Meski Tanpa Tanda Di Kening…

Saya masih menelusuri jalan aspal antara kampus Fisip dan Sastra. Lamat-lamat suara dosen pembimbing skripsi terngiang kembali di indera dengar…

“Semiotika itu metodologi yang diaplikasikan di beragam keilmuan. Jadi jangan cuma berkutat dengan hasil penelitian yang ada di Fisip saja. Sesekali cari referensi, bagaimana Sastra atau Seni Rupa mengaplikasikan wacana Barthes atau tokoh Semiotika lainnya, bagaimana mereka mengaplikasikan Semiotika untuk menginterpretasikan beragam tanda dalam konteks keilmuan mereka”

Jurusan Sastra dan Seni Rupa ada di atap yang sama. Kampusnya hanya terpaut beberapa meter dari kampus saya.

Bangunan kampus Seni Rupa mulai tampak, melewati studio keramik, mengambil jalan pintas, lapangan parkir, dan tibalah saya di halaman kampus sastra. Beberapa bulan lalu saya juga sempat kesini, menikmati pertunjukan teater. Yang saya ingat, perpustakaan ada di lantai tiga. Saya melangkah mendekati anak tangga, hingga…

Saya mendapatinya disana, meski berbaur dalam rombongan mahasiswi, pandangan mata saya tetap dapat menangkap sosoknya. Dari tempat saya berdiri, saya melihat, lengkung alis yang mempermanis wajah ovalnya. Angin Agustus yang kering memainkan helai rambut yang terurai.

Gadis manis dengan rembulan. Terpaut tiga angkatan dibawah saya, jadi sementara saya berkutat dengan pernak-pernik skripsi dan tahun-tahun terakhir di kampus, dia justru tengah dihujani semangat berorganisasi. Geraknya cepat, gudang ide memenuhi kepalanya.

Gadis manis dengan bulir gerimis. Yang akhirnya mendaratkan sampannya di lautku. Tidak kau temukankah pelabuhan yang lain? Kenapa harus laki-laki dengan semburat jinggaku?

Saya berdiri. Mematung. Menahan langkah. Mengatur nafas, hingga…

– “Kalau Tuhan memang mengirimkan pasangan jiwa untuk kita, kenapa Tuhan tidak menciptakan skema perlindungan,” ucap saya pada seorang teman, sore itu, di bangku kayu, di pelataran kost kami.

+ “Tuhan tidak mengirimkan pasangan jiwa, kita yang harus mencarinya. Mmm… skema? skema perlindungan bagaimana?” ia menurunkan buku yang tengah dibacanya. Pandangannya mengarah ke wajah saya.

– “Skema perlindungan untuk terus menjaga kita dan pasangan jiwa”

+ “Maksudmu?”dia memutar tubuhnya. Sekarang kami benar-benar berhadapan.

– “Semacam tanda, di satu tempat yang mudah terlihat, di kening misalnya, penanda yang jelas jika sesuatu terjadi pada hubungan yang sedang berjalan. Ketika seseorang membina kasih dengan orang lain yang bukan pasangannya, meski mereka tertawa, tanda itu memancarkan cahaya yang redup, gelap dan orang-orang di sekeliling tahu mereka tengah terlibat hubungan lain,” tutur saya sambil melipat kaki di atas kursi.

Kami terdiam sejenak.

– “Kira-kira kenapa ya Tuhan tidak menciptakan itu?”

Dia tetap terdiam. Menggelengkan kepalanya. Saya menunduk. Yang saya rasakan kemudian adalah usapan lembut di punggung. Teman saya menggeser duduknya, mendekat. Dalam sekejap, usapan dan juga genggaman tangannya meluruhkan sesak yang tiba-tiba memenuhi rongga dada…

Setelah puluhan purnama, ratusan senja, dan kilauan bintang yang ditelan masa, akhirnya terlintas jawaban dari pertanyaan saya sore itu…

Kenapa tidak ada tanda di kening?

Adalah untuk belajar memaafkan, menepiskan dendam, meminggirkan pilu, mengusir luka, merajut kembali kepercayaan. Meresapi, ada kalanya kita, dan orang-orang di sekeliling, mengambil pijakan yang bisa jadi salah. Bahwa hidup seringkali tidak berjalan serasi seperti cetak biru yang kita rencanakan.

Saat berhasil mengatasi ini, satu pelajaran hidup telah kita petik. Bersiap menyambut fajar dengan secercah senyum.

Perih yang sesekali mungkin masih datang berkunjung, menyadarkan kita untuk tidak melakukan hal yang sama pada seseorang yang menempati ruang kecil di sudut hati.

Dan … adalah untuk belajar setia meski tanpa tanda di kening…

Reriungan Kecil…

bareng1

Samuel, berkacamata, riang, tahu banyak soal pesawat, cerdas. Penuturannya tentang persiapan pernikahannya dengan Grace, istri tercintanya, yang harus bolak-balik Jakarta-Kuala Lumpur, menjadi topik yang amat sangat menarik untuk disimak.

Grace, istri Samuel, manis, berkacamata, malam itu wajah riangnya terlihat dalam temaramnya lampu, saat obrolan bergulir ke arah masakan Indonesia. Dan terlihat lebih riang lagi kala ia berbagi kisah mengenai pertemuannya dengan Samuel. Ada kasih yang menyelimuti mereka…

Yuliana, ramah, cerdas, satu-satunya peserta reriungan yang tidak berkacamata, lucu, saya suka ekspresi wajahnya saat ia berbicara, menyenangkan. Malam sebelum reriungan kami sempat mengobrol via telepon. Dan saya makin yakin, saya harus menyempatkan waktu untuk bertemu sahabat senja yang satu ini.

Voldi, suami Yuliana, sama seperti Samuel, Voldi juga tahu banyak soal pesawat. Senang mengumpulkan miniatur pesawat dan pernak-perniknya, termasuk membawa kamera ke bandara untuk mengambil beragam pose pesawat. Voldi juga punya gaya bercerita yang asyik.

bareng_02

Mestinya saya sudah kembali ke Jakarta Kamis pagi, setelah acara sarapan bersama dengan pucuk pimpinan perusahaan penyedia jaringan yang mengundang saya dan tiga jurnalis lainnya. Tapi, setelah mendapat lampu hijau dari redaktur dan tiket juga hotel yang dijadwal ulang, saya akhirnya masih bisa bertahan di Singapura hingga Jumat Malam.

Dan Kamis malam, di Clark Quay, satu meja di sudut dipenuhi gelak. Saya kembali bertatap muka dengan sahabat senja. Senang sekali bisa diterima dengan ramah. Sungguh satu sambutan yang hangat…

Obrolan bagai air mengalir. Beragam kisah lewat dan menghiasi makan malam kami. Mulai dari busway, nilai ujian nasional yang dikonversi, Plaza Semanggi, Plaza EX, bagaimana mereka bertemu, bagaimana mereka mempersiapkan pernikahan, kehidupan mereka di Singapura, rumah baru Voldi dan Yuliana, hingga teh botol dan sayur asam. Ah ya, tape… si tape juga sempat masuk ke dalam obrolan. Kondisi politik di Tanah Air yang kian hangat juga hadir dalam reriungan kecil itu.

Senang sekali bisa menghabiskan malam bersama mereka. Bertemu wajah-wajah ramah membuat kunjungan singkat saya ke negeri tetangga ini menjadi semakin berwarna. Hampir tengah malam saat mereka berdiri di dekat tempat pemberhentian taksi, menunggu saya hingga masuk ke dalam taksi, dan perlahan sosok keempatnya tampak samar dalam kerlap-kerlip lampu …

Terimakasih untuk Yuliana dan Voldi, juga Grace dan Samuel, mudah-mudahan kali kedua kita bertemu nanti, jumlah pesertanya sudah tidak ganjil lagi ya…. Dan giliran saya yang bercerita repotnya mengurus pernikahan :D

Pamit…

Mata saya tertumbuk pada satu iklan di harian umum yang biasa menemani pagi jingga saya. Sebuah perhelatan yang menjadi ajang perkenalan teknologi baru. “Seru juga kalau bisa datang dan melihat langsung,” begitu pikir saya waktu itu. Dan angan si pemimpi ini melambung, tidak terlalu tinggi, hanya mereka-reka berapa kira-kira biaya yang dikeluarkan jika bepergian sendiri.

Ternyata jadi pemimpi itu menyenangkan. Selang beberapa minggu setelah itu, merpati putih yang membawa keajaiban datang, ia merubah bentuknya menjadi redaktur saya, berkacamata dan tersenyum. Menyerahkan sepucuk undangan dari sebuah penyedia infrastruktur komunikasi untuk melihat acara yang saya idam-idamkan.

Saya pamit. Tidak lama. Masih banyak yang ingin saya ceritakan pada kalian. Tentang Krakatau di akhir pekan lalu, permainan paint ball pertama saya (lengkap dengan seragam loreng dan senapan yang menyalak garang), berbagi mimpi-mimpi lainnya, juga kisah lima jam saya bersama Abang beberapa pekan lalu (iya.. kamu, yang di sudut, addduh… jangan tersenyum-senyum begitu dong :D).

Saya pamit. Banyak rindu untuk kalian. Titip rumah senja saya ya…. (tolong jangan lupa menyiram Krisan putih di kebun depan, saya baru menanamnya tiga hari yang lalu…). Sampai bertemu lagi, jaga diri kalian dan tetap jadi orang baik ya…

Salam

atta

ps : maaf belum membalas shout box dan komen. terima kasih juga untuk doa dan ucapan “semoga lekas sembuhnya”. batuk saya sudah berkurang. suara saya juga mulai kembali normal. sudah bisa tertawa dan berteriak kembali. sudah mulai meliput dan dilanda kebingungan karena deadline semakin dekat sementara saya belum membuat apa-apa. Oh iya, sekali lagi tolong…jangan lupa Krisannya yah :)

Sakit…

Dari dulu saya tahu ada yang tidak beres dengan tenggorokan saya. Biasanya setelah aktifitas yang padat, si tenggorokan ini mulai menunjukkan reaksi yang tidak bersahabat. Dan minggu-minggu kemarin, lagi-lagi, tenggorokan saya berulah. Padahal pertahanan sudah saya buat setebal mungkin. Mulai dari menghindari minuman dingin hingga mengkonsumsi obat batuk dan vitamin.

Pertahanan yang gagal, karena bukannya berdiam diri dan istirahat, akhir pekan yang lalu saya malah melancong ke Krakatau. Berangkat dengan kondisi yang tidak fit, membuat saya mabuk laut sepanjang perjalanan Tanjung Lesung – Rakata, anak Krakatau. Dan hanya cukup puas dengan naik hingga pinggang gunung… (bukan punggung, apalagi puncak) Saya yang bandel. Masih juga ikut berenang di laut saat kapal merapat di Krakatau Besar.

Dan disinilah saya sekarang. sakit. batuk. suara serak. malas kerja. badan saya juga agak panas. kepala pusing. sedih. mood yang jelek. dan rasa bosan yang teramat sangat.

Yang benar-benar saya perlukan sekarang adalah berbaring, sejenak, dengan alas tidur yang empuk dan hangat juga bantal-bantal kecil. Mendekap. Didekap. Dan terjaga di pagi yang jingga, srengenge di timur… juga kecupan lembut.

sesuatu

sesuatu yang tertunda bukan berarti tak mungkin…

untuk kamu, kita, rindu, harap, asa, jalinan doa, khayal, angan, rajutan mimpi, serpihan kasih
untuk kalian, hidup, air mata, cinta, rangkaian hari, senyum
untuk segala yang tumbuh dan bergerak di muka bumi

sesuatu yang tertunda bukan berarti tak mungkin…