Saat Dekat Kembali…

ferry2

Bagaimana rasanya terpisah selama hampir satu tahun dengan orang yang dicintai? terpisah jarak, berpindah-pindah lokasi di dalam hutan, menjemput malam sendiri, memendam rindu yang sangat pada irama tawa si buah hati, selarik senyum dan sentuhan hangat belahan jiwa, harum rumah atau pada stasiun televisi tempatnya berkarya.

Bagaimana rasanya terpisah selama hampir satu tahun dengan orang yang dicintai? kehilangan teman terbaik dalam sebuah bentrokan senjata, proses pembebasan yang mengalami penundaan, menjadi bagian (atau korban?) dari sebuah perseteruan sesama anak negeri, rangkaian doa yang tak putus untuk sebuah akhir yang baik.

“Bagaikan mimpi,” ujar Ferry Santoro saat menyadari angin kebebasan telah kembali dihirupnya. Bobotnya memang berkurang sekitar 20 kg, kulitnya juga semakin legam, tapi raut muka juga binar matanya menjadi penanda adanya kebahagiaan tak terperi.

Saat dekat kembali. Selarik nada dari nyanyian angin menyapa wajah-wajah kita, ya … aku dan kamu, pagi itu di Sepinggan. Kebingungan memilih kata, berharap setiap menit yang ada berlalu tanpa sia-sia.

Kita terpisah tanpa kungkungan, kamu tetap melenggang dan membangun pondasi bagi sebuah skenario masa depan, mulai mengedit dan dipusingkan oleh ulah reporter, juga layout setiap malamnya. Disini aku juga membuka lembaran hari dengan ringan; menulis, rapat redaksi, deadline, menemui beragam sabtu yang cantik.

Kalau kita yang terpisah tanpa todongan senjata dan tak perlu berpindah-pindah di dalam hutan saja merasakan bungkahan bahagia yang begitu besar kala bertatapan pagi itu. Yang dirasakan Ferry Santoro, Mayawati Hendraningrum, istri Ferry dan Ferdian Haryo Santoro, buah hati mereka, pasti berpuluh-puluh kali lipat kebahagiaan yang kita rasakan. Berpuluh-puluh kali lipat…. pasti

keterangan foto : diambil dari kompas cyber media

30 thoughts on “Saat Dekat Kembali…

  1. aku tahu bagaimana rasanya, :P
    rasa kangen itu menyebalkan
    semakin dicoba untuk menghilangkan jejaknya, rasanya semakin kosong

    hihihihihi….untung sekarang udah enggak lagi ;)

    *hugs*

  2. …………..

    ga tahu nih, yg mau dikomentarin pertemuannya ferry santoro dan keluarga atau pertemuan kamu dan seseorang di Sepinggan.

    yg jelas saya bersyukur dan ikutan seneng (serius!) buat ferry dan keluarganya, dan buat kamu & orang di sepinggan itu. :)

  3. di sepinggan itu, lanjut dengan sebuah pelukan juga gak, tta ?! ;-) *mau tau mode ON*

    salut buat tim negosiator yg tabah dan sabar menjalani semua proses kemarin…

  4. Reportase di Luar Kamera

    : ferry & ersa

    Bisik itu berulang, “Kapan saya pulang?”

    Kita pun sama bimbang, dan rumah datang,
    sebagai bayang-bayang. Jauh memanjang.
    Tinggal satu-satunya pintu:
    mata menuju,
    tanya mengaju.

    Siapa yang asing, di halaman depan kita itu?

    Kita sama tak tahu. Tapi, Rumah adalah
    istri dan anak sebelas bulan menunggu.

    Rumah adalah 5.000 lelaki di hutan Langsa,
    Piedie, Aceh Utara, mengarahkan laras
    senapan ke Jakarta. Melawan. Atau Bertahan.

    Rumah adalah 30.000 serdadu yang mendarat
    darurat. Dengan perintah yang cepat: “Ayo,
    lepaskan seribu peluru, mereka sah diburu!”

    Bisik itu berulang, “Kapan kita pulang?”

    Ada yang tak lagi bimbang. Ketika kita
    pergi tak lagi kembali, dijemput peluru
    yang tak sempat direkam kamera TV.

    Ketika kita tak lagi mesti melaporkan,
    “Tak ada yang harus disampaikan, ini
    peristiwa sederhana: jemputan kematian…”

    Kita sama tahu. Rumah adalah ketika
    kita kembali dari bepergian. Sendirian.

    Mei 2004

  5. Ngertii banget rasanya rindu yg berkepanjangan sperti apa..
    jauh yang membiru tuh sepinya gimana..

    Mudah2an yang disnonya juga sadar kalau dikangeni..

    Salam dari dari benua hitam
    (tapi kalau pas senyum-
    putih pepsodent semua)..

  6. Saya pernah bertugas ke Banda Aceh. Hanya 3 hari, tapi menghabiskan beberapa ratus ribu rupiah hanya untuk berkomunikasi dengan keluarga tersayang (ter disini berbeda dengan ter-nya terjatuh..:D).

  7. Lang juga rindu. Rindu sekali…
    pada Atta penunggu Negeri Angkasa
    Rasanya, telah jauh menghilang…
    Kini… aku bahagia, karena bertemu lagi dengan pengikat hati… :P

  8. Q : hiks. terharu juga liatnya di tipi

    shanty : hug juga ya mbak. miz u much

    si manis : tau2 kepikiran aja mbak. serius ya?…

    hero : kalo entar ke Bali; pertemuan kita bisa dibikin cerita lebih manis. hehehehehe

    eyi : makasih eyi. makasih juga smsnya hari ini ya. mmmuahhh :D

    t.w : tim negosiatornya emang top. sanggup jadi mediator yg baik. pake acara nginep2 di sarang GAM pula. hebat ya?

    bay : mmm.. :)

    imponk : ya. pasti lebih dari itu

    balq: iya. pasti berat menyimpan kenangan itu ya.

    alarix : buat kamu? mmm boleh2. bawa karung gak? :D

    dien : sejuta berpangkat sejuta. :)

    Andy : ya. tak terhingga? berapa pangkat berapa kemaren ndy?

    richoz : setuju pak

    15june : jangan sedih. semua berakhir dengan baik kok.

    HAH : Rumah adalah ketika
    kita kembali dari bepergian. Sendirian. hiks. dalem banget nih pak

    enda : janji harus ditepati ya nda

    Luigi : iya. mudah2an. kamu pasti pakar deh soal rindu dan jarak. hehehe.

    andi : betul banget ndi. kenapa juga sih mesti ada perang? :(

    qky : peace juga….

    luthfie : berasa banget ya pak kalo jauh

    siwoer : eh si bapak. saya mah gak ada yg nawan :D

    emil : kalo baca lagi kok saya juga ikut trenyuh.

    mbonk : lagi? akan ada lagi-lagi yang lain kali mbonk. he’s my inspiration. kekekekek

    ika : happy monday mbak. kemaren aku ketemu nyinyi lho :)

    ninit : betul nit. bingung dan bingung :) tapi bahagiaaa banget

    ilalang : maafkan saya lama tak kesana. apa kabar Lang?

    cici : kalo gak ketemu-temu bermain2nya gak menyenangkan lagi :(

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *