Pemilik Pagi

Bangun pagi di akhir pekan? Jelas bukan saya ahlinya :D. Tapi Sabtu beberapa pekan lalu, saya sudah terjaga di saat matahari pagi masih tersenyum. Saya, Sabtu. Sejak dulu, saya selalu jatuh cinta pada Sabtu.

Saya masih kerepotan dengan korset. Ma’e, ibu saya tercinta, dengan sabar mempertemukan kaitannya satu persatu. Saya lirik kebaya berwarna putih dengan aksen bordir. Saya, Sabtu dan kebaya berwarna putih.

Sekarang giliran rambut. Sehari sebelum itu, waktu lowong yang ada saya gunakan untuk ke salon. Sisa wangi di setiap helainya masih tertinggal. Tapi, menggelung rambut saya pagi itu ternyata satu pekerjaan yang sulit. Lagi-lagi Ma’e, ibu saya tercinta, dengan sabar membantu putri bungsunya ini. Sisir sini, sisir sana, kuncir di tengah, putar, dan rambut saya jauh lebih rapi.

Lipstik senada dengan warna bibir saya sapukan tipis saja. Saya tidak terbiasa bergaul dengan lipstik, rasanya membuat senyum sulit mengembang. Setelah membubuhkan bedak di wajah, saya mematut diri agak lama di depan kaca. Hanya butuh sentuhan sedikit lagi dan saya siap berangkat.

“Harum,” begitu tutur Ma’e, ibu saya tercinta, ketika saya mencium punggung tangannya. “Hati-hati, hak sandalnya itu kok ya tinggi sekali,” ujarnya lagi. Saya tertawa, mengucap salam dan bergegas pergi.

Perempuan lain dengan kebaya putih beraksen payet menyambut saya. Ah, cantik sekali. Senyumnya merekah. Dia bahagia. Perempuan itu, sahabat saya. Dulu kami menghabiskan tiga tahun yang sarat kisah di sekolah menengah. Dan pagi ini, kala sinar matahari terasa hangat di kulit, adalah paginya.

Saat akad nikah berlangsung, pikiran saya berjalan. Harum melati mengiringi perjalanan menelusuri lembaran ingatan. Saya berhenti di satu halaman. Di sana ada saya, teman saya -pemilik pagi hari itu-, dan enam orang perempuan lainnya. Kami, si Vancer. Saya tersenyum mengingatnya. Vancer, kependekan dari delapan ceria. Ketimbang Pancer, kami lebih senang menamakannya Vancer.

Lembaran ingatan saya berhenti di satu halaman saat kami berkumpul kembali setelah satu tahun kelulusan. Berbincang tanpa tujuan. Merenda tawa seperti yang kerap kami lakukan saat seragam abu-abu masih mengisi keseharian.

Dan tahun demi tahun berlalu. Berita bahagia bergantian datang, tertangkap indera dengar. Satu persatu dari mereka menjadi pemilik pagi. Tidak semua pagi melibatkan saya, ada ujian akhir yang tidak bisa ditinggal, konsultasi skripsi yang termasuk dalam kategori wajib, atau mengurus wisuda dan pernak-perniknya. Tapi setelah saya kembali ke Jakarta, saya tekadkan untuk ada bersama mereka saat pagi-pagi bahagia datang.

Pagi ini adalah pagi keenam. Segera setelah ini akan ada pagi ketujuh. Sahabat saya yang lain akan segera menutup tahun dan menjadi pemilik pagi. Belum saya siapkan kebaya putih satu lagi untuk pagi edisi mendatang itu. Tapi pasti akan ada ritual yang sama di rumah. Saya, korset, melirik kebaya putih, menggelung rambut, merias diri (mudah-mudahan di pagi ketujuh nanti saya sudah mahir menyapukan blush on ke wajah), memercikkan wewangian, sandal dengan hak tinggi, dan bergegas ke luar dari rumah dengan rasa bahagia yang berpusat di hati.

Selalu ada doa yang saya rajut untuk mereka, sahabat para pemilik pagi. Berharap segala kemudahan dan keberkahan dari Zat pemilik hidup selalu bersama mereka. Semoga Yang Maha Penyayang tetap mempersatukan mereka, dalam kasih, cinta, tulus, ikhlas, kesetaraan, tanggung jawab. Berbisik agar Yang Maha Pemurah selalu mencurahkan bahagia sampai ujung waktu, hingga senja dan semburat jingga itu datang.

Tulisan ini untuk pemilik pagi.
– Minggu ini ya Den? Selamat ya. Salam saya untuk Rida :)
– Juga untuk Bri. Terima kasih sekali atas undangannya. Kaget sekali, lama tidak terlihat tiba-tiba mengguncang inbox saya dengan surat undangan. Kebetulan di pagi yang kamu pilih ada dua liputan, ke Bandung dan ke Medan. Saya belum tahu yang mana yang ditugaskan untuk saya. Mudah-mudahan keduanya tidak menempel di layar monitor yah, jadi saya bisa segera mencari kebaya putih dan menyaksikan pagi bahagiamu.

30 thoughts on “Pemilik Pagi

  1. Ta’ mumpung pagi istimewa itu belum tiba, nikmati hidup sepuassssnyah. Karena, pagi milik seorang gadis, adalah pagi yang indaaaaah sekali. Percayalah.

  2. saya pernah ke ondangan hari sabtu, ada 3 ondangan pada hari yang sama, ternyata repot, yang nikah semuanya temen deket, tempatnya berjauhan satu sama lainnya. Tapi walau bagaimana pun saya tetep datang kesemuanya…..:)

  3. Satu persatu dari mereka menjadi pemilik pagi : ini teh maksudnya merit gitu? atau cuma jadi biasa bangun pagi?
    Hmm… jangan2 karena ga bisa bangun pagi itulah (spt gw) yg membuat org2 tetap single ! :D

    Btw,Pertanyaan nih Atta: Kenapa di undangan nikahan selalu tertulis “Turut berbahagia”. Kok kayaa gak punya pendirian gitu : “Ikut2 aja!” khehehe…

    Hint: Ngga ada hubungannya dgn bangun pagi :D *udah ah makin ngaco, maab*

  4. sabtu-minggu pagi di bulan-bulan menjelang ramadhan ini memang TOP deh, tta… membiasakan diri hidup sehat dengan bangun pagi !!
    *tak do’ain buat kita berdua, biar cepet nyusul yaa…*

  5. Sinopsis Pagi

    pagi ini, “akan ada dingin
    yang menetes ke dalam embun.”

    kau tak keberatan bukan?
    menemani menjadi saksi…

    ya, kataku. Lalu kita
    menunggu sambil memperbincangkan diam.
    diam yang diam-diam memanggil matahari,
    matahari yang justru mencemaskan kita

    : dingin dan embun ini, bakal
    terlalu lekas melintas, bukan?

    lalu, kau bisikkan kata itu
    “akulah embun, sayang, dan
    kau adalah dingin itu.

    kita masih bisa menunggu?”

  6. mm.. sebegitu banyak kah undangan hingga tiap minggu, ada aja ? :D
    kutunggu pagimu, ta. nikmati senjamu dengan penuh sukacita. senja memang indah, tapi pagi pun penuh dengan kesegaran baru. indah menjadi lebih indah. :)

  7. selamat yah Ta buat temen2 ya…ini baru awal..bukan akhir…perjalanan masih pannjuannggg…kapan nih atta menyusul..tulisan kali ini indah..ada kebaya putih sama Atta

  8. kapan atta yang menjadi pemilik pagi? :)
    btw pas saya jadi pemilik pagi rasanya agak tersiksa juga lho :D abis bangunnya pagi benerrrrrr karna akadnya jam 7 pagi :p

  9. cici : hehehehe, kebayang deh ci. eh pasti tambah seru ya pesta pernikahan dengan MC kamu :D

    mushrooms : Amin. Thank u ya bu

    Chrysalic : hehehehe. jeng ini bisa aja.

    Luigi : thank u so much my dear. baik-baik ya di sana :)

    Bril : betul mbak :D

    Q : sok atuh Q; ntar gue dateng deh

    Balq : kondangannya naik angkot juga gak. gila tuh postingan baru elo. gak nguatin :))

    Bhima : teman yang baik. Jadi pengen ke Bandung. hehehehhe.

    Sireum : makasih. kapan ke Jakarta?

    Dion : hehehehehe. gak bisa ngomong apa-apa deh gue kalo elo yg komen. sakit perut :))

    t.w : elo aja ah, gue nyusul belakangan. kekekkekekk

    Penyair Pagi : nice poetry. :)

    Enda : Enda bisa aja :D

    Sa : gak tiap minggu kok mbak.

    Ika : Mau lihat? Ntar ya di acaranya adikmu itu. tak dateng pake kebaya putih deh. kamu pulang dong?

    Dien : pagimu juga sista :)

    Aprian : Rileks pri; I dont steal ur morning. Masih di Balikah?

    Imponk : Amin

    Ninit : kenapa Nit? jadi inget paginya Ninit mesti?

    Yuliana : Thank u my dear Julie

    Bagas : mudah2an ya. soal diundang, pasti lah. makanya buruan kelar kuliahnya.

    Ine : salam kenal juga Ine. Thanks for coming

    Mawarterikat : percaya-percaya. hehehehe. makasih ya.

    pipit : kapan ya? :D Wah jam 7 pagi???? but i know u very happy with ur life now dear :)

  10. terimakasih doanya, ta :)
    sekarang, saya selalu bangun pagi :D

    semoga sang pemilik senja
    segera diberikan kesempatan untuk memiliki pagi :)

    pagi itu seindah senja juga, ta :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *