Kemarin…

Sekarang tanggal 27 Mei, berarti kemarin tanggal 26 Mei…

Kemarin saya tidak sholat subuh :( tadinya saya pikir tidur sebentar lagi saja tidak akan membuat saya terlelap. Ternyata…

Kemarin saya juga tidak sempat membaca koran pagi. Ritual yang saya lakukan saat membuka mata, biasanya setelah tidur sehabis subuh. Ma’e selalu meletakkan si harian umum ini di sebelah kaki kiri saya. Tak perlu bangun, cukup gerakkan kaki dan koran pagi bisa teraih. Membaca seraya berbaring, kebiasaan buruk yang sukar dihilangkan.

Kemarin saya melihat siswa Taman Kanak-Kanak yang berlatih tari, dalam perjalanan menuju kantor. Iringan musiknya riang. Ibu guru mereka mengamati setiap gerakan. Ramai sekali. Ada tawa. Ada sorak.

Kemarin saya naik TransJakarta, Halo eyi sayang :), tiap naik bis ini jadi ingat kamu lho…. Ada pemandangan menarik di sudut. Kemeja biru. Ransel coklat. Saya hanya memandangnya sekilas. Saat ia turun di halte Mangga Besar, saya baru menyadari bis TransJakarta nomor Jet 001 pagi itu kehilangan penumpang tertampannya. hehehehehe.

Kemarin ada seorang bapak yang membuat kegaduhan di kantor Imigrasi Jakarta Barat. Berdiri. Berteriak-teriak. Memaki. Menendang. Mengumpat. Mukanya merah. Suaranya menggelegar. “Tadi disuruh turun ke bawah, habis itu naik ke atas, suruh ke bawah lagi, maunya apa sih!”. Bapak itu begitu marahnya. Beberapa orang memegangi tangannya, mencoba menenangkan, sementara kaki si Bapak tanpa terbendung terus menendang bangku yang berjejer. Pelayanan publik mestinya tidak serumit itu. Ruangan di lantai dua yang sudah panas, bertambah panas berkat sepotong adegan umpat-mengumpat dengan si Bapak sebagai aktor utamanya.

Kemarin saya kehujanan. Padahal ketika hendak turun dari TransJakarta, saya sudah memilih halte dengan kanopi, tapi titik air yang jatuh tetap tidak bisa dihindari. Jadilah di dalam taksi, saya berkali-kali menyeka wajah dan rambut saya yang basah. AC yang tidak seberapa jadi terasa begitu dingin.

Kemarin saya melihat bunga matahari. Di pinggir jalan. Beberapa kuntum. Tangkainya sedikit merunduk diterpa hujan.

Kemarin saya liputan ke Roxy Mas, pusat pertokoan handphone. Bertanya ini itu. Tentang beberapa ponsel yang releasenya saya terima minggu ini, sebagian produk belum tersedia di pasar. Mampir ke toko yang biasa dijadikan rujukan, duduk dan bercakap-cakap. Adduh kenapa O2 XDA II semakin menarik saja ya? hahahahaha. terus bermimpi ya Atta.

Kemarin saya melihat kupu-kupu cantik di atas daun palem. Sayapnya hitam. Terbang dengan gemulai. Dari satu daun ke daun lain.

Kemarin kepala saya pusing. Tapi tak bisa menolak tawaran sahabat lama saya. Dia datang ke lantai enam, tempat saya bermarkas. Berdua kami melanjutkan obrolan di sebuah plaza dekat kantor. “Gue nikah, tanggal 5 besok”. Dan saya terbengong-bengong dengan suksesnya. Tapi saya senang. Akhirnya sahabat saya terkasih menemukan lautnya…

Kemarin saya minum milk shake coklat. Enak. Dan kepala saya tetap pusing.

Kemarin saya berbaring, setelah menenggak obat pengurang sakit kepala. Menikmati pijitan Ma’e di tangan dan kening, meski hanya sebentar. Mendengarkan suara Chris Martin mengalun.

So then I took my turn … oh what a thing to have done…and it was all yellow.

Menunggu kantuk menjemput. Mengucap doa sebelum tidur Bismikallahhumma ahyaa wa bismika amuutu. .

Saat Dekat Kembali…

ferry2

Bagaimana rasanya terpisah selama hampir satu tahun dengan orang yang dicintai? terpisah jarak, berpindah-pindah lokasi di dalam hutan, menjemput malam sendiri, memendam rindu yang sangat pada irama tawa si buah hati, selarik senyum dan sentuhan hangat belahan jiwa, harum rumah atau pada stasiun televisi tempatnya berkarya.

Bagaimana rasanya terpisah selama hampir satu tahun dengan orang yang dicintai? kehilangan teman terbaik dalam sebuah bentrokan senjata, proses pembebasan yang mengalami penundaan, menjadi bagian (atau korban?) dari sebuah perseteruan sesama anak negeri, rangkaian doa yang tak putus untuk sebuah akhir yang baik.

