan, membicarakan apa yang terbaik. Tidak ada lagi yang bisa diselamatkan. Saya mencintainya. Tapi memeluknya terlalu erat bukan satu solusi yang bijak.

Waktu, jarak, orang-orang di sekeliling, cara pandang terhadap sesuatu, kami yang bergerak bersama jaman, pernak-pernik dalam hidup, rupanya mengubah cara kami memperlakukan apa yang kami bangun selama ini.

Saat hitung mundur itu usai, rasanya seperti sebuah pijakan, yang belakangan kian rapuh, direnggut dari tempat saya menapak. Tidak ada pijar kembang api, seperti layaknya hitung mundur pada pergantian tahun. Sunyi. Perlahan butiran bening itu leleh dari kelopak mata. Saya takut.

Tapi, tengah malam tadi, keyakinan saya terbentuk. Meneruskan ini hanya membuat langkah kami menjadi semakin berat. Serpihan keyakinan yang saya timbun, setelah saya menemukan jawaban dari apa yang selama ini saya cari.

Tidak, saya tidak ingin menghabiskan hari bersama orang yang selalu kehilangan waktu, bahkan untuk membalas pesan pendek sekalipun, karena beragam alasan, mulai dari mengolah naskah, kekurangan berita, mengatur tata letak dan lainnya.

Tidak, saya tidak akan menikmati semburat merah dengan orang yang bongkahan kasihnya memudar karena jarak (Konsep Global Village saat ini bukan lagi sebatas jargon, dengan beragam teknologi dan perangkat digital, jarak harusnya bukan lagi kendala)

Tidak, saya tidak akan melangkah bersama menuju rumah senja disertai dengan laki-laki yang tidak sanggup menjaga anugerah terbaik yang datang dalam hidupnya.

Yang pasti saya lelah. Kelelahan sempurna yang membuat saya akhirnya merumuskan ulang skenario hidup yang sempat kami rancang.

Dan saya melepaskannya, dia laki-laki dengan semburat jingga, penuh keyakinan dan ikhlas, seperti saat saya menerimanya duduk di beranda hati saya di masa lampau.

*****************************************

pagi ini saya bangun dengan perasaan yang tidak terlalu baik. dengan koran pagi di ujung tempat tidur -mantan anggota DPR kembali mengungkap suap, begitu headline yang dipilih redaksi mereka-, kecupan dan pelukan hangat dari Ma’e, saya tidak menemukan putih -kucing yang biasanya ikut sibuk hilir mudik di atas kepala-, saya kurang bersahabat dengan aktivitas pagi. tapi pagi ini saya sudah harus beramah-ramah dengan sekretaris perusahaan, untuk pengajuan proposal kegiatan Ramadhan. saya memilih kemeja biru dengan garis-garis vertikal, kemeja favorit saya, dengan aksen tanpa kancing di bagian kerah membuat leher saya terlihat lebih jenjang. memercikkan harum Oceanus. memulaskan lip care -setiap hari saya pergi tanpa lipstik-. memakai sepatu hitam andalan. berjalan ke kantor. melempar senyum pada bapak tua penjaja roti yang mangkal di mulut gang. bercakap-cakap dengan redaktur news room. membaca headline lainnya -2 SPV tak ditemukan di neraca Danareksa-. bersiap-siap mencari taksi biru untuk liputan ke acara yang diadakan operator seluler yang menguasai lebih dari 50 persen dari total pelanggan seluler. menunggu kehadiran bintang tamu yang akan menginap selama beberapa hari di ruang redaksi. mampir ke bank lebih dulu untuk mentransfer ongkos liburan.

Yup. Liburan. Jumat malam nanti saya pergi ke Semarang. Mengunjungi Stasiun Tawang, Gereja Blenduk, Lawang Sewu, Toegoe Moeda, Klenteng Sam Poo Kong. Lalu lanjut ke Ungaran, Komplek Candi Gedong Songo lengkap dengan hutan pinus (addduhhh, hutan pinus gitu lho :)). Tidak lupa ke Rawa Pening, naik kereta api yang ditarik loko bernomor B 2502 buatan tahun 1902 antara Ambarawa-Bedono. Oh ya, ke Palagan Ambarawa juga. Setelahnya, perjalanan dilanjutkan ke Yogyakarta. Pundong, Kota Gede, Taman Sari, Benteng Vredenberg dan Malioboro (saatnya melakukan ritual Stasiun Tugu hingga ujung jalan Malioboro tempat dulu Mirota Batik berdiri).

Perjalanan yang permohonan liburnya sudah saya ajukan sejak awal September ini menjadi momen baik untuk sedikit menarik nafas dan mensyukuri apa-apa yang masih saya miliki.

Saya pamit; karena sebelum pergi, deadline sudah menghadang, banyak pekerjaan yang harus saya rampungkan terlebih dulu. Selama pergi, saya juga tidak membawa peralatan yang neko-neko, jadi saya akan terpisah dengan internet dan sebagainya. Setelahnya, saya mohon doa, semoga semua berujung dengan baik.

untuk kita

Aku berlari ke bukit, dalam guyuran rintik yang menari (Jangan takut sayang, kau tahu, sejak dulu hujan, apalagi gerimis, tidak akan membuatku sakit. Aku berkawan dan jatuh cinta dengan hujan jauh sebelum aku mengenalmu).

Aku berlari ke bukit, membaui harum pinus dan rumput basah juga bunga-bunga liar yang merunduk, menahan air yang menggenangi tiap-tiap kelopaknya. Aku terus berlari meski dingin mulai menyergap. Ke satu titik tertinggi di atas bukit.

“Aku mencintaimu,” teriakku. Di satu titik tertinggi di atas bukit, aku mengucapkan -ah bukan, aku bukan berucap, di satu titik tertinggi di atas bukit itu, aku berteriak-, rangkaian kalimat yang sama seperti yang kau dengar saat lazuardi memerah menjelang akhir September yang ranum.

Entah karena rintik yang makin menderas, atau karena angin yang menelan suaraku. Atau? Kali ini, ada ragu, sampaikah rangkaian kalimat yang aku teriakkan di satu titik tertinggi di atas atas bukit tadi ke hatimu? jauh menyelusup ke ceruk terdalam di dasar hatimu

Semestinya rasa yang membuncah saat pertama kali melihatmu di kelas matematika menjaga kita untuk tetap terus menggamitkan jemari. (yup, aku menyukaimu pada tahun pertama perkuliahan. di kelas matematika yang pelik itu, panah Cupid tertancap tepat di hatiku. Setelahnya, kamu makin terlihat menarik). Semestinya keyakinan yang kuat saat aku mencium punggung tanganmu dalam sorotan hangat srengenge tetap bersemayam di sini. di hati. Semestinya aroma bahagia, seperti saat kita menjalani hari, minggu, tahun, dan Solo yang tak pernah kehilangan pesonanya, masih dengan mudah tercium. Semestinya kecupan lembut di Sepinggan kala itu, menabalkan apa yang telah kita mulai jauh sebelumnya. Janji yang kita ucap kembali. Semestinya pundi-pundi kasih yang kita tabung bersama menjadikan kita kuat. jauh lebih kuat.

Tapi sadarkah, sekarang… kita sepertinya tengah menghitung mundur untuk sesuatu yang selama ini kita takutkan.

Untuk enam tahun pasang surut untaian kisah, sempat tiada, lalu ada, kamu yang tak pernah beranjak menjauh, aku yang tak pernah bergeser, kita yang (mungkin akan) berhenti berharap; atas apapun yang terjadi nantinya, mengenalmu adalah bagian terbaik dalam hidup.

Pada Sebuah Foto

atta

(because a photo is worth a thousand words – fotopages.com)

Ya, itu foto saya. Diambil beberapa bulan lalu di Djakarta Theater, satu spot terbaik yang dimiliki Jakarta. Saya suka foto ini. Sangat suka. Melihatnya kembali malam ini seperti mengingatkan saya pada banyak hal yang mestinya saya syukuri. Mengingatkan saya pada hidup, pijar kasih, kehangatan, persahabatan, derai tawa, sebentuk senyum.

Foto ini buah karya sahabat saya terkasih. Wartawan, dari media yang mengupas tentang beragam hal seputar perempuan ini, adalah pribadi yang menarik. Persahabatan kami diretas tujuh tahun silam. Berawal dari hubungan kakak tingkat dengan adik tingkat (angkatannya terpaut tiga tahun di atas saya), kami berdua kemudian bermetamorfosis menjadi sahabat. Banyak kisah yang kami lewati. Merenda Tawa. Menyulam bahagia. Mengusir duka.

Dia tempuh perjalanan Jakarta – Solo dan menjadi penyemangat saat skripsi saya tak jua selesai. Dia ada saat nuansa merah jambu itu datang (saat kita jatuh cinta, tanpa sadar kita akan menyebut nama laki-laki yang beruntung itu berulang-ulang. Sahabat saya ini tetap sabar mendengarkan cerita saya, lengkap dengan senyum yang sesekali tersampir di wajahnya). Dia sahabat terbaik yang tetap ada hingga saat ini. Agaknya kesamaan profesi membuat kami tidak kesulitan membentuk ritme.

Apa lagi yang saya suka dari foto ini? Coba perhatikan dengan seksama. Dapatkah kalian temukan kalung sumber kebahagiaan yang saya pakai malam itu? Bandulnya terbuat dari keramik dengan sapuan warna biru. Huruf “A” untuk Atta. Laki-laki kecil yang cerdas menghadiahkannya untuk saya di satu sabtu yang cantik.

“Ini, ini,” tuturnya seraya menyodorkan amplop jingga.
wah, terima kasih.
saya kesulitan membukanya
“sini Obin bantu,” ia berkata pelan. Bintang di matanya berpijar.
saat amplop jingga terbuka, saya tidak hanya menemukan kalung sumber kebahagiaan itu, tapi juga bintang kecil yang bisa disematkan di baju untuk mempermanis penampilan. Menyenangkan sekali (Bunda neenoy, terima kasih banyak ya :))

Dan kalung sumber kebahagiaan itu tampak serasi dengan kaos putih berlengan merah, dengan tulisan Gryffindor, yang saya kenakan. Saya bagian dari keluarga Hogwarts :D. Saya masih ingat, setelah film usai, kami -saya dan sahabat saya- meneruskan acara malam itu dengan menghabiskan waktu di Starbucks. Pemuda ramah yang melayani pesanan saya menyapa;

“anak Gryffindor ya?”
yup. sahut saya seraya tersenyum
“kalo gitu kita sama-sama di Hogwarts dong”
kok saya nggak pernah liat kamu
“O.. saya di Ravenclaw”
dan tawa pun berderai (entah kenapa, Frappuccino coklat yang saya pesan itu kemudian terasa dua kali lebih nikmat)

Gambar diam yang diambil malam itu merangkum semuanya. Pada sebuah foto tersaji kisah tentang hidup, pijar kasih, kehangatan, persahabatan, derai tawa juga sebentuk senyum.

Ritual Es Kacang Merah

es kacang merah1

Ritual. Satu aktivitas yang tanpa sadar menjadi kebutuhan dalam hidup. Memberi corak dan terasa ada yang hilang ketika lama tidak kita lakukan. Aktivitas sederhana yang membawa kesenangan tersendiri. Begitu mungkin kira-kira makna kata ritual menurut saya.

Bagi atta kecil, ritual adalah sesekali duduk di atap menatap langit dan tergesa-gesa turun saat panggilan adzan Maghrib tiba. Saat kuliah, melangkahkan kaki di taman luas depan kampus STSI Solo -yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari kost saya- setelah rintik hujan di sore hari dan menikmati udara bersih juga harum tanah basah adalah satu ritual lainnya. Saya juga senang berjalan di lajur antara Stasiun Tugu hingga Mirota Batik di ujung Malioboro (ritual yang makin sulit dilakukan, selain karena jarak dan waktu libur yang tidak banyak tersedia, bangunan Mirota Batik sudah tidak seutuh tahun-tahun kemarin karena amukan si jago merah). Dan… melihat air mancur tepat di jantung kota pada malam-malam tertentu menambah deretan ritual dalam kehidupan saya saat ini.

Masih ada banyak lagi ritual lainnya. Sebagian orang menganggapnya aneh. “Kenapa nggak naik becak aja sih, Malioboro itu kan padat banget….”, “HA?, lagi di Thamrin? ngeliat air mancur? ngapainn?”. Untuk saya, ritual -satu aktivitas sederhana yang berulang dan membawa kesenangan tersendiri- datang dengan alasan yang tidak rumit. Tapi, biasanya saya hanya menjawab kebingungan mereka dengan senyum.

Ritual es kacang merah. Begitu saya menamakannya. Seperti ritual yang lain, ritual yang satu ini terbentuk dalam rentangan masa. Saat saya mencoba bersahabat kembali dengan Jakarta. Saya lupa pertama kali melakukannya. Tapi tanpa sadar setiap kali saya mengunjungi pusat kegiatan kesenian di bilangan Cikini, saya menyempatkan diri untuk menyambangi rumah makan Musi Indah. Dan setelahnya, es kacang merah menjadi ritual baru.

Menyenangkan. Di satu sudut, dan semangkuk es kacang merah. Ajaib. Ritual yang sedikit mengobati saya dari penat atau rasa sedih yang entah bersumber dari apa. Belakangan ini, ritual es kacang merah menjadi lebih sering saya lakukan.

Aneh? Tidak juga. Bagi saya, ritual -satu aktivitas sederhana yang berulang dan membawa kesenangan tersendiri- datang dengan alasan yang tidak rumit :). Bukan begitu?