Jumat Tengah Hari di Selatan Sulawesi…

“Mas, kaya’nya di bawah kain tenun itu bagus deh,” perempuan menunjuk pada kain tenun yang menempel di dinding. Motif kainnya cantik, didominasi warna senja yang lembut.

“iya, pake bangku kayu itu aja,” laki-laki menyodorkan ide.

(berdua memindahkan bangku kayu ke bawah kain tenun yang menempel di dinding, mengatur setting)

“gini aja ya,” perempuan duduk, meski sangat-sangat senang di depan kamera, mati gaya rupanya bisa tak terhindarkan juga.

“sip. bahunya ditegakkin dikit, oke!,” laki-laki melihat dari balik view finder. Memberi aba-aba dan pijaran flash dalam sekejap memenuhi ruangan.

Sudah lama saya memendam hasrat untuk mencium Toraja. Sejak pertama kali membaca tulisan perjalanan yang tercetak di sebuah media. Saat duduk di bangku sekolah menengah, impian ke Toraja hampir terwujud. Sebuah majalah remaja putri berencana mengadakan Tour kesana. Alamak, pucuk dicinta ulampun tiba.

Tapi, saat itu uang jutaan rupiah masih sangat besar artinya (sekarang juga masih besar sih!). Perlu tekad baja untuk menguras tabungan dan mewujudkan mimpi. Meski Ma’e memberi ijin, akhirnya saya putuskan tidak mengusik saldo yang disiapkan untuk bekal memasuki perguruan tinggi.

Dan… impian tentang Toraja tak kunjung pupus. Mimpi itu masih ada, saya membungkusnya dengan rapi, jauh di palung hati. Mimpi untuk mencium Toraja, mencumbu senjanya, duduk tenang menikmati tarian kejora, desahan angin dan bercanda dengan terpaan sinar mentari yang hangat selekas fajar.

Jumat tengah hari tadi saya menemukan kepingan kecil dari Toraja. Seusai sholat Jumat, laki-laki dengan selera humor yang sangat baik bergabung, menemani saya, meluangkan waktunya di sela-sela deadline yang memburu.

Bangunan di Jalan Palmerah Selatan 17 yang berdiri dengan arsitektur Kudus nan kental beberapa hari ini menggelar Pameran Budaya Sulawesi Selatan. Di bangunan, yang dikenal dengan nama Bentara Budaya Jakarta, Toraja seperti berbisik memanggil saya, si pemimpi ini, untuk datang dan melongok

Dan Toraja menyentuh, mengecup juga menyapa saya Jumat tengah hari tadi lewat beragam patung dan Tongkonan. Tidak hanya itu, saya juga berkelana, menjelajah Makassar melalui foto Benteng Rotterdam, singgah dan terpukau dengan gemerlapnya semangat bahari para nenek moyang. Tergambar bagaimana mereka menaklukkan samudera.

Tersirat rasa bangga saat menatap maket-maket perahu phinisi, cerita tentang Raja Trengganu, Sultan Baginda Omar yang meminta Martin Perrot untuk membuat sebuah perahu dengan sentuhan barat. Ditakdirkan menjadi negara kepulauan, laut kerap menjiwai legenda negeri kita.

Dan… lihatlah….kain tenun dengan warna-warna yang memikat. Dipintal dengan kemurnian budi pekerti. Merah, Kuning, Biru, Senja, Lembut, Cantik… Negeri ini menyimpan berjuta keelokan.

Jumat tengah hari tadi, satu perjalanan singkat makin menggugah saya untuk pergi ke selatan Sulawesi satu hari nanti…

“eh mas, ke Toraja mesti seru,” perempuan memandang lekat

“ke Lombok aja, pantainya keren,” laki-laki balas memandang

Dan utara-selatan itu bertemu sejenak, mengelilingi ruang pamer, laki-laki sibuk mengambil gambar (dalam pandangan saya; dia jauh lebih tampan, saat berada di belakang kamera), perempuan sibuk menghitung budget untuk ke Toraja… entah kapan.

Untuk Adhi, Pak Tomi dan Ochan, atas nuansa selatan sulawesi yang tercium lewat rumah senja kalian…

2 thoughts on “Jumat Tengah Hari di Selatan Sulawesi…

  1. haiii………knalin nama q lucas, q anak asli toraja kul di jogja.btw impiannya k toraja da kesampaian blom m’bak? toraja kren bangat loh m’bak……………..dijamin g nyesel……….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *