Nuansa Merah Jambu

Hati Satu
Menghentikan sejenak aktifitas memotret. Menoleh ke belakang dan mendapati dua orang reporter perempuan berpelukan sebelum press conference vendor asal Swedia dimulai. Keduanya terlihat bahagia. Bisa jadi karena lama tak bertemu. Seorang diantaranya berkacamata dengan rambut terurai.

Hati Dua
Tidak seperti vendor asal Korea, acara vendor Swedia ini formil sekali. Jawaban nara sumber terlalu global dan sesi tanya jawab terkesan kaku. Tapi…. laki-laki muda yang sempat bertanya tadi… siapakah dia?

Dua Hati
– Kok gak pernah ketemu ya? –
+ aku lebih banyak motret ketimbang liputan bareng-bareng model begini, eh ada kartu nama? +

Tadinya saya pikir; saya akan bertemu dengan seseorang di toko buku atau pameran foto. Laki-laki dengan kemampuan merangkai kata dengan harum hutan cemara, tulisannya adalah candu, puisinya adalah hidup. tapi yang terjadi…

Saya. Dia. Reporter yang mau tidak mau mesti membuat tulisan. Reporter yang belakangan ngotot ke redaktur dan memohon untuk lebih banyak memotret ketimbang menulis. Cant Live without Books. Cant Live without Comics. Pop. Hip Hop donk, eh musik yang keras-keras juga deh. Suka Senja. Senja? kenapa? (dengan setengah terheran-heran). Pecinta sastra. Sastra… enggak deh, terlalu banyak metafora. Tahan berlama-lama menikmati film drama. Action aja deh, apalagi yang ada kebut-kebutannya… itu baru namanya film. Seneng banget Seno Gumira. Nggak pernah baca, tahu namanya sekarang dia kerja di pusat dokumentasi foto kan ? (foto lagi :D). Nggak ngerti basket. Basket adalah nafas.

Kami seperti utara-selatan. Saya tak paham dunianya. Dia tak terlalu mencintai dunia saya. Untungnya saya sedikit tahu tentang fotografi (setidaknya kami berdua menyukai bidikan Arbain Rambey). Benang merahnya adalah kami sama-sama berkutat di arena tulis menulis perangkat digital.

Kalau hati adalah rumah. Saat ini kami berdua masih duduk di beranda. Saya tak ingin menggantang asa, lebih baik seperti air mengalir. Layaknya sungai kecil yang saya jumpai dalam perjalanan Cibodas-Cibereum. Yang pasti; menunggunya menculik saya dari kastil lima belas lantai di sela-sela deadline, menemaninya memotret, atau menghabiskan sore bersama membawa nuansa merah jambu dalam hidup…

Kala trekking sabtu pekan lalu; saya sempat tertegun melihat daun kering di aliran sungai. Bergerak perlahan… mengikuti gerak air. Satu penanda untuk saya; bahwa hidup tidak bergerak mundur, tapi seperti daun kering, hidup berjalan, ke depan… Apapun yang terjadi, baik atau buruk, saya pasti kuat; ada kalian di sini bukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *