Suratku…

Jakarta, 6 Juli 2004

Hai. Apa kabar?

Hari ini aku hanya ingin menulis untuk kamu. Minggu kemarin ada pertemuan kecil-kecilan. Tidak banyak yang datang. Justru karena pesertanya sedikit, aku jadi semangat. Pertemuan dalam skala besar biasanya malah membuat kita kurang konsen.

Aku datang paling awal. Duduk di lobi. Dan masih duduk di lobi saat Vera datang. Irwan menyusul tak lama kemudian. Setelah itu gantian Dewi yang muncul. “Gatot masih cari parkir, rame juga ya hari ini,” tutur Nyonya Gatot ini seraya tersenyum. Dewi tampak lebih manis. Dia merubah sedikit gaya rambutnya, jadi berponi gitu.

Berkumpul sore itu rasanya seperti mengulang satu film. Berputar. Pelan. Tanpa Suara. Rasanya seperti berada di Solo, Fisip, sudut kampus, bunga kuning kecil luruh dari pokok pohon.

Setelah mendapatkan tempat duduk yang nyaman. Kami mulai bercerita. Vera makin mahir bertutur tentang dunia periklanan. Vera dan iklan, sejak kuliah sudah terbayang dia akan meniti karir di jalur ini.

Di sela-sela obrolan, Yoyo dan istrinya, Mia, bergabung. Berita pernikahan mereka sudah sampai ke telingamu belum ya? Yoyo, yang dulunya mahasiswa gaul, penyanyi band beraliran Ska dan terkenal cuek ini mempersunting Mia, adik kelas kita yang beda jurusan, bulan April yang lalu.

Setelah itu Tuwi dan Johan datang. Tuwi sekarang di Jakarta. Johan juga. Tahun ini tahun keenam kebersamaan mereka. Awet ya? Pasangan ini tak banyak berubah.

gath1

Gatot punya panggilan baru. Gompal. Itu gara-gara kepalanya terkena lemparan batu saat ia meliput demonstrasi. Sekarang si Cameraman ini tak lagi berurusan dengan kriminal dan politik, liputannya berpindah dari kafe ke kafe, narasumbernya artis dan selebritis. Baru saja ia pulang meliput konser Krisdayanti di Singapura.

Malam itu, Yoyo, Irwan dan Gatot berbicara seputar pekerjaan mereka. Soal rating, Jejak Petualang, produser yang kadang-kadang ajaib, juga satu acara News yang belakangan sudah tidak ada lagi. Heran, meskipun satu kantor, ternyata mereka jarang bertemu. Kalau ada kamu, pasti seru ya. Bukankah tempat kalian berkarya berinduk pada satu nama? Perusahaan media yang makin menggurita dari hari ke harinya.

Johan juga sesekali nimbrung. Asisten produksi untuk sebuah tayangan, yang menurutnya garing ini, bukan lagi Johan yang pemalu. Impiannya untuk hidup di desa, lengkap dengan hijaunya sawah dan memelihara burung pelan-pelan mulai pudar. Sekarang, setiap hari yang ia temui justru pangkalan taksi di bilangan Mampang, tak jauh dari kantornya.

Senang sekali melihat mereka bercerita. Mendapatkan pekerjaan sesuai dengan minat. Berkarya di media audio visual, persis seperti yang mereka rintis saat kuliah dulu.

Oh ya, mereka juga titip salam untuk kamu. Menanyakan kabar terakhirmu.

gath2

Dalam perjalanan pulang, parasmu sesekali muncul di antara kaca-kaca bercahaya sepanjang Sudirman. Dalam hati aku berpikir keras, bagaimana menyampaikan salam mereka. Belakangan kamu makin jarang mengangkat ponsel. Tenggelam dalam beragam editan dan tata letak setiap harinya. Teknologi tak banyak menolong rupanya. Kamu semakin tak terjangkau. Menulis surat ini tidakkah sebuah bentuk kesia-siaan? kamu bahkan tak tahu halaman putih ini ada.

Malam itu, yang terpikir hanyalah cepat sampai di rumah. Ingin roda taksi menggelinding lebih cepat. Ingin segera tidur tanpa bermimpi. Dan segera berkutat dengan pekerjaan, deadline yang sebentar lagi tiba, undangan luar kota, redaktur, ruang redaksi di lantai 6, meja kerja dengan sepuluh kuntum bunga matahari.

Dan Jakarta makin dingin, tapi bukan, ini bukan sedih, ini hanya rindu…

24 thoughts on “Suratku…

  1. Pingback: Keno

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *