Malaikat Kecil

bayi terlelap

A baby is an angel whose wings decrease as his legs increase — Unknown

Saya selalu menyambut berita kelahiran dengan senyum. Malaikat kecil, dengan mata yang terkadang mengerjap kala tertimpa cahaya, dan jari-jari mungilnya. Ajaib. Membayangkan mereka tumbuh dan hidup dalam rahim perempuan-perempuan, yang tidak hanya kuat, tapi juga sabar dan penuh kasih.

Bayi melengkapi daur hidup. Layaknya daun-daun baru yang bermunculan di sela-sela ranting pohon, menggantikan daun-daun kering yang jatuh terhempas angin. Kelak, tapak-tapak mungil itu akan bergerak, menorehkan sentuhan, bias juga warna pada perjalanan kisah yang mereka buat. Menguntai asa. Melewati getir. Mengurai tawa. Merancang skenario hidup.

Dan saat ini wajah saya tengah dihiasi senyum. Berita kelahiran itu datang lagi. Malaikat kecil yang hadir di pelukan teman dan sahabat. Malaikat kecil yang melengkapi daur hidup…

Tulisan ini untuk bayi-bayi hebat…

Muhammad Salik Arete, putra dari Yogi, teman liputan yang baik hati.
Mikail Randu Rayyana, putra dari Bagja, sahabat senja yang cerdas. Jadi bapak? mesti seneng banget ya? :D
Fabian Suyitno, putra dari Ibu Durin, Ahhh mama…you often sang it in your heart all these times for 9 months…
Harsya Nail Latif, putra sahabat saya tercinta, Yeni

Dari empat malaikat kecil ini, baru Harsya yang merasakan pelukan Tante Atta. Are ada di Bandung, Mika ada di Lampung, dan Fabian… Wah, kita terpisah benua ya dek…

Hey … Lihat!

Hey… Lihat!
Apa?
Itu, di atas sana, putih, berarak
O.. itu awan kasih
Awan kasih?
Ya, awan kasih yang lembut, terbentuk dari titik-titik rindu yang menguap. Awan kasih itu untukmu.

Hey … Lihat!
Apa?
Itu, di atas sana, berkelap-kelip, di langit
O… itu bintang yang kuambil malam tadi
Bintang yang kauambil malam tadi?
Ya, satu dari tujuh bintang utara yang kuambil untukmu.
Bagaimana caranya?
Naik ke atap dan memikirkanmu. Dalam sekejap, bintang itu dengan mudahnya kugapai. Kutaruh lebih dekat, agar dapat menerangi lelapmu saat malam tiba. Satu dari tujuh bintang utara itu untukmu.

Hey … Lihat!
Apa?
Itu, di sebelah sana, mekar, semerbak
O… itu kembang harap
Kembang harap?
Ya, kembang harap. Mekar dan wanginya bertambah seiring dengan harap yang kuucap dalam doa. Kembang harap itu untukmu.

Hey … Lihat!
Apa?
Itu, di atas sana, di barat langit
O… itu lantunan senja
Lantunan senja?
Ya, lantunan senja. Kala senja tiba, langit akan menyanyikan nada terbaiknya menghasilkan lantunan senja, komposisinya terpatri di barat langit dengan semburat jingga nan elok. Lantunan senja itu untukmu.

Hey… Lihat!
Apa?
Itu, di sana, tinggi, menjulang
O… itu bukit rindu
Bukit rindu?
Ya, bukit rindu. Setiap rindu yang terbersit dalam hati, tumbuh menjadi bukit rindu. Bukit rindu ini untukmu.

Hey … Lihat!
Apa?
Itu, di sana, rintik, ritmis
O… itu gerimis bahagia
Gerimis bahagia?
Ya, gerimis bahagia. Saat tawamu berderai, gelakmu terurai, bahumu terguncang dan matamu mengecil, gerimis ini turun. Sengaja aku memilih sore hari. Setelah rintiknya usai, kau dapat mencium aroma tanah dan menghadirkan aku disana. Gerimis bahagia ini untukmu.

Hey… Lihat!
Apa?
Itu, di sana, berdua, bersisian
O… itu kita sayang
Kita?
Ya… kita. Berdua. Bersisian. Melangkah menuju rumah senja yang kita bangun. Rumah senja dengan awan kasih, satu dari tujuh bintang utara yang aku ambil, kembang harap, lantunan senja, bukit rindu dan gerimis bahagia. Kita. Berdua. Menuju rumah senja. Dan memelukmu dari belakang, mencuri harummu, mengagumi gelakmu, menikmati menit-menit yang kita habiskan bersama, mengecupmu di lengkung alis, kala jemari kita bertautan. Cepat sedikit sayang. Rumah senja itu tampak semakin jelas…

Sabtu, Binar Mata, Senyum, Tawa…

Sabtu…

naik rumah pohon
naik ke rumah pohon

Binar Mata…

tiga serangkai
saya, Obin dan Shanty. Lihat sepatu bot merah yang dikenakan Obin. Keren kan?

Obin main pasir
Obin dan Ayah Obin. Obin betah main pasir. Nggak panas ya Bin? :D Bak pasir yang ini lumayan luas ya?

Senyum…

tiga serangkai2
Kali ini giliran Bunda Neenoy, Obin dan Shanty

memilih telur coklat
Dari tas Shanty keluar telur-telur coklat :D Putih, kuning, merah, ungu, hijau. Yang mana ya yang paling enak?

Tawa…

empat serangkai

Rasanya tak salah jika saya jatuh cinta pada Sabtu. Manis. Renyah. Penuh dengan untaian kisah. Saat-saat berbagi ceria dengan teman, sahabat dan keluarga. Meski terkadang, ada satu dua Sabtu yang dihabiskan bersama komputer, meja dengan sepuluh kuntum bunga matahari, juga aroma ruang redaksi di lantai enam.

Tapi, saya tetap jatuh cinta pada Sabtu. Karena Sabtu adalah kumpulan binar mata, senyum, tawa…

Template Hadiah … Cantik Ya?

Dulu saya sempat berkata, “lebih baik menulis feature yang butuh 8500-an karakter huruf, ketimbang menulis berita yang biasanya tersusun dari 4000 karakter huruf”

Tapi dua malam yang lalu, perkataan tadi berubah menjadi “lebih baik menulis berita yang tersusun dari 4000 karakter, dalam suasana deadline sekalipun, ketimbang merubah lay-out alias tampilan halaman putih ini” :D

Untunglah bantuan jarak jauh dari seorang teman yang baik hati membantu saya mengatasi kesulitan. Bisa dibilang, yang saya lakukan hanya mengikuti panduannya.

+ kerjain di Dreamweaver dulu aja mbak
– dreamweaver? dimana?
+ itu program file
– Ndak punya (dengan diimbuhi ikon menangis di akhir kalimat)
+ oke. oke. jangan panik. kita ganti ke plan B. template yang ada dihapus semua. jangan lupa disave. udah gitu template yang baru dicopy paste. lalu… (dan percakapan dari ruang obrolan maya malam itu bergulir)

Cerdas. Itu yang terlintas di kepala saya, saat penggagas April Project 2003 ini ahirnya menemukan cara termudah merubah lay-out. Setiap langkah yang diberikan bisa dicerna, bahasanya juga tidak rumit. Lala akhirnya turun tangan saat beberapa kali update template di klik, halaman putih ini masih dalam keadaan kurang memuaskan. (Adduh, saya memang bukan murid yang baik :D)

Dan Cringggg…. Negeri Senja, halaman putih yang saya bangun dari sebuah meja dengan sepuluh kuntum bunga matahari, imajinasi yang tumbuh dari kepala seorang perempuan di pertengahan dua puluhan ini pun berganti rupa.

Template baru ini template hadiah… Cantik Ya?
Hadiah ulang tahun saya yang jatuh di April yang juga sama cantiknya dengan template ini. Hadiah dari seorang teman yang juga sama cantiknya dengan template ini. Tidak hanya merancang template, dia juga membuat logo untuk Negeri Senja. Dua perahu yang berlayar saat semburat jingga turun…

Template baru ini template hadiah… Cantik Ya?

Terima kasih untuk Okke dan Lala, juga untuk Thomas.

Imajinasi

albert

Imagination is more important than knowledge — Albert Einstein

Bagus ya?
Bukan gambarnya :D Saya hanya fotografer amatiran. Tapi kalimat di poster itu, bagus ya?

Gambar ini diambil saat saya melintasi underpass menuju Esplanade Theatre. Sendiri saja, dengan ransel hitam di punggung, memanfaatkan sisa waktu sebelum kembali ke Jakarta. Tengah hari yang bersahabat.

Imagination is more important than knowledge — Albert Einstein

Bukan berarti pengetahuan tidak penting. Sinergi keduanya, imajinasi dan pengetahuan, justru akan menghasilkan ramuan yang lebih menarik, terkadang menuai senyum, menumbuhkan inspirasi, rasa bahagia, perasaan haru, juga beragam nuansa lain yang membuat hidup sedikit lebih berwarna.

Saya jatuh cinta pada Harry Potter. Seorang JK. Rowling membingkai cerita ini dengan segudang imajinasi. Hogwarts, Lord Voldemort, Muggle, Dumbledore yang bijak, Sirius Black, Dementor, Hogsmeade, Quidditch, Kementerian Sihir, Nimbus 2000 dan mantra sihir favorit saya Expecto Patronum. Untuk saya, Harry Potter adalah salah satu keajaiban kecil.

Imajinasi bisa jadi juga mampir pada seorang penulis. Saya lupa namanya. Cerita tentang si sulung yang kepalanya ditumbuhi pohon pare tetap melekat di benak saya hingga kini. Si sulung yang pembohong, pemalas dan sombong akhirnya menerima hukuman yang setimpal. Pohon pare yang tumbuh, menjulur di kepala? Apa lagi namanya kalau bukan imajinasi.

Sejak saat itu, saya belajar untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan hak saya. Belajar untuk tetap jujur dan berlaku lurus. Awalnya karena saya takut membayangkan terbangun di satu pagi yang jingga dengan sebatang pohon yang tumbuh di antara helaian rambut. Tapi lambat laun, seiring dengan bertambahnya pengetahuan, dan saya tahu pohon (tidak hanya pare, bisa juga jati atau pohon randu :D) hanya bisa tumbuh subur di kepala dalam dunia imajinasi, nilai-nilai positif yang dibawa cerita tadi tetap saja lekat.

Imajinasi juga tumbuh dalam lirik. Dibalut nada-nada yang manis, ragam alat musik yang berpadu, menuai satu harmonisasi. Dan lagu menjadi wahana baru bagi apa yang dinamakan imajinasi.

I will fly into your arms
And be with you till the end of time — I will Fly dari ten2five

Terbang, tinggi, menerobos awan, menjemputnya, meraih tangannya, merengkuh erat, memeluknya pelan, jangan takut terjatuh aku ada di sini, merasakan percakapan angin, memberi kecupan terbaik di kening, tertawa ditingkahi rinai hujan, bercanda dalam semburat jingga saat senja turun. Apa yang membuat aktifitas menyenangkan tadi menjadi mungkin? Jawabnya adalah imajinasi.

Dan kalian tahu, imajinasi jualah yang membuat halaman putih ini tetap ada hingga hari ini, Negeri Senja yang dibangun dari sebuah meja dengan sepuluh kuntum bunga matahari. Imajinasi yang tumbuh dari kepala perempuan di pertengahan duapuluhan.

Imajinasi yang juga hadir lewat halaman-halaman yang kalian buat. Imajinasi akan tersulamnya jejaring pertemanan. Imajinasi tentang orang-orang berhati baik dengan sekotak kasih di ujung sana, orang-orang berhati baik penuh senyum, orang-orang berhati baik yang tertawa, orang-orang berhati baik dengan senja dalam genggaman, orang-orang berhati baik … kalian semua.