Rangkuman April…

Because time itself is like a spiral, something special happens on your birthday each year: The same energy that God invested in you at birth is present once again.
–Menachem Mendel Schneerson

Saya suka April. Dari dua belas bulan yang ada saya memilih untuk jatuh cinta pada April. Meski saya juga mencintai September dan Februari, April tetap bulan yang memiliki impresi tersendiri.

“Ajaib”. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan bulan April kali ini. Ada plesiran ke Kuningan di minggu pertama, kota kecil dengan pegunungan dan hamparan sawah hijaunya. Lalu Paint Ball di Gunung Putri yang menegangkan dan menimbulkan peluh, makan cheese burger di restoran cepat saji saat jeda liputan di pusat perbelanjaan Roxy Mas. Gathering dengan narasumber dan jurnalis yang kantor adakan di pertengahan bulan (wow… banyak sekali yang datang), bertemu sahabat senja di Cilandak Town Square, berkumpul bersama teman-teman yang biasa bertemu di liputan dalam pertandingan futsal terlucu yang pernah saya lihat (berhasil dikalahkah dengan skor 9-4 rasanya ajaib).

Duduk di pinggir jendela, dengan butiran air yang turun dari langit dan menyentuh kaca, satu sore di Hotel Alila saat menunggu satu acara di minggu ketiga (hotel dengan sentuhan yang apik). Jalan berdua saja dengan ibu saya di Kamis siang, ikut Workshop tentang jaringan dan mendapat banyak tambahan ilmu (meski masih sedikit bingung dengan beragam istilahnya), membuka jendela di satu minggu pagi yang manis dan mendapati pemandangan bukit hijau, apa? mmmm… Gunung Geulis.

Ajaib! Terjebak selama lebih dari 3 jam di Tol Tangerang-Jakarta. Menengok rumah baru redaktur muda dan berbagi gelak dengan putri sulungnya yang cantik. “Tante Ratna”. Ditelepon Abang pada satu malam (meski saya sudah terlelap dan hanya mendapati miss call dengan namanya di ponsel). Makan rujak bareng redaktur dan kebagian jatah menghabiskan kedondong dengan rasa pedas yang menyerang.

Adduh… saya bahagia.

April tetap saja ajaib. Meski tahun ini bisa dipastikan tidak ada ucapan selamat dari ayah kandung saya. Meski sempat mengalami satu episode biru (lagi?) di pertengahan bulan. Meski tidak bisa menyaksikan Reza, penyanyi favorit saya, yang manggung di satu perhelatan. Meski akhirnya Jumat besok, jatah libur akhirnya ditunda. (Ini deadline Bung! hahahahhaha!). Meski saya harus membuka esok hari dengan mengambil bahan tulisan ke Bekasi, karena hari ini narasumber saya lupa membawanya. (sekali lagi Bekasi…. aduh pak, kantor bapak nggak kurang jauh).

Ya… meski ada banyak meski, saya tetap bahagia… dan April tetap saja ajaib. April, antara Maret dan Mei, dan rangkumannya ada di ujung April yang ramah.

updated, 30 April 2004 :
Terima kasih Ya Allah, atas hidup, kesehatan dan beragam cinta yang ditaburkan dari teman, sahabat juga keluarga. Terima kasih juga atas pekerjaan yang sekarang saya geluti, atas rejeki yang datang sepanjang tahun ini. Terima kasih karena telah berada dekat… sangat dekat, dan memberi saya kekuatan saat saya lemah. Terima kasih telah memberi saya kebahagiaan dari banyak hal-hal kecil yang bertebaran dalam keseharian.
Happy Birthday to me…. :D

Merajut Pelangi

Senja ini kurajut pelangi untukmu. Merahnya diambil dari dadap yang tumbuh di samping bangunan Sekolah Dasar. Jingganya dicuri dari semburat yang jatuh di daun jendela. Kuning dipetik dari bunga matahari saat mekar, bunga yang cantik. Ada hijau hutan cemara yang turut mempermanis rajutanku.

Sempat mengalami kebingungan saat hendak memilih biru; laut yang tenang dengan hembusan angin atau langit yang bersih tanpa kumpulan awan? Hmmm… tampaknya laut lebih menarik. Biru, ombak, tenang…

Selarik nila dari morning glory yang lembut dan ungu nan elok pancaran dari bunga kupu-kupu melengkapi benang-benang pilihan. Benang-benang yang dirajut dengan senyum, dan senandung kecil, dengan binar mata dan gelak, seperti saat kita bercakap-cakap. Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, Ungu…. Benang-benang pilihan yang dirajut untuk goresan pelangi setelah episode rintik hujan usai…

Tengadahkan kepalamu ke langit, tak perlu memicingkan mata, senja yang lembut tak menyakiti pandanganmu untuk menikmati pelangi, hasil rajutanku. Tujuh warna yang tergores disana adalah doa, semoga Tuhan menjagamu, memberikan kekuatan, menebarkan rasa bahagia dan menopangmu saat lemah.

Untuk Erwin, sahabat terbaik di saat susah (hihihihihihihi), selamat ulang tahun, panjang umur, makin bijak, jangan gampang suntuk donk, eh… udah nyampe kan pelanginya?. Special thanks untuk dien, atas ide morning glorynya. kalo nggak ada itu, masih nggak jadi-jadi nih postingan :D

Butuh Berapa Karakter?

Apa yang kalian temukan di surat kabar hari ini? Strategi Wiranto setelah memenangkan konvensi Partai Golkar, Amien Rais yang meminang Siswono Yudohusudo, Film Sri Lanka, “August Sun (Ira Madiyama)” yang memenangi NETPAC/FIPRESCI Award pada 17th Singapore International Film Festival atau Jakarta yang lumpuh total gara-gara hujan yang turun amat sangat deras sepanjang Rabu kemarin?

Pernahkah terpikir bahwa apapun yang kalian nikmati, yang disuguhkan oleh redaksi majalah, harian atau tabloid, terkait erat dengan jumlah karakter huruf yang merangkai kata menjadi sebuah tulisan.

Jumlah karakter huruf yang dibutuhkan untuk satu tulisan sangat beragam. Tergantung dari format tulisan yang dipilih, banyaknya iklan yang masuk (yang secara otomatis juga sedikit mengurangi space tulisan), atau format media tempat tulisan tersaji.

Di MS Word, jumlah karakter huruf bisa dilihat dengan mengklik Tools diikuti dengan Word Count. Sekedar contoh, biasanya satu berita memerlukan sekitar 3000 hingga 5000 karakter. Penulis favorit saya butuh 8514 karakter untuk menghadirkan Greenwich, sebuah kawasan di pinggir sungai Thames di kota London. Bertandang ke awal waktu menjadi tulisan yang menari, berlenggak lenggok dengan langgam yang cerdas.

Saya jarang menulis berita. Jadi menulis satu peristiwa dengan hanya bermodal 3 hingga 4 ribu karakter bisa membuat kening saya berkerut. Duh… susah banget deh!. Pekerjaan saya sekarang justru berada di ranah 4 ribuan keatas. Kalaupun saya membuat tulisan pendek, kira-kira 3 ribu karakter, nuansanya sangat ringan, tidak sekaku berita.

Tulisan, yang kerap disebut feature ini, kadang-kadang dibangun dari 5 ribu hingga 7 atau 8 ribu karakter. Di awal masa kerja, saya sempat kerepotan merangkai kata. Sekarang setelah hampir satu tahun berjalan, saya tetap saja kerepotan. hahahahahaha. Harus lebih banyak belajar dan belajar lagi…

Tantangan terbesarnya ada pada saat-saat deadline. Saat tulisan diolah di ruang layout. Masalah menambah atau mengurangi karakter huruf bisa jadi pekerjaan yang memacu adrenalin, apalagi jika dilanda bad mood atau mati ide. Menambah 1000 karakter saja bisa membuat saya kelimpungan. Sebaliknya merampingkan satu tulisan juga kadang-kadang memancing saya untuk nangis darah. Tapi disitulah seninya.

“Aman… aman, sip deh,”. Kalau kalimat sakti yang satu ini sudah keluar dari mulut redaktur tercinta, lengkap dengan senyum lebarnya, berarti tulisan sudah siap disajikan. Hatipun diliputi kebahagiaan dan kerja bisa dihentikan sejenak.

Ada ribuan karakter dalam satu media, untuk mengisi berlembar-lembar halaman. Ribuan karakter yang bersinergi dengan kreatifitas penulisnya. Tapi tahukah kamu sayang, kita hanya butuh 34 karakter untuk mengisi berlembar-lembar halaman dalam hidup, untuk nada kasih kala kelingking kita terkait dan senja turun, untuk sentuhan lembut yang kau rasakan saat aku memainkan anak rambutmu, untuk satu pelukan hangat ketika bulan bersemu kemerahan. Hanya butuh 34 karakter untuk satu mimpi yang kita bangun bersama; Dalam diam aku mencintaimu sangat…

Akhir Pekan; Saat Semua Berkumpul…

Bila kau tengah bersedih, palingkan wajahmu ke langit biru. Ia bakal mengusap air matamu dan menerbangkan nelangsamu ke matahari sore… (diambil dari “Daun pun Meluruh” oleh Ukirsari, Femina No. 16/XXXII)

Pagi belum pergi betul saat saya keluar dari rumah Sabtu pekan lalu. Dengan langkah terburu-buru, menghentikan taksi yang melintas di jalan depan gang. “Kita ke Pertamina Simprug ya,” tutur saya pelan pada supir yang menatap dengan muka ramah. Saya sudah sedikit terlambat. Bangun pagi di akhir pekan? jelas bukan saya ahlinya. Tapi dari obrolan kemarin, dipastikan rombongan suporter datang jam delapan pagi. Alamak… tak bisa direvisi, ide siapa pula ini?

Pagi itu, vendor asal Jerman menggelar pertandingan futsal. Pesertanya mulai dari operator seluler, si vendor itu sendiri dan jurnalis. Nah… yang disebut belakangan ini yang harus disemangati. Sampai di lapangan indoor; gerombolan jurnalis telah siap dengan kostum ungu. Di tribun kanan, tampak wajah-wajah bersahabat. Dan kami larut dalam tawa dan canda.

Meski sifatnya fun, aroma kompetisi tetap saja tercium. Teriakan-teriakan penuh dukungan membahana. Saat keadaan semakin genting; rombongan suporter tidak cukup puas hanya dengan bertengger di tribun, dan meluberlah kami ke pinggir lapangan. Sayang… perjuangan tim jurnalis kandas setelah dibungkam oleh salah satu operator seluler yang baru saja mengukir prestasi dengan 10 juta pelanggan.

Menjelang senja, suporter ceria membubarkan diri. Saya meneruskan perjalanan ke Cilandak. Sore ini saya datang untuk bertemu keluarga cemara yang tengah berlibur di tanah air dan pemilik rumah senja lainnya. Ibu Syl, cantik sekali, Cemara juga mewarisi kecantikan sang ibu. Tinggi Cemara hampir menyamai tante Atta yang manis dan baik hati ini lho…

Keceriaan memayungi Starbucks teras luar. Beberapa dari pemilik rumah senja sudah tak asing lagi. Ada muka-muka baru yang juga ramah. Banyak sekali yang hadir. Keceriaan Starbucks berpindah ke ThaiExpress, saat rombongan tukang lenong yang baru saja tiba dari putar-putar keliling Dunia Fantasi bergabung dengan kami.

Ada tawa yang tak henti berderai, ada rindu yang terbayar (saya bertemu prazz teman satu SMP, setelah kurang lebih sembilan tahun tidak berjumpa), ada cerita yang tak henti-henti sepanjang pertemuan. Yang pasti ada satu lagi sabtu yang cantik juga matahari sore yang menerbangkan segenap nelangsa di akhir pekan; saat semua berkumpul…

Kami Tidak Pernah Beranjak…

Kalau hati adalah rumah. Saat ini kami berdua masih duduk di beranda….

Kami tidak pernah beranjak, memutuskan untuk tetap duduk di beranda, dalam dua naungan atap yang berbeda, meneruskan langkah, jejak, dan menelusuri alur masing-masing

Utara-Selatan; menyelaraskannya ternyata butuh lebih dari kesabaran, lebih dari sekedar kasih, tidak cukup hanya dengan sebentuk sayang…

Malam ini saya takut; saat hendak melarung sebentuk ingatan tentangnya; saat melepas sepenggal kenangan; senyum, tawa, binar mata, curly hair, harum tubuh, manusia tertinggi yang pernah saya kenal, lembut tutur, dia yang dua kali lebih tampan saat berada di belakang kamera.

Tapi tidak; malam ini saya melarung sebentuk ingatan tentangnya. Membungkusnya rapih, membiarkannya hanyut bersama aliran air. Kelak … ia akan bertemu dengan lautnya.

Apapun yang terjadi, baik atau buruk, saya pasti kuat; ada kalian disini bukan?