“Bagaikan mimpi,” ujar Ferry Santoro saat menyadari angin kebebasan telah kembali dihirupnya. Bobotnya memang berkurang sekitar 20 kg, kulitnya juga semakin legam, tapi raut muka juga binar matanya menjadi penanda adanya kebahagiaan tak terperi.

Saat dekat kembali. Selarik nada dari nyanyian angin menyapa wajah-wajah kita, ya … aku dan kamu, pagi itu di Sepinggan. Kebingungan memilih kata, berharap setiap menit yang ada berlalu tanpa sia-sia.

Kita terpisah tanpa kungkungan, kamu tetap melenggang dan membangun pondasi bagi sebuah skenario masa depan, mulai mengedit dan dipusingkan oleh ulah reporter, juga layout setiap malamnya. Disini aku juga membuka lembaran hari dengan ringan; menulis, rapat redaksi, deadline, menemui beragam sabtu yang cantik.

Kalau kita yang terpisah tanpa todongan senjata dan tak perlu berpindah-pindah di dalam hutan saja merasakan bungkahan bahagia yang begitu besar kala bertatapan pagi itu. Yang dirasakan Ferry Santoro, Mayawati Hendraningrum, istri Ferry dan Ferdian Haryo Santoro, buah hati mereka, pasti berpuluh-puluh kali lipat kebahagiaan yang kita rasakan. Berpuluh-puluh kali lipat…. pasti

keterangan foto : diambil dari kompas cyber media

Historical Island Adventure

mercusuar spanduk laut mercusuar2

Lihatlah sebuah titik jauh di tengah laut
makin lama makin jelas bentuk rupanya
itulah kapal api yang sedang berlayar
asapnya yang putih mengepul di udara…

Tentu bukan kapal api yang kami lihat saat lagu ini didendangkan. Hanya kapal nelayan, asap dari motornya tampak jelas dari kapal kami, KLM Putra Bugis. Cuaca cerah, langit biru, laut berwarna keperakan tersentuh sinar matahari pagi. Saya bertepuk tangan, membiarkan cahaya sang surya jatuh dan menimpa kulit. Dinta, gadis berusia empat tahun, bersandar di bahu saya dan ikut bernyanyi. Kami bergerombol dengan 10 orang peserta yang lain di sebelah kanan kapal. Di bagian tengah, Sager Family, yang berdarah India duduk dan sesekali melempar senyum.

Tak jauh dari kami, Sokken, yang ini warga negara Belanda dan teman-temannya, dua orang Spanyol dan empat orang Filipina, masih berkutat dengan krem pelindung sinar matahari. Di haluan, seorang murid sekolah fotografi Darwis tampak sibuk merekam setiap momen. Hunting foto dengan film hitam putih membuat ia harus bekerja ekstra keras. Beberapa orang berdiri di dekat layar, seolah menantang angin. Di bagian kiri, ayah dan ibu Danti, membuat reriungan kecil bersama dua orang kakak Danti. Masih ada dua keluarga lagi yang sibuk dengan aneka teka-teki.

Sesekali keriuhan berhenti, semua mata menuju Pak Chan dari Dinas Kebudayaan kala ia menerangkan sejarah pulau-pulau yang tampak dari kapal. “Di sebelah kiri, kalian lihat ada menara, itu dulu pulau Ubi Besar, sekarang sudah tidak ada, pasirnya dikeruk untuk pembangunan Bandara Soekarno-Hatta.”

rame-rame edam atta cipir

Historical Island Adventure. Pertama kali mendengarnya, saya langsung tertarik. Hitung-hitung hadiah ulang tahun dari saya untuk diri saya sendiri. Perjalanan dimulai pagi hari dari Pantai Mutiara, Pluit. Bangun pagi di akhir pekan? jelas bukan saya ahlinya. Tapi, dengan semangat menggebu (maksudnya semangat ibu saya yang menggebu-gebu untuk membangunkan putrinya ini), saya terhitung sebagai peserta yang tiba paling awal.

Dari Pantai Mutiara, sekitar 40 peserta dan kurang lebih 15 orang dari Komunitas Peduli Sejarah dan Budaya Indonesia, bertolak menuju Pulau Edam, dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Di Pulau ini, semak belukar mewarnai perjalanan menuju Benteng pertahanan dan Mercu Suar yang dibangun sekitar tahun 1800-an. Duh… impian saya untuk berdiri dan merasakan angin bercanda di wajah saya akhirnya terkabul. Dari ketinggian 56 meter, laut tampak sangat memikat.

Pulau Edam ditinggalkan, Pulau Bidadari menanti. Makan siang, bermain di pasir putih dan mengunjungi Benteng Mortello, menjadi agenda acara di Pulau yang dulunya sempat dijadikan penampungan para pasien kusta.

Harus segera bergerak. Masih ada tiga pulau menanti. Selanjutnya, pelaut-pelaut pemberani meneruskan perjalanan ke Pulau Onrust. Pulau yang menyimpan sejuta misteri, dengan kisah hantu Marianya. Di makam Maria, Sokken berusaha menjelaskan arti puisi berbahasa Belanda yang terukir di batu hitam. Meninggal di usia 28 tahun, konon kabarnya hantu Maria sesekali muncul.

benteng onrust onrust2 laut2

Pulau Onrust makin lama makin mengecil. Saat kami meninggalkannya menjelang senja, menuju pulau yang terbilang masih tetangga Pulau Onrust. Kali ini giliran Cipir. Sisa-sisa Benteng dan Menara masih tampak jelas. Ratusan tahun lalu, ada jembatan yang menghubungkan Pulau Cipir dan Pulau Kelor. Sayang sekali, usaha pembangunan kembali jembatan itu oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta gagal. Jadilah kami kembali ke kapal dan memutar menuju Pulau Kelor.

Dan senja datang. Sebagian peserta berdiri di sisi kiri kapal. Menyaksikan matahari turun ke peraduannya. Saya memandangi semburat jingga dan menyadari betapa senja tidak pernah kehilangan kecantikannya. Senja dan laut, kerjasama yang baik dalam menghasilkan kuasan dengan langit sebagai kanvasnya.

gapura pulang

Senja juga menjadi penanda pelayaran akhir pekan itu harus diakhiri. Kembali ke titik awal dimana perjalanan dimulai, kapal berlayar pelan. Langit perlahan-lahan menghitam. Bintang satu persatu bermunculan. Laut, angin, langit, bintang…. Perlahan-lahan kilaunya digantikan lampu-lampu sorot dari Pantai Mutiara.

Kami berpisah dengan selaksa kenangan yang melekat. Langit, laut, angin, biru, ombak, kapal layar, pulau, mercu suar, senja, bintang… hadiah terindah untuk ulang tahun saya kali ini.

Akan Ada Ayah Mertua Yang Baik; Suatu Hari Nanti…

Laki-laki kecil itu berjalan, melintas di depan saya. Tangan kanannya menggenggam buku, cover depannya menarik, gambar-gambar besar penuh warna. Laki-laki kecil berhenti. Mendongak. Memandang wajah saya penuh keheranan (atau kekaguman :D). Saya memberinya senyum terbaik. Dia ganti tersenyum. Gigi-gigi kecilnya tersusun rapi. Ada bintang di matanya. Terang. Jernih.

Seorang ayah mendekat. Membelai laki-laki kecil. Tersenyum pada saya. Menggamit jemari laki-laki kecil. Berlalu dengan meninggalkan gelak yang tertangkap jelas di indera dengar. Dalam sekejap, hujan kasih turun dan membasahi sudut cerita anak di sebuah toko buku, siang itu…

Dan saya tertegun. Lagi-lagi perasaan itu muncul. Bukan sedih. Sebersit nyeri yang tidak lagi menyakitkan. Tempaan waktu bekerja membentengi hati untuk tetap kuat.

Malam 30 April saya berdoa. Mengucap syukur atas segala yang Tuhan beri. Atas karunia yang tak terhitung, atas orang-orang baik yang ada dalam jejaring pertemanan juga atas ayah yang abai pada hari jadi putri bungsunya.

Malam 30 April saya mencurahkan asa, melepas sebentuk permohonan, pada Pemilik Hidup, Maha Pengasih, Maha Penyayang…

Tuhan, tolong beri saya ayah mertua yang baik suatu hari nanti. yang pandai bercerita. yang hidup dengan selera humor yang tinggi. yang tak segan memberi usapan di kepala saya. yang mencintai saya seperti ia mencintai putranya, belahan jiwa saya. yang pandai memasak. yang gemar bercengkerama di latar rumah saat matahari mulai beristirahat. yang dengan binar matanya memandang saya lembut. yang mencintai buku dan mengundang saya untuk berkeliling di perpustakaan pribadinya, jendela dunia yang membuat saya betah berlama-lama. yang mencium kening saya saat kami, saya dan belahan jiwa saya, mengakhiri kunjungan akhir pekan kami di kediaman mereka yang nyaman dan sejuk.

Saya tahu Tuhan pasti tersenyum. “Detail sekali permintaan hamba yang satu ini”.

Semoga akan ada ayah mertua yang baik; suatu hari nanti. Dan saya akan berbisik pelan padanya. mencium punggung tangannya. mengucapkan terima kasih yang sangat karena telah memberi pendidikan yang cukup pada putranya, belahan jiwa saya. telah mewariskan kebijakan dan kesabaran. membesarkannya penuh cinta. membalurinya dengan budi pekerti. terima kasih yang sangat karena telah tertawa bahagia dengan titik bening di sudut mata, saat saya menjadi bagian dari keluarga mereka.

Saya belum berpikir untuk menikah. tapi memiliki mimpi akan ada ayah mertua yang baik satu hari nanti memberi corak lain pada 30 April yang lalu. Meski ibu saya adalah karunia terbesar dalam hidup, saya sangat tidak berkeberatan jika Tuhan menghadirkan satu ibu yang baik lagi dalam kehidupan saya nantinya.