Matahari di Punggung Tanganku

body painting -1

matahari di punggung tanganku
sinarnya memancar lembut
matahariku tersenyum di rembang petang
kala rintik gerimis usai
harum tanah basah
langit biru, bersih

Aku berkeliling. Memutari Lapangan Merdeka Minggu tengah hari pekan lalu. Menahan panas yang menyengat. Berhenti di depan tenda berwarna kuning. Dan orang-orang membentuk kerumunan kecil di dalam tenda. Dua orang dengan kuas di tangan. Dan pengunjung yang menunggu giliran.

matahari di punggung tanganku
tangan kananku tepatnya
kenapa kanan?
entahlah, keputusan cepat
diambil pada menit-menit terakhir
atau mungkin, karena kanan mencerminkan kebaikan

Agak ragu mengambil tempat dalam lajur antrian. Seorang ibu yang menemani putrinya ternyata menangkap sedikit ragu yang tersisa. “Tak apa-apa nak, masih bisa sholat, air wudhu masih dapat menembusnya”. Aksen melayu si ibu yang ramah ini sangat kental. Putrinya yang cantik membalik-balik buku pola. Memilih corak apa yang hendak dipindahkan ke lengan kanannya.

matahari di punggung tanganku
“matahari,” ujarku mantap pada laki-laki itu
“tidak ingin yang lain?,”ucapnya seraya tersenyum
kubalas dengan gelengan kepala
dan ia mulai menorehkan kuasnya
perlahan-lahan
memindahkan matahari ke punggung tanganku

Di lengan kanan rasanya ide bagus. Tapi, kaos lengan panjang ini sulit sekali digulung. Jadi memindahkan corak ke punggung tangan adalah pilihan terbaik saat itu. Tidak banyak waktu tersedia, setelah ini masih ada makan siang, istana Maimun, Masjid Raya, Kesawan Square, dan setelahnya satu tulisan yang belum sempat dikerjakan menjelang keberangkatan telah menanti.

matahari di punggung tanganku
sepertinya hingga corak ini ada di sana
segala gundah urung bertandang
karena matahari di punggung tanganku
membawa serta selarik bahagia

Medan ternyata rupawan. Lepas dari hiruk pikuknya Bandara Polonia dan sistem transportasi kota yang kurang tertata. Medan menawarkan banyak pengalaman baru. Bangunan berarsitektur kuno, juice terong Belanda, becak motor, kwetiau yang lembut, seafood yang yahud, orang-orang ramah yang gemar bernyanyi dan bernyanyi, stasiun tua di dekat pusat kota, Starbucks, sirup Markisa, dan juga pohon-pohon dengan akar yang bergantungan di beberapa ruas jalan. Medan ternyata rupawan. Seperti matahari di punggung tanganku.

Bunga Rumput…

bunga rumput

Dandelion, begitu nama bunga yang cantik ini. Memang tidak segemerlap anggota keluarga bunga lainnya yang datang dengan balutan warna-warna ceria. Dandelion ini… sederhana. Buat saya Dandelion punya tempat tersendiri di hati.

Dandelion, susah sekali menyebutnya. Lidah kampung saya lebih sering menyebutnya bunga rumput. Ia dengan mudah ditemukan di semak-semak perdu, menyembul malu, tersipu. Kalau angin berhembus dan menyentuh tubuhnya, bunga rumput yang cantik ini perlahan terbang. Serpihannya mengikuti ke mana arah angin pergi. Perlahan, terbang…

Dulu, bunga rumput banyak tersebar di lapangan dekat rumah. Di dekat pohon sengon yang berdiri kuat, dengan dahannya yang kokoh. Dan bunga rumput ini menyita perhatian saya. Memetiknya dari dahan, meniupnya dan melihat pokok bunga ini memecah, serpihannya terbang bersama angin. Kala serpihannya menyebar, menuju birunya langit, pecahlah perasaan bahagia yang menuai sebentuk senyuman. Aktivitas yang menyenangkan.

Dulu, di kampus, saya juga kerap menemui bunga rumput. Area kampus memang terbilang luas. Tumbuhan perdu dan semak-semak liar menjadi surga bagi kehidupan bunga rumput. Dalam perjalanan pulang dari kampus, sesekali saya berhenti dan bercumbu sejenak dengan bunga rumput yang saya temui.

Saat perjalanan pulang dari kampus bersamanya, saya juga masih menyempatkan waktu untuk bersentuhan dengan bunga rumput. Waktu itu Jindo, vespa hijau kesayangannya –dan menjadi kesayangan kami akhirnya :D–, belum mengisi keseharian di Solo. Berdua, melangkah menyusuri setapak antara kampus kami dan kost melewati kampus Sekolah Tinggi Seni Indonesia. Di tengah perjalanan, sesekali bunga rumput menyapa.

Saya lalu menyibukkan diri bersama bunga rumput. Ia, laki-laki dengan semburat jingga itu, berdiri, menahan terik dan menutupi kepalanya dengan tangan. Matanya setengah terpicing. Pandangannya tertuju pada gadisnya, ya saya, yang tengah berjongkok. Saya, gadisnya, yang tengah memetik bunga rumput dari dahan, meniupnya, melihat pokok bunga itu memecah dan serpihannya terbang bersama angin.

Bagi saya, melihat laki-laki dengan semburat senja itu berdiri, menahan terik, menutupi kepalanya dengan tangan dan matanya yang setengah terpicing menanti percakapan saya dengan bunga rumput usai, hingga serpihan itu menyebar menuju biru langit, adalah aktivitas yang tidak hanya menyenangkan tapi juga membahagiakan.

Beberapa hari yang lalu, seusai liputan ke sebuah vendor elektronik di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan saya bertemu bunga rumput. Di sini, di tengah hutan beton ini. Sungguh satu keajaiban. Sudah lama sekali saya tidak mendapati kehadiran bunga rumput. Jakarta tidak lagi menyisakan ruang untuk semak dan perdu.

Waktu itu saya tengah menanti taksi. Saat menebarkan pandangan ke sekeliling, saya mendapati bunga rumput itu di pinggir pedestrian. Saya berjalan mendekatinya. Perlahan saya amati bentuknya. Benar, ini memang bunga rumput. Dan saya memetiknya dari dahan, meniupnya dan melihat pokok bunga ini memecah, serpihannya terbang bersama angin.

Keriuhan kendaraan yang lalu lalang tiba-tiba tak terdengar. Saya seperti melihat bayang-bayang laki-laki dengan semburat jingga itu di sana. Samar…. Berdiri, menahan terik dan menutupi kepalanya dengan tangan. Matanya setengah terpicing. Ia jauh lebih tampan dari tahun-tahun kebersamaan kami di kampus dulu.

Tapi, angin segera membawa serpihan bunga rumput saya pergi, terbang, menuju birunya langit…. dan perlahan bayang-bayang laki-laki dengan semburat jingga itu menghilang. Kesunyian pecah. Suara klakson dari kendaraan bergegas bersahutan. Jakarta kembali pikuk.

Saya segera mencari bunga rumput lain, siapa tahu kerabatnya tersebar di sekitar situ. Bukankah biasanya bunga rumput hidup bergerombol? Saya terus mencari, berjalan perlahan menyisiri pedestrian. Dalam hati saya berbisik; Tuhan tolong beri saya satu bunga rumput lagi…

_________________

gambar diambil dari sini

Republik Togog

Kuberi kau suara
Kau rampok jiwaku juga
Kuberi kau percaya
Tapi kau berfoya-foya

Kukira kau mengabdi
Nyatanya malah menyakiti
Kau tega buang nurani
Tugas suci dikhianati

Di mana-mana Togog
Togog di mana-mana
Republik, Republik Togog
Pencuri di mana-mana

Republik Togog, Republik Togog
Memaksa rakyat semakin goblok
Republik Togog, Republik Togog
Dan masa depan di dalam batok

Aku berteriak; Lawan! Tolak! Tolak!
Aku berteriak; Lawan! Tolak! Tolak!
(Republik Togog, Produksi Ke 103 Teater Koma)

Togog membungkus dirinya menjadi orang bijak. Berpura-pura menjadi Tejamantri yang rajin berderma, berhati suci, titisan raja dewa, menjaga tingkah laku dan tutur kata. Padahal, jauh di dalam sana Togog tetap saja Togog. Licik, culas, jahat.

Togog, yang mata-mata kerajaan Gilingwesi ini akhirnya mampu memperdaya Samiaji, raja Amartapura. Togog tidak sendiri, Kalika yang asisten pribadi Durga, ratu sakti dari Setra Gandamayit juga memendam keinginan yang sama; mengacak-acak ketentraman Amartapura.

Untunglah, Drupadi istri Samiaji yang cantik dan setia akhirnya membuka tabir si Togog. Dengan bantuan Panakawan, yakni Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, juga Sri Kresna, Amartapura akhirnya berhasil selamat dari kehancuran. Jimat kalimasada, pusaka para Pandawa berhasil direbut dari tangan Togog. Amartapura pun kembali tersenyum.

Menyaksikan Republik Togog seperti melihat cermin besar, sangat besar, dan bayangan kita ada di dalamnya. Togog dengan banyak rupa, peran dan jabatan telah menjelma dalam skenario kehidupan kita sehari-hari. Togog itu dekat, kita melihatnya di layar televisi, di surat kabar, di forum-forum diskusi, di sampul majalah.

Togog yang berpura-pura sakit setelah kasusnya dilimpahkan ke kejaksaan (sakit mungkin karena gula yang justru diimpornya sendiri), Togog yang memberangus pers dengan mudahnya (Jadi lain kali, kalau tidak senang dengan pemberitaan pers, buat onar saja, rusak kantornya, pukul pemimpin redaksinya, dan tuntut mereka dengan tuduhan menyiarkan suatu berita atau pemberitahuan berita bohong yang menimbulkan keonaran di kalangan rakyat. ANEH!).

Togog yang beraksi serupa dengan tikus, menggerogoti pundi-pundi uang yang mestinya ditujukan untuk kesejahteraan. Membuang muka, tidak peduli rakyatnya kurang makan, mengais rejeki hingga meninggalkan kampung mereka ribuan kilometer dan menemui ajalnya karena jatuh dari apartemen atau dianiaya majikan. Togog yang menciptakan pendidikan semakin tidak terjangkau untuk orang papa. Togog pasti juga menulikan telinganya, hingga tak mendengar kalau di negeri ini seorang Heryanto, siswa kelas VI SD yang berusia 12 tahun berniat mengakhiri hidupnya setelah ibundanya tidak mampu memberi uang Rp2.500 yang diperlukan untuk membayar ekstrakurikuler sekolahnya di Garut.

Dan, o ya, saya hampir lupa, tapi kita punya Togog yang berderma Rp40 milyar (sekali lagi Rp40 milyar), ke yayasan antah berantah. Togog yang baik hati ini sekarang dengan santainya berlenggang kangkung. Tebar senyum di sana-sini.

Ada lagi Togog-Togog, yang semula berseteru karena yang satu jelas-jelas semestinya menyidik yang lain dalam kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia, tapi apa yang ada. Keduanya justru bergandengan tangan, teramat sangat mesra dan maju menjadi calon pemimpin negeri ini. Miris.

Dengan berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus Togog yang mewarnai kehidupan berbangsa, saya jadi tergelitik untuk bertanya, benarkah kita sudah merdeka?

Pemilik Pagi

Bangun pagi di akhir pekan? Jelas bukan saya ahlinya :D. Tapi Sabtu beberapa pekan lalu, saya sudah terjaga di saat matahari pagi masih tersenyum. Saya, Sabtu. Sejak dulu, saya selalu jatuh cinta pada Sabtu.

Saya masih kerepotan dengan korset. Ma’e, ibu saya tercinta, dengan sabar mempertemukan kaitannya satu persatu. Saya lirik kebaya berwarna putih dengan aksen bordir. Saya, Sabtu dan kebaya berwarna putih.

Sekarang giliran rambut. Sehari sebelum itu, waktu lowong yang ada saya gunakan untuk ke salon. Sisa wangi di setiap helainya masih tertinggal. Tapi, menggelung rambut saya pagi itu ternyata satu pekerjaan yang sulit. Lagi-lagi Ma’e, ibu saya tercinta, dengan sabar membantu putri bungsunya ini. Sisir sini, sisir sana, kuncir di tengah, putar, dan rambut saya jauh lebih rapi.

Lipstik senada dengan warna bibir saya sapukan tipis saja. Saya tidak terbiasa bergaul dengan lipstik, rasanya membuat senyum sulit mengembang. Setelah membubuhkan bedak di wajah, saya mematut diri agak lama di depan kaca. Hanya butuh sentuhan sedikit lagi dan saya siap berangkat.

“Harum,” begitu tutur Ma’e, ibu saya tercinta, ketika saya mencium punggung tangannya. “Hati-hati, hak sandalnya itu kok ya tinggi sekali,” ujarnya lagi. Saya tertawa, mengucap salam dan bergegas pergi.

Perempuan lain dengan kebaya putih beraksen payet menyambut saya. Ah, cantik sekali. Senyumnya merekah. Dia bahagia. Perempuan itu, sahabat saya. Dulu kami menghabiskan tiga tahun yang sarat kisah di sekolah menengah. Dan pagi ini, kala sinar matahari terasa hangat di kulit, adalah paginya.

Saat akad nikah berlangsung, pikiran saya berjalan. Harum melati mengiringi perjalanan menelusuri lembaran ingatan. Saya berhenti di satu halaman. Di sana ada saya, teman saya -pemilik pagi hari itu-, dan enam orang perempuan lainnya. Kami, si Vancer. Saya tersenyum mengingatnya. Vancer, kependekan dari delapan ceria. Ketimbang Pancer, kami lebih senang menamakannya Vancer.

Lembaran ingatan saya berhenti di satu halaman saat kami berkumpul kembali setelah satu tahun kelulusan. Berbincang tanpa tujuan. Merenda tawa seperti yang kerap kami lakukan saat seragam abu-abu masih mengisi keseharian.

Dan tahun demi tahun berlalu. Berita bahagia bergantian datang, tertangkap indera dengar. Satu persatu dari mereka menjadi pemilik pagi. Tidak semua pagi melibatkan saya, ada ujian akhir yang tidak bisa ditinggal, konsultasi skripsi yang termasuk dalam kategori wajib, atau mengurus wisuda dan pernak-perniknya. Tapi setelah saya kembali ke Jakarta, saya tekadkan untuk ada bersama mereka saat pagi-pagi bahagia datang.

Pagi ini adalah pagi keenam. Segera setelah ini akan ada pagi ketujuh. Sahabat saya yang lain akan segera menutup tahun dan menjadi pemilik pagi. Belum saya siapkan kebaya putih satu lagi untuk pagi edisi mendatang itu. Tapi pasti akan ada ritual yang sama di rumah. Saya, korset, melirik kebaya putih, menggelung rambut, merias diri (mudah-mudahan di pagi ketujuh nanti saya sudah mahir menyapukan blush on ke wajah), memercikkan wewangian, sandal dengan hak tinggi, dan bergegas ke luar dari rumah dengan rasa bahagia yang berpusat di hati.

Selalu ada doa yang saya rajut untuk mereka, sahabat para pemilik pagi. Berharap segala kemudahan dan keberkahan dari Zat pemilik hidup selalu bersama mereka. Semoga Yang Maha Penyayang tetap mempersatukan mereka, dalam kasih, cinta, tulus, ikhlas, kesetaraan, tanggung jawab. Berbisik agar Yang Maha Pemurah selalu mencurahkan bahagia sampai ujung waktu, hingga senja dan semburat jingga itu datang.

Tulisan ini untuk pemilik pagi.
– Minggu ini ya Den? Selamat ya. Salam saya untuk Rida :)
– Juga untuk Bri. Terima kasih sekali atas undangannya. Kaget sekali, lama tidak terlihat tiba-tiba mengguncang inbox saya dengan surat undangan. Kebetulan di pagi yang kamu pilih ada dua liputan, ke Bandung dan ke Medan. Saya belum tahu yang mana yang ditugaskan untuk saya. Mudah-mudahan keduanya tidak menempel di layar monitor yah, jadi saya bisa segera mencari kebaya putih dan menyaksikan pagi bahagiamu.

Dari Balik Bungkus Permen…

Waktu kecil dulu saya senang sekali melihat sekeliling dari balik bungkus permen. Permainan yang satu ini kerap saya lakukan di atap. Dari atas rumah, duduk di dekat kerimbunan pohon jambu milik tetangga, bersama buku tulis tebal, tempat koleksi bungkus-bungkus permen saya tersimpan. Buku tulis? ya, bungkus-bungkus permen yang tadinya keriting berubah wujud setelah menghuni buku tulis. Perlu beberapa hari untuk mengubah bentuk bungkus-bungkus permen tadi menjadi lebih rapi.

Di dalam buku tulis tebal, tersedia bungkus-bungkus permen aneka warna. Merah, kuning, biru, ungu, hijau, putih, coklat, coklat muda, oranye, merah jambu, hitam, biru tua. Koleksi saya lebih banyak didominasi bungkus-bungkus permen berwarna cerah. Biasanya warna-warna cerah ini membalut permen-permen manis. Rasa strawberry, coklat, mangga, jambu, jeruk dengan sedikit rasa asam. Saya kurang menaruh perhatian pada permen mint. Sesekali saya juga berjuang menghabiskan permen mint untuk mendapatkan bungkus permen berwarna biru tua. Iming-iming coklat di bagian dalam permen sedikit mengurangi ketidaksukaan saya terhadap rasa yang satu itu.

Permainan yang sangat sederhana. Caranya juga sangat mudah. Hanya membentangkan bungkus permen yang sudah rapi dan melihat sekeliling melalui bungkus permen tadi. Saat pilihan jatuh pada warna coklat, dalam sekejab, pucuk-pucuk pohon, atap rumah sebelah, kandang ayam di bawah, jendela rumah, teman saya yang berjalan di pekarangan, tiang listrik, semua yang terekam dalam indera penglihatan saya berubah menjadi coklat. Nyaman. Teduh.

Suasana ceria seketika hadir saat bungkus permen merah jambu menjalankan tugasnya. Langit merah jambu. Awan merah jambu. Burung merah jambu. Kalau desir angin dapat terlihat, desir angin pun pasti menjadi merah jambu. Angin merah jambu :D

Biru tua akan membawa kita menuju suasana yang futuristik. Rasanya seperti terbawa ke alam lain yang kerap digambarkan film-film fiksi ilmiah. Kucing saya terlihat seperti makhluk aneh yang datang ke bumi.

Nuansa senja datang melalui bungkus permen warna oranye. Aktivitas melihat sekeliling dari balik bungkus permen warna oranye ini bisa jadi merupakan cikal bakal saya menjadi penikmat senja. Sekarang, setiap kali melihat semburat jingga, nuansa yang sama seperti bertahun-tahun lalu, duduk di atas atap dengan buku tulis tebal tempat koleksi bungkus permen, di dekat kerimbunan pohon jambu milik tetangga, masih juga hadir.

Dari balik bungkus permen, saya mendapati dunia berganti-ganti rupa. Berubah mengikuti warna-warna yang saya pilih. Sekarang mungkin saya harus kembali melakukan permainan ini. Melihat sekeliling dari balik bungkus permen. Rasanya sudah saatnya mengganti bungkus permen kelabu yang saya pilih dengan warna yang lebih mendatangkan perasaan nyaman.

(Belakangan mood saya cepat sekali turun. Pikiran saya juga kurang fokus. Naskah sering telat. Dua kali saya menuju tempat yang salah. Terbengong-bengong dengan suksesnya di Hotel Hyatt, padahal acara pagi itu berlangsung di Hotel Hilton –Dan parahnya, perjalanan dari kantor ke Hyatt melewati Hotel Hilton–. Beberapa hari berikutnya, saya malah ke Hotel Aryaduta, padahal nara sumber jelas-jelas mengatakan tempat pertemuan siang itu di Hotel Borobudur. Kacau! Addduh Atta, apa yang tengah terjadi padamu? )