Republik Togog

Kuberi kau suara
Kau rampok jiwaku juga
Kuberi kau percaya
Tapi kau berfoya-foya

Kukira kau mengabdi
Nyatanya malah menyakiti
Kau tega buang nurani
Tugas suci dikhianati

Di mana-mana Togog
Togog di mana-mana
Republik, Republik Togog
Pencuri di mana-mana

Republik Togog, Republik Togog
Memaksa rakyat semakin goblok
Republik Togog, Republik Togog
Dan masa depan di dalam batok

Aku berteriak; Lawan! Tolak! Tolak!
Aku berteriak; Lawan! Tolak! Tolak!
(Republik Togog, Produksi Ke 103 Teater Koma)

Togog membungkus dirinya menjadi orang bijak. Berpura-pura menjadi Tejamantri yang rajin berderma, berhati suci, titisan raja dewa, menjaga tingkah laku dan tutur kata. Padahal, jauh di dalam sana Togog tetap saja Togog. Licik, culas, jahat.

Togog, yang mata-mata kerajaan Gilingwesi ini akhirnya mampu memperdaya Samiaji, raja Amartapura. Togog tidak sendiri, Kalika yang asisten pribadi Durga, ratu sakti dari Setra Gandamayit juga memendam keinginan yang sama; mengacak-acak ketentraman Amartapura.

Untunglah, Drupadi istri Samiaji yang cantik dan setia akhirnya membuka tabir si Togog. Dengan bantuan Panakawan, yakni Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, juga Sri Kresna, Amartapura akhirnya berhasil selamat dari kehancuran. Jimat kalimasada, pusaka para Pandawa berhasil direbut dari tangan Togog. Amartapura pun kembali tersenyum.

Menyaksikan Republik Togog seperti melihat cermin besar, sangat besar, dan bayangan kita ada di dalamnya. Togog dengan banyak rupa, peran dan jabatan telah menjelma dalam skenario kehidupan kita sehari-hari. Togog itu dekat, kita melihatnya di layar televisi, di surat kabar, di forum-forum diskusi, di sampul majalah.

Togog yang berpura-pura sakit setelah kasusnya dilimpahkan ke kejaksaan (sakit mungkin karena gula yang justru diimpornya sendiri), Togog yang memberangus pers dengan mudahnya (Jadi lain kali, kalau tidak senang dengan pemberitaan pers, buat onar saja, rusak kantornya, pukul pemimpin redaksinya, dan tuntut mereka dengan tuduhan menyiarkan suatu berita atau pemberitahuan berita bohong yang menimbulkan keonaran di kalangan rakyat. ANEH!).

Togog yang beraksi serupa dengan tikus, menggerogoti pundi-pundi uang yang mestinya ditujukan untuk kesejahteraan. Membuang muka, tidak peduli rakyatnya kurang makan, mengais rejeki hingga meninggalkan kampung mereka ribuan kilometer dan menemui ajalnya karena jatuh dari apartemen atau dianiaya majikan. Togog yang menciptakan pendidikan semakin tidak terjangkau untuk orang papa. Togog pasti juga menulikan telinganya, hingga tak mendengar kalau di negeri ini seorang Heryanto, siswa kelas VI SD yang berusia 12 tahun berniat mengakhiri hidupnya setelah ibundanya tidak mampu memberi uang Rp2.500 yang diperlukan untuk membayar ekstrakurikuler sekolahnya di Garut.

Dan, o ya, saya hampir lupa, tapi kita punya Togog yang berderma Rp40 milyar (sekali lagi Rp40 milyar), ke yayasan antah berantah. Togog yang baik hati ini sekarang dengan santainya berlenggang kangkung. Tebar senyum di sana-sini.

Ada lagi Togog-Togog, yang semula berseteru karena yang satu jelas-jelas semestinya menyidik yang lain dalam kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia, tapi apa yang ada. Keduanya justru bergandengan tangan, teramat sangat mesra dan maju menjadi calon pemimpin negeri ini. Miris.

Dengan berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus Togog yang mewarnai kehidupan berbangsa, saya jadi tergelitik untuk bertanya, benarkah kita sudah merdeka?

20 thoughts on “Republik Togog

  1. sudah atuh, kita teh sudah merdeka. hanya kita teh terlalu sering melihat ke orang lain, ntah kesalahannya, kelemahannya, dan berentet ke ke yg lainnya.

    sementara becermin untuk melihat diri sendiri sangat jarang dilakukan. kalaupun terpaksa melakukan itu, eh malah cerminnya dibelah karena memang si empunya muka buruk rupa!

  2. Headline Detikcom hari ini: “PDIP DAN PARTAI GOLKAR BALI JANJI LUPAKAN DENDAM POLITIK”

    Sekali lagi kita dibohongi mega drama para TOGOG negeri ini….

    siapa ya yang paling mirip dengan Togog yang berhidung besar…..?

  3. merdeka ?..merdeka dari siapa ?..merdeka atas apa ?..mungkin perlu didefinisikan dulu merdekanya… :)

    saya sendiri merasa tidak merdeka dalam kemerdekaan saya..

  4. haloo.. nama saya togog, saya masih kelas dua es em pe. saya memang jahat. kepada teman-teman yang bersedia membunuh saya, bunuhlah saya.. tapi, masalahnya, dari 10 manusia di negeri ini, 9 diantaranya adalah togog bersaudara.. mmmm gimana ya? berani nggak bunuh saya…? hanya Tuhan yang bisa menghentikan saya ….. (heheheh.. ngelantur)

  5. kata seorang teman saya: togog itu adiknya semar. dia juga salahsatu maha dewa yang menguji manusia dengan kejahatan…
    kalau togog jahat dia sebenarnya cuma memberikan teladan buruk yang tidak seharusnya ditiru.

  6. wah, betul juga kata almarhum Bpk saya dulu. Mengko kowe ngalami jaman Togog dadi ratu. Bukti. Sekarang banyak Togog disudut2 kehidupan, baik dipemerintahan, swasta bahkan sampai kpd yg ngurusin agama. Togog pake peci, Togog pake sorban, Togog pake srgam polisi…wah bener org tuaku yg waskita, mudh2an jembar padang alam kuburnya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *