Historical Island Adventure

mercusuar spanduk laut mercusuar2

Lihatlah sebuah titik jauh di tengah laut
makin lama makin jelas bentuk rupanya
itulah kapal api yang sedang berlayar
asapnya yang putih mengepul di udara…

Tentu bukan kapal api yang kami lihat saat lagu ini didendangkan. Hanya kapal nelayan, asap dari motornya tampak jelas dari kapal kami, KLM Putra Bugis. Cuaca cerah, langit biru, laut berwarna keperakan tersentuh sinar matahari pagi. Saya bertepuk tangan, membiarkan cahaya sang surya jatuh dan menimpa kulit. Dinta, gadis berusia empat tahun, bersandar di bahu saya dan ikut bernyanyi. Kami bergerombol dengan 10 orang peserta yang lain di sebelah kanan kapal. Di bagian tengah, Sager Family, yang berdarah India duduk dan sesekali melempar senyum.

Tak jauh dari kami, Sokken, yang ini warga negara Belanda dan teman-temannya, dua orang Spanyol dan empat orang Filipina, masih berkutat dengan krem pelindung sinar matahari. Di haluan, seorang murid sekolah fotografi Darwis tampak sibuk merekam setiap momen. Hunting foto dengan film hitam putih membuat ia harus bekerja ekstra keras. Beberapa orang berdiri di dekat layar, seolah menantang angin. Di bagian kiri, ayah dan ibu Danti, membuat reriungan kecil bersama dua orang kakak Danti. Masih ada dua keluarga lagi yang sibuk dengan aneka teka-teki.

Sesekali keriuhan berhenti, semua mata menuju Pak Chan dari Dinas Kebudayaan kala ia menerangkan sejarah pulau-pulau yang tampak dari kapal. “Di sebelah kiri, kalian lihat ada menara, itu dulu pulau Ubi Besar, sekarang sudah tidak ada, pasirnya dikeruk untuk pembangunan Bandara Soekarno-Hatta.”

rame-rame edam atta cipir

Historical Island Adventure. Pertama kali mendengarnya, saya langsung tertarik. Hitung-hitung hadiah ulang tahun dari saya untuk diri saya sendiri. Perjalanan dimulai pagi hari dari Pantai Mutiara, Pluit. Bangun pagi di akhir pekan? jelas bukan saya ahlinya. Tapi, dengan semangat menggebu (maksudnya semangat ibu saya yang menggebu-gebu untuk membangunkan putrinya ini), saya terhitung sebagai peserta yang tiba paling awal.

Dari Pantai Mutiara, sekitar 40 peserta dan kurang lebih 15 orang dari Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia, bertolak menuju Pulau Edam, dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Di Pulau ini, semak belukar mewarnai perjalanan menuju Benteng pertahanan dan Mercu Suar yang dibangun sekitar tahun 1800-an. Duh… impian saya untuk berdiri dan merasakan angin bercanda di wajah saya akhirnya terkabul. Dari ketinggian 56 meter, laut tampak sangat memikat.

Pulau Edam ditinggalkan, Pulau Bidadari menanti. Makan siang, bermain di pasir putih dan mengunjungi Benteng Mortello, menjadi agenda acara di Pulau yang dulunya sempat dijadikan penampungan para pasien kusta.

Harus segera bergerak. Masih ada tiga pulau menanti. Selanjutnya, pelaut-pelaut pemberani meneruskan perjalanan ke Pulau Onrust. Pulau yang menyimpan sejuta misteri, dengan kisah hantu Marianya. Di makam Maria, Sokken berusaha menjelaskan arti puisi berbahasa Belanda yang terukir di batu hitam. Meninggal di usia 28 tahun, konon kabarnya hantu Maria sesekali muncul.

benteng onrust onrust2 laut2

Pulau Onrust makin lama makin mengecil. Saat kami meninggalkannya menjelang senja, menuju pulau yang terbilang masih tetangga Pulau Onrust. Kali ini giliran Cipir. Sisa-sisa Benteng dan Menara masih tampak jelas. Ratusan tahun lalu, ada jembatan yang menghubungkan Pulau Cipir dan Pulau Kelor. Sayang sekali, usaha pembangunan kembali jembatan itu oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta gagal. Jadilah kami kembali ke kapal dan memutar menuju Pulau Kelor.

Dan senja datang. Sebagian peserta berdiri di sisi kiri kapal. Menyaksikan matahari turun ke peraduannya. Saya memandangi semburat jingga dan menyadari betapa senja tidak pernah kehilangan kecantikannya. Senja dan laut, kerjasama yang baik dalam menghasilkan kuasan dengan langit sebagai kanvasnya.

gapura pulang

Senja juga menjadi penanda pelayaran akhir pekan itu harus diakhiri. Kembali ke titik awal dimana perjalanan dimulai, kapal berlayar pelan. Langit perlahan-lahan menghitam. Bintang satu persatu bermunculan. Laut, angin, langit, bintang…. Perlahan-lahan kilaunya digantikan lampu-lampu sorot dari Pantai Mutiara.

Kami berpisah dengan selaksa kenangan yang melekat. Langit, laut, angin, biru, ombak, kapal layar, pulau, mercu suar, senja, bintang… hadiah terindah untuk ulang tahun saya kali ini.

31 thoughts on “Historical Island Adventure

  1. wahh lagi jalan-jalan to, pantesan menghilang aja. Postingan lama gak diapdet.. he he he.. :)

    betul, senja di laut selalu meninggalkan kecantikan ….

  2. waakkk, gak rela, tadi ke sini belum update, jadi gak pertama deh komennya :D

    tta, seru yah… tiwi selalu suka ngeliat senja dari atas kapal laut… cantik !

  3. attaaaaa…mauuuuuuu!!!!! gimana caranya? gimana? aduh, ingin jalan-jalan, tapi gak punya uang karena baru beli ‘mainan’…tapi kalo yang kayak ginian lumayan ramah kantong kan?

  4. wahhhh.. bagussss bannggeeeeett…. eh gue udah ngucapin happy birthday belom yah..?? kyknya belom yaa… happy very2 belated birthday….. =)

  5. Di Dermaga Ararat

    : bagi na’

    Sepasang jejak sampai ke pintu gerbang Dongeng

    : terbuka sepenuhnya, kita tak bisa singgah berkunjung.
    Hingar hewan-hewan, dan si Tua di geladak berlarian.
    Hujan, 40 hari 40 malam memastikan siapa tenggelam,
    siapa sampai ke pendaratan setelah banjir 7 bulan.

    Sepasang jejak itu: jejakmu dan jejakku. Bersilangan.
    Perahu dengan sepasang bimbang, sepasang gamang,
    sepasang resah, sepasang gundah: cuaca tak terduga.

    “Kita kelak mendarat di mana?” — aku menjengkali dada langit
    “Kita kelak berlabuh di mana?” — aku mengilani jarak bintang.

    Jejak itu: satu. Lunas perahu. Banjir besar yang dijanjikan.
    Kita hewan-hewan kedinginan. Belajar saling berdekatan.

    Sepasang jejak itu. Jejakmu jejakku. Turun dari Perahu.

    Mei 2004

  6. uhuy .. hadiah ulang tahun dari diri sendiri .. oke lho hadiahnya jalan2 ke pulau .. dulu pernah ke P Bidadari jaman masih kecil hihihi .. masih bagus Ta ?!

  7. aprian : cuma sehari kok pri. akunya aja yg lagi males ngupdate. :D

    t.w : iya; cantik wi, kaya’ kamu. kudanya gimana tuh?

    bRi : cipir keren ya. kalo onrust enggak deh, takut sama Maria

    Imponk : udah keliatan kan?

    qKy : huahahahahha

    abhirhay : hadiah yang indah bhi. :)

    cici : eh penasaran nih mainannya apa sih?

    ranukama : ini tahunan ji, jadi mesti nunggu tahun depan :D tapi nanti tak kabarin deh kalo ada

    dino : benteng pulau bidadari masih ada pak. gak masuk sampe dalem sih kemaren

    dandy : i’ll send u an email ya.

    simanis : halo mbak. walah kemaren bulannya gak segede tampah

    GreTan : nguras kantong sih. tapi gak papalah. kan hadiah ultah… :D

    shanty : iya mana nih coklatnya?

    ciphie : thanks sist; Lombok malah lebih keren ya :)

    eyi : seneng banget yi

    NUH : masih kerenan pantai disana tuh pak… hehehehe. miss that oil city very much

    ika : hihihi; udah banyak berubah bu. yg pasti berkurang luasnya

    emil : perjalanan kamu juga seru buanget :D

    hero : hmm juga

    erly : ayo jalan2; ajak peyot juga

    dion : hehehehee. kegedean; jadi ditinggal aja di pulau sana

    wendy : pulang ke Indo dulu mbak :)

    Randi : itu masih masuk Jakarta lho. :)

    linda : itung2 manjain diri lin

  8. kalau ada yang mau jalan-jalan ke pulau kelor, onrustm or cipir, kasih tahu saya ya, sekaliak berapa biayanya. thx.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *